https://ejurnal.politanikoe.ac.id/index.php/psnp/issue/feed Prosiding Seminar Nasional Hasil-Hasil Penelitian 2025-12-02T20:44:14+08:00 Basry Yadi Tang basrytang@gmail.com Open Journal Systems <p>Prosiding Seminar Nasional Hasil - Hasil Penelitian (PSNPL) merupakan media publikasi ilmiah hasil penelitian bidang Pertanian Terapan yang telah dipresentasikan pada konferensi seminar nasional hasil penelitian dan pengabdian yang diselenggarakan oleh Pusat Penelitian dan Pengabdian Pada Masyarakat (P3M) Politeknik Pertanian Negeri Kupang.</p> <p>PSNPL saat ini telah memiliki e-ISSN (<em>International Standard Serial Number</em>) terdaftar pada BRIN (Badan Riset dan Inovasi Nasional) dengan nomor 2986-3694 sesuai SK penerbitan Nomor <a href="https://drive.google.com/file/d/1PyZF_gFIKYialHxCfvrwsxQHnYcZ6BaE/view?usp=sharing">29863694/II.7.4/SK.ISSN/04/2023</a>. </p> <p>PSNPL terbit 1 (satu) kali setiap tahunnya setiap bulan Desember dalam versi online. Edisi pertama Prosiding Seminar Nasional Hasil-Hasil Penelitian adalah Edisi Cetak pada Desember 2018 sampai dengan Edisi Ke-3 (Desember 2020). Namun mulai dari Edisi Ke-4 (Desember 2022) dan seterusnya hanya diterbitkan dalam versi online dengan ISSN.<br /><br />Sejak Edisi Ke-8 (November 2025), prosiding ini hanya menerima dan mempublikasikan artikel dalam format <em data-start="171" data-end="187">one-page paper</em>. Format ini dirancang untuk menyajikan hasil penelitian secara ringkas, terfokus, dan informatif, sehingga memudahkan pembaca untuk mengakses inti temuan ilmiah secara cepat dan efisien. Setiap <em data-start="382" data-end="398">one-page paper</em> harus mencakup elemen utama penelitian (latar belakang, metode, hasil, dan kesimpulan) dalam satu halaman penuh sesuai template resmi (di luar Daftar Pustaka).</p> https://ejurnal.politanikoe.ac.id/index.php/psnp/article/view/544 Halaman Sampul, Editorial Board dan Daftar Isi 2025-12-02T20:44:14+08:00 Editor svertygo91@gmail.com <p><strong>SEMINAR NASIONAL </strong><strong>HASIL-HASIL </strong><strong>PENELITIAN</strong></p> <p><strong>PUSAT PENELITIAN DAN PENGABDIAN PADA MASYARAKAT</strong></p> <p><strong>POLITEKNIK PERTANIAN NEGERI KUPANG</strong></p> <p><strong> </strong></p> <p><strong>TEMA:</strong></p> <p><strong>INOVASI PERTANIAN BERDAMPAK UNTUK KETAHANAN PANGAN YANG BERKELANJUTAN </strong></p> <p><strong>(<em>IMPACTFUL AGRICULTURAL INNOVATION FOR SUSTAINABLE FOOD SECURIT</em>Y)</strong></p> <p> </p> <p><strong>IS</strong><strong>SN</strong><strong> : 2986-3694</strong></p> <p><strong>Volume 8 Nomor (1) Tahun 2025</strong></p> 2025-11-28T00:00:00+08:00 Copyright (c) 2025 Prosiding Seminar Nasional Hasil-Hasil Penelitian https://ejurnal.politanikoe.ac.id/index.php/psnp/article/view/528 EVALUASI TINGKAT KEBERHASILAN INSEMINASI BUATAN BERDASARKAN WAKTU DETEKSI BIRAHI PADA SAPI POTONG DI KECAMATAN BARRU 2025-11-22T10:06:10+08:00 Anggun Permata Sari anggunpermatasari@unhas.ac.id Sri Wira Utami anggunpermatasari@unhas.ac.id <p>Produksi daging sapi dalam negeri masih belum mampu mencukupi kebutuhan nasional, sehingga ketergantungan pada impor daging sapi masih tinggi. Untuk mengurangi ketergantungan tersebut, diperlukan upaya peningkatan produktivitas ternak sapi potong melalui penerapan teknologi reproduksi yang efektif dan efisien (BPS, 2023).Salah satu teknologi yang dapat digunakan untuk meningkatkan produktivitas sapi potong adalah inseminasi buatan (IB). Waktu deteksi birahi yang tepat sangat menentukan keberhasilan IB, karena inseminasi harus dilakukan pada saat yang paling optimal dalam siklus estrus sapi betina. Jika dilakukan terlalu awal sebelum ovulasi, maka peluang pembuahan akan menurun akibat ketidaksesuaian waktu pertemuan antara sperma dan sel telur (De Rensis <em>et al</em>., 2024). Oleh karena itu, deteksi birahi yang akurat menjadi salah satu faktor kunci dalam meningkatkan keberhasilan IB.</p> <p><a name="_Toc193151017"></a><a name="_Toc202452018"></a><a name="_Toc202453584"></a>Metode yang digunakan dalam tugas akhir ini adalah studi kasus. Data yang diambil adalah data primer dan data sekunder. Data primer diperoleh dari hasil wawancara dengan peternak dan petugas Inseminasi buatan serta pengamatan langsung di lapang meliputi keadaan birahi dan waktu pelakasanaan IB, sedangkan data sekunder diperoleh dari data inseminator meliputi data sapi yang berhasil bunting.</p> <p><strong>Tabel 1.</strong> Nilai S/C waktu deteksi birahi berbeda</p> <table> <tbody> <tr> <td rowspan="2" width="135"> <p>Perlakuan</p> </td> <td rowspan="2" width="117"> <p>Jumlah akseptor</p> </td> <td colspan="2" width="231"> <p>Positif Bunting</p> </td> <td rowspan="2" width="115"> <p>S/C</p> </td> </tr> <tr> <td width="116"> <p>(Ekor)</p> </td> <td width="115"> <p>(%)</p> </td> </tr> <tr> <td width="135"> <p>P1</p> </td> <td width="117"> <p>10</p> </td> <td width="116"> <p>5</p> </td> <td width="115"> <p>50</p> </td> <td width="115"> <p>2,00</p> </td> </tr> <tr> <td width="135"> <p>P2</p> </td> <td width="117"> <p>10</p> </td> <td width="116"> <p>8</p> </td> <td width="115"> <p>80</p> </td> <td width="115"> <p>1,25</p> </td> </tr> <tr> <td width="135"> <p>P3</p> </td> <td width="117"> <p>10</p> </td> <td width="116"> <p>7</p> </td> <td width="115"> <p>70</p> </td> <td width="115"> <p>1,43</p> </td> </tr> <tr> <td width="135"> <p>P4</p> </td> <td width="117"> <p>10</p> </td> <td width="116"> <p>6</p> </td> <td width="115"> <p>60</p> </td> <td width="115"> <p>1,67</p> </td> </tr> </tbody> </table> <p>Sumber: Data Primer, Safinas (2025)</p> <p>Keterangan<strong>:</strong></p> <p>P1 : Waktu Deteksi Birahi pagi (&lt; 6 jam)</p> <p>P2 : Waktu Deteksi Birahi siang (6-12 jam)</p> <p>P3 : Waktu Deteksi Birahi sore (12-18 jam)</p> <p>P4 : Waktu Deteksi Birahi malam (&gt; 18 jam )</p> <p>Deteksi birahi pada siang hari (6–12 jam) menunjukkan nilai S/C terrendah (1,25), CR tertinggi (80%), dan NRR tertinggi (80%). Meskipun tidak terdapat pengaruh yang signifikan secara statistik (p&gt;0,05), namun secara deskriptif waktu siang merupakan waktu pelaksanaan IB yang paling efektif</p> <p>Deteksi birahi pada siang hari memberikan hasil terbaik dalam parameter keberhasilan IB. Penelitian ini merekomendasikan pelaksanaan IB dilakukan dalam rentang waktu 6–12 jam setelah tanda birahi pertama teramati untuk meningkatkan peluang kebuntingan.</p> 2025-11-28T00:00:00+08:00 Copyright (c) 2025 Prosiding Seminar Nasional Hasil-Hasil Penelitian https://ejurnal.politanikoe.ac.id/index.php/psnp/article/view/341 RESPON DIAMETER BATANG JAGUNG TERHADAP BERBAGAI KONSENTRASI ECOENZYME MELALUI ANALISIS SIDIK RAGAM DAN TREN LINEAR 2025-11-15T10:05:00+08:00 Rosalia Silaban rosaliasilaban1@gmail.com Mitha Rabiyatul Nufus rosaliasilaban1@gmail.com Eusabius Paul Pega rosaliasilaban1@gmail.com Jenike Gracelya Noke rosaliasilaban1@gmail.com <p>Jagung (Zea mays L.) merupakan tanaman unggulan dalam sektor agrobisnis karena memiliki potensi besar sebagai bahan pangan, pakan ternak, dan bahan baku berbagai industri. Jagung termasuk salah satu tanaman pangan yang permintaannya terus meningkat setiap tahun karena banyak digemari serta memiliki berbagai manfaat sebagai sumber karbohidrat, bahan baku industri, dan pakan ternak (Saputra et al., 2022). Keberagaman manfaat tersebut menjadikan jagung sebagai tanaman multifungsi yang memiliki prospek pengembangan luas, baik di tingkat petani, industri pengolahan, maupun pasar ekspor. Melihat manfaatnya yang luas, diperlukan upaya untuk meningkatkan pertumbuhan tanaman, salah satunya melalui perbaikan diameter batang. Penelitian ini bertujuan menentukan konsentrasi ecoenzyme terbaik terhadap pertumbuhan jagung menggunakan analisis sidik ragam dan uji tren linear. Penelitian dilaksanakan dengan lima tingkat konsentrasi ecoenzyme yang dikombinasikan dengan tiga varietas jagung, serta satu kontrol sebagai pembanding. Pengamatan diameter batang dilakukan setiap minggu selama empat minggu.</p> <p>Dari hasil penelitian dapat diketahui bahwa perlakuan konsentrasi ecoenzyme pada minggu ke-1 belum memberikan pengaruh nyata terhadap diameter batang yang dibuktikan dengan Nilai p (0,165) lebih besar dari 0,05 (Sugiyono, 2017). Hal ini dikarenakan konsentrasi ecoenzyme yang diberikan belum cukup untuk memberikan dampak yang signifikan terhadap perkembangan diameter batang tanaman jagung. Selain itu tanaman jagung pada umur 1 minggu setelah tanam masih melakukan adaptasi terhadap lingkungan tempat tumbuh dan berkembang. Akan tetapi dari hasil uji lanjut (Tukey) pada tabel diatas dapat kita ketahui pula bahwa perlakuan konsentrasi ecoenzyme pada minggu ke-2 hingga minggu ke-4 memberikan pengaruh nyata terhadap diameter batang tanaman jagung yang dibuktikan dengan Nilai p &gt; 0,05 (Hasanah <em>et al</em>., 2025).</p> <p><strong>Tabel 1. </strong>Hasil Analisis Sidik Ragam (Anova)</p> <table width="546"> <tbody> <tr> <td width="108"> <p> </p> </td> <td width="66"> <p>Sum Sq</p> </td> <td width="78"> <p>Mean Sq</p> </td> <td width="67"> <p>NumDF</p> </td> <td width="62"> <p>DenDF</p> </td> <td width="64"> <p>F Value</p> </td> <td width="102"> <p>Pr (&gt;F)</p> </td> </tr> <tr> <td width="108"> <p>Perlakuan</p> </td> <td width="66"> <p>725,18</p> </td> <td width="78"> <p>42,658</p> </td> <td width="67"> <p>17</p> </td> <td width="62"> <p>271</p> </td> <td width="64"> <p>14,186</p> </td> <td width="102"> <p>&lt;2,2e-16***</p> </td> </tr> <tr> <td width="108"> <p>Signif. Codes:</p> </td> <td width="66"> <p>0’***’</p> </td> <td width="78"> <p>0,001’**’</p> </td> <td width="67"> <p>0,01’*’</p> </td> <td width="62"> <p>0,05’,’</p> </td> <td width="64"> <p>0,1’’</p> </td> <td width="102"> <p>1</p> </td> </tr> </tbody> </table> <p> </p> <p>Dari hasil penelitian diketahui bahwa nilai koefisien konsentrasi adalah 0,5486 dan p-value (0.00156) &lt; 0.01 (Sugiyono, 2017). Hal ini berarti setiap kenaikan satu satuan konsentrasi ecoenzyme, akan berpengaruh nyata sangat signifikan terhadap perkembangan diameter batang jagung dengan rata-rata 0,55 cm (Putri <em>et al</em>., 2023). Hasil Analisis Sidik Ragam (Anova) dapat diketahui bahwa nilai p-value &lt; 2.2e-16, jauh lebih kecil dari 0,05 (Sugiyono., 2017). Hal ini dapat diartikan bahwa perlakuan ecoenzyme memberikan pengaruh yang sangat nyata terhadap diameter batang jagung (Putri <em>et al</em>., 2023). Dengan demikian, pemberian ecoenzyme berpengaruh nyata terhadap pertumbuhan diameter batang jagung dan dapat menjadi alternatif alami untuk meningkatkan produktivitas tanaman jagung pada varietas V3.</p> 2025-11-28T00:00:00+08:00 Copyright (c) 2025 Prosiding Seminar Nasional Hasil-Hasil Penelitian https://ejurnal.politanikoe.ac.id/index.php/psnp/article/view/382 PENGARUH PEMBERIAN PAKAN PELET DENGAN LEVEL BERBEDA TERHADAP KONSUMSI DAN KECERNAAN KARBOHIDRAT PADA TERNAK DOMBA 2025-11-15T10:49:23+08:00 Gerald Ronaldi Mehang Paratu made@unkriswina.ac.id I Made Adi Sudarma made@unkriswina.ac.id <p>Peternakan domba memiliki peranan penting dalam memenuhi kebutuhan protein hewani terutama daging. Sebagian besar peternakan domba di Sumba masih mengandalkan pakan hijauan di padang penggembalaan sebagai sumber utama energi dan protein. Namun, pakan hijauan di padang penggembalaan tidak selalu tersedia secara optimal sepanjang tahun dengan ketersediaan pakan yang sangat rendah yakni 2,6-2,9ton/ha/tahun (Pawulung <em>et.al.,</em> 2021), dan memiliki kandungan nutrisi yang sangat rendah pada musim kemarau yakni PK&lt;4% dan SK &gt; 41% (Ranja <em>et al</em>., 2021) sehingga peternak perlu mencari alternatif pakan yang lebih stabil, salah satunya adalah pakan pelet. Penggunaan pakan pelet menawarkan berbagai keunggulan, seperti kandungan nutrisi yang terkontrol, efisiensi pemberian pakan, meningkatkan konsumsi dan kecernaan serta kemudahan dalam penyimpanan.</p> <p>Penelitian ini menggunakan 16 ekor ternak domba ekor gemuk (DEG) jantan umur ±1 tahun. Bahan pakan yang digunakan berupa pakan basal rumput alam dan konsentrat berbentuk pelet dengan kandungan protein disusun sebesar 16% yang terdiri dari lamtoro 30%, gamal 20%, kangkung afkir 8%, kehi 10%, jagung 15%, pollard 15% dan mineral 2%. Penelitian menggunakan rancangan acak kelompok dengan 4 perlakuan dan 4 ulangan yakni P0: hay rumput alam adlib; P1: P0+pelet 0,5% dari BB; P2: P0+pelet 1,0% dari BB; dan P3: P0+pelet 1,5% dari BB. Penelitian dilaksanakan selama 10 minggu yakni 2 minggu masa penyesuaian pakan dan 8 minggu pengambilan data. Variabel yang diamati berupa konsumsi dan kecernaan karbohidrat. Data dianalisis menggunakan <em>analysis of variance</em> dengan uji lanjut Duncan menggunakan aplikasi <em>SPSS for windows</em>.</p> <p><strong>Tabel 1</strong>. Konsumsi dan kecernaan karbohidrat</p> <table> <tbody> <tr> <td width="196"> <p>Parameter</p> </td> <td width="94"> <p>P0</p> </td> <td width="93"> <p>P1</p> </td> <td width="97"> <p>P2</p> </td> <td width="94"> <p>P3</p> </td> <td width="45"> <p>Sig</p> </td> </tr> <tr> <td width="196"> <p>Konsumsi Karbohidrat (g/e/h)</p> </td> <td width="94"> <p>309,21±14,04<sup>a</sup></p> </td> <td width="93"> <p>407,69±40,65<sup>b</sup></p> </td> <td width="97"> <p>464,31±66,61<sup>bc</sup></p> </td> <td width="94"> <p>506,50±44,93<sup>c</sup></p> </td> <td width="45"> <p>0,000</p> </td> </tr> <tr> <td width="196"> <p>Kecernaan Karbohidrat (%)</p> </td> <td width="94"> <p>45,29±2,56<sup>a</sup></p> </td> <td width="93"> <p>60,38±10,63<sup>b</sup></p> </td> <td width="97"> <p>54,14±3,10<sup>ab</sup></p> </td> <td width="94"> <p>62,95±4,87<sup>b</sup></p> </td> <td width="45"> <p>0,008</p> </td> </tr> </tbody> </table> <p>Keterangan: <em>Superscript</em> yang berbeda pada baris yang sama menunjukkan perbedaan nyata (P&lt;0,05)</p> <p>Ternak domba yang mendapatkan ransum berupa pakan hay rumput alam <em>ad libitum</em> memperoleh konsumsi dan kecernaan karbohidrat paling rendah dibandingkan ternak yang mendapatkan tambahan pakan pelet baik pada level 0,5% hingga 1,5% dari bobot badan. Hal ini menunjukkan secara jelas bahwa pakan hay rumput alam di padang penggembalaan Sumba belum optimal dijadikan pakan tunggal bagi ternak domba. Ternak membutuhkan sumber energi tambahan untuk proses fermentasi rumen dan pertumbuhan. Semakin tinggi level pemberian pakan pelet, cenderung meningkatkan konsumsi dan kecernaan karbohidrat. Menurut Bheo <em>et al</em>. (2024) menyatakan bahwa ternak ruminansia kecil yang diberikan pakan komplit dengan level berbeda pada pakan basal lamtoro memperlihatkan tidak adanya perbedaan nyata dengan tingkat konsumsi karbohidrat sebesar 369-444 gram/ekor/hari dan kecernaan karbohidrat sebesar 70-77%. Hasil penelitian tersebut memperlihatkan bahwa pakan lamtoro sudah cukup baik dalam penyediaan karbohidrat yang mudah dicerna bagi ternak ruminansia kecil. Pada penelitian ini, pakan pelet yang memiliki kandungan nutrisi yang terkonsentrasi memberikan pengaruh yang baik bagi ketersediaan karbohidrat yang bisa dikonsumsi dan mudah dicerna sehingga mampu meningkatkan persentase kecernaan ransum dengan pakan basal rumput alam.</p> <p>Pemberian pakan pelet hingga level 1,5% dari bobot badan pada penelitian ini mampu meningkatkan konsumsi dan kecernaan karbohidrat pada ternak domba jantan. Penelitian lanjutan untuk level pemberian pakan pelet masih diperlukan untuk mengetahui sejauh mana keefektifan pakan pelet yang dibuat mampu memberikan pengaruh pada konsumsi pakan, produktivitas ternak maupun nilai ekonomis ransum domba penggemukan.</p> 2025-11-28T00:00:00+08:00 Copyright (c) 2025 Prosiding Seminar Nasional Hasil-Hasil Penelitian https://ejurnal.politanikoe.ac.id/index.php/psnp/article/view/466 KONVERSI LAHAN SAWAH DAN TANTANGAN SOSIAL EKONOMI DALAM MEWUJUDKAN RANTAI PANGAN BERKELANJUTAN DI MANGGARAI BARAT 2025-11-15T10:54:58+08:00 Maria Fransiska Darlen darlenfransiska@gmail.com Mustafa Abdurrahman darlenfransiska@gmail.com Bayu Mahendra darlenfransiska@gmail.com Yuliana Wahyu darlenfransiska@gmail.com <p>Kabupaten Manggarai Barat merupakan salah satu sentra produksi padi di wilayah Flores barat yang berperan penting dalam menopang ketahanan pangan lokal di Provinsi NTT. Namun, dalam satu dekade terakhir, dinamika pembangunan ekonomi terutama di sektor pariwisata dan infrastruktur telah memicu perubahan signifikan terhadap struktur penggunaan lahan pertanian, khususnya sawah. Fenomena ini berdampak langsung terhadap pola produksi pangan, kesejahteraan petani dan keberlanjutan rantai pasok pangan di daerah tersebut. Kajian ini penting dilakukan guna memahami secara mendalam dampak konversi lahan sawah dan faktor sosial ekonomi yang melatarbelakanginya, serta bagaimana upaya pemerintah dan masyarakat dalam menjaga keberlanjutan rantai pangan di Manggarai Barat. Hasil kajian diharapkan dapat memberikan dasar ilmiah bagi perumusan kebijakan pembangunan wilayah yang lebih berpihak pada keberlanjutan pertanian dan kesejahteraan masyarakat lokal. Metode pengambilan data dilakukan dengan survei instansional, studi literatur dan hasilnya dianalisis dengan pendekatan campuran kuantitatif dan kualitatif <em>(mixed methods) </em>dengan model sekuensial eksplanatori <em>(explanatory sequential design)</em>. Peneliti menggabungkan analisis data statistik dengan wawasan empiris dari lapangan yakni pandangan petani, aparat desa dan pemangku kebijakan lokal.</p> <p>Hasilnya menunjukkan bahwa selama periode 2018 – 2024, terjadi penurunan luas lahan sawah dan produksi padi yang signifikan. Penurunan produksi padi berkorelasi langsung dengan penyusutan luas lahan sawah di sebagian besar kecamatan. Seperti di Kecamatan Komodo, luas lahan menurun dari 5.662,2 ha (2018) menjadi 2.307,5 ha (2024), diikuti oleh penurunan produksi dari 26.626,71 ton menjadi 13.734,90 ton. Hal yang sama terlihat di Kecamatan Lembor Selatan, di mana luas lahan menyusut dari 7.272,6 ha menjadi 3.676,0 ha dan produksi menurun dari 33.518,00 ton menjadi 21.235,34 ton. Pola ini menunjukkan bahwa konversi lahan sawah akan berdampak langsung terhadap kapasitas produksi pangan daerah.</p> <p>Di sisi lain, produktivitas padi sawah menunjukkan tren peningkatan hasil per hektar, meskipun dalam waktu yang sama luas lahan sawah dan total produksi padi mengalami penurunan. Di tengah semakin menyusutnya lahan pertanian akibat konversi lahan sawah, petani di Manggarai Barat masih mampu meningkatkan efisiensi usahatani melalui intensifikasi dan perbaikan teknologi produksi. Rata-rata produktivitas padi meningkat dari 4,31 ton/ha pada tahun 2018 menjadi 5,43 ton/ha pada tahun 2024. Kecamatan Lembor dan Lembor Selatan merupakan dua wilayah dengan produktivitas tertinggi. Lembor mencatat peningkatan dari 5,69 ton/ha (2018) menjadi 6,89 ton/ha (2024), sementara Lembor Selatan naik dari 4,61 ton/ha menjadi 5,78 ton/ha. Namun peningkatan produktivitas cenderung menjadi strategi adaptif jangka pendek, bukan solusi struktural terhadap ancaman berkurangnya lahan sawah.</p> <p>Fenomena ini mencerminkan adanya tekanan serius akibat konversi lahan pertanian ke sektor non-pertanian seperti permukiman, pariwisata dan infrastruktur, yang pada gilirannya mengancam keberlanjutan sistem pangan daerah. Dari sisi sosial ekonomi, berkurangnya lahan garapan memperkecil skala usaha tani, menurunkan pendapatan petani dan menggeser struktur ekonomi lokal dari basis agraris menuju ekonomi jasa, sehingga rantai pangan berkelanjutan menjadi semakin rapuh. Hasil ini menegaskan bahwa upaya menjaga ketahanan dan keberlanjutan pangan di Manggarai Barat memerlukan kebijakan perlindungan lahan sawah, penguatan kelembagaan petani dan transformasi sosial ekonomi yang inklusif agar keseimbangan antara pertumbuhan ekonomi dan keberlanjutan pangan dapat terwujud. Penurunan luas lahan sawah yang terus terjadi meskipun produktivitas meningkat menandakan bahwa kapasitas produksi lokal tidak lagi mampu memenuhi kebutuhan pangan masyarakat secara mandiri. Akibatnya, terjadi peningkatan ketergantungan pasokan beras dari luar daerah, yang membuat sistem pangan lokal menjadi rentan terhadap fluktuasi harga dan pasokan eksternal.</p> <p>Sementara itu, konversi lahan sawah menjadi kawasan pariwisata, perumahan dan infrastruktur memang mendorong pertumbuhan ekonomi daerah, namun manfaatnya cenderung terkonsentrasi pada kelompok ekonomi menengah ke atas atau pelaku sektor pariwisata, bukan pada petani lokal yang kehilangan lahan. Ketimpangan ini memperlebar jurang sosial-ekonomi antarwarga dan melemahkan fondasi sosial pedesaan yang selama ini menopang produksi pangan. Maka, pembangunan pariwisata di Manggarai Barat perlu diarahkan pada model pariwisata berkelanjutan dan inklusif, yang tidak hanya mengejar pertumbuhan ekonomi, tetapi juga melindungi lahan pangan strategis dan memperkuat posisi petani dalam rantai pasok pangan lokal sebagai bagian integral dari sistem ketahanan pangan daerah.</p> 2025-11-28T00:00:00+08:00 Copyright (c) 2025 Prosiding Seminar Nasional Hasil-Hasil Penelitian https://ejurnal.politanikoe.ac.id/index.php/psnp/article/view/370 STRATEGI KONSERVASI BIODIVERSITAS DAN EKOWISATA BERNILAI EKONOMI KREATIF DI TESBATAN KECAMATAN AMARASI, KABUPATEN KUPANG 2025-11-15T11:04:20+08:00 Sutan Sahala Muda Marpaung marpaungsutan@gmail.com Hendra Kurniawan marpaungsutan@gmail.com Nusrah Rusadi marpaungsutan@gmail.com Eva Oktaviani marpaungsutan@gmail.com Firman Syah marpaungsutan@gmail.com Habel Martin Nopemnanu marpaungsutan@gmail.com Dimaz Danang Al-Reza marpaungsutan@gmail.com Timotius Ragga Rina marpaungsutan@gmail.com Protus Hyasintus Asalang marpaungsutan@gmail.com Gadis Kartika Pratiwi marpaungsutan@gmail.com <p>Wilayah desa Tesbatan di Kecamatan Amarasi, Kabupaten Kupang, memiliki kekayaan biodiversitas yang tinggi serta potensi ekowisata alam dan budaya yang khas. Pengelolaan potensi tersebut masih belum optimal karena kegiatan konservasi yang dilakukan masih bersifat pasif, sedangkan pengembangan ekowisata belum terintegrasi dengan potensi ekonomi kreatif lokal. Akibatnya, manfaat ekologis dan ekonomi dari kekayaan sumber daya alam tersebut belum dirasakan secara maksimal oleh masyarakat sekitar. Keberhasilan pengelolaan kawasan sangat bergantung pada keterlibatan seluruh pemangku kepentingan, termasuk pemerintah daerah, tokoh adat, masyarakat, dan lembaga kehutanan yang berperan dalam mengawal pelestarian sumber daya hutan dan peningkatan kesejahteraan masyarakat lokal (Bakri <em>et al</em>., 2024).</p> <p>Penelitian ini menggunakan pendekatan sistemik dan partisipatif yang menggabungkan analisis potensi sumber daya alam, pemetaan sosial, serta teknik pemodelan kebijakan. Tahapan penelitian meliputi identifikasi potensi flora dan fauna serta daya tarik wisata alam dan budaya; analisis variabel kunci menggunakan <em>Matrix of Cross Impact Multiplications Applied to Classification</em> (MICMAC) untuk menentukan faktor pendorong; pemetaan peran aktor dengan <em>Matrix of Alliances and Conflicts: Tactics, Objectives and Recommendations</em> (MACTOR); dan penyusunan struktur strategi menggunakan <em>Interpretive Structural Modeling</em> (ISM). Pengumpulan data dilakukan melalui survei lapangan, wawancara mendalam menggunakan kuesioner terarah yang melibatkan 10 aktor diantaranya Dinas Lingkungan Hidup dan Kehutanan (DLHK), Kelurahan Tesbatan, Kesatuan Pengelolaan Hutan (KPH), tokoh adat setempat dan lain-lain.</p> <p>Hasil penelitian menunjukkan bahwa Kelurahan desa Tesbatan, DLHK, tokoh adat, dan KPH merupakan aktor dengan pengaruh paling kuat dalam sistem pengelolaan kawasan. Analisis ISM mengungkap bahwa faktor utama yang memengaruhi keberhasilan pengembangan konservasi dan ekowisata adalah daya tarik wisata alam, kekayaan budaya lokal, dukungan pemerintah, dan kejelasan regulasi. Keempat faktor ini saling berinteraksi dalam membentuk sistem pengelolaan yang adaptif dan berkelanjutan. Daya tarik alam dan budaya lokal berfungsi sebagai penggerak sosial dan ekonomi, sementara dukungan pemerintah dan regulasi yang kuat menjadi faktor pendorong utama (<em>driver variables</em>) dalam struktur hierarki ISM. Berdasarkan hasil analisis, strategi penguatan kelembagaan lokal menjadi prioritas untuk meningkatkan efektivitas pengelolaan kawasan.</p> <p>Strategi yang direkomendasikan melalui model ISM meliputi penguatan koordinasi lintas lembaga antara DLHK, KPH, dan pemerintah kelurahan; peningkatan kapasitas masyarakat melalui pelatihan dan pendampingan berbasis ekonomi kreatif; serta penyusunan regulasi daerah yang berpihak pada pelestarian biodiversitas dan peningkatan kesejahteraan masyarakat. Implementasi strategi ini akan memperkuat hubungan antar aktor dan memastikan pengelolaan sumber daya berjalan secara partisipatif, adaptif, dan berkelanjutan (Laili, 2025). Hasil kajian ini menunjukkan bahwa keberhasilan konservasi tidak hanya bergantung pada aspek ekologi, tetapi juga pada penguatan sosial dan ekonomi masyarakat setempat. Pendekatan kolaboratif berbasis kearifan lokal perlu terus dikembangkan agar pengelolaan kawasan desa Tesbatan dapat menjadi model bagi pengembangan ekowisata berkelanjutan di wilayah lain di Nusa Tenggara Timur.</p> <p>Penelitian ini menegaskan pentingnya sinergi antara pemerintah, masyarakat adat, dan lembaga pengelola hutan dalam mengembangkan strategi konservasi yang menjaga biodiversitas sekaligus mendorong ekonomi kreatif berbasis ekowisata. Dengan dukungan regulasi dan partisipasi aktif seluruh pihak, desa Tesbatan berpotensi menjadi destinasi ekowisata unggulan yang berkelanjutan secara ekologis, sosial, dan ekonomi.</p> 2025-11-28T00:00:00+08:00 Copyright (c) 2025 Prosiding Seminar Nasional Hasil-Hasil Penelitian https://ejurnal.politanikoe.ac.id/index.php/psnp/article/view/437 PEMANFAATAN LIMBAH IKAN SEBAGAI KOMPOS PELET UNTUK MENINGKATKAN PERTUMBUHAN DAN HASIL SELADA KERITING 2025-11-15T11:09:10+08:00 Chatlynbi T. Br. Pandjaitan chatlynpandjaitan@gmail.com Eko H. A. Juwaningsih chatlynpandjaitan@gmail.com Theresia I. C. F. Soba chatlynpandjaitan@gmail.com <p>Tanaman selada keriting (<em>Lactuca sativa</em> L.) merupakan komoditi hortikultura bernilai komersial tinggi dengan produksi yang berfluktuasi dan salah satu cara untuk meningkatkan produksi selada keriting yaitu dengan menggunakan pupuk organik. Pengolahan limbah ikan sebagai pupuk organik kompos dalam bentuk granular/pelet dilakukan guna mengurangi jumlah mikroba yang tidak menguntungkan di dalam bahan, memudahkan penanganan, meningkatkan palatabilitas dan mempertahankan kualitas (Susilawati dan Khairini, 2017).</p> <p>Penelitian ini dilaksanakan pada bulan April sampai Juni 2024, bertempat di Lahan Petani Hortikultura Desa Noebaki, Kabupaten Kupang, Provinsi NTT. Alat yang digunakan adalah cangkul, sekop, ember, gembor, kamera, meteran, mistar, timbangan digital, polybag 30×30 cm, mortar, oven, dan alat tulis menulis. Bahan yang digunakan adalah limbah ikan, arang sekam, nenas, aktivator Bio-3, kulit pisang, kulit ubi kayu, air, benih selada varietas Grand Rapids. Penelitian ini menggunakan Rancangan Acak Kelompok (RAK) faktor tunggal dengan 6 perlakuan dosis kompos pelet limbah ikan: 25 ton/ha (62,5 g/polibag), 30 ton/ha (75 g/ polibag), 35 ton/ha (87,5 g/ polibag), 40 ton/ha (100 g/polibag), 45 ton/ha (112,5 g/polibag0, 50 ton/ha (125 g/polibag) dan setiap perlakuan diulang 4 kali.</p> <p>Tabel 1 menunjukkan bahwa perlakuan kompos pelet limbah ikan pada dosis yang berbeda berpengaruh nyata terhadap tinggi tanaman, jumlah daun, klorofil daun, berat segar dan berat kering.</p> <p><strong>Tabel 1.</strong> Rata-Rata Tinggi Tanaman, Jumlah Daun, Klorofil Daun, Berat Segar dan Berat Kering Tanaman pada Berbagai Dosis Pupuk Kompos Pelet Limbah Ikan.</p> <table width="605"> <tbody> <tr> <td rowspan="2" width="151"> <p>Perlakuan</p> </td> <td colspan="4" width="123"> <p>Rerata Tinggi Tanaman (cm)</p> </td> <td colspan="4" width="123"> <p>Jumlah daun (helai)</p> </td> <td rowspan="2" width="66"> <p>Klorofil Daun (mg/l)</p> </td> <td rowspan="2" width="66"> <p>Berat segar (gr)</p> </td> <td rowspan="2" width="76"> <p>Berat kering (gr)</p> </td> </tr> <tr> <td colspan="2" width="57"> <p>2 MST</p> </td> <td colspan="2" width="66"> <p>4 MST</p> </td> <td colspan="2" width="62"> <p>2 MST</p> </td> <td colspan="2" width="61"> <p>4 MST</p> </td> </tr> <tr> <td width="151"> <p>25 ton/ha (62,5 g/polibag)</p> </td> <td width="29"> <p>5,8</p> </td> <td width="28"> <p>a</p> </td> <td width="38"> <p>18,6</p> </td> <td width="29"> <p>a</p> </td> <td width="28"> <p>18,6</p> </td> <td width="33"> <p>a</p> </td> <td width="34"> <p>18,6</p> </td> <td width="28"> <p>a</p> </td> <td width="66"> <p>2,9 a</p> </td> <td width="66"> <p>182,8 a</p> </td> <td width="76"> <p>8,3&nbsp; a</p> </td> </tr> <tr> <td width="151"> <p>30 ton/ha (75 g/ polibag)</p> </td> <td width="29"> <p>6,3</p> </td> <td width="28"> <p>ab</p> </td> <td width="38"> <p>18,8</p> </td> <td width="29"> <p>ab</p> </td> <td width="28"> <p>18,8</p> </td> <td width="33"> <p>ab</p> </td> <td width="34"> <p>18,8</p> </td> <td width="28"> <p>ab</p> </td> <td width="66"> <p>3,0 a</p> </td> <td width="66"> <p>176,4 a</p> </td> <td width="76"> <p>8,6&nbsp; ab</p> </td> </tr> <tr> <td width="151"> <p>35 ton/ha (87,5 g/ polibag)</p> </td> <td width="29"> <p>6,8</p> </td> <td width="28"> <p>ab</p> </td> <td width="38"> <p>19,7</p> </td> <td width="29"> <p>ab</p> </td> <td width="28"> <p>19,7</p> </td> <td width="33"> <p>abc</p> </td> <td width="34"> <p>19,7</p> </td> <td width="28"> <p>abc</p> </td> <td width="66"> <p>3,3 ab</p> </td> <td width="66"> <p>216,7 ab</p> </td> <td width="76"> <p>8,6&nbsp; ab</p> </td> </tr> <tr> <td width="151"> <p>40 ton/ha (100 g/polibag)</p> </td> <td width="29"> <p>7,5</p> </td> <td width="28"> <p>ab</p> </td> <td width="38"> <p>20,2</p> </td> <td width="29"> <p>ab</p> </td> <td width="28"> <p>20,2</p> </td> <td width="33"> <p>abc</p> </td> <td width="34"> <p>20,2</p> </td> <td width="28"> <p>abc</p> </td> <td width="66"> <p>3,5 ab</p> </td> <td width="66"> <p>219,4 ab</p> </td> <td width="76"> <p>9,4&nbsp; ab</p> </td> </tr> <tr> <td width="151"> <p>45 ton/ha (112,5 g/polibag)</p> </td> <td width="29"> <p>8,1</p> </td> <td width="28"> <p>ab</p> </td> <td width="38"> <p>20,6</p> </td> <td width="29"> <p>ab</p> </td> <td width="28"> <p>20,6</p> </td> <td width="33"> <p>bc</p> </td> <td width="34"> <p>20,6</p> </td> <td width="28"> <p>bc</p> </td> <td width="66"> <p>3,8 ab</p> </td> <td width="66"> <p>228,0 ab</p> </td> <td width="76"> <p>10,9 ab</p> </td> </tr> <tr> <td width="151"> <p>50 ton/ha (125 g/polibag)</p> </td> <td width="29"> <p>8,5</p> </td> <td width="28"> <p>b</p> </td> <td width="38"> <p>21,6</p> </td> <td width="29"> <p>b</p> </td> <td width="28"> <p>21,6</p> </td> <td width="33"> <p>c</p> </td> <td width="34"> <p>21,6</p> </td> <td width="28"> <p>c</p> </td> <td width="66"> <p>4,4 b</p> </td> <td width="66"> <p>247,5 b</p> </td> <td width="76"> <p>11,0 b</p> </td> </tr> </tbody> </table> <p>Pupuk kompos pelet limbah ikan dapat meningkatkan kesuburan tanah dan menyediakan nutrisi yang dibutuhkan tanaman untuk tumbuh optimal. Pemberian pupuk dengan dosis yang sesuai akan merangsang pertumbuhan akar yang lebih kuat, yang pada gilirannya meningkatkan ketersediaan air dan unsur hara untuk tanaman, sehingga dapat mempercepat pertumbuhannya dan mendukung proses fisiologis, seperti fotosintesis dan pembentukan sel-sel baru, yang pada akhirnya berdampak pada peningkatan tinggi tanaman dan membentuk lebih banyak daun (Sari dkk., 2019 dan Hidayati dkk., 2020).</p> <p>Limbah ikan mengandung unsur makro dan mikro yang diperlukan oleh tanaman untuk tumbuh optimal, seperti nitrogen, fosfor, kalium, dan magnesium (Haug, 1993). Nitrogen, khususnya, berperan dalam sintesis asam amino dan protein yang merupakan komponen utama dalam pembentukan klorofil (Taiz &amp; Zeiger, 2010). Dosis pupuk yang lebih tinggi memungkinkan tanaman memperoleh lebih banyak unsur hara untuk mendukung berbagai proses fisiologis, termasuk sintesis klorofil (Feller dkk., 2008). Pemberian dosis pupuk yang tepat dapat meningkatkan ketersediaan nutrisi di tanah, sehingga merangsang pertumbuhan akar dan vegetatif tanaman sehingga meningkatkan berat segar tanaman juga cenderung meningkatkan pertumbuhan tanaman karena suplai unsur hara tersedia lebih banyak untuk pembentukan jaringan tanaman yang lebih besar, yang tercermin pada peningkatan berat segar tanaman (Sari dkk., 2019). Berat kering tanaman merupakan indikasi pertumbuhan, di mana fotosintat bersih yang diendapkan setelah kadar air dikeringkan. Bobot kering menunjukkan kemampuan tanaman mengambil unsur hara untuk menunjang pertumbuhan dan aktivitas metabolisme tanaman, dengan demikian semakin besar berat kering menunjukkan proses fotosintesis berlangsung lebih efisien. Semakin besar berat kering semakin efisien proses fotosintesis yang terjadi dan produktivitas serta perkembangan sel-sel jaringan semakin tinggi dan cepat, sehingga pertumbuhan tanaman menjadi lebih baik (Soemarno, 2017) .</p> <p>Berdasarkan hasil penelitian maka dapat disimpulkan bahwa pupuk kompos pelet limbah ikan dengan dosis 87,5 g/polibag memberikan hasil terbaik terhadap variabel tinggi tanaman umur 2 dan 4 MST (6,8 cm dan 19,7 cm), jumlah daun umur 2 dan 4 MST (4,2 helai dan 17,0 helai), klorofil daun (3,3 mg/l), berat segar tanaman (216,7 g) dan berat kering tanaman (8,6 g).</p> 2025-11-28T00:00:00+08:00 Copyright (c) 2025 Prosiding Seminar Nasional Hasil-Hasil Penelitian https://ejurnal.politanikoe.ac.id/index.php/psnp/article/view/342 EFEKTIVITAS MEDIA TANAM TERHADAP PERTUMBUHAN DAN HASIL BROKOLI DALAM POLIBAG 2025-11-15T11:15:09+08:00 Suryawati suryawatigusma@ymail.com H. M. C. Sine suryawatigusma@ymail.com P. Y. E Dhajo suryawatigusma@ymail.com <p>Media tanam Brokoli (<em>Brassica oleracea</em> L)&nbsp; paling efektif untuk menopang pertumbuhan dan hasil brokoli optimal dalam sistem polibag belum diketahui. Oleh karena itu, penelitian &nbsp;bertujuan mengkaji efektivitas berbagai media tanam terhadap pertumbuhan serta hasil brokoli perlu dilakukan.</p> <p>&nbsp;&nbsp;&nbsp; Rancangan penelitian menggunakan&nbsp; Rancangan Acak Kelompok (RAK) &nbsp;adalah 7 perlakuan komposisi media tanam dan 4 ulangan. &nbsp;Perlakuan terdiri atas:&nbsp; P0 (tanah 100%); P1 (tanah 70%, bokashi 20%, arang sekam 10%); P2 (tanah 60%, bokashi 10%, arang sekam 30%); P3 (tanah 50%, bokashi 30%, arang sekam 20%); P4 (tanah 40%, bokashi 40%, arang sekam 20%); P5 (tanah 30%, bokashi 20%, arang sekam 50%); dan P6 (tanah 20%, bokashi 60%, arang sekam 20%). Tahap awal penelitian dimulai persiapan media tanam sesuai perlakuan. Kegiatan selanjunya adalah&nbsp; penyemaian benih brokoli,&nbsp; selama 14 hari, kemudian penanaman&nbsp; dilakukan &nbsp;pada semua perlakuan yang duiujicoba. &nbsp;Pemeliharaan tanaman &nbsp;intensif, meliputi: penyiraman, penyiangan gulma, pengendalian hama/penyakit dan panen. &nbsp;&nbsp;Data pengamatan&nbsp; dianalisis &nbsp;menggunakan &nbsp;analisis ragam RAK, &nbsp;apabila terdapat pengaruh&nbsp; yang nyata &nbsp;perlakuan, dilanjutkan&nbsp; dengan uji lanjut Tukey taraf 5%.</p> <p>&nbsp;&nbsp;&nbsp; Hasil analisis laboratorium &nbsp;sifat kimia media tanam menunjukkan penambahan bokashi dan arang sekam padi mampu meningkatkan kandungan hara media tanam dibandingkan dengan perlakuan &nbsp;tanah 100%. Media tanam dengan campuran bokashi dan arang sekam memiliki karakteristik yang lebih baik, ditunjukkan dengan kategori C-organik sangat tinggi, &nbsp;kapasitas tukar kation (KTK) juga tergolong tinggi, kandungan N-total dalam media tanam juga tinggi, kandungan fosfor (P) dalam media berada pada kategori sangat tinggi, kandungan kalium (K) juga tergolong sangat tinggi.</p> <p>Peningkatan kandungan hara pada media tanam terjadi karena bokashi merupakan hasil dekomposisi bahan organik yang kaya akan unsur hara makro seperti nitrogen (N), fosfor (P), dan kalium (K), serta unsur hara mikro seperti kalsium (Ca), magnesium (Mg), dan boron (B). Proses fermentasi pada pembuatan bokashi menghasilkan senyawa organik yang mudah diserap tanaman dan memperbaiki sifat kimia, fisik, serta biologi media tanam &nbsp;&nbsp;Selain itu, penambahan bokashi ke dalam media dapat meningkatkan ketersediaan unsur hara dan aktivitas mikroorganisme tanah yang berperan penting dalam dekomposisi bahan organik (Journal of Research in Plant, 2025). Adapun arang sekam padi memiliki peran penting dalam memperbaiki struktur fisik media tanam. Arang sekam bersifat ringan, berpori, dan memiliki daya serap air yang baik sehingga meningkatkan aerasi, porositas, dan drainase media (Jurnal Unimus, 2023). Struktur pori pada arang sekam juga mendukung sirkulasi udara dan pergerakan air dalam media tanam, yang pada akhirnya memperbaiki lingkungan perakaran. Dengan kondisi aerasi yang optimal, akar tanaman dapat tumbuh lebih baik dan mampu menyerap unsur hara secara lebih efisien. &nbsp;Oleh karena itu, kombinasi penggunaan bokashi dan arang sekam padi dalam media tanam memberikan efek sinergis terhadap peningkatan kesuburan dan produktivitas tanaman.</p> <p>Media tanam P4&nbsp; menunjukkan rata-rata tanaman &nbsp;tertinggi, Jumlah daun terbanyak, Berat bunga tertinggi dan Berat segar yang tertinggi, berbeda nyata dibandingkan tanah saja P0 (28,96 cm), meskipun tidak berbeda nyata dengan &nbsp;perlakuan lainnya. &nbsp;Temuan ini mengindikasikan &nbsp;komposisi media &nbsp;(40%) bokashi memberikan ketersediaan unsur hara yang optimal untuk mendukung pertumbuhan vegetatif. Arang sekam 20% turut menjaga kelembaban serta memperbaiki aerasi media, sehingga sistem perakaran berkembang dengan baik dan penyerapan unsur hara menjadi lebih efisien. Diameter bunga &nbsp;perlakuan &nbsp;P4 memberikan hasil tertinggi &nbsp;&nbsp;dan terjadi peningkatan sebesar 41,75%. Perlakuan P4 menghasilkan berat segar tertinggi &nbsp;dan meningkat 54,81% dibandingkan kontrol (194,67 g) dan berbeda nyata secara statistik. Peningkatan berat segar ini merupakan hasil akumulasi dari pertumbuhan vegetatif yang baik serta perkembangan organ generatif yang sempurna. Komposisi media tanam terbukti berpengaruh nyata terhadap pertumbuhan dan hasil tanaman brokoli. Perlakuan terbaik ditunjukkan pada P4 (tanah 40%, bokashi 40%, arang sekam 20%) dengan hasil: Tinggi tanaman 35,63 cm, Jumlah daun 8,25 helai, Diameter bunga 150,17 mm, serta Berat segar bunga 301,33 g.</p> 2025-11-28T00:00:00+08:00 Copyright (c) 2025 Prosiding Seminar Nasional Hasil-Hasil Penelitian https://ejurnal.politanikoe.ac.id/index.php/psnp/article/view/426 KAJIAN EFISIENSI DAN TANTANGAN RANTAI PASOK GULA SEMUT DI PULAU ROTE, NUSA TENGGARA TIMUR 2025-11-15T11:20:29+08:00 Agrippina Agnes Bele ina_bele@yahoo.co.id Ima Malawati ina_bele@yahoo.co.id John Tibo Kana Tiri ina_bele@yahoo.co.id Melinda Moata ina_bele@yahoo.co.id <p>Gula semut merupakan produk turunan nira lontar bernilai ekonomi tinggi yang banyak dikembangkan di Pulau Rote, NTT. Pengolahannya masih tradisional dan berskala rumah tangga sehingga nilai tambah bagi petani rendah, sementara rantai pasok panjang dan tidak efisien. Keuntungan lebih banyak dinikmati pedagang daripada penyadap nira. Tantangan utama meliputi keterbatasan infrastruktur, biaya transportasi tinggi, mutu produk tidak konsisten, serta minimnya akses pasar dan kelembagaan petani. Padahal, prospek ekonominya besar karena harga gula semut nasional jauh lebih tinggi. Diperlukan efisiensi rantai pasok, peningkatan mutu, dan penguatan kelembagaan untuk pengembangan berkelanjutan.</p> <p>Penelitian dilakukan dengan pendekatan studi kualitatif dan studi literatur. Data primer diperoleh melalui observasi lapangan dan wawancara mendalam dengan petani penyadap, pelaku pengolah, pengepul, dan pedagang lokal. Data sekunder dikumpulkan dari laporan pemerintah daerah, jurnal ilmiah, dan publikasi kementerian terkait. Analisis data dilakukan secara deskriptif melalui pemetaan alur rantai pasok, analisis nilai tambah, serta identifikasi faktor penghambat dan peluang pengembangan.</p> <p>Penelitian di Desa Oetutulu menunjukkan petani menyadap 10–15 pohon lontar dengan produktivitas sekitar 5 liter nira per pohon per hari. Dari 6–7 liter nira dihasilkan 1 kg gula semut, sehingga produksi per petani mencapai sekitar 3,4 ton per tahun. Rantai pasok melibatkan petani, pengolah, pengepul, pedagang, dan distributor nasional. Struktur rantai pasok masih tradisional dan tidak terkoordinasi, menyebabkan posisi tawar petani rendah. Biaya produksi sekitar Rp6.500/kg, sedangkan harga jual lokal Rp15.000–20.000/kg dan nasional Rp35.000–50.000/kg. Margin keuntungan besar dinikmati pedagang, sehingga efisiensi dan penguatan kelembagaan petani sangat diperlukan.</p> <p>Hambatan utama pengembangan gula semut Rote meliputi 1) Skala usaha kecil dan kapasitas produksi terbatas, dengan teknologi pengolahan masih sederhana; 2) Mutu produk tidak konsisten, terutama pada kadar air, warna, dan tekstur kristal. 3) Kemasan kurang menarik dan tidak higienis, sehingga sulit bersaing di pasar modern; 4) Biaya transportasi yang tinggi akibat letak geografis Pulau Rote yang terpencil juga menjadi kendala utama, ditambah dengan 5) Minimnya sertifikasi seperti PIRT, halal, dan organik yang dibutuhkan untuk memperluas akses ke pasar nasional maupun ekspor. Untuk meningkatkan efisiensi dan daya saing gula semut Rote, diperlukan upaya penggunaan teknologi pengolahan hemat energi seperti tungku biomassa efisien dan rumah pengering surya untuk menjaga mutu produk, serta penerapan standardisasi proses kristalisasi dan kadar air agar kualitas sesuai standar. Selain itu, pengembangan kemasan higienis dan menarik dengan label informasi gizi dan asal produk dapat meningkatkan kepercayaan konsumen. Pembentukan koperasi atau kelompok produsen juga penting untuk memperkuat posisi tawar petani melalui pengolahan bersama dan pemasaran kolektif. Akses pasar dapat diperluas melalui sertifikasi halal, organik, serta branding lokal “Gula Semut Rote”, sementara kemitraan dengan UMKM dan pelaku usaha besar akan memperluas distribusi dan menjamin kontinuitas suplai. Seluruh langkah ini sejalan dengan konsep agribisnis inklusif yang menekankan peran aktif petani kecil dalam rantai nilai melalui dukungan teknologi dan kelembagaan yang kuat.</p> <p>Pulau Rote memiliki potensi besar dalam pengembangan gula semut berbasis nira lontar sebagai komoditas unggulan daerah. Analisis rantai pasok menunjukkan bahwa meskipun nilai ekonomi produk cukup tinggi, efisiensi dan daya saingnya masih terbatas oleh skala produksi kecil, mutu tidak konsisten, dan lemahnya kelembagaan petani. Peningkatan efisiensi dapat dilakukan melalui adopsi teknologi sederhana, standardisasi mutu, dan penguatan kelembagaan ekonomi petani. Dukungan pemerintah daerah, lembaga riset, serta sektor swasta menjadi penting dalam mendorong transformasi rantai pasok gula semut menuju sistem yang lebih terintegrasi dan berkelanjutan. Dengan demikian, gula semut Rote berpeluang menjadi produk unggulan yang tidak hanya meningkatkan kesejahteraan petani, tetapi juga mendukung pembangunan ekonomi hijau di NTT.</p> 2025-11-28T00:00:00+08:00 Copyright (c) 2025 Prosiding Seminar Nasional Hasil-Hasil Penelitian https://ejurnal.politanikoe.ac.id/index.php/psnp/article/view/395 DAMPAK BIOCHAR DAN VARIASI PEMBERIAN AIR TERHADAP EFISIENSI PENGGUNAAN AIR PADA TANAMAN JAGUNG DI VERTISOL 2025-11-15T12:31:42+08:00 Masria masriadimyati@yahoo.co.id M. K. Salli masriadimyati@yahoo.co.id M. Syarifuddin masriadimyati@yahoo.co.id N. Neonufa masriadimyati@yahoo.co.id <p><strong>&nbsp;</strong>Air merupakan faktor pembatas utama pertumbuhan tanaman di wilayah beriklim kering seperti Kabupaten Kupang, Nusa Tenggara Timur (NTT), yang memiliki tanah Vertisol liat dan sulit dikelola. Pemanfaatan biochar tongkol jagung sebagai pembenah tanah berpotensi meningkatkan kemampuan tanah menahan air dan efisiensi penggunaannya. Penelitian ini bertujuan menganalisis pengaruh tingkat pemberian air berdasarkan kapasitas lapang (100%, 90%, 80%, dan 70%) terhadap pertumbuhan tanaman jagung, meliputi berat basah, berat kering, penggunaan air, serta efisiensi penggunaannya pada tanah Vertisol yang diberi biochar, sebagai upaya peningkatan produktivitas pertanian di lahan semi-kering.</p> <p>Sampel tanah diambil di Desa Oesao, Kecamatan Kupang Timur, Kabupaten Kupang (10.12566° LS, 123.81556° BT) pada ketinggian 51 m dpl dan berjarak 36 km dari Kota Kupang. Kondisi lahan datar hingga bergelombang dengan kemiringan 0–3%. Sampel tanah diambil secara utuh (<em>undisturbed</em>) dan terganggu (<em>disturbed</em>) pada kedalaman 0–20 cm. Penelitian menggunakan rancangan acak lengkap (RAL) faktor tunggal, yaitu tingkat pemberian air dengan empat taraf: K1 = 100%, K2 = 90%, K3 = 80%, dan K4 = 70% kapasitas lapang, masing-masing dengan enam ulangan. Kadar air tanah dijaga melalui penimbangan harian berdasarkan berat sampel, dengan pemberian air dilakukan hingga tanaman memasuki fase generatif (60 hari, ditandai munculnya bunga jantan dan betina). Parameter yang diamati meliputi berat basah, berat kering, dan efisiensi penggunaan air. Analisis data dilakukan menggunakan analisis sidik ragam (ANOVA) dan dilanjutkan dengan uji BNT apabila terdapat perbedaan nyata.</p> <p>Hasil penelitian menunjukkan variasi kapasitas lapang berpengaruh nyata terhadap pertumbuhan dan penggunaan air tanaman. Perlakuan K1 (100% kapasitas lapang) menghasilkan berat basah tertinggi 239,48 g, berat kering 46,88 g, dan penggunaan air 456,97 mm. Penurunan kapasitas air pada K2, K3, dan K4 menurunkan berat basah, berat kering, dan penggunaan air, dengan K4 terendah (319,88 mm). Efisiensi penggunaan air tidak berbeda nyata antarperlakuan (0,093–0,102). Artinya, pengurangan air menurunkan produktivitas namun tidak meningkatkan efisiensi air, sehingga strategi irigasi hemat air perlu dilakukan hati-hati agar hasil panen tidak menurun signifikan.</p> <p><strong>&nbsp;</strong></p> <p><strong>Tabel 1. </strong>Pengaruh Kadar Air terhadap Berat Basah, Berat Kering, Penggunaan Air Tanaman dan Efiensi Penggunaan Air Tanaman Jagung</p> <table> <tbody> <tr> <td width="87"> <p>Perlakuan</p> </td> <td width="104"> <p>Berat Basah (g)</p> </td> <td width="115"> <p>Berat Kering</p> <p>(g)</p> </td> <td width="144"> <p>Penggunaan Air tanaman (mm)</p> </td> <td width="174"> <p>Efiensi Penggunaan Air (EPA)</p> </td> </tr> <tr> <td width="87"> <p>K1</p> </td> <td width="104"> <p>239.48 a</p> </td> <td width="115"> <p>46.88 a</p> </td> <td width="144"> <p>456.97 a</p> </td> <td width="174"> <p>0.102</p> </td> </tr> <tr> <td width="87"> <p>K2</p> </td> <td width="104"> <p>166.47 b</p> </td> <td width="115"> <p>38.35 b</p> </td> <td width="144"> <p>411.27 b</p> </td> <td width="174"> <p>0.093</p> </td> </tr> <tr> <td width="87"> <p>K3</p> </td> <td width="104"> <p>159.98 b</p> </td> <td width="115"> <p>36.23 b</p> </td> <td width="144"> <p>365.57 c</p> </td> <td width="174"> <p>0.099</p> </td> </tr> <tr> <td width="87"> <p>K4</p> </td> <td width="104"> <p>100.06&nbsp; c</p> </td> <td width="115"> <p>29.82 c</p> </td> <td width="144"> <p>319.88 d</p> </td> <td width="174"> <p>0.093</p> </td> </tr> <tr> <td width="87"> <p><strong><em>P-value</em></strong></p> </td> <td width="104"> <p><strong><em>0.0000</em></strong></p> </td> <td width="115"> <p><strong><em>0.0001</em></strong></p> </td> <td width="144"> <p><strong><em>0.0000</em></strong></p> </td> <td width="174"> <p><strong><em>0.496</em></strong></p> </td> </tr> <tr> <td width="87"> <p><strong>LSD</strong></p> </td> <td width="104"> <p><strong><em>0.38</em></strong></p> </td> <td width="115"> <p><strong><em>6.15</em></strong></p> </td> <td width="144"> <p><strong><em>0.93</em></strong></p> </td> <td width="174"> <p><strong><em>&nbsp;</em></strong></p> </td> </tr> </tbody> </table> 2025-11-28T00:00:00+08:00 Copyright (c) 2025 Prosiding Seminar Nasional Hasil-Hasil Penelitian https://ejurnal.politanikoe.ac.id/index.php/psnp/article/view/377 KARAKTERISTIK USAHA PRODUKTIF ISTRI NELAYAN DALAM MENINGKATKAN PENDAPATAN RUMAH TANGGA DI KELURAHAN LEWOLEBA UTARA, KABUPATEN LEMBATA 2025-11-15T12:42:30+08:00 Cici Hasnawati marlyn.kallau@gmail.com Marlyn Kallau marlyn.kallau@gmail.com Melkianus T. Bulan marlyn.kallau@gmail.com <p>Di Kelurahan Lewoleba Utara, sebagian besar penduduk berprofesi sebagai nelayan tangkap dengan pendapatan yang fluktuatif karena dipengaruhi musim dan cuaca (Kusnadi, 2002). Kondisi ini menuntut istri nelayan untuk berperan aktif membantu ekonomi keluarga melalui usaha produktif yang pendapatannya terpisah dari pendapatan hasil tangkap suami seperti menjual ikan, membuka kios, dan berdagang kecil (Kumalasari dkk., 2018). Peran ganda perempuan pesisir ini terbukti mampu memperkuat ketahanan ekonomi rumah tangga (Yulianti, 2020). Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui karakteristik usaha produktif yang dijalankan oleh istri nelayan serta kontribusinya dalam meningkatkan pendapatan rumah tangga. Responden terdiri atas 15 istri nelayan yang memiliki usaha produktif, ditentukan secara total sampling dari total 154 kepala keluarga nelayan. Penelitian menggunakan metode deskriptif kuantitatif dengan pendekatan <em>purposive sampling</em>. Data dikumpulkan melalui observasi, wawancara, dokumentasi, dan studi literatur. Analisis data dilakukan secara deskriptif kuantitatif dengan menghitung pendapatan rumah tangga serta kontribusi pendapatan istri nelayan terhadap pendapatan keluarga.</p> <p>Hasil penelitian menunjukkan bahwa sebagian besar masyarakat Kelurahan Lewoleba Utara bekerja sebagai nelayan tangkap, sedangkan para istri nelayan berperan penting dalam kegiatan ekonomi keluarga melalui berbagai usaha produktif. Dari 15 responden istri nelayan yang diteliti, mayoritas berada pada kelompok usia produktif 30–45 tahun, dengan tingkat pendidikan rata-rata sekolah dasar dan menengah. Jumlah tanggungan keluarga rata-rata 4–5 orang, sehingga kebutuhan ekonomi cukup tinggi. Jenis usaha yang dijalankan istri nelayan bervariasi, seperti membuka kios sembako, berdagang sayur, menjual pakaian bekas, menenun kain ikat, dan menjual ikan hasil tangkapan. Kegiatan usaha ini dijalankan secara mandiri dengan modal pribadi dalam skala kecil hingga menengah, serta dilakukan di sekitar rumah atau di area pesisir dekat pasar. Pendapatan istri nelayan dari usaha produktif berkisar antara Rp. 500.000 hingga Rp. 2.000.000 per bulan, tergantung pada jenis usaha dan musim penjualan. Sementara itu, pendapatan suami sebagai nelayan tangkap bervariasi antara Rp. 1.500.000 hingga Rp. 3.000.000 per bulan, tergantung hasil tangkapan dan kondisi cuaca. Berdasarkan hasil analisis, kontribusi pendapatan istri terhadap total pendapatan rumah tangga berkisar antara 25–45 persen, dengan rata-rata kontribusi sebesar 35 persen. Hal ini menunjukkan bahwa peran istri dalam kegiatan ekonomi rumah tangga sangat penting untuk menjaga kestabilan finansial keluarga, terutama pada musim paceklik atau saat hasil tangkapan menurun. Hasil penelitian ini sejalan dengan pendapat Kusnadi dkk. (2006) bahwa pekerjaan nelayan bersifat spekulatif dan bergantung pada faktor alam, sehingga partisipasi ekonomi perempuan pesisir menjadi bentuk adaptasi terhadap ketidakpastian pendapatan. Temuan ini juga mendukung penelitian Yulianti (2020) yang menyatakan bahwa usaha produktif perempuan nelayan tidak hanya berfungsi sebagai sumber tambahan ekonomi, tetapi juga memperkuat ketahanan ekonomi rumah tangga. Dengan demikian, usaha produktif istri nelayan di Kelurahan Lewoleba Utara memiliki kontribusi nyata dalam meningkatkan pendapatan dan kesejahteraan keluarga, sekaligus menunjukkan pergeseran peran perempuan dari domestik menuju partisipasi ekonomi yang lebih aktif di sektor pesisir.</p> <p>Berdasarkan hasil penelitian di Kelurahan Lewoleba Utara terhadap 15 istri nelayan yang menjalankan berbagai jenis usaha produktif, dapat disimpulkan bahwa kegiatan ekonomi perempuan pesisir berperan penting dalam menopang kesejahteraan keluarga. Jenis usaha yang dijalankan meliputi kios kelontong, jual sayur, jual ikan kering, bakul ikan, jualan kue, menenun kain ikat, serta pakaian bekas. Meskipun dikelola secara mandiri dengan modal terbatas, usaha tersebut mampu meningkatkan pendapatan rumah tangga. Kontribusi pendapatan istri nelayan berkisar antara Rp. 1.000.000 hingga Rp. 4.000.000 per bulan, menunjukkan peran signifikan mereka dalam memperkuat ekonomi keluarga nelayan.</p> 2025-11-28T00:00:00+08:00 Copyright (c) 2025 Prosiding Seminar Nasional Hasil-Hasil Penelitian https://ejurnal.politanikoe.ac.id/index.php/psnp/article/view/467 POLA KEMITRAAN USAHA PENGGEMUKAN TERNAK SAPI POTONG DI TIMOR BARAT 2025-11-15T12:55:50+08:00 J. A. Jermias cardial.penu@staff.politanikoe.ac.id C. L. O. Leo Penu cardial.penu@staff.politanikoe.ac.id A. C. Tabun cardial.penu@staff.politanikoe.ac.id M. A. J. Supit cardial.penu@staff.politanikoe.ac.id F. S. Suek cardial.penu@staff.politanikoe.ac.id M. Canadianti cardial.penu@staff.politanikoe.ac.id J. G. Noke cardial.penu@staff.politanikoe.ac.id G. A. Sunbanu cardial.penu@staff.politanikoe.ac.id D. R. Tulle cardial.penu@staff.politanikoe.ac.id I. Benu cardial.penu@staff.politanikoe.ac.id <p>Timor Barat merupakan salah satu sentra produksi ternak sapi potong nasional, khususnya bangsa sapi Bali (Leo-Penu et al., 2010). Ternak sapi yang dikirim ke luar Timor bagian Barat umumnya dihasilkan dari usaha penggemukan dilakukan secara tradisional, yang dikenal dengan istilah paron. Ternak sapi yang diparon adalah milik peternak atau kemitraan usaha penggemukan dengan pihak lain. Pola kemitraan adalah salah satu faktor penting penentu besaran income bagi peternak. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui dan mengindentifkasi seluruh bentuk kemitraan usaha penggemukan sapi di Timor Barat. Pengambilan data dilakukan dengan metode survei, observasi dan wawancara dengan perwakilan pengusaha dan peternak dari 34 perusahaan yang tergabung dalam asosiasi Persatuan Pengusaha dan Peternak Sapi (PEPPSI). <br>Hasil penelitian menunjukkan bahwa terdapat delapan sistem kemitraan penggemukan sapi potong: 1) pembagian keuntungan dengan komposisi 50:50; 2) pembagian keuntungan dengan komposisi 60:40; 3) pembagian keuntungan dengan komposisi 70:30; 4) pembagian keuntungan dengan komposisi 80:20; 5) sistem kewajiban bunga 1% per bulan bagi peternak dari total harga sapi dengan lama pemeliharaan 1 tahun; 6) pembagian sapi hasil pemeliharaan dengan skema 5:1 dan 4:1; 7) sistem kontrak/gaji dengan besaran Rp. 1.500.000–2.000.000 tanpa batasan durasi waktu; dan 8) sistem upah dari pertambahan berat badan sebesar Rp. 20.000/kg PBB. Kondisi ini menunjukkan telah terjadi perkembangan sistem kerjasama dari sisi pembagian keuntungan dibandingkan dengan hasil penelitian sebelumnya yang hanya menemukan dua pola kerjasama Pengusaha-Peternak sapi di Kabupaten Kupang yakni sistem bagi hasil dan sistem pemberian upah tetap per periode pemeliharaan (Jermias et al., 2006).<br>Penelitian ini juga mendapati bahwa dasar pembagian hasil usaha atau pendapatan peternak adalah: 1) keuntungan bersih setelah dikeluarkan seluruh biaya yakni ternak, obat-obatan, tali, dan biaya transport sapi ke lokasi pemeliharaan; 2) upah dalam bentuk nominal uang yang disepakati dalam satu periode pemeliharaan atau upah sesuai kenaikan berat badan; 3) pembagian upah dalam bentuk ternak sapi dari kelompok sapi yang digemukkan; dan 4) keuntungan bersih setelah dikurangi biaya ternak dan bunga sebesar 1% per bulan atas modal harga sapi. <br>Dari kedelapan sistem yang ada, sistem yang menjadi favorit bagi peternak adalah nomor 5 yakni bunga 1% per bulan dari total harga sapi dan diikuti dengan nomor 4 yakni pola 80:20 karena pendapatan yang lebih besar. Khusus untuk sistem nomor 4 ini, pemilik modal adalah Badan Usaha Milik Desa yang selain memiliki motivasi ekonomi juga motivasi pemberdayaan masyarakat untuk peningkatan pendapatan. Di sisi lain, sistem yang menjadi pilihan utama pemilik modal adalah nomor 8 yakni pola upah dari setiap kg PBB karena lebih mendapatkan kepastian keuntungan dalam usahanya. Dalam hal ini, pemilik modal adalah perorangan atau perusahaan.<br>Secara umum sistem kemitraan penggemukan sapi Bali di Timor Barat dapat dikategorikan menjadi tiga pola kemitraan yakni: 1) sistem bagi hasil dari keuntungan yang diperoleh dengan variasi pembagian yang sebagian besar memberikan porsi lebih besar kepada peternak; 2) sistem pemberian upah baik itu dalam bentuk uang maupun ternak sapi; dan 3) sistem bunga dari nilai sapi yang digemukkan.</p> 2025-11-28T00:00:00+08:00 Copyright (c) 2025 Prosiding Seminar Nasional Hasil-Hasil Penelitian https://ejurnal.politanikoe.ac.id/index.php/psnp/article/view/469 KADAR UREA DAN GLUKOSA DARAH SAPI BALI JANTAN YANG DIBERI PAKAN LAMTORO DAN KONSENTRAT PATI 2025-11-15T13:04:18+08:00 A. C. Tabun arnold.tabun@gmail.com C. L. O Leo Penu arnold.tabun@gmail.com J. A. Jermias arnold.tabun@gmail.com M. A. J. Supit cardial.penu@staff.politanikoe.ac.id F. S. Suek arnold.tabun@gmail.com M. Canadianti arnold.tabun@gmail.com J. G. Noke arnold.tabun@gmail.com G. A. Sunbanu arnold.tabun@gmail.com <p>Nusa Tenggara Timur memiliki potensi lokal dalam memenuhi ketersediaan pakan untuk menjamin pertumbuhan yang maksimal bagi ternak sapi. Salah satu strategi memaksimalkan pertumbuhan ternak adalah melalui suplementasi energi (Leo-Penu <em>et al</em>., 2022). Hal inilah yang mendasari adanya upaya implementasi pemberian pakan konsentrat kaya pati berbasis putak pada ternak sapi yang mendapatkan hijauan lamtoro sebagai pakan basal di peternakan rakyat, Desa Merbaun. Namun demikian, informasi tentang pengaruhnya terhadap kadar urea and glukosa dalam plasma darah Sapi Bali, masih sangat terbatas. Penelitian ini bertujuan untuk mengevaluasi kadar urea dan glukosa darah akibat suplementasi konsentrat kaya pati pada beberapa level yang berbeda pada ternak sapi Bali jantan.</p> <p>Penelitian ini melibatkan 12 ekor ternak sapi Bali jantan dan didesain menggunakan metode rancangan acak kelompok dengan 4 perlakuan dan 3 ulangan. Perlakuan yang diberikan adalah PK0 = Pakan basal lamtoro (ad libitum) tanpa konsentrat, PK1 = PK0 + 8 g BK konsentrat/kg BB, PK2 = PK0 + 16 g BK konsentrat/kg BB, dan PK3 = PK0 + 24 g BK konsentrat/kg BB. Perlakuan pakan dilakukan selama 70 hari dan sampel darah dikoleksi pada hari ke-70 yang dilakukan sebelum dan sesudah makan. Analisis konsentrasi urea darah menggunakan metode enzimatik, sedangkan glukosa darah menggunakan metode <em>Glukosa Oksidase Para Amino Phenazone</em> (GOD PAP). Data dianalisis menggunakan analisis of varians, jika ada perbedaan dilanjutkan dengan uji Duncan.</p> <p>Hasil penelitian menunjukan bahwa rata-rata kadar urea dalam plasma darah sebelum makan pada kelompok ternak PK0 adalah 40.20 mg/dl, sedangkan PK1, PK2, dan PK3 masing-masing adalah 26.73; 34,87 dan 35,87 mg/dl. Sedangkan kadar urea darah sesudah makan pada ternak PK0 adalah 53.70 mg/dl, dan pada ternak PK1, PK2, dan PK3 masing-masing adalah 34,50; 44,17; dan 39,30 mg/dl. Ini berarti kenaikan kadar urea dari sebelum dan sesudah makan secara berturut adalah 13,50; 5,90; 8,60; dan 6,00. Kenaikan kadar urea yang lebih tinggi pada ternak PK0 dapat dipahami akibat konsumsi lamtoro. Peningkatan kadar urea darah yang lebih rendah pada ternak PK1, 2 dan 3 kemungkinan disebabkan adanya pemanfaatan nitrogen secara efisien oleh mikroba protein di dalam rumen sehingga lebih sedikit ammonia yang dihasilkan dan masuk ke dalam darah (Bergman, 1990). Namun demikian, variasi antar individu masih tinggi sehingga secara statistik tidak menunjukan perbedaan yang signifikan (P&gt;0,05) antar kelompok perlakuan.</p> <p>Rerata kadar glukosa plasma darah sebelum makan pada sapi Bali jantan yang mendapat perlakuan PK0 adalah 23.90 mg/dl, sedangkan PK1, PK2, dan PK3 masing-masing adalah 43.73; 12,47 dan 15,97 mg/dl. Sedangkan kadar glukosa plasma darah sesudah makan ternak PK0 adalah 18.37 mg/dl, sedangkan pada ternak PK1, PK2, dan PK3 berturut-turut adalah 35.00; 12,47 dan 9,50 mg/dl. Pemberian pakan konsentrat kaya pati menstimulasi kadar glukosa yang tinggi seperti terlihat pada kelompok ternak PK1. Namun kadar glukosa ternak PK2 dan 3 terlihat cukup moderat termasuk PK0 kemungkinan disebabkan adanya aktivtas mikroba protein maupun variasi individu yang cukup tinggi.</p> <p>Suplementasi konsentrat kaya pati terindikasi dapat menstimulasi efisiensi pemanfaatan tingginya protein lamtoro oleh mikroba protein sehingga kadar urea plasma darah terlihat lebih rendah.</p> 2025-11-28T00:00:00+08:00 Copyright (c) 2025 Prosiding Seminar Nasional Hasil-Hasil Penelitian https://ejurnal.politanikoe.ac.id/index.php/psnp/article/view/470 PERTAMBAHAN BERAT BADAN SAPI BALI JANTAN YANG DIBERI HIJAUAN LAMTORO DAN DISUPLEMENTASI KONSENTRAT KAYA PATI 2025-11-15T14:25:48+08:00 C. L. O. Leo Penu cardial.penu@staff.politanikoe.ac.id J. A. Jermias cardial.penu@staff.politanikoe.ac.id M. A. J. Supit cardial.penu@staff.politanikoe.ac.id A. C. Tabun cardial.penu@staff.politanikoe.ac.id F. S. Suek cardial.penu@staff.politanikoe.ac.id M. Canadianti cardial.penu@staff.politanikoe.ac.id J. G. Noke cardial.penu@staff.politanikoe.ac.id G. A. Sunbanu cardial.penu@staff.politanikoe.ac.id D. R. Tulle cardial.penu@staff.politanikoe.ac.id I. G. N. Jelantik cardial.penu@staff.politanikoe.ac.id <p>Pencapaian tingkat pertumbuhan atau pertambahan berat badan (PBB) ternak yang tinggi adalah suatu indikator yang sangat penting dalam industri peternakan (Poppi &amp; McLennan, 2010). Semakin tinggi PBB ternak, maka kemungkinan optimalisasi keuntungan usaha ternak juga akan semakin tinggi. Namun demikian, mayoritas publikasi melaporkan tingkat PBB ternak yang masih rendah terutama pada peternakan rakyat. PBB sapi Bali yang dipelihara di padang pengembalaan adalah berkisar 0 hingga 0,42 kg/hari (Marsetyo et al., 2006; Quigley et al., 2014). Padahal dengan pemberian pakan supplemen, PBB ternak sapi Bali dapat dua kali lebih tinggi yaitu mencapai 0,85 kg/hari (Marsetyo et al., 2006) tergantung dari jenis supplemen yang diberikan.<br>Dua eksperimen telah dilakukan untuk menentukan PBB maksimal sapi Bali jantan yang disuplementasi pakan konsentrat kaya pati (934 g bahan organik [BO], 88 g protein kasar [PK], 252 g neutral detergent fiber [NDF]/kg bahan kering [BK]) dengan hijauan lamtoro (920 g BO, 271 g PK, 332 g NDF/ kg BK) sebagai pakan basal. Penelitian ini dilakukan secara langsung di peternakan rakyat (on farm) di kelompok tani Nekmates (binaan asosiasi pengusaha dan peternak sapi, PEPPSI), di Merbaun, kabupaten Kupang, dan semua prosedur telah mendapatkan persetujuan dari Komisi Etik Penelitian Peternakan, Perikanan dan Kelautan, Universitas Nusa Cendana (No.120/1.KT/KEPP/I/2025). Eksperimen 1, duabelas ternak sapi Bali jantan dialokasikan secara acak dalam 4 kelompok perlakuan, yaitu: P0, ternak mendapatkan pakan hijauan lamtoro seperti praktek biasa (ad libitum; n=3; BB 194,7 ± 23,6 kg); P1, P0 + konsentrat 8 g BK/kg BB (n=3; BB 180,0 ± 18,0); P2, P0 + konsentrat 16 g BK/kg BB (n=3; BB 183,0 ± 24,3 kg); P3, P0 + konsentrat 24 g BK/ kg BB (n=3; BB 188,7 ± 22,7 kg). Experimen 1 berlangsung selama 70 hari pengambilan data. Eksperimen 2, di akhir Eksperimen 1 seluruh ternak dialokasikan pada perlakuan hijauan lamtoro ad libitum + konsentrat 24 g BK/kg BB selama 12 hari. Dalam pelaksanaan kedua eksperimen, ternak ditempatkan pada kandang individu yang berlantai dan beratap dari bulan Mei hingga Agustus. Ternak sapi ditimbang setiap minggunya untuk mengetahui perubahan BB. Perubahan BB ternak tiap waktu dianalisis menggunakan analisis regresi linier sederhana (R version 4.3.1, 2023). <br>Eksperimen 1 menunjukkan rata-rata PBB ternak sapi yang tidak disuplementasi (kontrol) adalah 0,43 kg/hari. Capaian ini sama dengan yang dilaporkan dalam penelitian-penelitian sebelumnya (Marsetyo et al., 2006; Quigley et al., 2014). Sedangkan PBB ternak sapi yang disuplementasi meningkat secara linier dengan peningkatan konsumsi pakan konsentrat (PBB [g/hari] = 425.61 + 24.785 konsumsi konsentrat [g BK/kg BB], R2 = 0,85), dengan rata-rata PBB, 0,87 kg/hari. Menariknya, PBB maksimal ternak sapi yang disuplementasi konsentrat kaya pati, dapat mencapai 2,10 kg/ hari, hanya saja variasi individunya masih tinggi. Namun demikian, dengan ulangan yang lebih banyak dalam Eksperimen 2, PBB maksimal yang sama (2,08 kg/hari dengan range 0,83 – 2,08 kg/hari) diperoleh dari ternak sapi yang disuplementasi, dengan rata-rata PBB 1,40 kg/hari. Pencapaian PBB ternak sapi Bali jantan dalam penelitian ini adalah yang tertinggi dibandingkan dengan penelitian-penelitian terdahulu yang pernah dipublikasikan. <br>Penelitian ini membuktikan bahwa usaha penggemukan ternak sapi Bali jantan dapat mencapai PBB lebih dari 1 kg/hari jika diberi pakan hijauan lamtoro sebagai pakan basal dan disuplementasi dengan pakan konsentrat kaya pati. Peningkatan PBB harian ternak sapi tentunya akan mempercepat waktu yang dibutuhkan untuk mencapai bobot jual ternak, sehingga berpeluang peningkatan keuntungan usahanya.</p> 2025-11-28T00:00:00+08:00 Copyright (c) 2025 Prosiding Seminar Nasional Hasil-Hasil Penelitian https://ejurnal.politanikoe.ac.id/index.php/psnp/article/view/471 STRATEGI PENGEMBANGAN KUDA ROTE: INTEGRASI ASPEK TEKNIS, SOSIAL, DAN EKONOMI UNTUK KEBERLANJUTAN PETERNAKAN LOKAL 2025-11-15T14:38:35+08:00 M. D. S. Randu deddy_randu@yahoo.co.id G. G. Batafor deddy_randu@yahoo.co.id Y. R. Menoh deddy_randu@yahoo.co.id M. K. Deko deddy_randu@yahoo.co.id D. A. J. Ndolu deddy_randu@yahoo.co.id C. K. N. Zebua deddy_randu@yahoo.co.id <p>Kuda Rote sebagai plasma nutfah lokal Kabupaten Rote Ndao, NTT memiliki nilai ekologis, ekonomi, dan sosial budaya, namun saat ini pemanfaatannya menurun akibat perkembangan sarana transportasi. Hal ini mengancam keberlanjutan praktik tradisional dan ekonomi lokal (Rahmawati et al., 2023). Padahal, eksistensinya penting di wilayah dengan aksesibilitas rendah dan merupakan ikon budaya dalam tradisi Hu’s dan Tu’u Belis. Tantangan strategisnya mencakup disparitas kebijakan, rendahnya adopsi teknologi, serta keterbatasan ketersediaan pakan sepanjang tahun.<br>Penelitian menggunakan pendekatan mixed methods desain konvergensi konkuren untuk mengumpulkan data kuantitatif dan kualitatif secara bersamaan. 83 peternak Kuda Rote dipilih secara purposif. Data dikumpulkan dengan wawancara terstruktur, observasi lapangan, dan kajian literatur, kemudian dilakukan analisis dan perumusan strategi alternatif menggunakan SWOT dan matriks TOWS (Randu et al., 2017). Hasil penelitian diketahui bahwa kekuatan internal pada tingkat yang cukup memadai (skor 2,81), sedangkan kondisi eksternal memberikan dukungan positif (skor 2,66). Faktor internal-eksternal menghasilkan kelompok strategi (Tabel 1).<br>Tabel 1. Matriks TOWS Strategi Pengembangan Kuda Rote</p> <table width="614"> <tbody> <tr> <td width="149"> <p>Jenis Strategi</p> </td> <td width="189"> <p>Fokus Strategi</p> </td> <td width="276"> <p>Rekomendasi Aksi</p> </td> </tr> <tr> <td width="149"> <p>S-O</p> <p>(Kekuatan – Peluang)</p> </td> <td width="189"> <p>Mengoptimalkan nilai potensi budaya dan ekowisata</p> </td> <td width="276"> <p>Pengembangan <em>eco-cultural tourism</em>, kolaborasi riset perguruan tinggi, promosi Kuda Rote</p> </td> </tr> <tr> <td width="149"> <p>W-O</p> <p>(Kelemahan – Peluang)</p> </td> <td width="189"> <p>Meningkatkan penguatan kapasitas teknis peternak lokal</p> </td> <td width="276"> <p>Pelatihan, penerapan teknologi pakan dan reproduksi, sistem informasi digital</p> </td> </tr> <tr> <td width="149"> <p>S-T</p> <p>(Kekuatan – Ancaman)</p> </td> <td width="189"> <p>Melakukan mitigasi risiko eksternal pengembangan</p> </td> <td width="276"> <p>Diversifikasi dan riset pakan adaptif, indikator keberlanjutan pemanfaatan Hu’s</p> </td> </tr> <tr> <td width="149"> <p>W-T</p> <p>(Kelemahan – Ancaman)</p> </td> <td width="189"> <p>Menguatkan kelembagaan di tingkat peternak Kuda Rote</p> </td> <td width="276"> <p>Pembentukan koperasi, integrasi pakan tahan kemarau, prioritas pelatihan peternakan</p> </td> </tr> </tbody> </table> <p>Sumber: Data Primer, 2025 (Diolah)</p> <p>Analisis SWOT dan TOWS pengembangan Kuda Rote merekomendasikan kerjasama lintas sektor sesuai arah kebijakan peternakan. Strategi kunci yaitu mengembangkan <em>eco-cultural tourism</em>, mengkolaborasi riset perguruan tinggi untuk adopsi inovasi dan introduksi teknologi, mempromosikan Kuda Rote, membangun sistem informasi peternakan digital; menguatkan kapasitas kelembagaan melalui koperasi peternak; serta melakukan pelatihan yang difasilitasi pemda untuk diversifikasi usaha. Pendekatan berbasis potensi lokal dan integrasi pariwisata mencerminkan praktik peternakan berkelanjutan. Maramba <em>et al</em>. (2024) menegaskan bahwa partisipasi aktif komunitas peternak dalam <em>eco-cultural tourism</em> efektif untuk keberlanjutan dan pertumbuhan ekonomi. Kesimpulannya, pengembangan Kuda Rote berkelanjutan tidak cukup hanya berfokus pada aspek teknis, melainkan harus menggabungkan nilai budaya dan pemberdayaan ekonomi. Sinergi perguruan tinggi, pelaku pariwisata, peternak, dan pemerintah diperlukan untuk meningkatkan kesejahteraan peternak serta melestarikan budaya dan plasma nutfah. Integrasi ini membangun ekosistem peternakan yang tangguh secara ekonomi dan lestari secara budaya-lingkungan.</p> 2025-11-28T00:00:00+08:00 Copyright (c) 2025 Prosiding Seminar Nasional Hasil-Hasil Penelitian https://ejurnal.politanikoe.ac.id/index.php/psnp/article/view/472 DETEKSI SENYAWA RUTIN DARI BIJI JARAK MERAH (Jatropha gossypiifolia) MENTAH DAN SANGRAI 2025-11-15T14:47:34+08:00 Ni Sri Yuliani nisriyuliani@gmail.com Gerson Y. I. Sakan nisriyuliani@gmail.com Eni Rohyati nisriyuliani@gmail.com Yosefus F. da-Lopez nisriyuliani@gmail.com Erda E. Rame Hau nisriyuliani@gmail.com Geti Pahnael nisriyuliani@gmail.com <p>&nbsp;</p> <p>Fitokimia tanaman <em>Jatropha</em> berhasil diisolasi sejumlah senyawa diantaranya alkaloid, peptida siklik, terpena, flavonoid, lignan, kumarin&nbsp; (Felix, 2014). Menurut Yuliani dkk. (2024), zat aktif yang berhasil diskrining dari biji <em>Jatropha gossypiifolia</em> yakni alkaloid (positif), tanin (positif), saponin (positif), dan steroid (positif) terdeteksi, kecuali flavonoid yang tidak terdeteksi (negatif). Ekstrak biji <em>Jatropha gossypiifolia</em> diisolasi komponen zat aktif dan fraksi-fraksinya memakai metode kromatografi lapis tipis (KLT). Pelat KLT yang dilapisi Silica Gel 60 F254, pelarut pengembang (fase gerak) yang digunakan antara lain Etil asetat:Asam Formiat:Asam Asetat Glassial:Air (100:11:11:24). Larutan standar Rutin 1mg/mL, serta pereaksi sitroborat untuk deteksi. Hasil observasi KLT senyawa rutin dalam biji J. Gossypiifolia mentah dan yang disangrai tertera dalam Tabel 1. berikut.</p> <p><strong>Tabel 1.</strong> Hasil Observasi KLT Senyawa Rutin Dalam Biji Mentah Dan Disangrai</p> <table width="606"> <tbody> <tr> <td width="102">&nbsp;</td> <td width="102">&nbsp;</td> <td width="96">&nbsp;</td> <td width="102">&nbsp;</td> <td width="102">&nbsp;</td> <td width="102">&nbsp;</td> </tr> <tr> <td width="102"> <p>Rutin sebelum disemprot disinar tampak</p> </td> <td width="102"> <p>Rutin setelah disemprot disinar tampak</p> </td> <td width="96"> <p>Rutin sebelum disemprot di UV 254</p> </td> <td width="102"> <p>Rutin setelah disemprot di UV 254</p> </td> <td width="102"> <p>Rutin sebelum disemprot di UV 366</p> </td> <td width="102"> <p>Rutin sebelum disemprot di UV 366</p> </td> </tr> </tbody> </table> <p><strong>&nbsp;</strong></p> <p>Observasi pelat KLT menunjukkan bahwa deteksi rutin melalui visualisasi sinar tampak dan sinar UV 254 baik belum disemprot dan sesudah disemprot reagen belum muncul senyawa yang dicari. Hasil positif terlihat dipelat sebelum disemprot maupun setelah disemprot reagen yang dilanjutkan divisualisasi sinar UV 366 tampak muncul warna kuning. Hal ini menandakan dalam biji jarak yang dianalisis mengandung senyawa rutin. Menurut Ganeshpurkar (2016), Rutin (3,30,40,5,7-pentahidroksiflavon-3-ramnoglukosida) adalah sebuah flavonol yang banyak ditemukan dalam tanaman, seperti bunga passion, soba, teh, dan apel. Secara kimiawi, zat ini adalah sebuah glikosida yang terdiri dari aglikon flavonol kuersetin bersama dengan disakarida rutinosa serta dimasukkan kedalam golongan flavonoid. Subkelas Flavonol (flavon yang memiliki gugus keton pada posisi C4 dan gugus hidroksil pada posisi C3 dari cincin C) (Dias <em>et al</em>., 2021). Hal ini sesuai dengan peneliti yang mengobservasi komponen bioaktif pada biji&nbsp; <em>J. Gossypiifolia</em> terdapat flavonoid, phenol, saponin, tanin (Felix Silva, 2014). Turatbekova (2023) Flavonoid memainkan peran penting dalam reproduksi tumbuhan, yaitu dalam perkembangan dan penumpukan serbuk sari, serta kadarnya juga menentukan warna bunga, buah, dan biji tumbuhan. Namun, peran flavonoid yang paling menonjol adalah fungsinya dalam melindungi tanaman dari berbagai faktor buruk, seperti fluktuasi suhu, pengaruh sinar ultraviolet, serangan virus, bakteri, dan sebagainya. Kesimpulan penelitian ini adalah kedua sampel yang diuji positif terdeteksi zat aktif flavonoid rutin.</p> 2025-11-28T00:00:00+08:00 Copyright (c) 2025 Prosiding Seminar Nasional Hasil-Hasil Penelitian https://ejurnal.politanikoe.ac.id/index.php/psnp/article/view/473 TINGKAT MORBIDITAS PENYAKIT MULUT DAN KUKU DI KABUPATEN PELALAWAN RIAU 2025-11-15T14:54:04+08:00 Eni Rohyati atiyakub202@gmail.com Adliana Kausyar atiyakub202@gmail.com Siska Utari atiyakub202@gmail.com Ni Sri Yuliani atiyakub202@gmail.com Gerson Y. I. Sakan atiyakub202@gmail.com Erda E. Rame Hau atiyakub202@gmail.com <p>Penyakit mulut dan kuku (PMK) merupakan penyakit menular yang sangat penting bagi ternak ruminansia, terutama sapi. PMK disebabkan oleh virus dari genus Aphthovirus dalam famili Picornaviridae, dengan tujuh serotipe berbeda yang sangat menular dan menyerang hewan berkuku genap seperti sapi, kerbau, dan babi. Virus PMK dapat menyebar dengan cepat melalui kontak langsung, produk hewan, dan peralatan yang tercemar (Grubman &amp; Baxt, 2004; Alexandersen et al. (2003). <br>Indonesia dinyatakan bebas Penyakit Mulut dan Kuku (PMK) pada tahun 1986 berdasarkan Surat Keputusan Menteri Pertanian No.260/Kpts/TN.510/5/1986. Status bebas ini kemudian diakui secara internasional oleh Organisasi Dunia untuk Kesehatan Hewan (OIE) pada tahun 1990 melalui Resolusi OIE nomor XI Tahun 1990, setelah dilakukan evaluasi oleh tim gabungan OIE, FAO/APHCA, dan ASEAN. Kasus pertama kali dilaporkan terjadi di Kabupaten Gresik, Jawa Timur, pada akhir bulan April 2022 (Silaban &amp; Wibawa, 2023). Kasus PMK di Kabupaten Pelalawan juga kembali terjadi di Tahun 2022, karena itu penyakit ini disebut re-emerging di Indonesia. Menurut Knight-Jones &amp; Rushton (2013) dampak ekonomi dari penyakit ini tidaklah sama pada tiap negara di dunia, tetapi dapat disimpulkan ada 4 dampaknya; 1). Penurunan produksi hewan yang terinfeksi yang akan berefek pada penurunan pendapatan orang yang bergantung pada peternakan hewan ini serta berefek pada ketahanan pangan suatu negara, 2). Kehilangan banyak uang akibat pembiayaan program kontrol penyakit pada negara yang mengalami kasus, 3). Kerugian ekonomi akibat tidak bisa menjual produk hewan ke pasar internasional, 4). Butuh biaya besar untuk bisa mendapatkan status bebas.<br>Berdasarakan uraian diatas, maka perlu dilakukan pengkajian tingkat morditas PMK ini, dan pengkajian ini secara spesifik dilakukan pada kasus PMK di Kabupaten Pelalawan Riau. Angka morbiditas diketahui dengan metode identifikasi penyakit secara klinis dan laboratorium, kemudian dicatat jumlah ternak sapi yang dinyatakan positif dan dilakukan perhitungan angka mobiditas dengan cara total kasus dibagi total populasi dan dikalikan 100. Berdasarkan perhitungan dengan menggunakan rumus perhitungan tingkat morbiditas dari total kasus 527 dan total populasi 12074 adalah 4,4 %. Angka ini masuk kategori morbiditas rendah, karena berdasarkan rujukan dari World Organization for Animal Health (2025), angkat morbiditas PMK dapat mencapai 100%. Angka morbiditas rendah dapat menjadi bukti bahwa Kabupaten Pelalawan mampu melakukan pencegahan PMK selama terjadi wabah. Beberapa tindakan yang mereka lakukan dalam rangka mencegah penyebaran dan masuknya PMK dalam wilayah Kabupaten Pelalawan adalah vaksinasi pada hewan sehat, deteksi dini dan pelaporan,pengobatan hewan yang sakit serta biosekuriti seperti pembatasan lalu lintas hewan dan peternak untuk tidak saling mengunjungi, sanitasi dan desinfeksi kendang. Angka morbiditas PMK di Kabupaten pada tahun 2022 adalah 4,4%, ini masuk kategori rendah.</p> 2025-11-28T00:00:00+08:00 Copyright (c) 2025 Prosiding Seminar Nasional Hasil-Hasil Penelitian https://ejurnal.politanikoe.ac.id/index.php/psnp/article/view/474 ANALISIS DETERMINAN EFISIENSI TEKNIS USAHATANI BAWANG MERAH DI KABUPATEN KUPANG MENGGUNAKAN MODEL STOCHASTIC FRONTIER 2025-11-15T14:58:08+08:00 Viona Nainggolan viona.febrina@gmail.com Micha Snoverson Ratu Rihi viona.febrina@gmail.com Saidin Nainggolan viona.febrina@gmail.com <p>Bawang merah (Allium ascalonicum L.) merupakan komoditas hortikultura strategis yang memiliki nilai ekonomi tinggi bagi petani dan berperan penting dalam ketahanan pangan nasional. Kabupaten Kupang adalah salah satu sentra produksi bawang merah di Nusa Tenggara Timur (NTT). Berdasarkan data terbaru, produksi bawang merah di provinsi ini meningkat dari 10.423 ton pada tahun 2020 menjadi 11.409 ton pada tahun 2021, di mana Kabupaten Kupang menempati posisi kedua dengan produksi mencapai 5.764 ton (BPS NTT, 2023). <br>Meski demikian, peningkatan produksi belum sepenuhnya diikuti oleh peningkatan efisiensi. Petani masih menghadapi kendala dalam penggunaan input, seperti dosis pupuk kimia yang tidak sesuai, jarak tanam tidak optimal, serta keterbatasan alsintan (alat dan mesin pertanian) di tingkat lapangan (Nainggolan &amp; Proklamita, 2024). Efisiensi teknis yang rendah menyebabkan produktivitas tidak mencapai potensi maksimumnya (Hidayati &amp; Jakiyah, 2021). Oleh karena itu, analisis efisiensi teknis dan faktor-faktor penentunya diperlukan agar kebijakan peningkatan produktivitas bawang merah di Kabupaten Kupang dapat lebih terarah.<br>Penelitian dilakukan secara purposive di Kabupaten Kupang dengan melibatkan 64 petani di tiga desa: Tarus, Uiboa, dan Uitiutuan. Model analisis yang digunakan adalah fungsi produksi Cobb–Douglas Stochastic Frontier dengan estimasi parameter menggunakan metode Maximum Likelihood Estimation (MLE) (Coelli et al., 1998; Kumbhakar &amp; Lovell, 2000). Variabel input meliputi luas lahan, jumlah bibit, pupuk kimia, pupuk kandang, pestisida, dan tenaga kerja. Model inefisiensi teknis diestimasi berdasarkan faktor sosial ekonomi seperti pendapatan, umur, pendidikan, pengalaman usahatani, jumlah anggota keluarga, jarak tanam, dan keanggotaan kelompok tani.<br>Hasil estimasi menunjukkan bahwa variabel luas lahan, jumlah bibit, pupuk kandang, dan pestisida berpengaruh signifikan terhadap produksi bawang merah. Sebaliknya, penggunaan pupuk kimia berlebih memberikan efek negatif terhadap produktivitas (Nainggolan et al., 2019). Nilai rata-rata efisiensi teknis sebesar 0,7864 menunjukkan bahwa petani sudah efisien secara teknis, namun masih dapat meningkatkan hasil sebesar ±21% dengan penggunaan input yang optimal. Faktor sosial ekonomi seperti pendidikan dan pengalaman bertani terbukti meningkatkan efisiensi, sementara umur tua dan jarak tanam tidak tepat meningkatkan inefisiensi (Hidayati &amp; Jakiyah, 2021). Peningkatan kapasitas petani melalui kelompok tani dan adopsi teknologi diharapkan mampu menekan inefisiensi teknis (Wijaya et al., 2023).<br>Usahatani bawang merah di Kabupaten Kupang telah mencapai tingkat efisiensi teknis yang cukup baik (78,64%), namun masih terdapat ruang perbaikan terutama pada aspek pengelolaan input dan pemberdayaan petani. Faktor seperti pendidikan, pengalaman bertani, dan optimalisasi jarak tanam menjadi kunci peningkatan efisiensi. Dukungan pemerintah daerah dalam bentuk pelatihan, penyuluhan, serta penyediaan alsintan modern perlu terus diperkuat agar produktivitas dan daya saing bawang merah lokal dapat berkelanjutan.</p> <p>&nbsp;</p> <p>&nbsp;</p> 2025-11-28T00:00:00+08:00 Copyright (c) 2025 Prosiding Seminar Nasional Hasil-Hasil Penelitian https://ejurnal.politanikoe.ac.id/index.php/psnp/article/view/475 PERILAKU BUDIDAYA RUMPUT LAUT PETANI DESA LEDEAE KECAMATAN HAWU MEHARA KABUPATEN SABU RAIJUA 2025-11-15T17:35:50+08:00 Agustina Laka Hina endeyani@gmail.com Endeyani V. Mohammad endeyani@gmail.com Anastasia G. Nomi endeyani@gmail.com Maria K. Salli endeyani@gmail.com <p>Desa Ledeae memiliki potensi laut khususnya rumput laut dengan nilai ekonomi tinggi yang berperan dalam peningkatan pendapatan masyarakat pesisir. Namun, keberhasilan budidaya rumput laut dipengaruhi oleh perilaku petani dalam budidayanya. Petani Desa Ledeae saat penelitian ini terdata dapat melakukan budidaya rumput laut dominan pada lahan seluas 0,22 ha dengan potensi produksi 3,5 ton. Penelitian ini dilakukan untuk mengetahui perilaku petani dalam proses budidaya rumput laut dan faktor-faktor yang mempengaruhi perilaku petani di Desa Ledeae Kecamatan Hawu Mehara Kabupaten Sabu Raijua. Penelitian dilaksanakan selama satu bulan pada bulan Maret 2025 dengan metode survei. Pengumpulan data menggunakan kuesioner dari 62 responden yang ditentukan dengan simple random sampling. Data dianalisis dengan metode scoring dan regresi linear berganda. Hasil penelitian menyatakan perilaku petani dalam budidaya rumput laut berada pada kategori sesuai menurut Keputusan Menteri Kelautan dan Perikanan Republik Indonesia Nomor 1/KEPMEN-KP/2019 Tentang Pedoman Umum Pembudidayaan Rumput Laut dengan nilai rata-rata skor 2,48. Hasil tersebut ditinjau dari beberapa indikator yaitu pemilihan lokasi, pemilihan bibit, pengikatan bibit, monitoring, metode budidaya dan panen. Indikator pemilihan lokasi yang dilakukan oleh para petani dinyatakan kurang sesuai dalam KEPMEN-KP Nomor 1 Tahun 2019 karena kawasan budidaya yang dipilih, masih menjadi kawasan penangkapan ikan yang seharusnya tidak diizinkan, menyebabkan rumput laut terlepas/rusak sehingga panen berkurang. Indikator pemilihan bibit, prosedur pengikatan bibit, monitoring, metode budidaya dan panen sudah sesuai kategori dalam KEPMEN-KP Nomor 1 Tahun 2019. Hal ini karena pemilihan bibit mempertimbangkan kriteria bibit dari thalus muda segar, kenyal, tidak layu, morfologi bersih, bebas penyakit, dan berukuran sebesar kepalan tangan. Pengikatan bibit oleh petani dilakukan di darat dalam rumah kecil, di atas tumpukan batu yang tersusun rapi dan dililit tali besar serta diikat pada tali kecil sehingga rumput laut tidak terlepas saat diterpa ombak. Monitoring dilakukan setiap hari saat air laut surut untuk membersihkan rumput laut dari predator dan rumput liar yang menempel, serta memperbaiki tali yang putus atau mengikat kembali rumput laut yang terlepas. <br>Proses ini dilakukan sekitar 35-40 hari. Metode budidaya menggunakan beberapa metode, seperti rakit apung dengan cara membudidayakan rumput laut di atas dasar laut dengan tali yang terikat teratur pada patok. Metode rawai yaitu budidaya rumput laut dekat permukaan laut menggunakan tali yang dibentangkan dari satu titik ke titik lain dengan panjang minimal 8-18 m dalam rangkaian segi empat menggunakan pelampung dari potongan gabus kecil dan botol air mineral. Serta metode lepas dasar dengan cara diikatkan tali pada patok yang dipasang secara teratur di atas dasar laut. Pemanenan dilakukan dengan tangan untuk membuka ikatan tali dari patok, melilit dan membawa hasil panen ke darat dengan cara dipikul atau diangkut menggunakan gabus. Kemudian rumput laut dijemur di atas kayu dengan durasi tergantung kondisi cuaca. Setelah kering dibersihkan dari sisa kotoran dan dikemas dalam karung untuk disimpan sebelum dijual. Faktor-faktor yang mempengaruhi perilaku petani terhadap proses budidaya rumput laut meliputi iklim (sig. 0,001), kebijakan pemerintah (sig. 0,029), dan layanan penyuluhan (sig. 0,000). Iklim berpengaruh terhadap perkembangan rumput laut, sehingga perlu diperhatikan kondisi iklim dan cuaca tempat budidaya rumput laut (Sifatu &amp; Sulandjari, 2020). <br>Petani Desa Ledeae mempunyai pengetahuan turun-temurun terkait analisis tanda alam melalui perubahan pada pepohonan, langit atau pola angin, sehingga dapat mengambil keputusan tepat terkait waktu pemindahan rumput laut untuk menghindari risiko luapan air atau cuaca ekstrim. Kebijakan pemerintah mendukung budidaya rumput laut dalam penyediaan bibit unggul, pelatihan, permodalan, dan bantuan pemasaran, berdampak pada peningkatan produktivitas petani dan kualitas hasil panen. Menurut Nurindasari (2024), pemerintah sebagai fasilitator, merancang regulasi yang mendukung keberlangsungan dan pengembangan teknologi budidaya rumput laut. Penyuluhan juga penting untuk petani. Marhamah (2024), berpendapat bahwa layanan penyuluhan mampu memberikan bimbingan dan motivasi yang tepat dalam mengakses peralatan, informasi dan teknologi budidaya rumput laut. </p> 2025-11-28T00:00:00+08:00 Copyright (c) 2025 Prosiding Seminar Nasional Hasil-Hasil Penelitian https://ejurnal.politanikoe.ac.id/index.php/psnp/article/view/476 EFEK SUPLEMENTASI PROBIO FM-PLUS DAN EKSTRAK DAUN KELOR TERHADAP PERFORMA DAN KUALITAS TELUR PUYUH 2025-11-15T17:40:19+08:00 Helda heldasyarif@gmail.com Catootjie L. Nalle heldasyarif@gmail.com Asrul heldasyarif@gmail.com <p>Puyuh (<em>Coturnix coturnix</em> <em>japonica</em>) merupakan unggas penghasil telur yang memiliki potensi besar untuk dikembangkan karena siklus produksinya cepat dan efisien. Peningkatan produktivitas puyuh sangat dipengaruhi oleh ketersediaan pakan yang berkualitas dan pemanfaatan aditif alami yang mendukung fungsi pencernaan dan metabolisme. Penggunaan bahan alami seperti probiotik dan ekstrak daun kelor merupakan salah satu alternatif pengganti antibiotik growth promoter (AGP) yang dinilai lebih aman dan ramah lingkungan.<br>Probiotik berfungsi memperbaiki keseimbangan mikroflora usus, meningkatkan daya cerna, dan memperbaiki penyerapan zat gizi (Pandian <em>et al</em>., 2021).FM-plus merupakan salah satu produk probiotik yang mengandung bakteri menguntungkan seperti <em>Lactobacillus fermentum, L. Plantarum, L. brevis </em>dan <em>Pediococcus pentosaecus </em>dengan jumlah bakteri berkisar antara<em> 36,1 x 10<sup>11</sup> - 210x10<sup>11</sup> cfu/ml</em>&nbsp; (Hendalia <em>et al</em>., 2017).Sementara itu, daun kelor (<em>Moringa oleifera</em>) merupakan tanaman kaya nutrisi yang mengandung protein tinggi (25–30%), asam amino esensial, vitamin (A, C, E), serta mineral penting seperti kalsium, zat besi, dan seng (Rohman <em>et al</em>., 2019). Kandungan antioksidan alami pada daun kelor juga dapat memperbaiki status fisiologis ternak dan mengurangi stres oksidatif (Nkukwana <em>et al</em>., 2014) dalam&nbsp; (Godara <em>et al</em>., 2024).Kombinasi antara probiotik dan ekstrak daun kelor (EDK) diharapkan dapat memberikan efek sinergis dalam meningkatkan efisiensi pemanfaatan nutrisi, sehingga dapat memperbaiki performa dan kualitas telur puyuh.</p> <p>Penelitian telah dilakukan di Kelurahan Oebobo dan Oesapa, menggunakan 160 ekor puyuh betina dari fase starter hingga fase produksi. Rancangan penelitian menggunakan Rancangan Acak Lengkap (RAL) dengan 4 perlakuan 5 ulangan R0:Kontrol(tanpa suplementasi), R1: 1% probio FM-plus + 5% ekstrak daun kelor, R2: 1,5% probio FM-plus + 10% EDM, R3: 2% probio FM-plus + 15% EDM. Parameter yang diamati konsumsi pakan, konsumsi air minum, produksi telur, dan bobot telur. Data dianalisis menggunakan analisis ragam (ANOVA) jika terdapat pengaruh nyata dilakukan uji lanjut dengan <em>Duncan’s Multiple Range Test</em> (DMRT) pada taraf 5% (Sudjana M.A, 2005).</p> <p>Hasil penelitian menunjukkan bahwa suplementasi probio FM-plus dan EDM dengan level berbeda tidak berpengaruh nyata (P&gt;0,05) terhadap konsumsi pakan, air minum, produksi telur dan berpengaruh nyata (P&lt;0,05) terhadap bobot telur.</p> <p><strong>Tabel 1.</strong> Efek Suplementasi Probio FM-Plus dan Ekstrak Daun Kelor Terhadap Performa dan Kualitas Telur&nbsp;&nbsp;&nbsp; Ternak Puyuh</p> <p>Berdasarkan data pada tabel penambahan kedua bahan tersebut tidak memengaruhi palatabilitas pakan sehingga konsumsinya sama. Probiotik berperan memperbaiki keseimbangan mikroflora usus dan efisiensi pencernaan tanpa menimbulkan perubahan pada perilaku makan (Mountzouris <em>et al</em>., 2010). Selain itu, daun kelor tidak memiliki senyawa perangsang nafsu makan sehingga konsumsi tetap stabil. Hal ini sesuai dengan pernyataan (Lokapirnasari <em>et al</em>., 2022) Pemberian probiotik, ekstrak <em>M. oleifera</em> serta kombinasinya dalam ransum itik tidak menyebabkan penurunan palatabilitas ransum. Faktor lain yang mempengaruhi adalah tidak terdapat perbedaan pada kandungan nutrient pakan yang diberikan untuk semua perlakuan. Berkaitan dengan konsumsi air minum ternak puyuh akibat perlakuan masih berada pada kisaran normal. Menurut (Luthfi <em>et al</em>., 2015) rataan konsumsi air minum ternak puyuh berkisar antara 51,37 – 59,53 mL/ekor/hari. Umumnya pada suhu normal konsumsi air minum unggas adalah 1,6 – 2,0 kali dari konsumsi pakan. Perlakuan tidak berpengaruh nyata terhadap produksi telur (P&gt;0,05). Hal ini disebabkan karena kebutuhan nutrisi puyuh telah terpenuhi oleh ransum yang diberikan. Namun demikian, kombinasi probiotik dan ekstrak daun kelor dapat meningkatkan efisiensi pemanfaatan nutrien yang berdampak pada kualitas telur. Bobot telur menunjukkan perbedaan nyata antar perlakuan (P&lt;0,05). Perlakuan P1 nyata lebih tinggi P&lt;0,05 dibandingkan ke-3 perlakuan. Puyuh yang mendapatkan suplementasi probio FMplus 1% dan ekstrak daun kelor 5% menghasilkan bobot telur yang lebih tinggi dibanding kontrol. Hal ini disebabkan oleh sinergi antara probiotik yang memperbaiki penyerapan nutrien dengan kandungan protein, asam amino, vitamin, dan mineral pada daun kelor yang mendukung pembentukan albumen dan yolk (Jin <em>et al</em>., 1998). Kombinasi 1% probio FM-plus dan 5% Ekstrak Daun Kelor dapat diberikan pada ternak puyuh fase grower sampai produksi karena dapat&nbsp; memberikan bobot telur yang lebih tinggi.</p> 2025-11-28T00:00:00+08:00 Copyright (c) 2025 Prosiding Seminar Nasional Hasil-Hasil Penelitian https://ejurnal.politanikoe.ac.id/index.php/psnp/article/view/477 PERAN EKOLOGI TUMBUHAN DALAM SKEMA PERHUTANAN SOSIAL: STUDI KASUS KELOMPOK TANI HUTAN FETOMNASI 2025-11-15T17:46:59+08:00 Fransiskus X. Dako fxaver1975@gmail.com Frenly Marvi Selanno fxaver1975@gmail.com Sukriati Andesti Lamanda fxaver1975@gmail.com Yudhistira A. N. Rua Ora fxaver1975@gmail.com Nusrah Rusadi fxaver1975@gmail.com Kletus Florianus Sera Gare fxaver1975@gmail.com Blasius Paga fxaver1975@gmail.com Adrin fxaver1975@gmail.com <p>Kerangka pemikiran mengenai peran sentral tumbuhan dalam skema perhutanan sosial menemukan relevansinya ketika diterapkan di Desa Sillu, Kecamatan Fatuleu, Kabupaten Kupang, Nusa Tenggara Timur. Kawasan ini merupakan sumber penghidupan masyarakat sekitar hutan (Dako et al., 2023), namun menghadapi tekanan ekologi akibat perambahan, perladangan berpindah, kebakaran, penggembalaan liar, dan konversi lahan (Arka et al., 2024). Untuk mengatasinya, pemerintah mendorong percepatan skema perhutanan sosial melalui pembentukan beberapa Kelompok Tani Hutan (KTH), salah satunya KTH Fetomnasi. Namun di balik berbagai inisiatif pemberdayaan dan pengelolaan hutan bersama masyarakat di atas, pemahaman ilmiah mengenai kondisi ekologi tumbuhan di Desa Sillu belum banyak mendapat perhatian. Kajian-kajian sebelumnya di wilayah tersebut lebih menyoroti perubahan tutupan lahan, partisipasi masyarakat, dan konflik pemanfaatan hutan (Arka et al., 2024; Koreh et al., 2020). Penelitian ini bertujuan menganalisis struktur komunitas tumbuhan sebagai dasar ilmiah penguatan pengelolaan perhutanan sosial yang berkelanjutan di Desa Sillu. Teknik pengambilan sampel dalam penelitian ini menggunakan metode purposive sampling. Petak Ukur (PU) berbentuk persegi dengan variasi ukuran sesuai tingkat pertumbuhan vegetasi: 2 m × 2 m untuk tingkat semai, 5 m × 5 m untuk tingkat pancang, 10 m × 10 m untuk tingkat tiang, serta 20 m × 20 m untuk tingkat pohon. Total PU yang diamati berjumlah 24 unit, disesuaikan dengan jumlah anggota Kelompok Tani Fetumnasi sebagai lokasi penelitian. Data vegetasi yang terkumpul kemudian dianalisis untuk menghitung Indeks Nilai Penting (INP) mengacu pada Ellenberg dan Mueller-Dombois (1974), serta Indeks Keanekaragaman Shannon-Wiener (H’) mengikuti Magurran (2013).<br>Nilai indeks keanekaragaman jenis (H’) pada tingkat semai dan tiang di kawasan Kelompok Tani Hutan (KTH) Fetomnasi, Desa Sillu, tergolong sedang dengan nilai masing-masing 1,439 dan 1,848. Pada tingkat pancang dan pohon, nilai H’ lebih tinggi, yaitu 2,185 dan 2,144, menunjukkan kategori sedang hingga tinggi. Keanekaragaman tinggi mencerminkan jumlah individu antarspesies yang seimbang tanpa dominasi tertentu, sedangkan keanekaragaman rendah terjadi bila hanya sedikit spesies yang mendominasi. Indeks keanekaragaman memiliki peran penting dalam menjaga stabilitas ekosistem hutan yang menjadi sumber penghidupan masyarakat. Dalam konteks perhutanan sosial khususnya pada aspek keberlanjutan, masyarakat didorong untuk melakukan penanaman untuk menambah tegakan baru (Kastanya et al., 2019), sedangkan aspek ancaman lebih menekankan peran masyarakat dalam mencegah kebakaran dan pencurian aset hutan. Keterlibatan aktif anggota KTH Fetomnasi dalam skema perhutanan sosial semakin menumbuhkan rasa memiliki terhadap kawasan hutan, sehingga memperkuat perlindungan dan keberlanjutan ekosistem secara berkelanjutan.<br>Berdasarkan hasil penelitian pada 24 plot ukur di KTH Fetomnasi, Desa Sillu, Kabupaten Kupang, ditemukan bahwa Indeks keanekaragaman jenis pada tingkat semai dan tiang tergolong sedang, dengan nilai H’ masing-masing sebesar 1,439 dan 1,848. Sementara itu, keanekaragaman pada tingkat pancang dan pohon berada dalam kategori sedang menuju tinggi, dengan nilai H’ sebesar 2,185 dan 2,144. Partisipasi masyarakat dalam KTH berkontribusi dalam pelestarian ekosistem hutan, yang dimungkinkan adanya akses legal terhadap pengelolaan hutan. Akses ini menumbuhkan rasa memiliki di kalangan petani, sehingga mereka turut menjaga hutan dari berbagai ancaman yang dapat merusak kelestariannya.</p> 2025-11-28T00:00:00+08:00 Copyright (c) 2025 Prosiding Seminar Nasional Hasil-Hasil Penelitian https://ejurnal.politanikoe.ac.id/index.php/psnp/article/view/478 PENGARUH KONSENTRASI ECOENZYME PADA DIAMETER BATANG JAGUNG MENGGUNAKAN RANCANGAN ACAK LENGKAP DENGAN PENDEKATAN MIXED MODEL 2025-11-15T17:52:10+08:00 Mitha Rabiyatul Nufus mhytha.nufus88@gmail.com Rosalia Silaban mhytha.nufus88@gmail.com Eusabius Paul Pega mhytha.nufus88@gmail.com Badia Roy Ricardo Nababan mhytha.nufus88@gmail.com Jenike Gracelya Noke mhytha.nufus88@gmail.com <p>Jagung (<em>Zea mays</em> L.) merupakan komoditas pangan penting bagi ketahanan pangan nasional. Pertumbuhan vegetatif, terutama diameter batang, berpengaruh langsung terhadap kemampuan tanaman menopang bagian atas dan menyalurkan hara. Salah satu pendekatan ramah lingkungan untuk meningkatkan pertumbuhan jagung adalah penggunaan <em>ecoenzyme</em>, hasil fermentasi limbah organik yang kaya enzim, asam organik, dan senyawa bioaktif berperan sebagai biostimulan alami. Penelitian ini bertujuan menilai pengaruh berbagai konsentrasi <em>ecoenzyme</em> terhadap diameter batang jagung menggunakan Rancangan Acak Lengkap (RAL) dan pendekatan <em>Linear Mixed Model</em> (LMM) untuk memperoleh hasil analisis yang lebih akurat. Penelitian menggunakan empat konsentrasi <em>ecoenzyme</em> (5, 10, 15, dan 20 ml), tiga varietas jagung (manis, pulut, dan F1), serta satu kontrol tanpa perlakuan, masing-masing diulang empat kali. Analisis dengan <em>Linear Mixed Model</em> digunakan karena mampu mengakomodasi pengukuran berulang dan variasi antarulangan secara lebih tepat dibanding metode konvensional (Thonglor &amp; Reano, 2022).</p> <table> <tbody> <tr> <td width="201">&nbsp;</td> </tr> <tr> <td>&nbsp;</td> <td>&nbsp;</td> </tr> </tbody> </table> <p>&nbsp;</p> <p>&nbsp;</p> <p>&nbsp;</p> <p>&nbsp;</p> <p>&nbsp;</p> <p>&nbsp;</p> <p>&nbsp;</p> <p>&nbsp;</p> <p>&nbsp;</p> <p>&nbsp;</p> <p>&nbsp;</p> <p>&nbsp;</p> <p>&nbsp;</p> <p>&nbsp;</p> <p>&nbsp;</p> <p>&nbsp;</p> <p><strong>Gambar 1</strong>. Diameter Batang Jagung tiap Minggu Per Perlakuan dengan <em>Mixed Model</em></p> <p>&nbsp;</p> <p>Hasil analisis menunjukkan bahwa perlakuan, waktu pengamatan, dan interaksinya berpengaruh sangat signifikan terhadap diameter batang jagung (p &lt; 0,001). Diameter batang meningkat seiring bertambahnya umur tanaman, mencapai puncak pada minggu ketiga dan sedikit menurun pada minggu keempat. Perlakuan ecoenzyme 10 ml (P2V3) dan 20 ml (P4V3) menghasilkan diameter batang tertinggi dibanding kontrol. Hasil penelitian ini sejalan dengan penelitian sebelumnya yang menunjukkan bahwa <em>ecoenzyme</em> pada dosis moderat dapat meningkatkan fotosintesis, penyerapan nitrogen, dan pertumbuhan vegetatif melalui perbaikan kondisi mikrobiologis dan kimia tanah (Tamburino <em>et al</em>., 2023). Hasil penelitian menunjukkan bahwa ecoenzyme berpotensi menjadi pupuk organik cair alternatif yang efektif dalam meningkatkan pertumbuhan vegetatif jagung, terutama diameter batang. Konsentrasi 10–20 ml memberikan respons terbaik dan stabil terhadap pertumbuhan tanaman. Penelitian ini berkontribusi pada pengembangan pertanian berkelanjutan melalui pemanfaatan ecoenzyme sebagai inovasi ramah lingkungan dalam budidaya jagung.</p> 2025-11-28T00:00:00+08:00 Copyright (c) 2025 Prosiding Seminar Nasional Hasil-Hasil Penelitian https://ejurnal.politanikoe.ac.id/index.php/psnp/article/view/479 PETA TEMATIK KESESUAIAN PARAMETER FISIKA AIR UNTUK BUDIDAYA RUMPUT LAUT DI DESA TESABELA KABUPATEN KUPANG 2025-11-15T18:00:05+08:00 Sri Rahayu Nuban ayunuban@gmail.com Timotius Ragga Rina ayunuban@gmail.com Nurul Fitri Khairani ayunuban@gmail.com Melkianus Teddison Bulan ayunuban@gmail.com Norsem Nehemia Malafu ayunuban@gmail.com Emanuel Destianus Banggut ayunuban@gmail.com Aisyah Lukmini ayunuban@gmail.com Wahyu Dani Swari ayunuban@gmail.com Sakeos Mullia Rassi ayunuban@gmail.com Bernadus Bota ayunuban@gmail.com <p>Rumput laut adalah salah satu komoditas perikanan unggulan bagi masyarakat pesisir Kabupaten Kupang (Tarupadang W,<em>et al, </em>2021). Salah satu lokasinya di Perairan Desa Tesabela, Kecamatan Kupang Barat, Kabupaten Kupang. Keterbatasan informasi spasial terutama parameter fisika mengenai kesesuaian lokasi budidaya rumput laut di Desa Tesabela menjadi salah satu faktor pembatas pengembangan budidaya rumput laut di lokasi tersebut. Tujuan penelitian ini adalah mepetakan tingkat kesesuaian parameter fisika air bagi kegiatan budidaya rumput laut.</p> <p>Data yang digunakan pada penelitian ini adalah hasil pengukuran lapangan untuk parameter fisika (suhu, salinitas,kecepatan arus, kecerahan dan kedalaman) yang diambil pada 6 titik lokasi stasiun kemudian data hasil pengukuran dianalisis interpolasi<em> Inverse Distance Weighting (IDW)</em> untuk memprediksi nilai grid sampel. Selanjutnya, hasil coverage layer digunakan untuk proses overlay untuk membentuk model pemetaan (Muqsith A, <em>et al, </em>2022).</p> <p><strong>Tabel 1.</strong> Hasil Pengukuran Kualitas Air (Parameter Fisika)</p> <table width="622"> <tbody> <tr> <td rowspan="3" width="75"> <p><strong>Parameter</strong></p> </td> <td width="95"> <p><strong>Stasiun 1</strong></p> </td> <td width="85"> <p><strong>Stasiun 2</strong></p> </td> <td width="85"> <p><strong>Stasiun 3</strong></p> </td> <td width="95"> <p><strong>Stasiun 4</strong></p> </td> <td width="85"> <p><strong>Stasiun 5</strong></p> </td> <td width="103"> <p><strong>Stasiun 6</strong></p> </td> </tr> <tr> <td width="95"> <p><strong>10° 18.234'S </strong></p> </td> <td width="85"> <p><strong>10° 17.914'S</strong></p> </td> <td width="85"> <p><strong>10° 17.698'S</strong></p> </td> <td width="95"> <p><strong>10° 17.618'S</strong></p> </td> <td width="85"> <p><strong>10° 17.158'S</strong></p> </td> <td width="103"> <p><strong>10° 17.004'S</strong></p> </td> </tr> <tr> <td width="95"> <p><strong>123° 28.693'E</strong></p> </td> <td width="85"> <p><strong>123° 28.847'E</strong></p> </td> <td width="85"> <p><strong>123° 29.024'E</strong></p> </td> <td width="95"> <p><strong>123° 29.374'E</strong></p> </td> <td width="85"> <p><strong>123° 29.507'E</strong></p> </td> <td width="103"> <p><strong>123° 29.669'E</strong></p> </td> </tr> <tr> <td width="75"> <p>Suhu (°C)</p> </td> <td width="95"> <p>27,04</p> </td> <td width="85"> <p>28,00</p> </td> <td width="85"> <p>28,00</p> </td> <td width="95"> <p>27,80</p> </td> <td width="85"> <p>27,98</p> </td> <td width="103"> <p>28,01</p> </td> </tr> <tr> <td width="75"> <p>Salinitas (ppt)</p> </td> <td width="95"> <p>27,50</p> </td> <td width="85"> <p>27,24</p> </td> <td width="85"> <p>27,23</p> </td> <td width="95"> <p>27,23</p> </td> <td width="85"> <p>27,27</p> </td> <td width="103"> <p>27,33</p> </td> </tr> <tr> <td width="75"> <p>Kecepatan Arus (cm/s)</p> </td> <td width="95"> <p>44</p> </td> <td width="85"> <p>43</p> </td> <td width="85"> <p>44</p> </td> <td width="95"> <p>31</p> </td> <td width="85"> <p>31</p> </td> <td width="103"> <p>31</p> </td> </tr> <tr> <td width="75"> <p>Kecerahan Perairan (m)</p> </td> <td width="95"> <p>1,27</p> </td> <td width="85"> <p>1,30</p> </td> <td width="85"> <p>1,30</p> </td> <td width="95"> <p>3,50</p> </td> <td width="85"> <p>4,17</p> </td> <td width="103"> <p>3,63</p> </td> </tr> <tr> <td width="75"> <p>Kedalaman (m)</p> </td> <td width="95"> <p>1,3</p> </td> <td width="85"> <p>2</p> </td> <td width="85"> <p>0,95</p> </td> <td width="95"> <p>3</p> </td> <td width="85"> <p>3,2</p> </td> <td width="103"> <p>3</p> </td> </tr> </tbody> </table> <p>Sumber: Hasil Penelitian, 2025</p> <p><strong>Gambar 1.</strong> Peta Tematik Parameter Fisika Kualitas Air (Suhu, Salinitas, Arus, Kecerahan dan Kedalaman)</p> <p>Berdasarkan hasil pengukuran dan analisis data per stasiun pengamatan menunjukkan bahwa kondisi perairan di Desa Tesabela, Kabupaten Kupang cukup potensial untuk digunakan sebagai wilayah budidaya perairan untuk budidaya rumput laut. Hal tersebut dapat dilihat dari hasil pengukuran kualitas air yang stabil dan sesuai baku mutu. Baku mutu air untuk kegiatan budidaya di pesisir salah satu untuk budidaya rumput laut pada parameter fisika yaitu suhu berkisar antara 25-32 °C, salinitas 25-30 ppt, dan kecepatan arus 17 – 40 cm/s (Muqsith A, <em>et al,</em>2022) kecerahan 1 – 3 m dan arus menurut 10 – 40 cm/s (FAO (2017).</p> 2025-11-28T00:00:00+08:00 Copyright (c) 2025 Prosiding Seminar Nasional Hasil-Hasil Penelitian https://ejurnal.politanikoe.ac.id/index.php/psnp/article/view/480 VIABILITAS BENIH KAYU PUTIH (Melaleuca Cajuputi) PADA BERBAGAI MEDIA KECAMBAH 2025-11-15T18:06:13+08:00 Yakub Benu acko.benu@gmail.com Luisa Moi Manek acko.benu@gmail.com Ni Kade Ayu Dewi Aryani acko.benu@gmail.com Melkianus Pobas acko.benu@gmail.com Yofris Puay acko.benu@gmail.com Fredik Soleman Aramak acko.benu@gmail.com Musa Frengkianus Banunaek acko.benu@gmail.com <p>Kayu putih (<em>Melaleuca cajuputi</em>) merupakan tanaman penghasil minyak atsiri, yang ketersediaanya belum mencukupi kebutuhan dalam negeri (Benu <em>et al</em>., 2025). Praktek penanaman dalam peningkatan populasinya perlu didukung oleh ketersediaan bibit yang berkualitas. Viabilitas benihnya merupakan langkah awal dalam upaya pemenuhan ketersedian bibit. Viabilitas benih sangat didukung oleh media kecambah sebagai faktor eksternal (Aji <em>et al</em>., 2018). Oleh karena itu, tujuan penelitian ini untuk mengetahui viabilitas benih kayu putih pada berbagai media tabur.</p> <p>Penelitian ini dilakukan pada bulan Juli-Agustus 2025. Bahan yang digunakan adalah 10 mg benih kayu putih (40 benih) (Burahman <em>et al</em>., 2014), tanah<em>, </em>pasir, kasgot, kompos baglog jamur tiram, bokashi dan air. Setiap 40mg benih dicampur dengan pasir halus (200 mg), kemudian ditabur pada setiap wadah kecambah yang telah terisi dengan media tunggal (5 ulangan). Pemeliharaan dan pengamatan dilakukan selama 30 hari. Analisis data dilakukan dengan menghitung Daya Kecambah (DK), Laju Perkecambahan (LP) dan Indeks Kecepatan Perkecambahan (IKP).</p> <p>Viabilitas benih merupakan daya hidup benih yang ditunjukkan gejala metabolisme dan pertumbuhan awal (Sopian <em>et al</em>., 2021). Hasil penelitian viabilitas benih kayu putih tersaji pada Tabel 1.</p> <p>&nbsp;<strong>Tabel 1. </strong>Rakapitulasi Rata-Rata Viabilitas Kayu Putih</p> <table width="605"> <tbody> <tr> <td rowspan="2" width="85"> <p>Rerata</p> </td> <td colspan="4" width="425"> <p>Perlakuan</p> </td> <td width="94"> <p>&nbsp;</p> </td> </tr> <tr> <td width="76"> <p>Tanah</p> </td> <td width="85"> <p>Pasir</p> </td> <td width="66"> <p>Kasgot</p> </td> <td width="198"> <p>Kompos Baglog Jamur Tiram</p> </td> <td width="94"> <p>Bokashi</p> </td> </tr> <tr> <td width="85"> <p>DK (%)</p> </td> <td width="76"> <p>81,5</p> </td> <td width="85"> <p>70</p> </td> <td width="66"> <p>76</p> </td> <td width="198"> <p>64,5</p> </td> <td width="94"> <p>56,5</p> </td> </tr> <tr> <td width="85"> <p>LP (Hari)</p> </td> <td width="76"> <p>4,36</p> </td> <td width="85"> <p>4,44</p> </td> <td width="66"> <p>4,41</p> </td> <td width="198"> <p>4,5</p> </td> <td width="94"> <p>5,42</p> </td> </tr> <tr> <td width="85"> <p>IKP (Hari)</p> </td> <td width="76"> <p>7,6</p> </td> <td width="85"> <p>6,44</p> </td> <td width="66"> <p>7,03</p> </td> <td width="198"> <p>5,88</p> </td> <td width="94"> <p>4,36</p> </td> </tr> </tbody> </table> <p>Keterangan: Hasil Analisis Data Primer, 2025.</p> <p>&nbsp;</p> <p>DK adalah kemampuan benih untuk tumbuh normal dan berproduksi normal pada kondisi lingkungan yang sesuai (Sopian <em>et al</em>., 2021). Rekapitulasi pada Tabel 1 menunjukkan bahwa perlakuan tanah memiliki nilai tertinggi (81,50%). Hal ini diduga karena tanah memiliki sifat fisik yang baik. Anjani &amp; Pratama (2020), menemukan bahwa media dengan aerasi dan drainase baik cenderung meningkatkan persentase perkecambahan.</p> <p>LP merupakan jumlah hari yang dibutuhkan benih untuk berkecambah, yaitu munculnya radikula dan plumula (Fatikhasari <em>et al</em>., 2022). Berdasarkan sajian data pada Tabel 1 mengindikasikan bahwa media tanah mencatat waktu tercepat (4,36 Hari) dalam laju perkecambahan benih kayu putih. Sinergi antara kelembaban, aerasi dan kestabilan suhu pada media tanah sangat mendukung laju perkecambahan (Jisha <em>et al</em>., 2015).</p> <p>IKP adalah ukuran yang digunakan untuk menggambarkan seberapa cepat dan efisien suatu benih, dapat berkecambah dalam periode waktu tertentu (Megasari <em>et al</em>., 2024). Untuk benih kayu putih IKP tertinggi terdapat pada perlakuan tanah (Tabel 1). Kehadiran tanah mendukung proses imbibisi air berlangsung secara optimal tanpa menyebabkan kekurangan oksigen, yang sangat penting dalam respirasi benih pada tahap awal perkecambahan (Zahra., 2021).</p> <p>Penggunaan media kecambah tanah memberikan hasil viabilitas terbaik pada benih kayu putih baik dari segi daya kecambah, laju perkecambahan maupun indeks kecepatan perkecambahan. Penelitian lebih lanjut perlu dilakukan dengan variasi konsentrasi tanah untuk mengoptimalkan viabilitas benih kayu putih.</p> 2025-11-28T00:00:00+08:00 Copyright (c) 2025 Prosiding Seminar Nasional Hasil-Hasil Penelitian https://ejurnal.politanikoe.ac.id/index.php/psnp/article/view/481 MORFOMETRIK AYAM BROILER FASE STARTER YANG DIBERI HERBAL HASIL WATER AND STEAM DESTILLATION DENGAN LEVEL BERBEDA 2025-11-15T18:11:06+08:00 Cytske Sabuna cytskes@gmail.com Maria Karolina Deko cytskes@gmail.com Ni Sri Yuliani cytskes@gmail.com Andy Yumina Ninu cytskes@gmail.com Paula Bere cytskes@gmail.com <p>&nbsp;&nbsp;&nbsp; <em>Feed additive</em> berperan penting dalam efisiensi pakan dan kesehatan ternak untuk menunjang ukuran linear tubuh ternak selanjutnya berpengaruh pada performa ayam broiler. Penggunaan <em>feed additive</em> sebagai Antibiotik Growth Promotor (AGP) bagi ternak ayam broiler telah dilarang oleh Pemerintah sehingga perlu dialihkan penggunaannya pada herbal yang memiliki khasiat tidak jauh berbeda dengan AGP<em>. </em>Penggunaan feed additive alami (fitobiotik) dapat meningkatkan kesehatan ternak dan performa ayam. Menurut (Widodo <em>et al</em>.,, 2019) bahwa pemberian beberapa herbal dapat meningkatkan performa ayam broiler. (Dosu <em>et al</em>., 2023) menyatakan bahwa jahe (<em>Zingiber officinale Roscoe, Zingiberaceae</em>) mengandung bioaktif seperti shogaols, gingerols, gingerdione, and phenolic ketone derivatives. (Lamani <em>et al</em>, 2021) ; (Sabuna <em>et al</em>. 2024). Selanjutnya (Sabuna <em>et al</em>., 2025) melaporkan bahwa herbal yang diproses dengan metode fermentasi masih mengandung zat antinutrien sehingga dapat menurunkan bobot badan yang mana ukuran tubuh ayam pun akan mengalami penurunan. Lebih lanjut (Sabuna <em>et al</em>., 2024) &nbsp;mengatakan bahwa pengolahan herbal dengan metode <em>water and steam distillation</em> merupakan metode yang terbaik untuk konsumsi ransum ayam broiler umur 35 hari, hal ini memungkinkan untuk dilakukan penelitian dengan penggunaan herbal dengan metode <em>water and steam and distillation. </em>Tujuan penelitian untuk mengkaji morfometrik ayam broiler fase starter yang diberi herbal hasil <em>water and steam destillation</em> dengan level berbeda.</p> <p>Prosedur penelitian yakni membuat herbal dengan metode penyulingan (<em>water and steam destillation</em>), melakukan pemeliharaan ayam dengan memberikan pakan komplit CP 11 dan CP 12 sesuai kebutuhan serta memberikan air minum yang ditambahkan herbal hasil <em>water and steam destillation</em> sesuai perlakuan. Rancangan percobaan menggunakan rancangan acak lengkap dengan 4 perlakuan :P0 = tanpa WSD,&nbsp; P1 = level 0,34% WSD, P2 = level 0,64% WDS dan level 0,94% WSD (Sanjaya <em>et al</em>., 2023). Perlakuan diulang sebanyak 5 kali&nbsp; dan pada setiap unit percobaan terdiri dari 10 ekor ayam. Variabel pengamatan berupa panjang sayap, panjang tulang dada dan panjang tulang tibia.</p> <p>Hasil penelitian menunjukkan bahwa pemberian herbal hasil <em>water and steam destillation</em> dengan level yang berbeda,&nbsp; berpengaruh tidak nyata (P&gt;0,05) terhadap panjang sayap, panjang tulang dada dan panjang tulang tibia (Tabel 1).</p> <p>&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp; <strong>Tabel 1.</strong> Pengaruh perlakuan terhadap morfometrik ayam broiler fase starter&nbsp;</p> <table> <tbody> <tr> <td rowspan="2" width="155"> <p>&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp; &nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;Perlakuan</p> </td> <td colspan="3" width="464"> <p>&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp; &nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;Parameter</p> </td> </tr> <tr> <td width="155"> <p>&nbsp;&nbsp;&nbsp; Panjang sayap (cm)</p> </td> <td width="155"> <p>&nbsp;Panjang tulang dada (cm)</p> </td> <td width="155"> <p>Panjang tulang tibia (cm)</p> </td> </tr> <tr> <td width="155"> <p>P0</p> </td> <td width="155"> <p>18,69±0,99¹ⁿ&nbsp;</p> </td> <td width="155"> <p>11,55±0,46¹ⁿ</p> </td> <td width="155"> <p>8,97±0,75¹ⁿ</p> </td> </tr> <tr> <td width="155"> <p>P1</p> </td> <td width="155"> <p>18,93±1,09 ͭ ⁿ</p> </td> <td width="155"> <p>11,04±0,38¹ⁿ</p> </td> <td width="155"> <p>8,78±1,08¹ⁿ</p> </td> </tr> <tr> <td width="155"> <p>P2</p> </td> <td width="155"> <p>19,83±1,06 ͭ ⁿ</p> </td> <td width="155"> <p>12,20±1,20¹ⁿ</p> </td> <td width="155"> <p>9,06±1,41¹ⁿ</p> </td> </tr> <tr> <td width="155"> <p>P3</p> </td> <td width="155"> <p>18,30±0,65 ͭ ⁿ</p> </td> <td width="155"> <p>11,48±0,81¹ⁿ</p> </td> <td width="155"> <p>8,75±0,43¹ⁿ</p> </td> </tr> <tr> <td width="155"> <p>&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp; P Value</p> </td> <td width="155"> <p>0,123</p> </td> <td width="155"> <p>0,180</p> </td> <td width="155"> <p>0,951</p> </td> </tr> </tbody> </table> <p>Keterangan : ͭ ⁿ ; tidak nyata : Superskrip ᵃᵇ pada kolom yang sama menunjukkan berpengaruh tidak nyata</p> <p>&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp; (P&lt;0,05)</p> <p>Perlakuan berpengaruh tidak nyata terhadap panjang sayap, panjang tulang dada dan panjang tulang tibia karena diduga senyawa bioaktif tanaman belum optimal menstimulir enzim pencernaan dan penyerapan nutrien. Selain itu juga jumlah kandungan nutrien sama yang terdapat dalam pakan komersil yang diberikan pada ayam penelitian sehingga panjang sayap, panjang tulang dada dan panjang tulang tibia yang diperoleh sama diantara perlakuan. (Masir <em>et al</em>., 2023) menambahkan bahwa perkembangan morfometrik tubuh ayam dipengaruhi oleh kualitas pakan, genetik dan lingkungan.</p> <p>Kesimpulan yakni pemberian herbal hasil <em>water and steam destillation</em> hingga level 0,94%/L air memberikan pengaruh yang sama terhadap morfometrik ayam broiler fase <em>starter</em>.</p> 2025-11-28T00:00:00+08:00 Copyright (c) 2025 Prosiding Seminar Nasional Hasil-Hasil Penelitian https://ejurnal.politanikoe.ac.id/index.php/psnp/article/view/482 EVALUASI SIFAT FISIK DAN SUHU SILASE KOMBINASI LIMBAH BUAH JAMBU METE DAN RUMPUT LAUT SEBAGAI PAKAN ADITIF RUMINANSIA 2025-11-15T18:15:08+08:00 Dedet Septian Raha Anugrah dedetanugrah@gmail.com Ima Malawati dedetanugrah@gmail.com Aisyah Nurdianingsih P. A. dedetanugrah@gmail.com <p>Sektor peternakan ruminansia menghadapi tantangan serius berupa emisi gas metana (CH₄) dari fermentasi enterik, dengan potensi pemanasan global 84 kali lebih besar daripada CO₂ (Widiawati <em>et al</em>., 2025). Di sisi lain, Indonesia menghasilkan limbah pertanian dan perikanan yang melimpah, seperti limbah buah jambu mete dan rumput laut (<em>Eucheuma cottonii</em>), yang belum dimanfaatkan secara optimal. Kedua limbah ini mengandung senyawa bioaktif; tanin dan flavonoid pada jambu mete serta polisakarida sulfat pada rumput laut, yang dilaporkan berpotensi menghambat produksi metana (Jayanegara <em>et al</em>., 2020)<strong>.</strong> Penelitian ini bertujuan mengevaluasi sifat fisik dan suhu silase dari kombinasi kedua bahan tersebut untuk mengidentifikasi formulasi optimal sebagai pakan aditif ramah lingkungan.</p> <p>Metode penelitian menggunakan Rancangan Acak Lengkap (RAL) dengan empat perlakuan dan tiga ulangan. Perlakuan berupa variasi konsentrasi limbah buah jambu mete (LBJM) dan rumput laut (0%, 20%, 30%, 40%) yang dicampur dengan rumput raja sebagai bahan dasar, ditambah dedak, molases, dan EM4. Campuran kemudian difermentasi dalam kantong kedap udara selama 21 hari. Parameter yang diukur meliputi sifat fisik (warna, bau, tekstur, pertumbuhan jamur) menggunakan skala penilaian 1-5, serta suhu fermentasi. Data dianalisis secara statistik dengan ANOVA dan uji lanjut Tukey HSD.</p> <p>Hasil analisis statistik menunjukkan adanya perbedaan yang sangat signifikan (P&lt;0,001) pada parameter warna dan pertumbuhan jamur, serta perbedaan signifikan (P&lt;0,05) pada parameter tekstur silase. Parameter bau tidak menunjukkan perbedaan yang signifikan (P&gt;0,05) antar semua perlakuan. Pengukuran suhu menunjukkan variasi antarperlakuan dengan kisaran 27,6-31,2°C. Perlakuan A1 mencatat suhu tertinggi (31,2°C), sedangkan perlakuan F3 mencatat suhu terendah (27,6°C). Berdasarkan analisis komprehensif, perlakuan F3 yang merupakan kombinasi 30% rumput laut dan 30% limbah jambu mete menunjukkan performa terbaik dengan rata-rata skor keseluruhan 4,30. Perlakuan ini mencatat skor warna 4,60, bau 4,53, tekstur 4,33, dan pertumbuhan jamur 3,73. Perlakuan A1 juga menunjukkan performa yang baik dengan skor rata-rata 4,22, terutama unggul dalam parameter pertumbuhan jamur dengan skor 4,20. Hasil uji lanjut Tukey HSD mengonfirmasi bahwa perlakuan F3 secara signifikan lebih baik dibandingkan perlakuan lainnya dalam parameter tekstur dan warna.</p> <p>Keunggulan perlakuan F3 pada warna mengindikasikan terjadinya proses fermentasi yang optimal tanpa oksidasi berlebihan. Hal ini didukung oleh suhu fermentasinya yang terendah, yang mengindikasikan tidak adanya aktivitas mikrobial berlebih yang dapat menurunkan kualitas silase (Zhao <em>et al</em>., 2025). Stabilitas parameter bau pada semua perlakuan menunjukkan konsistensi produksi asam laktat oleh bakteri fermentasi. Skor pertumbuhan jamur yang baik pada F3 menunjukkan stabilitas aerobik yang baik, diduga akibat efek sinergis senyawa antimikroba dari tanin (jambu mete) dan polisakarida sulfat (rumput laut) (Hidayah <em>et al</em>., 2022). Dengan demikian, formulasi F3 tidak hanya menghasilkan silase dengan karakteristik fisik yang optimal, tetapi juga berpotensi sebagai pakan aditif antimetana karena kandungan senyawa bioaktifnya yang dapat menghambat archaea metanogen dalam rumen (Kú-Vera <em>et al</em>., 2020).</p> <p>Berdasarkan hasil dan pembahasan, disimpulkan bahwa kombinasi limbah buah jambu mete dan rumput laut mampu menghasilkan silase dengan karakteristik fisik yang optimal. Perlakuan F3 (30% rumput laut dan 30% limbah jambu mete) terbukti merupakan formulasi terbaik dengan skor kualitas tinggi dan suhu fermentasi terendah. Untuk pengembangan lebih lanjut, disarankan dilakukan uji&nbsp;<em>in vitro</em>&nbsp;untuk memvalidasi efektivitas formulasi F3 dalam mengurangi produksi gas metana, serta evaluasi parameter nutrisi yang lebih komprehensif. Implementasi hasil penelitian ini diharapkan dapat berkontribusi dalam pengembangan pakan aditif ramah lingkungan yang bersumber dari limbah lokal.</p> 2025-11-28T00:00:00+08:00 Copyright (c) 2025 Prosiding Seminar Nasional Hasil-Hasil Penelitian https://ejurnal.politanikoe.ac.id/index.php/psnp/article/view/483 PRA FEASIBILITY STUDI USAHA KOMODITI JAMBU METE (Anacardium occidentale) DI PROVINSI NTT 2025-11-15T18:20:02+08:00 Yuan Valentino Elim yuanvalentino@gmail.com Marince Tunardjo yuanvalentino@gmail.com Mariano Nugraha yuanvalentino@gmail.com Zulkifly Umar yuanvalentino@gmail.com <p>Provinsi Nusa Tenggara Timur memiliki potensi besar dalam pengembangan komoditas jambu mete terutama di wilayah Kabupaten Kupang, Sumba Barat Daya, dan Sikka. Namun, berbagai kendala seperti teknologi budidaya yang terbatas, minimnya dukungan dalam pengembangan komoditas mete, dan pengelolaan usaha yang belum optimal menyebabkan potensi ini belum termanfaatkan dengan baik. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui potensi dan permasalahan dalam usaha agribisnis jambu mete dan untuk mengetahui kelayakan usaha agribisnis jambu mete. Jenis penelitian ini adalah penelitian deskriptif dengan pendekatan campuran. Data-data primer hasil wawancara digunakan untuk menganalisis aspek hukum, teknis, manajemen, pemasaran, dan dampak sosial dan lingkungan. Selanjutnya data-data sekunder yang diperoleh digunakan untuk menganalisis aspek finansial/keuangan. Teknik sampling yang digunakan adalah teknik <em>cluster purposive random sampling </em>dengan target informannya adalah para petani jambu mete di 3 (tiga) Kabupaten, pedagang pengumpul jambu mete, industri pengolahan berbasis mete, ASN di Dinas Pertanian di 3 Kabupaten lokasi penelitian dan beberapa perangkat daerah terkait seperti Dinas Penanaman Modal dan Pelayanan Terpadu Satu Pintu (DPMPTSP), Dinas Tenaga Kerja, kepala desa, serta para tokoh masyarakat dan tokoh adat. Hasil penelitian menunjukkan beberapa potensi yang menjadi kekuatan utama dalam usaha jambu mete di 3 kabupaten lokasi penelitian ini adalah potensi lahan yang belum diusahakan yang cukup besar, potensi produksi dan luasan areal tanam jambu mete yang cukup menjanjikan serta didukung oleh potensi agroklimat di 3 lokasi ini yang sangat cocok untuk pertumbuhan tanaman jambu mete serta ketersediaan benih unggul pada sentra benih unggulan jambu mete yang ada di Kabupaten Flores Timur dan Ende yang telah tersertifikasi oleh Kementerian Pertanian. Dari sisi lingkungan tanaman jambu mete memiliki daya tahan yang baik terhadap kondisi tanah marginal dan mampu tumbuh dengan input yang relatif rendah, sehingga cocok untuk wilayah yang menghadapi keterbatasan sumber daya air. Selain itu beberapa permasalahan yang ditemui seperti tanaman jambu mete yang ada saat ini merupakan tanaman tua dan tidak produktif, pasca panen jambu mete yang belum optimal, adanya gangguan hama penyakit yang belum ditangani secara baik, rantai tata niaga dan kebijakan pasar yang belum berpihak pada petani sehingga harga dikontrol oleh pengepul, belum maksimalnya kelembagaan yang ada di tingkat petani dan upaya peningkatan nilai tambah yang masih sangat minim oleh petani sehingga masih menjual dalam bentuk gelondongan. Selanjutnya berdasarkan hasil analisis ke-6 aspek dalam studi kelayakan baik aspek finansial dan non finansial menunjukkan bahwa secara umum rencana investasi usaha jambu mete di Kabupaten Kupang, Sumba Barat Daya, dan Sikka ini layak untuk dikembangkan. Secara keseluruhan, usaha agribisnis jambu mete di NTT layak untuk diinvestasikan, mengingat potensi pasar yang tinggi, dukungan kondisi fisik yang sesuai, manfaat sosial bagi masyarakat, serta dampak lingkungan yang rendah. Investasi dalam komoditas ini tidak hanya menguntungkan bagi investor, tetapi juga berdampak positif bagi pemberdayaan ekonomi dan kesejahteraan masyarakat NTT dalam jangka panjang.</p> 2025-11-28T00:00:00+08:00 Copyright (c) 2025 Prosiding Seminar Nasional Hasil-Hasil Penelitian https://ejurnal.politanikoe.ac.id/index.php/psnp/article/view/484 KANDUNGAN AFLATOKSIN TOTAL PAKAN KOMPLIT BROILER STARTER YANG DIFERMENTASI DENGAN MIKROBA YANG BERBEDA 2025-11-15T18:24:35+08:00 Catootjie L. Nalle catootjienalle@gmail.com Helda catootjienalle@gmail.com Erda Rame Hau catootjienalle@gmail.com Stormy Vertygo catootjienalle@gmail.com <p>&nbsp;</p> <p>Daging ayam broiler merupakan sumber protein hewani yang murah bagi masyarakat Indonesia, namun kualitas dan keamanannya sangat bergantung pada kesehatan ternak serta bebasnya produk dari cemaran mikroba, logam berat, dan racun jamur seperti aflatoksin. Racun jamur tersebut dapat muncul akibat pakan yang terkontaminasi <em>Aspergillus</em> spp. yang tumbuh pada bahan pakan dan pakan komplit. Penelitian terdahulu menunjukkan bahwa meskipun kadar aflatoksin dalam pakan rendah (&lt;70 ppb) tetap dapat menimbulkan efek negatif pada ayam dan meninggalkan residu dalam organ tubuhnya (Nalle <em>et al.</em>, 2019, 2021, 2022, 2025; Magnoli <em>et al</em>., 2011; Liu <em>et al.,</em> 2018). Upaya detoksifikasi dengan teknologi fermentasi, baik menggunakan jamur tunggal maupun sinbiotik, masih terbatas. Oleh karena itu, penelitian ini bertujuan untuk mengevaluasi penggunaan jamur <em>Aspergillus niger</em> dan <em>Rhizopus oligosporus</em> dalam fermentasi pakan guna menurunkan kadar aflatoksin B1.</p> <p>Penelitian ini dirancang dengan menggunakan Rancangan Acak Lengkap dengan tiga perlakuan dan tiga ulangan (25 kg ransum per ulangan). Dosis bubuk <em>Aspergillus niger</em> dan <em>Rhizopus oligosporus</em> yang digunakan adalah 0,25%, dan kandungan aflatoksin total awal jagung adalah 88 ppb yang kemudian diencerkan menjadi 41 ppb dalam ransum basal jagung-bungkil kedelei dengan menggunakan rumus pengenceran V1xC1=V2xC2. Ransum perlakuan kemudian difermentasi selama 60 jam dan selanjutnya dikeringkan dengan sinar matahari dan dilakukan sampling dan dianalisis kandungan aflatoksin dengan LC MS. Data penelitian dianalisis dengan menggunakan aplikasi SAS OnDemand.</p> <p>Tabel 1 menampilkan pengaruh perlakuan terhadap kandungan aflatoksin B1 pakan komplit ayam broiler terfermentasi 60 jam. Hasil analisis statistik menunjukkan bahwa perlakuan. Hasil analisis statistic menunjukkan bahwa perlakuan berpengaruh sangat nyata (P&lt;0,01) terhadap kandungan aflatoksin total ransum. Kandungan aflatoksin ransum perlakuan yang difermentasi dengan <em>Aspergillus niger</em> dan <em>Rhizopus oligosporus</em> berbeda nyata (P&lt;0,05) dengan ransum kontrol. Hasil penelitian ini sesuai dengan Kusumaningtyas <em>et al</em>. (2014) dan Zhang <em>et al.</em> (2014). Zhang <em>et al.</em> (2014) melaporkan bahwa <em>Aspergillus niger</em> mampu mendegradasi 58% Aflatoksin B1 dalam waktu 24 jam pada empat jenis bahan baku pakan. <em>Aspergillus niger dan Rhizopus oligosporus </em>memiliki enzim-enzim metabolik yang dapat berperan dalam proses biodegradasi senyawa toksik.</p> <p><strong>Tabel 1.</strong> Pengaruh Perlakuan Terhadap Kandungan Aflatoksin B1 Pakan Komplit Ayam Broiler Terfermentasi 60 Jam</p> <table> <tbody> <tr> <td rowspan="2" width="76"> <p>Perlakuan</p> </td> <td colspan="3" width="358"> <p>Kandungan Aflatoksin Total (ppb)</p> </td> <td rowspan="2" width="170"> <p>Rata-rata (ppb)</p> </td> </tr> <tr> <td width="113"> <p>I</p> </td> <td width="103"> <p>II</p> </td> <td width="142"> <p>III</p> </td> </tr> <tr> <td width="76"> <p><strong>A</strong></p> </td> <td width="113"> <p>41</p> </td> <td width="103"> <p>41</p> </td> <td width="142"> <p>41</p> </td> <td width="170"> <p>41<sup>a</sup></p> </td> </tr> <tr> <td width="76"> <p><strong>B</strong></p> </td> <td width="113"> <p>0</p> </td> <td width="103"> <p>0</p> </td> <td width="142"> <p>0</p> </td> <td width="170"> <p>0<sup>b</sup></p> </td> </tr> <tr> <td width="76"> <p><strong>C</strong></p> </td> <td width="113"> <p>0</p> </td> <td width="103"> <p>0</p> </td> <td width="142"> <p>0</p> </td> <td width="170"> <p>0<sup>b</sup></p> </td> </tr> <tr> <td colspan="4" width="434"> <p><em>P-value</em></p> </td> <td width="170"> <p>&lt;,0001</p> </td> </tr> <tr> <td colspan="4" width="434"> <p><em>Standard Error of Mean</em></p> </td> <td width="170"> <p>0,0000</p> </td> </tr> </tbody> </table> <p>Keterangan: A= ransum kontrol (tidak difermentasi); B=Ransum terfermentasi dengan <em>Aspergillus niger</em>; C= Ransum terfermentasi dengan <em>Rhizopus oligosporus</em></p> <p>Simpulannya, teknologi fermentasi berpotensi digunakan sebagai metode untuk mengurangi kandungan aflatoksin ransum. Disarankan untuk melakukuan uji coba ransum fermentasi secara <em>in vivo</em> dengan menggunakan ayam broiler.</p> 2025-11-28T00:00:00+08:00 Copyright (c) 2025 Prosiding Seminar Nasional Hasil-Hasil Penelitian https://ejurnal.politanikoe.ac.id/index.php/psnp/article/view/485 PREVALENSI STRONGYLOIDIASIS PADA KAMBING KACANG (Capra hircus) DI HAMPARAN PERSAWAHAN KELURAHAN OESAO KABUPATEN KUPANG 2025-11-15T18:56:41+08:00 I Gusti Komang Oka Wirawan oka_sayun@yahoo.com Suryawati oka_sayun@yahoo.com Andrijanto Hauferson Angi oka_sayun@yahoo.com Yanse Yane Rumlaklak oka_sayun@yahoo.com <p>Peternak kambing di Kelurahan Oesao mempunyai kebiasaan memindahkan ternaknya ke areal persawahan Oesao setelah musim panen padi dengan merubah pola pemeliharaannya dari ekstensif menjadi sistem penambatan di lahan persawahan. Hal ini menyebabkan perubahan pola pakan, dari <em>browsing</em> ke <em>grazing</em> sehingga berdampak pada gangguan pencernaannya berupa diare. Salah satu jenis endoparasit yang menimbulkan gejala diare pada kambing adalah <em>Strongyloides </em>sp. (Romero <em>et al</em>., 2022). Penelitian ini bertujuan untuk menentukan prevalensi <em>strongyloidiasis</em> pada kambing kacang di hamparan persawahan Kelurahan Oesao. Hasil penelitian ini diharapkan dapat menjadi dasar acuan bagi tenaga medis veteriner di lingkup Kabupaten Kupang dalam pengendalian infeksi endoparasit tersebut.</p> <p>Pengambilan sampel feses kambing kacang diambil sebanyak 15 sampel di persawahan Oesao, secara acak dengan tidak membedakan umur dan jenis kelamin. Metode pengapungan; feses diambil ± 3 gram ditambah aquades 5 mL dan digerus, gerusan disaring, supensinya dimasukkan ke dalam tabung reaksi sampai volumenya ¾ bagian dan disentrifuse dengan kecepatan 1500 rpm selama 2 menit. Tabung diambil dan supernatan dibuang, endapan feses ditambahkan NaCl jenuh sampai volumenya ¾ tabung. Disentrifugasi dengan kecepatan dan waktu yang sama. Tabung diambil dan ditempatkan pada rak tabung dengan posisi tegak lurus, ditetesi NaCl jenuh sampai permukaannya cembung, didiamkan selama 2 – 3 menit. Objek glass disentuhkan pada permukaan cairan yang cembung tersebut, segera dibalik, ditutup dengan <em>cover glass</em>. diperiksa dengan mikroskop pembesaran 350 kali, (Anne M. Zajac and Gary A. Conboy, 2012). Identifikasi morfologi telur cacing mengacu pada (Thienpont <em>et al</em>., 2003). Prevalensi dihitung menggunakan rumus: Jumlah sampel positif/jumlah keseluruhan sampel x 100%.</p> <p>Berdasarkan hasil pemeriksaan dari 15 sampel feses, teridentifikasi sampel positif terinfeksi <em>Strongyloides </em>spp. Tingginya prevalensi ini didukung oleh 3 faktor, yaitu jalur transmisi, sumber pakan, interaksi di antara ternak ruminansia. Infeksi <em>Strongyloides </em>spp., ditransmisi secara oral dan kulit sehingga ternak kambing berpeluang terinfeksi lebih tinggi dibandingkan dengan cacing dari kelas nematoda yang lainnya.&nbsp; Sesuai dengan pendapat (Thamsborg <em>et al</em>., 2017), anak kuda yang terinfeksi oleh larva infektif <em>Strongyloides </em>sp<em>., </em>baik melalui kulit maupun tertelan bersama dengan sumber pakan akan bermigrasi ke paru-paru melalui sistem peredaran darah.</p> <p>Berdasarkan observasi di lapangan, ditemukan beberapa ternak kambing mengalami diare, hal ini kemungkinan disebabkan oleh Strongyloidiasis. Sesuai dengan pendapat (Romero <em>et al</em>., 2022), melaporkan bahwa dua puluh kasus strongyloidiasis menunjukkan gejala klinis diantaranya: nyeri perut, diare, dan gatal-gatal pada kulit. Sumber pakan yang lebih dominan rerumputan di areal persawahan Oesao, merupakan salah satu tempat yang ideal sebagai sumber penularan infeksi endoparasit gastrointestinal. Sesuai dengan pendapat (Gasparina <em>et al</em>., 2021), pada daerah subtropik larva infektif nematoda (<em>Haemonchus contortus</em>) mampu bermigrasi ke rerumputan yang lain tanpa mengenal waktu pada musim panas. Interaksi di antara ternak ruminansia berpeluang sangat tinggi terjadinya infeksi silang. Sesuai pendapat (Beaumelle <em>et al</em>., 2024), ungulata liar dan domestik dapat terinfeksi dengan spesies nematoda yang sama.</p> <p>Strongyloidiasis pada <em>Capra hircus </em>di areal persawahan Oesao dengan tingkat prevalensi 100%. Faktor-faktor pendukung tingkat prevalensi ini, di antaranya: jalur transmisi, sumber pakan, dan interaksi di antara ternak ruminansia.</p> 2025-11-28T00:00:00+08:00 Copyright (c) 2025 Prosiding Seminar Nasional Hasil-Hasil Penelitian https://ejurnal.politanikoe.ac.id/index.php/psnp/article/view/486 KESIAPAN MASYARAKAT KAWASAN PENYANGGA TAMAN NASIONAL GUNUNG GEDE PANGRANGO DALAM PENGEMBANGAN AGROWISATA BERBASIS PARTISIPASI LOKAL 2025-11-15T19:03:38+08:00 Kania Sofiantina Rahayu kaniasofia@apps.ipb.ac.id Mochamad Adhnan Sanjaya kaniasofia@apps.ipb.ac.id Ira Resmayasari kaniasofia@apps.ipb.ac.id Dyah Prabandari kaniasofia@apps.ipb.ac.id Natasha Indah Rahmani kaniasofia@apps.ipb.ac.id Bedi Mulyana kaniasofia@apps.ipb.ac.id Reza Septian kaniasofia@apps.ipb.ac.id <p>Desa Sukaresmi merupakan salah satu kawasan penyangga Taman Nasional Gunung Gede Pangrango (TNGGP) yang memiliki potensi wisata terbesar berasal dari lahan tanaman pangan dan hortikultura. Sebagai kawasan konservasi, TNGGP tidak hanya berfungsi sebagai pelestari lingkungan, tetapi juga memiliki potensi besar untuk dikembangkan sebagai destinasi agrowisata yang dapat memberikan nilai tambah ekonomi bagi masyarakat sekitar, terutama masyarakat yang tinggal di kawasan penyangga taman nasional. Kesiapan masyarakat dalam mengembangkan agrowisata berbasis partisipasi lokal masih menjadi tantangan tersendiri. Oleh karena itu, penelitian ini penting dilakukan untuk menganalisis dan memahami tingkat kesiapan masyarakat di kawasan penyangga TNGGP dalam pengembangan agrowisata berbasis partisipasi lokal. Hasil penelitian ini diharapkan dapat memberikan kontribusi dalam merumuskan strategi pemberdayaan yang tepat sasaran dan berkelanjutan, serta menjadi dasar pengambilan kebijakan bagi pihak-pihak terkait dalam pengelolaan kawasan konservasi yang bersinergi dengan kepentingan masyarakat.</p> <p>&nbsp;&nbsp;&nbsp; Pendekatan penelitian yang digunakan adalah deskriptif kuantitatif dengan dukungan data kualitatif. Pengumpulan data menggunakan metode kuesioner tertutup kepada masyarakat Desa Sukaresmi. Jumlah penduduk Desa Sukaresmi pada tahun 2024 sebanyak 5.537 jiwa. Jumlah sampel ditentukan sebanyak 3% dari jumlah populasi (Yount 1999 dalam Miftahurridlo dan Hayati 2020). Jika dikalkulasikan, 3% dari 5.537 jiwa menghasilkan jumlah sampel sebanyak 166 responden yang kemudian dibulatkan menjadi 170 responden dari elemen masyarakat. Data kemudian dianalisis menggunakan metode distribusi frekuensi. Distribusi frekuensi merupakan rangkaian data angka menurut kuantitasnya (Wahab dan Syahid 2021) dengan menggunakan skala likert sangat setuju (4), setuju (3), kurang setuju (2) dan tidak setuju (1) (Erianti <em>et al</em>., 2023). Data analisis dilakukan secara deskriptif persentase yang diolah berdasarkan penilaian menurut (Arikunto 2021). Data kuantitatif diperkuat dengan dukungan data kualitatif yang diperoleh melalui observasi lapangan, wawancara mendalam dengan perangkat &amp; organisasi desa, tokoh masyarakat, pemerintah Kabupaten Bogor.</p> <p>Hasil penelitian menunjukkan bahwa masyarakat di kawasan penyangga Desa Sukaresmi memiliki kesiapan yang sangat tinggi (89%) dalam berpartisipasi mendukung pengembangan agrowisata di kawasan penyangga TNGGP<strong><em>.</em> </strong>Masyarakat menyadari dengan terlibat dalam kegiatan agrowisata dapat meningkatkan pendapatan dan kualitas hidup. Masyarakat sangat siap (87.1%) menerapkan etika dan pelayanan kepada masyarakat termasuk penerapan prinsip 5S (senyum, salam, sapa, sopan, dan santun) dalam interaksi dengan wisatawan. Masyarakat menyadari bahwa pelayanan yang baik akan meningkatkan pengalaman wisatawan. Dukungan masyarakat pun sangat tinggi (87,2%) terhadap keamanan dan keselamatan wisatawan, masyarakat lokal bahkan lingkungan sekitar. Dukungan sangat tinggi (86,9%) pun ditunjukan masyarakat dalam menciptakan usaha yang sehat, kompetitif, adil dan beretika dalam mendukung pengembangan pariwisata yang berkelanjutan. Masyarakat sangat siap (87.1%) untuk memenuhi segala aspek dalam mendukung kenyamanan dan kebersihan bagi wisatawan. Hasil tersebut mencerminkan kesadaran akan pentingnya menjaga lingkungan agar tetap bersih dan nyaman merupakan salah satu faktor penentu dalam menarik minat wisatawan.</p> <p>Masyarakat di kawasan penyangga Desa Sukaresmi memiliki kesiapan yang sangat tinggi dalam mendukung pengembangan agrowisata di kawasan penyangga TNGGP. Partisipasi masyarakat menunjukkan kecenderungan positif diantaranya dalam penerapan etika dan pelayanan, menjaga keamanan dan keselamatan wisatawan, persaingan usaha yang sehat dan menjaga kenyamanan dan kebersihan kawasan agrowisata.</p> 2025-11-28T00:00:00+08:00 Copyright (c) 2025 Prosiding Seminar Nasional Hasil-Hasil Penelitian https://ejurnal.politanikoe.ac.id/index.php/psnp/article/view/487 PHYTOGENIC FEED ADDITIVES (PFAs) SEBAGAI ALTERNATIF KOKSIDIOSTAT PADA UNGGAS: SYSTEMATIC REVIEW 2015-2025 2025-11-15T19:08:45+08:00 Rahayu Asmadini Rosa asmadinirosa8@gmail.com Saprilian Stya Hapsari asmadinirosa8@gmail.com Apsari Shantika Pratistha asmadinirosa8@gmail.com <p>Kekhawatiran akan keamanan pangan, keberlanjutan lingkungan, dan kesejahteraan hewan semakin meningkatkan permintaan konsumen terhadap pangan yang bebas residu. Sehingga&nbsp;mendorong produsen dan ilmuwan untuk mencari dan mengkaji lebih lanjut alternatif yang aman, alami, dan efektif dalam menjaga kesehatan dan performa ternak. Salah satu lingkup penelitian yang banyak dikaji adalah penggunaan <em>phytogenic feed additives</em> (PFAs) pada ternak. PFAs dinilai lebih aman karena tidak meninggalkan residu dan tidak memicu resistensi (Abdelli <em>et al</em>., 2021). Salah satu penggunaan PFAs sebagai pengganti koksidiostat sintetis (Khan <em>et al</em>., 2024). Koksidiostat merupakan obat yang digunakan untuk menghambat atau mengontrol koksidiosis yang juga dikenal sebagai penyakit berak darah. Penyakit ini merupakan penyakit pencernaan yang disebabkan oleh protozoa parasit genus <em>Eimeria</em> dan salah satu penyakit penyebab kerugian tinggi pada budidaya unggas. Pengendalian koksidiosis selama ini banyak mengandalkan koksidiostat sintetis. Namun, beberapa tahun belakang sudah banyak kajian dan publikasi ilmiah yang melaporkan penggunaan PFAs sebagai koksidostat terutama pada unggas (Abdelli <em>et al</em>., 2021). Keberagaman <em>phytogenic</em> yang tersedia di alam menjadikan eksplorasi terhadap penelitian ini cukup luas dan beragam, sehingga diperlukan kajian yang merangkum perkembangan dan sumber PFAs yang telah diteliti dan dipublikasikan pada periode 2015-2025.</p> <p>Penelitian ini dilaksanakan pada bulan Oktober 2025 dengan metode Narrative Literature Review (NLR) terutama overview literature (Rahmah <em>et al</em>., 2025). Metode ini merupakan pendekatan kualitatif yang menggambarkan komprehensif beragam temuan dan informasi ilmiah (Gregory &amp; Denniss, 2018).Penelusuran artikel referensi dilakukan di database Scopus dengan rentang waktu publikasi selama 10 tahun terakhir (2015-2025), guna memastikan kebaruan informasi dan relevansi data. Kata kunci yang digunakan dalam penelitian ini adalah <em>phytogenic</em> dan <em>coccidiosis</em>, dengan pembatasan inklusi berupa jenis artikel, berbahasa Inggris, dan open access artikel. Perolehan referensi yang dikumpulkan diintegrasikan berdasarkan relevansi topik yang didiskusikan.</p> <p>Hasil pencarian pada database, ditemukan hanya 15 artikel yang relevan. Penelitian dengan topik ini menunjukkan peningkatan di tahun 2021, sementara di tahun 2018 hanya 1 artikel saja. Sumber <em>phytogenic</em> yang dilaporkan diantaranya semanggi merah (<em>Trifolium pratense</em>) (Lien <em>et al</em>., 2024), <em>Rumex nervosus </em><em>(Qaid et al., 2021)</em>, <em>chamomile</em> (Beski, 2023; Hussein <em>et al</em>., 2021), wormwood (<em>Artemisia sintium</em>) (Zapletal <em>et al</em>., 2025), cengkeh (<em>Syzigium aromatocum</em>) (Youssefi <em>et al</em>., 2023), peppermint (Hussein <em>et al</em>., 2021), <em>Holarrhena antidysenterica </em><em>(Tsiouris et al., 2021)</em>, <em>Berberis aristata, </em>Keludah<em> (Polygonum aviculare</em>), bawang putih (<em>Allium sativum) </em><em>(Tsiouris et al., 2021)</em>, Kayu Manis (<em>Cinnamomum verum</em>) (Qaid <em>et al</em>., 2022), Oregano, thyme (Niknia <em>et al</em>., 2025), teh hijau, delima (Park <em>et al</em>., 2023), anuma (<em>Artemisia annua</em>) (Sharma <em>et al</em>., 2024), seabuckthorn (<em>Hippophae rhamnoides</em>) (Kalia <em>et al</em>., 2018), jarak dan jambu mete (de Oliveira Moraes <em>et al</em>., 2023). Berdasarkan review, terdapat 19 sumber <em>phytogenic</em> yang telah diteliti, 10 diantaranya dapat ditemukan di Indonesia. <em>Phytogenic</em> yang digunakan diambil dari bagian tanaman berupa daun, bunga, kulit batang, kulit ari buah dalam bentuk hasil ekstrak (minyak atau tepung) ataupun tanpa ekstraksi. Berdasarkan struktur kimia dan sifat senyawanya, kandungan paling banyak ditemukan adalah golongan fenolik dan terpenoid. Aplikasi <em>phytogenic</em> pada ternak paling banyak ditambahkan pada pakan, dibandingkan melalui air minum. Sehingga, <em>phytogenic</em> banyak dikenal sebagai <em>phytogenic feed additives</em> (PFAs). Penelitian mengenai <em>phytogenic</em> dan <em>coccidiosis</em> ini, cenderung merujuk pada ayam broiler sebanyak 14 artikel dibandingkan ayam petelur yang hanya ditemukan pada 1 artikel saja. Ayam broiler memiliki masa pemeliharaan yang relatif lebih singkat, antara 35-42 hari. Infeksi protozoa <em>Eimeria spp</em>. mengakibatkan penurunan produksi, yang akan sangat berdampak terhadap kerugian ekonomis yang lebih besar. Kerugian produksi akibat koksidiosis pada peternakan ayam dilaporkan sebesar 13 billion US Dollar per tahun (Lien <em>et al</em>., 2024). Ayam yang diberi perlakuan PFAs berhasil memperbaiki performa produksi, dengan adanya peningkatan bobot badan dan penurunan FCR, dibandingkan dengan ayam yang ditantang <em>eimira spp</em> ataupun setara dengan ayam yang diberi perlakuan koksidiostat sintetik. Sistem pemeliharaan pada ayam broiler umumnya dengan kepadatan yang tinggi. Hal ini meningkatkan resiko penularan oosit <em>Eimeria </em>spp. dibandingkan pada ayam petelur. Aplikasi PFAs menunjukkan penurunan jumlah oosit di ekskreta pada 7 artikel yang melakukan pengujian. Hampir semua artikel juga melaporkan skor lesi usus sebagai indikator dari keparahan penyakit koksidiosis pada ternak.</p> <p>Penambahan PFAs mampu menurunkan skor lesi dan memperbaiki kesehatan usus dan mikroflora didalamnya. Penelitian mengenai PFAs bersumber dari bagian tanaman maupun ekstrak, yang banyak mengandung komponen fenolik dan terpenoid. Beragamnya sumber <em>phytogenic</em> di suatu negara berpotensi untuk diteliti dan dikembangkan lebih lanjut sebagai alternatif koksidiostat sintetis pada ayam.</p> 2025-11-28T00:00:00+08:00 Copyright (c) 2025 Prosiding Seminar Nasional Hasil-Hasil Penelitian https://ejurnal.politanikoe.ac.id/index.php/psnp/article/view/488 INOVASI EFISIENSI ALOKATIF UNTUK PENINGKATAN PRODUKTIVITAS PADI SAWAH DEMI KETAHANAN PANGAN BERKELANJUTAN DI KABUPATEN KUPANG 2025-11-15T19:13:38+08:00 Ayu Fitriani ayu_fitriani@staf.undana.ac.id Santhy Chamdra ayu_fitriani@staf.undana.ac.id Putri Manno Raga ayu_fitriani@staf.undana.ac.id <p>Peningkatan produktivitas padi sawah seringkali dikejar melalui penambahan input, sebuah pendekatan yang tidak selalu berkelanjutan. Inovasi yang berdampak untuk ketahanan pangan harus mencakup perbaikan manajerial dalam mengelola sumber daya yang ada, di mana efisiensi menjadi kunci utama dalam program pertanian berkelanjutan (Kumar <em>et al</em>., 2021; Nawaz <em>et al</em>., 2022). Penelitian ini mengangkat permasalahan inefisiensi dalam penggunaan faktor produksi sebagai penghambat utama produktivitas dan keberlanjutan. Tujuan penelitian ini adalah untuk menganalisis tingkat efisiensi alokatif penggunaan input kunci (benih dan pupuk) dan membingkainya sebagai sebuah inovasi manajerial untuk peningkatan produktivitas yang berkelanjutan.</p> <p>Penelitian ini menggunakan pendekatan survei kuantitatif di Desa Noelbaki, Kecamatan Kupang Tengah, dengan sampel 80 petani padi sawah. Analisis data diawali dengan estimasi fungsi produksi Cobb-Douglas untuk mendapatkan elastisitas produksi ( ) dari setiap input (Soekartawi, 2003). Nilai efisiensi alokatif (<em>K</em>) kemudian dihitung dengan membandingkan Nilai Produk Marjinal (NPM) dengan harga input ( ) melalui rumus:</p> <p>di mana &nbsp;adalah rata-rata produksi, adalah rata-rata input ke-i, &nbsp;adalah harga output, dan &nbsp;adalah harga input ke-<em>i</em>. Suatu input dikatakan efisien secara alokatif jika nilai &nbsp;sama dengan 1.</p> <p>Hasil analisis menunjukkan bahwa penggunaan dua faktor produksi utama, yaitu benih dan pupuk, masih jauh dari kondisi efisien secara alokatif (Tabel 1).</p> <p>&nbsp;</p> <p><strong>Tabel 1. </strong>Tingkat Efisiensi Alokatif Penggunaan Benih dan Pupuk</p> <table> <tbody> <tr> <td> <p><strong>Faktor Produksi</strong></p> </td> <td> <p><strong>Nilai Efisiensi (NPM/Px)</strong></p> </td> <td> <p><strong>Kesimpulan</strong></p> </td> </tr> <tr> <td> <p>Benih</p> </td> <td> <p>43,52</p> </td> <td> <p>Belum Efisien (Penggunaan Perlu Ditambah)</p> </td> </tr> <tr> <td> <p>Pupuk</p> </td> <td> <p>0,30</p> </td> <td> <p>Tidak Efisien (Penggunaan Perlu Dikurangi)</p> </td> </tr> </tbody> </table> <p><em>Sumber: Data Primer Diolah, 2025</em></p> <p>&nbsp;</p> <p>Nilai efisiensi benih yang tinggi (43,52) mengindikasikan bahwa penggunaannya masih berada di bawah titik optimal (Kassaye and Yilma, 2022). Sebaliknya, nilai efisiensi pupuk rendah (0,30) mengindikasikan inefisiensi, di mana biaya input melebihi nilai tambah produksinya. Kondisi ini mencerminkan penggunaan pupuk kimia berlebih, sebuah tantangan yang solusinya terletak pada perbaikan praktik manajerial petani (Singh <em>et al</em>., 2021).</p> <p>Temuan ini menegaskan solusi prioritas terletak pada perbaikan strategi manajemen input dan pendampingan praktik budidaya petani, bukan adopsi teknologi baru (Hussain and Maharjan, 2025). Oleh karena itu, re-alokasi anggaran usahatani menjadi langkah praktis, yakni mengurangi alokasi biaya pupuk tidak produktif dan mengalihkannya untuk pembelian benih unggul bersertifikat. Pendekatan ini berpotensi meningkatkan nilai hasil produksi secara langsung tanpa menambah biaya total usahatani. Implementasi pendekatan ini perlu didukung pendampingan penyuluhan yang berfokus pada literasi manajemen biaya dan analisis nilai tambah input. Selain itu, diperlukan fasilitasi pembelian benih kolektif melalui kelompok tani untuk menekan harga dan memperluas akses. Strategi ini bersifat 'biaya rendah, dampak tinggi' (<em>low-cost, high-impact</em>), sehingga relevan diterapkan di wilayah berkarakteristik agroekologi kering seperti Kabupaten Kupang.</p> <p>Terdapat inefisiensi alokatif signifikan dalam usahatani padi sawah di lokasi penelitian, di mana penggunaan benih masih kurang dari titik optimal sementara pupuk sudah berlebihan. Optimalisasi alokasi input, dengan mengurangi biaya pupuk tidak produktif untuk dialihkan ke benih berkualitas, merupakan bentuk inovasi manajerial berdampak yang dapat meningkatkan produktivitas dan keberlanjutan usahatani untuk mendukung ketahanan pangan. Implikasi praktisnya adalah perlunya reorientasi program penyuluhan dari fokus teknis budidaya menjadi fokus pada literasi dan manajemen ekonomi usahatani.</p> 2025-11-28T00:00:00+08:00 Copyright (c) 2025 Prosiding Seminar Nasional Hasil-Hasil Penelitian https://ejurnal.politanikoe.ac.id/index.php/psnp/article/view/489 PENGELOLAAN USAHATANI TERPADU AGROEKOSISTEM LAHAN KERING BERKELANJUTAN DESA MATA AIR KECAMATAN KUPANG TENGAH KABUPATEN KUPANG 2025-11-15T19:18:09+08:00 Siviardus Marjaya marjayasiviardus@gmail.com Gregorius G. Batafor marjayasiviardus@gmail.com Alfred U. K. Ngaji marjayasiviardus@gmail.com Fransiskus X. Dako marjayasiviardus@gmail.com <p>Pengelolaan usahatani terpadu di lahan kering secara berkelanjutan sebagai salah satu strategi untuk peningkatan pendapatan dan efisiensi usahatani masyarakat. Permasalahan umum pengelolaan usahatani lahan kering memiliki keterbatasan sumber daya air, kesuburan tanah yang rendah, dan produktivitas yang tidak stabil, sehingga diperlukan model pendekatan inovatif dan berkelanjutan dalam pengelolaannya. Penelitian ini bertujuan untuk menerapkan model pengelolaan usahatani terpadu di lahan kering secara berkelanjutan dalam mendukung ketahanan dan keamanan pangan masyarakat. Model pengelolaan usahatani terpadu<em> (integrated farming system)</em> yang diterapkan adalah mengombinasikan kegiatan pertanian tanaman pangan, hortikultura, peternakan dan sistem pengelolaan limbah tanaman dan ternak secara sinergis agar tercipta sistem produksi yang saling memperkuat dan saling mendukung. Penelitian dilaksanakan di Desa Mata Air, Kecamatan Kupang Tengah, Kabupaten Kupang yang dimulai dari bulan Juni sampai November tahun 2025.</p> <p>Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode partisipatif dimana kelompok tani sasaran dan tim peneliti terlibat secara langsung dalam setiap tahapan kegiatan penelitian, sedangkan metode deskriptif untuk menggambarkan keadaan yang sebenarnya di wilayah penelitian tanpa melakukan manipulasi terhadap kondisi faktual yang diteliti, melakukan wawancara secara mendalam terkait sistem pengelolaan lahan kering yang diterapkan masyarakat, dan menganalisis potensi sumberdaya lokal melalui penerapan model pengelolaan usahatani terpadu lahan kering. Metode analisis yang digunakan adalah analisis biaya, penerimaan dan pendapatan usahatani. Komponen usahatani terpadu yang dianalisis meliputi kombinasi beberapa jenis komoditi tanaman pangan, hortikultura, peternakan dengan pemanfaatan limbah ternak sebagai pupuk organik untuk tanaman, dan pemanfaatan limbah tanaman sebagai pakan ternak, dan pengelolaan air dari sumur secara efisien melalui sistem instalasi sederhana.</p> <p>Hasil penelitian menunjukkan bahwa penerapan beberapa model pengelolaan usahatani terpadu di lahan kering antara beberapa jenis komoditi yang diintegrasikan mampu meningkatkan efisiensi penggunaan sumber daya alam dan lingkungan, menekan biaya produksi, serta meningkatkan pendapatan petani hingga 25-40% dibandingkan sistem usahatani tunggal. Selain itu, terjadi peningkatan kesuburan tanah dan ketersediaan pakan ternak secara berkelanjutan. Ratio perbandingan antara penerimaan dan biaya (<em>R/C- Ratio</em>) pada: Model sistem usahatani terpadu antara tanaman kangkung-sawi-ternak-pengolahan limbah tanaman-ternak mampu memberikan <em>R/C-ratio</em> sebesar Rp.2,0; Model sistem usahatani terpadu antara bayam hijau-bawang merah-ternak- pengolahan limbah tanaman-ternak dengan <em>R/C-ratio</em> sebesar 1,03; sedangkan pada Model sistem usahatani terpadu antara terong-cabe besar-ternak-pengolahan limbah tanaman-ternak mampu memberikan ratio 0,34. Secara ekonomis rata-rata ketiga model pengelolaan usahatani terpadu lahan kering dapat memberikan keuntungan yang layak bagi petani dengan <em>R/C ratio</em> rata-rata sebesar Rp. 1,11, artinya setiap Rp.1 biaya yang dikeluarkan akan memberikan penerimaan sebesar Rp. 1,11.</p> <p>Berdasarkan hasil penelitian disimpulkan bahwa, model pengelolaan usahatani terpadu di lahan kering secara teknis dan ekonomis layak dan terbukti efektif sebagai model pendekatan pembangunan pertanian berkelanjutan yang tidak hanya meningkatkan produktivitas dan pendapatan petani, tetapi juga memperkuat ketahanan dan keamanan pangan masyarakat secara berkelanjutan<em>.</em></p> 2025-11-28T00:00:00+08:00 Copyright (c) 2025 Prosiding Seminar Nasional Hasil-Hasil Penelitian https://ejurnal.politanikoe.ac.id/index.php/psnp/article/view/490 UMUR SIMPAN DAN MUTU FISIK GULA LONTAR DARI DESA TUAPUKAN KABUPATEN KUPANG NUSA TENGGARA TIMUR 2025-11-15T19:21:37+08:00 Ludia Simuruk Gasong ludiagasong80@gmail.com Bachtaruddin Badewi ludiagasong80@gmail.com <p>Desa Tuapukan, salah satu sentra penghasil gula lontar di Kabuten Kupang Nusa Tenggara Timur (NTT) karena sebagian besar penduduknya bekerja sebagai produsen gula lontar. Akan tetapi isu adanya penggunaan bahan tambahan tidak aman seperti detergen ke dalam nira lontar saat pembuatan gula lontar menurunkan mutu fisik dan umur simpan. Tujuan penelitian: (1) mengedukasi produsen gula lontar untuk menerapkan prinsip keamanan pangan dan cara pengolahan pangan yang baik dalam proses pembuatan gula lontar; (2) menganalisis umur simpan dan mutu fisik gula lontar yang dibuat dengan metode konvensional dan metode optimasi.</p> <p>Metode penelitian eksperimental dan observasi dilakukan di desa Tuapukan Kabupaten Kupang NTT dari Agustus-Oktober 2014. Penelitian dilakukan dengan membandingkan produk gula lontar dari dua kelompok produsen menggunakan metode berbeda. &nbsp;Kelompok 1 menggunakan metode konvensional dan kelompok 2 metode optimasi. Kelompok 1 menambahkan detergen dalam nira lontar saat proses menampung nira lontar. Kelompok 2 menggunakan bahan tambahan pangan alami yaitu kemiri dan minyak bimoli selama proses pembuatan gula lontar. Gula lontar yang dihasilkan oleh kedua kelompok produsen dibandingkan mutu fisik dan umur simpannya. Umur simpan produk dan mutu fisik produk ditentukan dengan pengamatan secara visual untuk parameter warna, aroma, rasa dan tekstur produk gula lontar selama dua bulan penyimpanan. Hasil penelitian selengkapnya seperti diuraikan pada Tabel 1.</p> <p><strong>Tabel 1.</strong> Umur Simpan dan Mutu Fisik Gula Lontar dengan Metode Konvensional dan Metode Optimasi.</p> <table> <tbody> <tr> <td width="302"> <p><strong>Mutu gula lontar metode konvensional</strong></p> </td> <td width="302"> <p><strong>Mutu gula lontar metode Optimalisasi</strong></p> </td> </tr> <tr> <td width="302"> <p>§&nbsp; Berasa getir akibat penambahan deterjen pada bahan baku.</p> <p>§&nbsp; Warnanya lebih gelap dampak penambahan deterjen yang tidak terkontrol.</p> <p>§&nbsp; Tekstur gula rapuh dan berongga akibat penambahan deterjen&nbsp; gula menjadi sangat higroskopis sehingga kadar air gula menjadi tinggi dan tidak tahan lama</p> <p>§&nbsp; Pengeringan dengan penjemuran langsung menggunakan tikar di atas permukaan tanah sehingga kurang higenis dan gula lebih cepat rusak</p> <p>§&nbsp; Gula dicetak berupa lempengan kecil dan tipis akibatnya gula gampang pecah sehingga tampilannya kurang menarik untuk dipasarkan</p> <p>§&nbsp; Dipasarkan secara langsung tanpa kemasan sehingga gula mudah mencair dan hanya bisa dijual dipasar tradisional</p> <p>§&nbsp; Setelah 14 hari penyimpanan pada suhu ruang produk gula lontar mulai rusak yang ditandai dengan perubahan warna dari cokelat ke cokelat gelap, aroma sedikit asam dan rasa getir dengan tekstur yang lebih berongga dan gula lontar mulai mencair.</p> </td> <td width="302"> <p>§&nbsp; Rasa khas gula lontar karena penambahan campuran kemiri dan minyak bimoli dengan dosis rendah tidak mempengaruhi cita rasa.</p> <p>§&nbsp; Warna kuning keemasan , penambahan campuran bimoli dan kemiri berpengaruh positif pada warna gula lontar.</p> <p>§&nbsp; Teksturnya padat dan kuat karena penambahan bimoli ikut menambah kerapatan molekul gula lontar sehingga gula menjadi lebih padat dan kokoh</p> <p>§&nbsp; Pengeringan menggunakan alat pengering tenaga surya yang lebih higenis karena gula diletakkan dalam alat pengering maka kontak langsung dengan tanah dan hewan pengganggu dapat dihindari</p> <p>§&nbsp; Gula dicetak dengan ketebalan 2 cm, diameter 9 cm sehingga tidak gampang pecah</p> <p>§&nbsp; Diberi sentuhan kemasan menarik dan aman untuk pangan sehigga dapat menjangkau pasar yang lebih luas.</p> <p>§&nbsp; Penyimpanan produk hingga 60 hari belum mengalami perubahan warna, berwarna kuning keemasan, rasa dan aroma khas gula lontar&nbsp; dengan tekstur tetap padat dan kuat.</p> </td> </tr> </tbody> </table> <p>Gula lontar yang diproduksi dengan metode optimasi hingga 60 hari penyimpanan, masih layak konsumsi dengan mutu fisik berwarna kuning keemasan, rasa dan aroma khas gula lontar yang segar, tekstur padat dan kuat. Gula lontar dengan metode konvensional pada 14 hari penyimpanan sudah mulai terjadi kerusakan dengan mutu fisik: berwarna cokelat gelap, aroma asam dan rasa getir dengan tekstur yang lebih berongga dan mulai mencair.</p> 2025-11-28T00:00:00+08:00 Copyright (c) 2025 Prosiding Seminar Nasional Hasil-Hasil Penelitian https://ejurnal.politanikoe.ac.id/index.php/psnp/article/view/491 PERSEPSI PETANI TERHADAP BUDIDAYA PADI LADANG DI KECAMATAN INSANA TENGAH KABUPATEN TIMUR TENGAH UTARA 2025-11-15T19:25:38+08:00 Herlyn Djunina herlyndjunina@gmail.com Wely Yitro Pello herlyndjunina@gmail.com <p>Padi ladang tergolong komoditi yang sudah banyak dibudidayakan di masyarakat di Kecamatan Insana Tengah, karena lahan yang dimiliki oleh petani pada umumnya adalah lahan kering (ladang). Budidaya padi ladang yang masih terus dilakukan oleh petani hingga saat ini selain memanfaatkan lahan kering juga untuk memenuhi kebutuhan makanan pokok keluarga dan digunakan dalam pelaksanaan ritual adat. Petani secara umum memiliki persepsi bahwa tantangan lahan sawah yang saat ini dihadapi dapat diberikan Solusi dengan budidaya padi ladang, karena petani cukup terbuka terhadap inovasi dan penerapan teknologi budidaya tanaman padi ladang yang dilakukan secara efektif. Keberlanjutan budidaya padi ladang hingga kini dibangun dari persepsi masyarakat. Persepsi merupakan suatu proses aktif menggunakan pikiran yang menimbulkan respon terhadap rangsangan. Persepsi yang dibentuk dalam diri petani akan mempegaruhi cara pandang terhadap suatu teknologi atau sistem usahatani. Persepsi dapat memberikan dorongan atau hambatan dalam melakukan sesuatu (Fachrista <em>et al</em>., 2014). Pelaksanaan penelitian di Wilayah Kerja Penyuluh Pertanian (WKPP) sebanyak 7 desa di Balai Penyuluhan Pertanian (BPP) Kecamatan Insana Tengah, Kabupaten Timur Tengah Utara, selama bulan April-Oktober 2024, menggunakan kuesioner dan wawancara mendalam untuk pengumpulan data. Metode Penentuan sampel secara persentase yaitu 5% dari jumlah Populasi sebesar 1.347 petani sehingga sampel yang digunakan adalah 67 (67,35) petani responden yang membudidayakan padi ladang di kecamatan Insana Tengah yang tersebar di 7 desa. Analisis data yang digunakan dalam penelitian adalah analisis menggunakan skala likert dengan skala 1 hingga 4 dengan keterangan sebagai berikut: skala 4 = “Sangat Tinggi”, skala 3 = “Tinggi”, skala 2 = “Cukup Tinggi” dan skala 1 = “Rendah”.</p> <p>Persepsi petani terhadap budidaya padi ladang yang di teliti meliputi persepsi petani bahwa budidaya padi ladang dapat menambah penghasilan rumah tangga petani, budidaya padi ladang merupakan usahatani pokok bagi petani, budidaya padi ladang merupakan usahatani sampingan, budidaya padi ladang dilakukan karena ketersediaan lahan yang luas, budidaya padi ladang dilakukan karena faktor budaya setempat, dan budidaya padi ladang dilakukan karena faktor karakteristik lahan yang kering menunjukkan hasil dengan rata-rata capaian skor 3,03 dan rata-rata capaian persentasi 75,93% dengan kategori tinggi. Hal ini berarti usahatani padi ladang mendapat persepsi baik dari petani karena padi ladang merupakan usahatani pokok yang dibudidayakan oleh petani responden untuk memenuhi kebutuhan pokok keluarga. Selain itu karakteristik lahan Kabupaten TTU yang kering hingga sangat kering dengan mengandalkan air hujan untuk pengairan sehingga padi ladang dianggap sesuai dengan kondisi lahan karena padi ladang memiliki daya tahan terhadap lahan yang cenderung kering hingga kering dan tahan terhadap serangan hama.</p> 2025-11-28T00:00:00+08:00 Copyright (c) 2025 Prosiding Seminar Nasional Hasil-Hasil Penelitian https://ejurnal.politanikoe.ac.id/index.php/psnp/article/view/492 GAMBARAN KOMPONEN SEL DARAH PUTIH SAPI BALI YANG DIBERI PELET KONSENTRAT DI MERBAUN AMARASI KUPANG 2025-11-15T19:31:07+08:00 Aholiab Aoetpah aoetpah@yahoo.com Vivin E. Se’u aoetpah@yahoo.com Melkianus D. S. Randu aoetpah@yahoo.com Gregorius Batafor aoetpah@yahoo.com Jois Jacob aoetpah@yahoo.com <p>Sel darah putih (leukosit) berperan dalam sistem pertahanan imun tubuh&nbsp; ternak sapi. Masitoh <em>et al</em>. (2024) menyebutkan bahwa leukosit meningkatkan sistem pertahanan tubuh melalui fagositosis. Jumlah leukosit yang tinggi menunjukkan adanya infeksi, di mana jenis pakan berpengaruh terhadap total dan diferensiasi leukosit. Penggunaan tepung daun gamal dalam pakan konsentrat meningkatkan total leukosit sapi Bali (Aoetpah dkk., 2024); yang mengindikasikan pengaruh negatif pada ternak. Sebaliknya, penggunaan imbangan jerami padi dan pakan konsentrat tidak mempengaruhi diferensial leukosit sapi Pasundan (Masitoh dkk., 2024). Ternak sapi Bali yang digemukkan dan diantarpulaukan rentan terhadap kondisi kesehatan sekalipun diberikan jumlah dan mutu pakan yang cukup. Penelitian ini bertujuan untuk menggemukkan sapi Bali dalam kondisi tubuh yang sehat menggunakan pelet konsentrat berbahan dasar tepung daun lamtoro.</p> <p>Penelitian ini dilakukan di Desa Merbaun, Amarasi Barat Kabupaten Kupang selama 28 hari menggunakan 24 ekor sapi Bali jantan umur 2- 3 tahun dengan kisaran bobot badan 145 sampai 208 kg (rerata 172,54±19,81). Rancangan percobaan yang digunakan yaitu rancangan acak lengkap berblok (RALB) dengan 4 perlakuan dan 6 ulangan. Perlakuan pakan yaitu ternak diberi pakan basal lamtoro segar, putak, jerami padi dan jerami jagung sebanyak 10% bobot badan sebagai kontrol&nbsp; (K0). Selain K0, ternak diberikan pelet konsentrat sebanyak 0,5% (K05), 1 % (K1) atau 1,5% (K1,5) bobot badan. Pada hari terakhir ternak diambil sampel darah dari vena jugularis untuk tujuan analisis sel darah putih total dan diferensiasi leukosit. Data dianalisis dengan menggunakan analisis varian dan perbedaan di antara perlakuan dilakukan uji lanjut menggunakan uji jarak berganda Duncan pada tingkat kepercayaan 0,05. Profil darah putih ternak pada saat sebelum dan sesudah pemberian pakan disajikan pada Tabel 1.</p> <p><strong>Tabel 1.</strong> Profil Sel Darah Putih Ternak pada saat sebelum dan sesudah Pemberian Pakan</p> <table> <tbody> <tr> <td rowspan="2" width="262"> <p>Profil darah</p> </td> <td colspan="5" width="236"> <p>Perlakuan</p> </td> <td rowspan="2" width="57"> <p>sem</p> </td> <td rowspan="2" width="61"> <p>Nilai-P</p> </td> </tr> <tr> <td colspan="2" width="63"> <p>K0</p> </td> <td width="58"> <p>K05</p> </td> <td width="58"> <p>K1</p> </td> <td width="57"> <p>K15</p> </td> </tr> <tr> <td width="262"> <p>Leukosit (10<sup>3</sup>/µl) sebelum makan</p> </td> <td colspan="2" width="63"> <p>8.95</p> </td> <td width="58"> <p>8.93</p> </td> <td width="58"> <p>7.25</p> </td> <td width="57"> <p>8.85</p> </td> <td width="57"> <p>0.34</p> </td> <td width="61"> <p>0.23</p> </td> </tr> <tr> <td width="262"> <p>Leukosit (10<sup>3</sup>/µl) sesudah makan)</p> </td> <td colspan="2" width="63"> <p>11.82<sup>b</sup></p> </td> <td width="58"> <p>12.52<sup>b</sup></p> </td> <td width="58"> <p>8.09<sup>a</sup></p> </td> <td width="57"> <p>11.5<sup>b</sup></p> </td> <td width="57"> <p>0.56</p> </td> <td width="61"> <p>0.01</p> </td> </tr> <tr> <td colspan="4" width="384"> <p>Profil leukosit atau sel darah putih (%) sesudah makan</p> </td> <td width="58"> <p>&nbsp;</p> </td> <td width="57"> <p>&nbsp;</p> </td> <td width="57"> <p>&nbsp;</p> </td> <td width="61"> <p>&nbsp;</p> </td> </tr> <tr> <td width="262"> <p>Neutrofil</p> </td> <td width="55"> <p>33.97</p> </td> <td colspan="2" width="66"> <p>40.92</p> </td> <td width="58"> <p>28.35</p> </td> <td width="57"> <p>38.75</p> </td> <td width="57"> <p>2.09</p> </td> <td width="61"> <p>0.14</p> </td> </tr> <tr> <td width="262"> <p>Limfosit</p> </td> <td width="55"> <p>57.17</p> </td> <td colspan="2" width="66"> <p>49.20</p> </td> <td width="58"> <p>61.77</p> </td> <td width="57"> <p>48.20</p> </td> <td width="57"> <p>2.26</p> </td> <td width="61"> <p>0.08</p> </td> </tr> <tr> <td width="262"> <p>Monosit</p> </td> <td width="55"> <p>7.27</p> </td> <td colspan="2" width="66"> <p>5.80</p> </td> <td width="58"> <p>7.24</p> </td> <td width="57"> <p>10.17</p> </td> <td width="57"> <p>0.79</p> </td> <td width="61"> <p>0.27</p> </td> </tr> <tr> <td width="262"> <p>Eusinofil</p> </td> <td width="55"> <p>0.73<sup>a</sup></p> </td> <td colspan="2" width="66"> <p>3.41<sup>b</sup></p> </td> <td width="58"> <p>2.00<sup>ab</sup></p> </td> <td width="57"> <p>1.82<sup>ab</sup></p> </td> <td width="57"> <p>0.35</p> </td> <td width="61"> <p>0.03</p> </td> </tr> <tr> <td width="262"> <p>Basofil</p> </td> <td width="55"> <p>0.86</p> </td> <td colspan="2" width="66"> <p>0.69</p> </td> <td width="58"> <p>0.61</p> </td> <td width="57"> <p>1.07</p> </td> <td width="57"> <p>0.12</p> </td> <td width="61"> <p>0.58</p> </td> </tr> <tr> <td width="224">&nbsp;</td> <td width="53">&nbsp;</td> <td width="6">&nbsp;</td> <td width="56">&nbsp;</td> <td width="55">&nbsp;</td> <td width="54">&nbsp;</td> <td width="51">&nbsp;</td> <td width="56">&nbsp;</td> </tr> </tbody> </table> <p>Sel darah putih sapi Bali sebelum pemberian pakan harian tidak dipengaruhi oleh pelet konsentrat (P &gt; 0,05). Setelah pemberian ransum, pelet konsentrat mempengaruhi sel darah putih dan komponen eusinofil (P &lt; 0,05). Uji lanjut menunjukkan bahwa penggunaan pelet 1% bobot badan menurunkan leukosit. Sebaliknya, komponen eusinofil meningkat pada semua ternak yang diberi pelet konsentrat.</p> <p>Tidak adanya perbedaan leukosit pada saat sebelum makan menunjukkan bahwa pengaruh pelet terdeteksi dalam kurun waktu singkat setelah ternak mengkonsmsi pelet. Dharmawan (2002) menyatakan bahwa nilai normal sapi berkisar antara 4x10<sup>3</sup>μl dan 12x10<sup>3</sup>μl. Walaupun leukosit meningkat, namun tidak melebihi standar normal jumlah leukosit. Hal ini menunjukkan bahwa penyerapan protein dan nutrien pelet berlangsung baik dan dapat meningkatkan sistem pertahanan tubuh ternak sapi (Halek dkk., 2021) karena leukosit berperan dalam melindungi tubuh dari infeksi. Peningkatan total lekosit di atas nilai standar dapat menunjukkan kemungkinan hewan tercekam akibat gangguan fisik maupun sebagai induksi dari penyakit, infeksi umum, infeksi lokal, keracunan, tumor, dan&nbsp; trauma (Wisesa&nbsp; <em>et&nbsp; al</em>.,&nbsp; 2012). Sedangkan adanya peningkatan eosinofil kemungkinan disebabkan oleh diferensiasi dan pematangan eosinofil di sumsum tulang (berlangsung selama 2-6 hari) (Weiss, 2010). Selain itu reaksi hipersensitivitas, misalnya parasit dan alergi yang disebabkan oleh faktor lingkungan yang berdebu, juga dapat menyebabkan peningkatan eosinofil (Dharmawan, 2002).</p> <p>Pemberian pelet konsentrat 1% bobot badan menurunkan leukosit tetapi meningkatkan eusinofil untuk semua level pemberian pelet. Disarankan untuk menggunakan pelet konsentrat dalam penggemukan sapi Bali.</p> 2025-11-28T00:00:00+08:00 Copyright (c) 2025 Prosiding Seminar Nasional Hasil-Hasil Penelitian https://ejurnal.politanikoe.ac.id/index.php/psnp/article/view/493 PENGARUH KONSENTRASI POC BERBASIS MIKROORGANISME LOKAL RHIZOSFER BAMBU TIMOR TERHADAP PERTUMBUHAN DAN HASIL TANAMAN MENTIMUN 2025-11-15T19:38:21+08:00 Laurensius Lehar laurensiusl@yahoo.co.id Zainal Arifin laurensiusl@yahoo.co.id Bonik K. Amalo laurensiusl@yahoo.co.id Heny M. C. Sine laurensiusl@yahoo.co.id <p>Pemanfaatan mikroorganisme lokal sebagai sumber biofertilizer merupakan salah satu pendekatan berkelanjutan yang dapat meningkatkan produktivitas pertanian sekaligus menjaga keseimbangan ekosistem tanah. Mikroorganisme yang berasal dari rhizosfer tanaman memiliki kemampuan fisiologis yang tinggi, seperti melarutkan fosfat, menambat nitrogen, serta menghasilkan senyawa pemacu tumbuh seperti auksin, giberelin, dan sitokinin. Hal ini menjadikan mikroba lokal kandidat ideal untuk pengembangan pupuk organik cair (POC) yang ramah lingkungan. Penelitian ini bertujuan untuk mengevaluasi pengaruh berbagai konsentrasi POC berbasis mikroorganisme lokal yang diisolasi dari rhizosfer Bamboo timorensis terhadap pertumbuhan dan hasil tanaman mentimun (Cucumis sativus L.).<br>Penelitian dilaksanakan pada lahan petani di Desa Tarus, Kecamatan Kupang Tengah, Kabupaten Kupang, Provinsi Nusa Tenggara Timur, Indonesia, selama periode Mei hingga Agustus 2024. Desain penelitian menggunakan Rancangan Acak Kelompok (RAK) dengan sembilan perlakuan konsentrasi POC, yaitu P0 = kontrol (tanpa POC), P1 = 100 mL L⁻¹, P2 = 125 mL L⁻¹, P3 = 150 mL L⁻¹, P4 = 175 mL L⁻¹, P5 = 200 mL L⁻¹, P6 = 225 mL L⁻¹, P7 = 250 mL L⁻¹, dan P8 = 275 mL L⁻¹, masing-masing diulang tiga kali untuk memastikan validitas data. Parameter yang diamati mencakup pertumbuhan vegetatif (tinggi tanaman, jumlah daun) dan generatif (jumlah buah, panjang dan berat buah, serta berat total buah per tanaman).<br>Hasil penelitian menunjukkan bahwa perlakuan P2 (125 mL L⁻¹) memberikan pertumbuhan dan hasil terbaik dibandingkan perlakuan lainnya. Tanaman pada P2 memiliki tinggi rata-rata 43,67 cm pada umur 3 MST dan 99,22 cm pada umur 4 MST, jumlah daun 20,44 helai, jumlah buah 7,67 per tanaman, panjang buah 20,00 cm, berat per buah 186,89 g, serta berat total buah per tanaman mencapai 1.425,97 g. Temuan ini menguatkan bukti bahwa POC berbasis mikroorganisme lokal rhizosfer Bamboo timorensis memiliki potensi besar sebagai biofertilizer yang efektif dan ramah lingkungan. Selain meningkatkan pertumbuhan tanaman, aplikasi POC juga berkontribusi terhadap peningkatan efisiensi fisiologis tanaman, memperbaiki penyerapan nitrogen dan fosfor, memperkuat jaringan tanaman, serta meningkatkan daya tahan terhadap stres lingkungan.<br>Dengan demikian, POC berbasis mikroorganisme lokal rhizosfer Bamboo timorensis merupakan inovasi yang prospektif dalam sistem pertanian berkelanjutan di Nusa Tenggara Timur. Penerapan dosis optimal 125 mL L⁻¹ terbukti efektif untuk meningkatkan pertumbuhan dan hasil mentimun, sekaligus memperbaiki kesuburan dan kesehatan tanah secara ekologis, sekaligus menurunkan ketergantungan pada pupuk anorganik yang berpotensi merusak tanah dalam jangka panjang.</p> 2025-11-28T00:00:00+08:00 Copyright (c) 2025 Prosiding Seminar Nasional Hasil-Hasil Penelitian https://ejurnal.politanikoe.ac.id/index.php/psnp/article/view/494 POLA ZONASI EKOSISTEM MANGROVE DI PESISIR PANTAI OEBELO KECIL KABUPATEN KUPANG 2025-11-15T19:43:31+08:00 Jeriels Matatula meilynoldy@gmail.com Meilyn Renny Pathibang meilynoldy@gmail.com Laurentius D. Wisnu Wardhana meilynoldy@gmail.com <p>Zonasi hutan mangrove mengambarkan kondisi di mana kumpulan vegetasi yang saling berdekatan memiliki sifat yang berbeda&nbsp; meskipun tumbuh di lingkungan yang sama (Matatula, 2010; Matatula, 2019a; Pathibang, 2024). Perubahan lingkungan dapat menyebabkan perubahan pada kumpulan vegetasi (Matatula, 2025), dan perubahan vegetasi ini bisa terlihat dengan jelas&nbsp; (Matatula, 2019b). Jenis-jenis mangrove memerlukan tempat tumbuh yang sesuai&nbsp; (Pathibang<em> et al</em>., 2023a). Hal ini yang menyebabkan terbentuknya zonasi-zonasi mangrove (Matatula <em>et al.,</em> 2023). Kemampuan adaptasi dari tiap jenis menyebabkan terjadinya perbedaan komposisi hutan mangrove (Pathibang <em>et al</em>., 2025). Daya toleransi jenis tumbuhan mangrove terhadap kondisi lingkungan mempengaruhi terjadinya zonasi (Pathibang <em>et al</em>., 2024). Zonasi jenis tumbuhan mangrove dapat dilihat sebagai proses suksesi (Roy <em>et al</em>., 2021) dan merupakan hasil reaksi ekosistem dengan kekuatan lingkungan (Matatula <em>et al</em>., 2021; Pathibang<em> et al</em>., 2023b). Menurut Poedjirahajoe, E. dan Matatula, J. (2019) pembagian zonasi kawasan mangrove meliputi zona depan, zona tengah dan zona belakang, yang semuanya ditumbuhi oleh jenis-jenis yang membentuk suatu susunan dengan jelas. Pengambilan Data Zonasi mangrove&nbsp; pada petak contoh permanen. Setiap zona dibuat petak ukur yang berukuran 10 m x 10 m pada 9 klaster. Pengukuran parameter lingkungan mencakup pengukuran salinitas. Untuk mengetahui keanekaragaman dan pola zonasi ekosistem mangrove. Sadono <em>et al</em>., (2020a) menyatakan bahwa vegetasi mangrove umunya membentuk zonasi mulai dari tepi pantai sampai ke daratan. Lebih lanjut Sadono (2020b) mendefenisikan zonasi sebagai lapisan vegetasi mangrove yang dipengaruhi oleh keadaan tempat tumbuh spesifik. Berdasarkan hasil pengamatan pada petak contoh permanen di kawasan hutan mangrove Pesisir Pantai Oebelo Kecil, pola zonasi mangrove terbagi kedalam tiga zonasi utama, yaitu zona depan, zona tengah dan zona belakang yang dapat dilihat pada Tabel 1 dan Gambar 1.</p> <p><strong>Tabel 1.</strong> Zonasi Mangrove dan Parameter Lingkungan Tahun Tanam 2004-2008.</p> <table width="425"> <tbody> <tr> <td width="38"> <p>No</p> </td> <td width="123"> <p>Nama</p> <p>Jenis</p> </td> <td width="47"> <p>Tahun</p> </td> <td width="66"> <p>Zona</p> </td> <td width="66"> <p>Salinitas</p> </td> <td width="38"> <p>ph Air</p> </td> <td width="47"> <p>Tebal lumpur</p> </td> </tr> <tr> <td width="38"> <p>1</p> </td> <td width="123"> <p><em>Avicennia marina</em></p> </td> <td width="47"> <p>2004</p> </td> <td width="66"> <p>Depan</p> </td> <td width="66"> <p>28</p> </td> <td width="38"> <p>7,4</p> </td> <td width="47"> <p>94,6</p> </td> </tr> <tr> <td width="38"> <p>&nbsp;</p> </td> <td width="123"> <p><em>Aegialitis annulata</em></p> </td> <td width="47"> <p>2006</p> </td> <td width="66"> <p>Depan</p> </td> <td width="66"> <p>27</p> </td> <td width="38"> <p>7,2</p> </td> <td width="47"> <p>92,8</p> </td> </tr> <tr> <td width="38"> <p>&nbsp;</p> </td> <td width="123"> <p><em>&nbsp;</em></p> </td> <td width="47"> <p>2008</p> </td> <td width="66"> <p>Depan</p> </td> <td width="66"> <p>28</p> </td> <td width="38"> <p>7</p> </td> <td width="47"> <p>93,4</p> </td> </tr> <tr> <td width="38"> <p>2</p> </td> <td width="123"> <p><em>Rhizophora stylosa</em></p> </td> <td width="47"> <p>2004</p> </td> <td width="66"> <p>Tengah</p> </td> <td width="66"> <p>24,6</p> </td> <td width="38"> <p>7,2</p> </td> <td width="47"> <p>76,2</p> </td> </tr> <tr> <td width="38"> <p>&nbsp;</p> </td> <td width="123"> <p><em>Rhizophora apiculata</em></p> </td> <td width="47"> <p>2006</p> </td> <td width="66"> <p>Tengah</p> </td> <td width="66"> <p>24,4</p> </td> <td width="38"> <p>6,6</p> </td> <td width="47"> <p>78,6</p> </td> </tr> <tr> <td width="38"> <p>&nbsp;</p> </td> <td width="123"> <p><em>Rhizophora mucronata</em></p> </td> <td width="47"> <p>2008</p> </td> <td width="66"> <p>Tengah</p> </td> <td width="66"> <p>25,8</p> </td> <td width="38"> <p>6,2</p> </td> <td width="47"> <p>80,4</p> </td> </tr> <tr> <td width="38"> <p>3</p> </td> <td width="123"> <p><em>Sonneratia alba</em></p> </td> <td width="47"> <p>2004</p> </td> <td width="66"> <p>Belakang</p> </td> <td width="66"> <p>19,4</p> </td> <td width="38"> <p>6,2</p> </td> <td width="47"> <p>74,2</p> </td> </tr> <tr> <td width="38"> <p>&nbsp;</p> </td> <td width="123"> <p><em>Lumnitzera racemosa</em></p> </td> <td width="47"> <p>2006</p> </td> <td width="66"> <p>Belakang</p> </td> <td width="66"> <p>22</p> </td> <td width="38"> <p>6,4</p> </td> <td width="47"> <p>60,8</p> </td> </tr> <tr> <td width="38"> <p>&nbsp;</p> </td> <td width="123"> <p><em>&nbsp;</em></p> </td> <td width="47"> <p>2008</p> </td> <td width="66"> <p>Belakang</p> </td> <td width="66"> <p>24,4</p> </td> <td width="38"> <p>6,2</p> </td> <td width="47"> <p>65,8</p> </td> </tr> </tbody> </table> <p>&nbsp;</p> <p>&nbsp;</p> <p>&nbsp;</p> <p>&nbsp;</p> <p>&nbsp;</p> <p><strong>Gambar </strong><strong>1</strong><strong>.</strong> Pola Zonasi Mangrove di &nbsp;&nbsp;Pesisir Pantai Oebelo Kecil</p> <p>&nbsp;</p> <p>&nbsp;</p> <p>&nbsp;</p> <p>&nbsp;</p> <p>Wilayah Pesisir Pantai Oebelo Kecil memiliki tiga pola zonasi mangrove, yaitu zona mangrove depan yang didominasi oleh <em>Avicennia Marina,</em> pola zonasi mangrove tengah didominasi oleh <em>Rhizophora stylosa </em>dan zona mangrove belakang didominasi oleh<em> Sonneratia alba</em>.</p> 2025-11-28T00:00:00+08:00 Copyright (c) 2025 Prosiding Seminar Nasional Hasil-Hasil Penelitian https://ejurnal.politanikoe.ac.id/index.php/psnp/article/view/468 BIOFORTIFIKASI AGRONOMIS TERINTEGRASI MENINGKATKAN KANDUNGAN Zn JAGUNG PADA TANAH BERKAPUR NTT 2025-11-15T19:49:11+08:00 Mika Sampe Rompon mikasamperompon@yahoo.co.id Julianus Dising mikasamperompon@yahoo.co.id Sriyanti E. Jonga mikasamperompon@yahoo.co.id <p>Defisiensi Zn mempengaruhi lebih dari 2 miliar penduduk dunia (Prasad, 2013). Di NTT, tanah berkapur pH 7,4-8,4 menekan kelarutan Zn dan membatasi serapan jagung sebagai pangan pokok. Biofortifikasi agronomis terbukti meningkatkan Zn biji jagung 25% secara global (Mutambu <em>et al</em>., 2023), namun bukti pada tanah berkapur tropika kering terbatas. Penelitian ini mengevaluasi efektivitas biofortifikasi agronomis terintegrasi dalam meningkatkan Zn biji jagung pada tanah berkapur NTT dan kelayakan ekonominya.</p> <p>Survei lapangan dilaksanakan di sembilan lokasi pada tiga kabupaten (Kupang, TTS, TTU) periode Mei-Desember 2025. Sebanyak 36 sampel tanah dan biji jagung dikoleksi menggunakan <em>stratified random sampling</em>. Analisis laboratorium meliputi pH tanah, bahan organik, KTK, dan Zn tersedia. Uji biofortifikasi menerapkan empat perlakuan: aplikasi ZnSO₄ tanah 20 kg/ha, foliar spray ZnSO₄ 0,5% pada 30, 45, 60 HST, pelapisan benih Zn-EDTA 0,5 kg/ha, dan kompos diperkaya Zn 3 ton/ha. Data dianalisis menggunakan korelasi Pearson, regresi berganda, dan analisis ekonomi.</p> <p>Karakterisasi tanah menunjukkan pH rata-rata 7,9, bahan organik 1,7%, KTK 19,3 cmol/kg, dan Zn total 37,1 ppm. Kandungan Zn biji sebelum biofortifikasi rata-rata 15,7 ppm, di bawah target internasional 25-35 ppm. Korelasi menunjukkan hubungan positif signifikan Zn biji dengan Zn tanah (r=0,78, p&lt;0,01), bahan organik (r=0,71, p&lt;0,01), KTK (r=0,68, p&lt;0,01), dan negatif dengan pH (r=-0,65, p&lt;0,01). Model regresi menjelaskan 79% variasi ketersediaan Zn (R²=0,79, p&lt;0,01), dengan pH berkontribusi 48%. Biofortifikasi terintegrasi meningkatkan Zn biji menjadi 26,3 ppm (peningkatan 69,9%), melampaui target internasional (Tabel 1). Peningkatan tertinggi di TTU marginal (75-85%), TTS optimal (65-75%), dan Kupang (55-65%). Efisiensi serapan kombinasi terintegrasi (65-80%) lebih tinggi dibanding metode tunggal, mengkonfirmasi Joy <em>et al</em>. (2014). Analisis ekonomi menunjukkan BCR 2,9 dengan NPV Rp 3,78 juta/ha. Produktivitas meningkat dari 4,8 menjadi 5,5 ton/ha dengan pendapatan bersih Rp 11,8 juta/ha.</p> <p><strong>Tabel 1</strong>. Peningkatan Kandungan Zn Biji Jagung setelah Biofortifikasi</p> <table width="100%"> <tbody> <tr> <td width="14%"> <p>Zona</p> </td> <td width="17%"> <p>Lokasi</p> </td> <td width="21%"> <p>Zn Awal (ppm)</p> </td> <td width="23%"> <p>Zn Setelah (ppm)</p> </td> <td width="23%"> <p>Peningkatan (%)</p> </td> </tr> <tr> <td width="14%"> <p>I</p> </td> <td width="17%"> <p>Oelbubuk</p> </td> <td width="21%"> <p>18,5</p> </td> <td width="23%"> <p>28,7</p> </td> <td width="23%"> <p>55,1</p> </td> </tr> <tr> <td width="14%"> <p>I</p> </td> <td width="17%"> <p>Fatuleu</p> </td> <td width="21%"> <p>22,3</p> </td> <td width="23%"> <p>34,2</p> </td> <td width="23%"> <p>53,4</p> </td> </tr> <tr> <td width="14%"> <p>I</p> </td> <td width="17%"> <p>Amarasi</p> </td> <td width="21%"> <p>15,2</p> </td> <td width="23%"> <p>24,8</p> </td> <td width="23%"> <p>63,2</p> </td> </tr> <tr> <td width="14%"> <p>II</p> </td> <td width="17%"> <p>Soe</p> </td> <td width="21%"> <p>14,8</p> </td> <td width="23%"> <p>25,4</p> </td> <td width="23%"> <p>71,6</p> </td> </tr> <tr> <td width="14%"> <p>II</p> </td> <td width="17%"> <p>Kuatae</p> </td> <td width="21%"> <p>19,6</p> </td> <td width="23%"> <p>32,1</p> </td> <td width="23%"> <p>63,8</p> </td> </tr> <tr> <td width="14%"> <p>II</p> </td> <td width="17%"> <p>Oenino</p> </td> <td width="21%"> <p>11,2</p> </td> <td width="23%"> <p>19,8</p> </td> <td width="23%"> <p>76,8</p> </td> </tr> <tr> <td width="14%"> <p>III</p> </td> <td width="17%"> <p>Kefamenanu</p> </td> <td width="21%"> <p>9,8</p> </td> <td width="23%"> <p>18,2</p> </td> <td width="23%"> <p>85,7</p> </td> </tr> <tr> <td width="14%"> <p>III</p> </td> <td width="17%"> <p>Insana</p> </td> <td width="21%"> <p>13,5</p> </td> <td width="23%"> <p>24,3</p> </td> <td width="23%"> <p>80,0</p> </td> </tr> <tr> <td width="14%"> <p>III</p> </td> <td width="17%"> <p>Oelbubuk</p> </td> <td width="21%"> <p>16,1</p> </td> <td width="23%"> <p>28,9</p> </td> <td width="23%"> <p>79,5</p> </td> </tr> <tr> <td width="14%"> <p>Rata-rata</p> </td> <td width="17%"> <p>-</p> </td> <td width="21%"> <p>15,7</p> </td> <td width="23%"> <p>26,3</p> </td> <td width="23%"> <p>69,9</p> </td> </tr> </tbody> </table> <p>Keterangan: Target biofortifikasi internasional 25-35 ppm</p> <p>Biofortifikasi agronomis terintegrasi efektif meningkatkan Zn biji jagung pada tanah berkapur NTT dari 15,7 menjadi 26,3 ppm (69,9%) dengan kelayakan ekonomi tinggi (BCR 2,9). Pengelolaan pH dan bahan organik merupakan kunci keberhasilan. Strategi ini berpotensi mengatasi defisiensi Zn di lahan kering berkapur Indonesia Timur.</p> 2025-11-28T00:00:00+08:00 Copyright (c) 2025 Prosiding Seminar Nasional Hasil-Hasil Penelitian https://ejurnal.politanikoe.ac.id/index.php/psnp/article/view/495 KERAGAAN AGRONOMI TIGA VARIETAS TRUE SHALLOT SEED PADA APLIKASI MULSA PLASTIK HITAM PERAK 2025-11-15T19:56:52+08:00 V. D. Tome denivitatome@gmail.com L. M. Mooy denivitatome@gmail.com T. Ginting denivitatome@gmail.com A. Ng Lende denivitatome@gmail.com N. E. M. Neonufa denivitatome@gmail.com <p>Peningkatan permintaan dan keterbatasan ketersediaan benih umbi berkualitas menjadi salah satu tantangan utama dalam budidaya bawang merah di Indonesia secara umum dan Nusa Tenggara Timur (NTT) secara khusus. Penggunaan <em>True Shallot Seed</em>/TSS (bawang merah biji) dapat dijadikan alternatif yang lebih efisien untuk mengatasi persoalan keterbatasan benih. Adaptasi varietas TSS di tingkat petani masih rendah akibat keragaan tampilan pertumbuhan yang seringkali belum&nbsp; maksimal. Penelitian ini bertujuan menguji keragaan tampilan agronomi beberapa varietas unggul TSS yang diaplikasikan dengan Mulsa Plastik Hitam Perak (MPHP). Aplikasi MPHP diharapkan mampu mengendalikan gulma dan memodifikasi lingkungan mikro, sehingga mampu memberikan pertumbuhan optimal dan stabil sebagai dasar rekomendasi budidaya yang tepat.</p> <p>Penelitian menggunakan rancangan petak terbagi dengan petak utama adalah penggunaan dan tanpa MPHP dan anak petak adalah tiga varietas TSS (Sanren, Lokananta dan Maserati) dengan lima ulangan. Petak percobaan menggunakan bedeng berukuran 3 m x 1 m sebanyak 30 unit percobaan. Penelitian berlangsung dari Bulan Agustus-Oktober 2025. Parameter yang diamati adalah tinggi tanaman, jumlah daun dan bobot kering umbi per rumpun. Data dianalisis secara statistik menggunakan software SAS dan jika terdapat perbedaan yang signifikan dilanjutkan dengan uji Beda Nyata Jujur 0,05.</p> <p>Hasil penelitian menunjukan bahwa rata-rata penggunaan MPHP memberikan hasil yang signifikan lebih tinggi dibandingkan tanpa MPHP untuk semua parameter yaitu tinggi tanaman (39,33 cm), jumlah daun (7,78) dan bobot kering umbi per rumpun (60,67 g). Varietas Sanren memberikan jumlah daun dan bobot umbi kering per rumpun tertinggi yaitu masing-masing 8,17 dan 52,92 g, sedangkan jumlah daun tertinggi ditunjukkan oleh Varietas Maserati yaitu 38,83 cm. Interaksi antara penggunaan MPHP dan Varietas Sanren memberikan masing-masing jumlah daun (9,67) dan bobot kering umbi per rumpun (72,70 g) tertinggi dibandingkan Varietas Lokananta dan Maserati.</p> <p>Hasil penelitian menunjukan bahwa Varietas Sanren memiliki potensi pertumbuhan dan hasil yang lebih baik dibandingkan Varietas Lokananta dan Maserati. Hasil ini mirip dengan yang dilaporkan oleh Adam dkk. (2021) yang menyatakan bahwa Varietas Sanren memiliki bobot kering umbi per rumpun yang lebih tinggi dibandingkan Varietas Maserati dan Lokananta. Penggunaan MPHP memberikan pertumbuhan dan hasil yang lebih tinggi pada semua varietas TSS. Aplikasi MPHP meningkatkan jumlah daun pada bawang merah (Isnaini dkk., 2023), dan jumlah daun hasil umbi bawang merah dibandingkan tanpa MPHP (Sopha &amp; Efendi, 2021). Selanjutnya dikatakan bahwa penggunaan MPHP meningkatkan efisiensi penggunaan air, menurunkan evapotranspirasi dan meningkatkan hasil beberapa tanaman. Varietas Sanren yang dibudidayakan dengan MPHP memberikan pertumbuhan dan hasil tertinggi dibandingkan dengan perlakuan yang lain. Hal ini dapat disebabkan karena aplikasi MPHP dapat meminimalkan kehilangan air akibat evaporasi sehingga kelembapan tanah lebih terjaga dan air lebih tersedia selama pertumbuhan tanaman. Potensi genetik Varietas Sanren yang lebih baik akan memberikan hasil yang maksimal saat ditunjang dengan kondisi lingkungan optimal (ketersediaan air yang cukup) selama fase hidupnya.&nbsp;</p> <p>Penggunaan MPHP memberikan pertumbuhan dan hasil bawang merah TSS yang lebih tinggi dibandingkan tanpa MPHP dengan pertumbuhan dan hasil tertinggi ditunjukkan oleh Varietas Sanren. Penggunaan MPHP dapat direkomendasikan untuk pengembangan bawang merah TSS di daerah terbatas air atau lahan kering.</p> 2025-11-28T00:00:00+08:00 Copyright (c) 2025 Prosiding Seminar Nasional Hasil-Hasil Penelitian https://ejurnal.politanikoe.ac.id/index.php/psnp/article/view/496 EFEKTIVITAS SUHU LINGKUNGAN DI KANDANG CLOSED HOUSE TERHADAP PERFORMA AYAM BROILER DI MM BROILER FARM 2025-11-15T20:05:10+08:00 Asma’ul Fitriana Nurhidayah asmaulfitriana@unhas.ac.id Irsan Rizal asmaulfitriana@unhas.ac.id Anggun Permata Sari asmaulfitriana@unhas.ac.id Hasman asmaulfitriana@unhas.ac.id Syamsuddin asmaulfitriana@unhas.ac.id Sri Helda Wulandari asmaulfitriana@unhas.ac.id Hasrin asmaulfitriana@unhas.ac.id <p>Ayam broiler menjadi komoditas unggulan karena pertumbuhan cepat, efisiensi pakan tinggi, dan waktu pemeliharaan singkat. Namun, keberhasilan produksi tidak hanya ditentukan oleh kualitas pakan dan genetik, tetapi juga dipengaruhi kondisi lingkungan seperti suhu dan kelembapan. Suhu lingkungan yang tidak terkendali dapat menyebabkan stres panas yang dapat berdampak pada penurunan konsumsi pakan, penurunan pertambahan bobot badan, konversi pakan tinggi, dan peningkatan deplesi (Roushdy et al., 2020). Sistem kandang closed house merupakan inovasi pemeliharaan unggas modern yang dapat mengatur suhu, kelembapan, dan sirkulasi udara melalui sistem ventilasi otomatis, sehingga mampu menciptakan lingkungan pemeliharaan stabil dan sesuai kebutuhan fisiologis ayam broiler. Efektivitas sistem closed house pada tingkat peternakan rakyat masih perlu dikaji lebih lanjut, terkadang masih belum mampu terkait sirkulasi udara sehingga suhu dan kelembapan di dalam kandang masih fluktuasi dan dapat menyebabkan peningkatan nilai Temperature Humidity Index (THI). Penelitian ini bertujuan mengevaluasi efektivitas suhu lingkungan dalam sistem closed house terhadap performa ayam broiler di MM Broiler Farm. Penelitian menggunakan metode observasional deskripsi kuantitatif, pengamatan selama 35 hari pemeliharaan dengan populasi 9.000 ekor day old chick (DOC). Parameter lingkungan diamati meliputi suhu (°C), kelembapan (%), dan Temperature Humidity Index (THI). Performa ayam diukur melalui konsumsi pakan, pertambahan bobot badan, konversi pakan, dan deplesi. Data lingkungan dianalisis secara deskriptif, sedangkan pengaruh suhu dan umur terhadap performa dianalisis menggunakan korelasi dan regresi berganda.</p> <p><strong>&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp; Tabel 1</strong>. Rataan Suhu, Kelembapan dan THI Mingguan</p> <table width="584"> <tbody> <tr> <td rowspan="2" width="134"> <p>Umur (Minggu)</p> </td> <td colspan="3" width="450"> <p>Parameter</p> </td> </tr> <tr> <td width="132"> <p>Suhu (ºC)</p> </td> <td width="157"> <p>Kelembapan(%)</p> </td> <td width="161"> <p>THI (ºC)</p> </td> </tr> <tr> <td width="134"> <p>1</p> </td> <td width="132"> <p>31,61 ± 1,33</p> </td> <td width="157"> <p>60,14 ± 0,55</p> </td> <td width="161"> <p>30,69 ± 0,55</p> </td> </tr> <tr> <td width="134"> <p>2</p> </td> <td width="132"> <p>28,82 ± 0,55</p> </td> <td width="157"> <p>60,62 ± 0,80</p> </td> <td width="161"> <p>27,95 ± 0,80</p> </td> </tr> <tr> <td width="134"> <p>3</p> </td> <td width="132"> <p>28,30 ± 0,23</p> </td> <td width="157"> <p>66,76 ± 3,20</p> </td> <td width="161"> <p>27,58 ± 3,20</p> </td> </tr> <tr> <td width="134"> <p>4</p> </td> <td width="132"> <p>27,67 ± 0,47</p> </td> <td width="157"> <p>69,71 ± 2,36</p> </td> <td width="161"> <p>27,02 ± 2,35</p> </td> </tr> <tr> <td width="134"> <p>5</p> </td> <td width="132"> <p>27,51 ± 0,36</p> </td> <td width="157"> <p>73,50 ± 0,86</p> </td> <td width="161"> <p>26,95 ± 0,86</p> </td> </tr> </tbody> </table> <p>Hasil penelitian menujukkan bahwa suhu lingkungan ayam selama pemeliharaan berada dalam kisaran normal pada kondisi iklim tropis. Suhu ideal untuk awal pemeliharaan minggu pertama ayam broiler berkisar&nbsp; 29-31 <sup>o</sup>C dengan kelembapan 50-70% (Nurjannah <em>et al</em>., 2021). Oktavia <em>et al</em>. (2021) melaporkan bahwa suhu nyaman untuk pemeliharaan ayam broiler dewasa berkisar antara 26-27 <sup>o</sup>C, sedangkan kelembapan udara 60-70%. Nilai THI pada penelitian ini berkisar 26,95 ºC pada minggu kelima. Nilai THI kurang dari 27,06 ºC menunjukkan bahwa ayam broiler memiliki performa yang baik (Qurniawan <em>et al</em>., 2017). Pertambahan bobot badan dan konsumsi ayam menunjukkan peningkatan yang konsisiten selama pemeliharaan. Nilai rata-rata konversi pakan selama pemeliharaan adalah 1,4. Total deplesi selama pemeliharaan adalah 5,14%.&nbsp; Nilai koefisien korelasi (R) berkisar antara 0,966-0,997 dengan koefisien determinasi (R²) antara 0,867-0,990. Suhu dan umur memiliki hubungan yang sangat kuat dengan performa ayam broiler.</p> 2025-11-28T00:00:00+08:00 Copyright (c) 2025 Prosiding Seminar Nasional Hasil-Hasil Penelitian https://ejurnal.politanikoe.ac.id/index.php/psnp/article/view/497 IMPLEMENTASI SISTEM INTEGRASI SAPI KELAPA SAWIT (SISKA) SEBAGAI INOVASI PERTANIAN REGENERATIF 2025-11-15T20:10:52+08:00 Ardini Oktavia asmadinirosa8@gmail.com Wahyu Darsono asmadinirosa8@gmail.com Rahayu Asmadini Rosa asmadinirosa8@gmail.com <p>Industri kelapa sawit merupakan salah satu pilar utama perekonomian Indonesia, dengan total luas perkebunan mencapai &gt;16 juta hektar. Dari luasan tersebut, perkebunan rakyat memegang porsi yang sangat signifikan, yaitu ±40,3% atau 6,8 juta hektar, yang menunjukkan peran vital petani kecil dalam rantai pasok nasional. Praktik ekspansi sering dikaitkan dengan dampak lingkungan negatif, termasuk deforestasi, hilangnya keanekaragaman hayati, degradasi kualitas tanah serta kontribusinya terhadap emisi gas rumah kaca. Dilema antara tuntutan keberlanjutan ekologis di sektor perkebunan dan urgensi peningkatan produksi pangan hewani ini memerlukan solusi yang inovatif dan terintegrasi. SISKA adalah sistem usaha terpadu yang menyatukan budidaya sapi potong di dalam atau di sekitar lahan perkebunan kelapa sawit. Dalam sistem ini, perkebunan kelapa sawit menyediakan sumber pakan bagi ternak. Sebaliknya, ternak sapi menyediakan pupuk organik dari kotorannya (feses dan urin) untuk menyuburkan tanaman kelapa sawit, membantu mengendalikan gulma secara biologis, dan menjadi sumber pendapatan tambahan yang signifikan bagi petani. Naskah ini bertujuan untuk menganalisis dan mengartikulasikan secara sistematis implementasi SISKA di Indonesia dapat dikategorikan sebagai sebuah inovasi pertanian regeneratif yang praktis dan fungsional, serta mengidentifikasi faktor-faktor penentu keberhasilan dan tantangan dalam upaya penskalaannya.</p> <p>Penelitian ini menggunakan metode sintesis literatur kualitatif dan kuantitatif secara sistematis untuk menganalisis implementasi SISKA sebagai model pertanian regeneratif. Sumber data primer mencakup studi kasus, analisis kebijakan, dan laporan teknis mengenai SISKA di berbagai wilayah di Indonesia, khususnya Provinsi Riau. Sumber data sekunder digali dari berbagai literatur yang relevan, termasuk jurnal ilmiah nasional dan internasional yang terindeks, buku, prosiding seminar, dan dokumen kebijakan pemerintah terkait sistem integrasi tanaman-ternak, pertanian regeneratif, dan keberlanjutan industri kelapa sawit. Kerangka analisis dibangun dengan memetakan praktik-praktik terdokumentasi dalam implementasi SISKA terhadap lima prinsip utama pertanian regeneratif: (1) Integrasi Ternak, (2) Peningkatan Kesehatan Tanah, (3) Diversifikasi Sistem, (4) Minimalisasi Input Sintetis, dan (5) Pengendalian Hama &amp; Gulma Alami.</p> <p><strong>Tabel 1.</strong> Komparasi Prinsip Pertanian Regeneratif dengan Praktik dalam Sistem Integrasi Sapi-Kelapa Sawit</p> <table width="100%"> <tbody> <tr> <td width="20%"> <p><strong>Prinsip Pertanian Regeneratif</strong></p> </td> <td width="43%"> <p><strong>Praktik Implementasi dalam SISKA</strong></p> </td> <td width="36%"> <p><strong>Bukti Empiris &amp; Referensi</strong></p> </td> </tr> <tr> <td width="20%"> <p><strong>Integrasi Ternak</strong></p> </td> <td width="43%"> <p>Pemanfaatan sapi untuk penggembalaan terkontrol di lahan perkebunan dan pengelolaan dalam kandang (komunal/individu).</p> </td> <td width="36%"> <p>Suplementasi pakan dengan pelepah sawit meningkatkan Pertambahan Bobot Badan Harian (PBBH) sapi dari 0,28 kg/hari ke 0,68 kg/hari</p> </td> </tr> <tr> <td width="20%"> <p><strong>Peningkatan Kesehatan Tanah</strong></p> </td> <td width="43%"> <p>Daur ulang feses dan urin sapi menjadi kompos dan Pupuk Organik Cair (POC) untuk diaplikasikan ke tanaman kelapa sawit.</p> </td> <td width="36%"> <p>Peningkatan produksi TBS hingga 37% dengan pupuk organik.</p> </td> </tr> <tr> <td width="20%"> <p><strong>Diversifikasi Sistem</strong></p> </td> <td width="43%"> <p>Diversifikasi pendapatan dari penjualan TBS, penjualan sapi, dan produk sampingan bernilai tambah seperti kompos dan biogas.</p> </td> <td width="36%"> <p>Pendapatan petani SISKA lebih tinggi dari non-SISKA dan lebih resilien.</p> </td> </tr> <tr> <td width="20%"> <p><strong>Minimalisasi Input Sintetis</strong></p> </td> <td width="43%"> <p>Penggunaan pupuk organik dari kotoran ternak untuk substitusi pupuk kimia (Urea, TSP, NPK).</p> </td> <td width="36%"> <p>Pengurangan penggunaan pupuk Urea hingga 76,27% dan TSP hingga 83,6%.<sup>2</sup></p> </td> </tr> <tr> <td width="20%"> <p><strong>Pengendalian Gulma Alami</strong></p> </td> <td width="43%"> <p>Sapi yang digembalakan secara terkendali memakan gulma dan vegetasi bawah, mengurangi kebutuhan herbisida.</p> </td> <td width="36%"> <p>Pengurangan biaya pengendalian gulma dan penggunaan herbisida.</p> </td> </tr> </tbody> </table> <p>Sistem Integrasi Sapi-Kelapa Sawit (SISKA) secara komprehensif memenuhi kriteria sebagai sebuah inovasi pertanian regeneratif. Implementasinya secara langsung menerapkan prinsip-prinsip inti seperti integrasi ternak, peningkatan kesehatan tanah melalui siklus hara tertutup, diversifikasi sistem, dan minimalisasi input kimia. Sistem ini terbukti secara empiris mampu meningkatkan produktivitas lahan dan ternak, mendiversifikasi sumber pendapatan, dan meningkatkan efisiensi penggunaan sumber daya.</p> <p>&nbsp;</p> <p>&nbsp;</p> 2025-11-28T00:00:00+08:00 Copyright (c) 2025 Prosiding Seminar Nasional Hasil-Hasil Penelitian https://ejurnal.politanikoe.ac.id/index.php/psnp/article/view/498 KAJIAN FISIOLOGIS DAN AGRONOMIS FASE GENERATIF PADI PADA CEKAMAN SUHU TINGGI UNTUK IDENTIFIKASI SIFAT TOLERANSI 2025-11-15T20:16:03+08:00 Welianto Boboy fianboboy@gmail.com Yason E. Benu fianboboy@gmail.com Marlin M. Pe fianboboy@gmail.com Deorosari Erry Takene fianboboy@gmail.com Yosefus F. da-Lopez fianboboy@gmail.com <p>Perubahan iklim global telah menjadi ancaman nyata bagi ketahanan pangan dunia, khususnya di daerah beriklim kering seperti Kabupaten Kupang, Nusa Tenggara Timur. Berdasarkan data Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG), suhu rata-rata di wilayah ini telah meningkat 0,8-1,2°C dalam tiga dekade terakhir, dengan tren kenaikan yang semakin cepat dalam lima tahun terakhir. Penelitian terbaru oleh Zhao <em>et al</em>. (2022) mengkonfirmasi bahwa kenaikan suhu 1°C di atas optimal dapat menurunkan hasil padi hingga 10%, dengan dampak lebih parah di daerah tropis kering. Mekanisme penurunan hasil ini terutama melalui proses sterilitas pollen, percepatan perkembangan fenologi, dan peningkatan respirasi nokturnal. Studi ini bertujuan mengidentifikasi varietas padi yang adaptif terhadap cekaman suhu tinggi melalui pendekatan eksperimental menggunakan Rancangan Petak Terbagi. Tujuh varietas padi yang umum dibudidayakan di Nusa Tenggara Timur diuji dalam dua lingkungan suhu berbeda: kondisi <em>screenhouse</em> (suhu tinggi) dan lapangan terbuka (kontrol). Pemilihan varietas didasarkan pada keragaman genetik dan potensi adaptasinya, mencakup varietas unggul nasional dan lokal. Hasil pengamatan selama 12 minggu setelah tanam (MST) menunjukkan variasi respons yang menarik antarvarietas. Analisis statistik mengungkapkan pengaruh sangat signifikan (p&lt;0,01) varietas terhadap semua parameter pertumbuhan. Varietas Inpari 42 dan Pratiwi konsisten menunjukkan performa terbaik dengan tinggi tanaman mencapai 56,17 cm dan 55,58 cm. Keunggulan ini tidak lepas dari karakter genetik kedua varietas yang memiliki sistem perakaran dalam dan efisiensi penggunaan air tinggi, sebagaimana dilaporkan dalam penelitian Puteh <em>et al</em>. (2020). Sementara itu, varietas MR 219 mencatatkan jumlah anakan tertinggi (20,00), mengindikasikan potensi produktivitas yang baik. Namun, temuan Farooq <em>et al</em>. (2021) mengingatkan bahwa tingginya jumlah anakan tidak selalu berkorelasi positif dengan hasil akhir. Faktor lain seperti keserempakan pemasakan, persentase gabah isi, dan berat 1000 butir justru lebih determinan dalam menentukan hasil panen akhir. Dalam konteks ini, pengamatan lebih lanjut hingga fase generatif menjadi sangat penting. Aspek fisiologis tanaman juga menunjukkan respons yang variatif. Varietas Cakrabuana mencatat indeks kehijauan daun tertinggi (5,80), yang mengindikasikan kandungan klorofil dan kapasitas fotosintesis yang optimal. Namun, varietas ini justru menunjukkan jumlah anakan yang relatif rendah, menunjukkan adanya <em>trade-off</em> dalam alokasi asimilat. Fenomena ini sesuai dengan teori optimalisasi sumber daya yang dikemukakan oleh Dewi <em>et al</em>. (2023), di mana tanaman akan mengalokasikan sumber daya terbatasnya pada proses fisiologis yang paling menguntungkan bagi kelangsungan hidupnya. Yang menarik, kondisi suhu tinggi dalam <em>screenhouse</em> (rata-rata 32°C) justru meningkatkan performa beberapa varietas dalam hal akumulasi biomassa batang. Varietas Inpari 42 menunjukkan peningkatan bobot kering batang sebesar 25% dibandingkan kontrol. Temuan ini didukung penelitian Jagadish <em>et al</em>. (2019) yang menjelaskan mekanisme aklimatisasi tanaman padi terhadap suhu tinggi melalui modulasi sistem antioksidan dan stabilisasi membran sel. Beberapa genotipe tertentu memiliki kemampuan untuk mengaktifkan gen heat shock protein (HSP) yang berperan dalam proteostasis seluler <em>under heat stress</em>. Analisis interaksi antara suhu dan varietas mengungkapkan pola yang kompleks. Interaksi signifikan (p&lt;0,05) teramati pada parameter bobot basah dan kering batang, menunjukkan variasi respons spesifik-genotip terhadap perubahan suhu. Varietas Ciherang menunjukkan respons yang stabil <em>across</em> lingkungan, sementara Inpari 42 justru lebih responsif terhadap perubahan suhu. Karakteristik ini menurut laporan BMKG (2023) sangat berharga untuk pengembangan sistem peringatan dini dan kalender tanam adaptif. Implikasi praktis dari penelitian ini menekankan pentingnya pendekatan spesifik-lokasi dalam rekomendasi varietas. Berdasarkan hasil evaluasi multidimensi, varietas Inpari 42 dan Pratiwi direkomendasikan untuk daerah dengan fluktuasi suhu tinggi dan ketersediaan air terbatas. Sementara MR 219 cocok untuk sistem intensifikasi dengan pengelolaan air yang optimal. Keterbatasan penelitian ini terutama pada durasi pengamatan yang hanya mencakup fase vegetatif. Evaluasi menyeluruh hingga fase generatif diperlukan untuk mendapatkan gambaran komprehensif tentang respons varietas terhadap cekaman suhu tinggi.&nbsp; Ke depan, integrasi pemuliaan konvensional dengan pendekatan genomik dan bioteknologi menjadi keniscayaan. Program pemuliaan partisipatif yang melibatkan petani dalam seleksi varietas perlu diintensifkan. Inovasi teknologi seperti sensor IoT untuk monitoring <em>real-time</em> dan prediksi hasil berdasarkan data iklim juga perlu dikembangkan untuk mendukung pertanian presisi di era perubahan iklim.</p> 2025-11-28T00:00:00+08:00 Copyright (c) 2025 Prosiding Seminar Nasional Hasil-Hasil Penelitian https://ejurnal.politanikoe.ac.id/index.php/psnp/article/view/499 FAKTOR PENENTU KETAHANAN PETANI DALAM USAHATANI PADI SAWAH DESA NOELBAKI KECAMATAN KUPANG TENGAH KABUPATEN KUPANG 2025-11-15T20:21:39+08:00 Micha Snoverson Ratu Rihi raturihimicha@gmail.com Viona Nainggolan raturihimicha@gmail.com Tri Luchi Proklamita raturihimicha@gmail.com Saidin Nainggolan raturihimicha@gmail.com <p>Pertanian padi sawah memegang peran sentral dalam ketahanan pangan di Indonesia, terutama di Provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT) yang menghadapi tantangan lingkungan dan ekonomi yang berat. Desa Noelbaki di Kecamatan Kupang Tengah, Kabupaten Kupang, merupakan salah satu sentra padi sawah di NTT, namun produktivitas wilayah ini pada tahun 2024 tercatat masih rendah, yaitu hanya sekitar 3,5 ton gabah kering panen (GKP) per hektar, dibandingkan rata-rata provinsi 5–6 ton per hektar (BPS NTT, 2024).​ Penelitian ini menggunakan metode secara deskriptif dengan pendekatan kualitatif, bertujuan untuk mengidentifikasi faktor-faktor yang mempengaruhi keputusan petani dalam mempertahankan usaha tani padi sawah di Desa Noelbaki. Teknik pengambilan responden dengan <em>proportional random sampling&nbsp;</em>sebanyak 75 petani. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kelompok usia petani dengan persentase tertinggi berada pada usia 40-58 tahun (60,5%) hal ini menunjukkan bahwa mayoritas petani di daerah penelitian berada pada usia yang kurang produktif, karena umur di atas 40 tahun kemampuan fisik mulai menurun. Luas lahan yang dimiliki petani sebagian besar 0,5-1 Ha (65,5%). Status kepemilikan lahan sebesar 67,55 adalah lahan kontrak yang digarap oleh petani. Rata-rata pendidikan petani di daerah penelitian adalah SMA (58%). Pengalaman berusahatani petani rata-rata 10-30 tahun (47%).</p> <p>Ketahanan usaha petani padi sawah di Desa Noelbaki sangat dipengaruhi oleh kombinasi faktor internal dan eksternal. Faktor internal meliputi: tingkat pendidikan, pengalaman bertani, status kepemilikan lahan, pendapatan, serta kebutuhan konsumsi rumah tangga. Tingkat pendidikan yang tinggi pada petani berkontribusi pada kemampuan mengakses dan mengadopsi inovasi teknologi, serta pengambilan keputusan yang lebih rasional (Nainggolan &amp; Proklamita, 2024). Selain itu, pengalaman berusahatani memperkuat kemampuan petani dalam memahami siklus tanam, dan kondisi tanah secara lebih mendalam. Pengalaman juga mengajarkan cara efektif menghadapi kegagalan panen, serangan hama, dan perubahan cuaca secara adaptif (Nainggolan, Fitri, &amp; Malik, 2021). Pendapatan petani di Desa Noelbaki masih cukup rendah dan sebagian besar hasil panen digunakan untuk konsumsi keluarga, menyebabkan prioritas rumah tangga lebih diutamakan daripada pemasaran hasil panen. Tingkat pendapatan petani sangat dipengaruhi oleh produktivitas lahan, harga jual gabah di tingkat petani, biaya input seperti benih dan pupuk (Hakim <em>et al</em>., 2021). Pola kepemilikan lahan di Desa Noelbaki didominasi sistem kontrak, sehingga sebagian hasil harus dibagi dengan pemilik tanah sehingga pendapatan petani menjadi lebih terbatas dibandingkan petani pemilik lahan secara langsung. Sekitar 60-70% hasil panen padi digunakan untuk konsumsi keluarga, sedangkan sisanya dijual di pasar dengan harga yang relatif stabil tetapi cenderung fluktuatif dari waktu ke waktu. Pola ini juga dipengaruhi oleh faktor sosial budaya dan kemampuan ekonomi petani yang masih terbatas dalam akses pasar dan modal. Penjualan di pasar lokal menjadi pilihan karena lebih mudah dijangkau dan tidak memerlukan biaya distribusi tinggi (Rahman, Aritonang, &amp; Fitrianti, 2025).</p> <p>Faktor eksternal yang mempengaruhi ketahanan petani antara lain akses terhadap subsidi pupuk, penyuluhan pertanian, pengadaan input produski, dan ketersediaan irigasi. Penyediaan subsidi pupuk sangat krusial bagi produktivitas, namun kerap terkendala oleh distribusi yang tidak merata dan birokrasi (BPS NTT, 2025). Sementara itu, akses terhadap penyuluh masih terdapat kendala yang signifikan, seperti jumlah penyuluh yang terbatas, jarak yang cukup jauh antara petani serta frekuensi kunjungan penyuluh yang belum optimal. Akses pengadaan input produksi mantangan ditemui kendala seperti distribusi yang tidak merata, harga yang fluktuatif, serta keterbatasan modal yang membatasi kemampuan petani untuk membeli input produksi. Kondisi ini memaksa sebagian petani mengurangi penggunaan input, yang berdampak pada penurunan hasil panen. Keterbatasan irigasi yang beberapa tahun terakhir semakin terasa akibat pengaruh El Nino juga menjadi faktor penentu utama penurunan produksi di Desa Noelbaki (BPS, 2024).​ Irigasi yang tidak optimal membuat petani sering bergantung pada curah hujan yang tidak menentu.</p> <p>Kesimpulan penelitian ini bahwa faktor internal seperti pendidikan, pengalaman, pendapatan, konsumsi sendiri, dan kepemilikan lahan, faktor serta eksternal seperti ketersediaan subsidi pupuk, akses penyuluh, input produksi, dan ketersediaan irigasi berperan penting dalam mempengaruhi seluruh usaha pertanian padi sawah di Desa Noelbaki. Upaya integratif antara peningkatan kapasitas internal petani dan perbaikan sistem pendukung eksternal menjadi sangat penting untuk memperkuat ketahanan dan daya saing pertanian, khususnya dalam menghadapi krisis iklim.</p> 2025-11-28T00:00:00+08:00 Copyright (c) 2025 Prosiding Seminar Nasional Hasil-Hasil Penelitian https://ejurnal.politanikoe.ac.id/index.php/psnp/article/view/500 ANALISIS DAMPAK IMPLEMENTASI KONSENTRAT KAYA PATI BERBASIS PUTAK TERHADAP PERSEPSI PETERNAK DESA MERBAUN KABUPATEN KUPANG 2025-11-15T20:29:02+08:00 F. S. Suek cardial.penu@staff.politanikoe.ac.id C. L. O. Leo-Penu cardial.penu@staff.politanikoe.ac.id J. A. Jermias cardial.penu@staff.politanikoe.ac.id M. A. J. Supit cardial.penu@staff.politanikoe.ac.id A. C. Tabun cardial.penu@staff.politanikoe.ac.id M. Canadianti cardial.penu@staff.politanikoe.ac.id J. G. Noke cardial.penu@staff.politanikoe.ac.id G. A. Sunbanu cardial.penu@staff.politanikoe.ac.id D. R. Tulle cardial.penu@staff.politanikoe.ac.id <p>Implementasi pakan konsentrat kaya pati berbasis putak (bahan baku lokal) berpengaruh positif bagi pertumbuhan ternak sapi Bali jantan yang diberi hijauan lamtoro <em>ad libitum</em>. Pertambahan berat badannya (PBB) dapat mencapai 0,8 hingga 2,1 kg/ekor/hari, dengan rata-rata 1,4 kg/ekor/hari (Leo-Penu <em>et al</em>., 2025). Namun demikian, pertanyaan penelitiannya adalah apakah inovasi pakan konsentrat ini akan berkelanjutan digunakan oleh peternak? Penelitian ini bertujuan untuk mengevaluasi dampak jangka pendek dari implementasi pakan konsentrat kaya pati terhadap presepsi peternak yang terlibat dalam kegiatan penelitian tersebut. Penelitian ini menggunakan metode survei, terhadap 4 orang peternak kelompok tani Nekmates di Desa Merbaun, Kecamatan Amarasi, Kabupaten Kupang, yang terlibat dalam proyek penelitian sebelumnya, dan juga 2 orang pengurus (ketua umum dan sekretaris jenderal) asosiasi Persatuan Peternak dan Pengusaha Sapi (PEPPSI). Responden dalam penelitian ini adalah peternak dan pengusaha sapi yang telah mempunyai pengalaman lebih dari 5 tahun. Keterlibatan peternak dalam penelitian sebeumnya adalah kerjasama dalam penyediaan kandang, ternak sapi dan hijauan lamtoro selama periode penelitian. Hal ini membuat peternak dapat secara langsung mengamati seluruh proses dan hasil penelitian.</p> <p>Hasil penelitian menunjukkan bahwa semua responden (100%) memahami prosedur pemberian pakan konsentrat baik pada periode adaptasi maupun penggemukan. Semua responden juga menyatakan mengetahui PBB ternak sapi dari waktu ke waktu selama periode penelitian. Semua responden (100%) menyatakan baru pertama kali melihat PBB ternak sapi Bali yang begitu tinggi dibandingkan dengan pengalaman responden sebelumnya. Dengan PBB yang tinggi ini, pakan konsentrat dapat memperpendek periode penggemukan oleh peternak. Berdasarkan pengalaman peternak sebelumnya, lama 1 periode penggemukan umumnya adalah berkisar 12 hingga 15 bulan untuk mencapai berat jual. Untuk periode penggemukan sapi Bali Jantan dengan pemberian pakan tambahan berupa konsentrat kaya pati berbasis putak, hanya membutuhkan waktu 3 hingga 4 bulan. Oleh karena itu, responden berkomitmen untuk secara berkelanjutan akan menggunakan pakan konsentrat ini. Hingga artikel ini ditulis, PEPPSI telah menandatangani perjanjian kerjasama dengan Politani Kupang untuk penyediaan pakan konsentrat bagi peternak binaan PEPPSI.</p> <p>Dampak lainnya adalah adanya kekhawatiran keterbatasan populasi pohon gewang sebagai sumber putak atau bahkan kekuatiran bisa punah, jika diimplementasikan secara luas. Namun demikian, responden juga mengakui masih banyak sekali potensi tanaman gewang di sekitar yang belum dimanfaatkan sebagai pakan ternak.</p> <p>Dapat disimpulkan bahwa responden memiliki persepsi positif terhadap keberlanjutan penggunaan pakan konsentrat kaya pati berbasis putak dalam usaha penggemukan sapi Bali. Dampak jangka menegah dan panjang menjadi sangat penting untuk dianalisis di masa yang akan datang.</p> 2025-11-28T00:00:00+08:00 Copyright (c) 2025 Prosiding Seminar Nasional Hasil-Hasil Penelitian https://ejurnal.politanikoe.ac.id/index.php/psnp/article/view/535 POTENSI SORGUM SEBAGAI KOMODITAS UNGGULAN LAHAN KERING DI NTT UNTUK MENDUKUNG KETAHANAN PANGAN DAN PAKAN 2025-11-22T11:28:20+08:00 Ida Ayu Lochana Dewi idaayulochana@gmail.com Agrippina Agnes Bele idaayulochana@gmail.com Eny Idayati idaayulochana@gmail.com Rikka Welhelmina Sir idaayulochana@gmail.com <p>Lahan kering merupakan karakteristik agroekologis dominan di beberapa bagian Nusa Tenggara Timur (NTT). Kekeringan, curah hujan rendah, dan tanah marginal membatasi pilihan tanaman pangan konvensional, sehingga diperlukan tanaman yang adaptif terhadap kondisi tersebut. Sorgum dikenal sebagai serealia yang tahan kekeringan, berproduksi pada input rendah, serta menghasilkan biji dan biomassa yang dapat dimanfaatkan untuk pangan dan pakan. Data BPS Provinsi NTT menunjukkan keberadaan usaha tani sorgum di sejumlah kabupaten, menandakan basis produksi lokal yang bisa dikembangkan lebih lanjut. Selain sebagai bahan pangan, literatur menunjukkan potensi sorgum sebagai bahan pakan ruminansia dan sebagai komponen dalam ransum pakan ikan setelah perlakuan pengolahan untuk memperbaiki kecernaan dan menurunkan faktor antinutrisi</p> <p>Tujuan kajian ini adalah menganalisis potensi sorgum di NTT beserta peluang dan hambatan pemanfaatannya sebagai sumber pangan, pakan ruminansia, dan bahan baku pakan ikan berdasarkan kajian pustaka. Penelitian ini menggunakan metode kajian literatur sistematis.</p> <p>Hasil dari penelitian ini menunjukkan karakteristik agronomis sorgum dan kecocokan di NTT dimana<strong> s</strong>orgum dapat berproduksi pada kondisi curah hujan rendah (sekitar 300–600 mm/tahun) dan toleran terhadap tanah marginal, sehingga sesuai dengan agroekosistem NTT. Komposisi biji sorgum umumnya meliputi karbohidrat tinggi (≈70–75%), protein sekitar 8–12%, serat, dan sejumlah mineral serta senyawa fenolik/tanin. Untuk pangan manusia, sorgum merupakan sumber karbohidrat alternatif (termasuk produk bebas gluten). Untuk pakan, biji dan biomassa menyediakan energi dan serat; nilai protein relatif lebih rendah dibandingkan biji kedelai tetapi dapat dikombinasikan dalam formulasi ransum. Kandungan tanin pada beberapa varietas dapat menurunkan nilai kecernaan, sehingga perlakuan pengolahan (fermentasi, pemanasan/ekstrusi, penggilingan) direkomendasikan sebelum digunakan dalam pakan ikan atau ruminansia.</p> <p>Beberapa studi eksperimental melaporkan bahwa tepung sorgum dapat menggantikan sebagian jagung atau gandum dalam komposisi pakan ataupun ransum ikan (mis. nila, karper, udang) tanpa efek negatif signifikan pada pertumbuhan, asalnya bergantung pada perlakuan dan tingkat substitusi. Studi-studi terbaru (termasuk publikasi yang menguji inklusi sorgum pada nila dan karper) menunjukkan hasil beragam: substitusi moderat (mis. 20–40%) seringkali aman jika sorgum digiling halus dan/atau diolah (fermentasi/ekstrusi) untuk mengurangi faktor antinutrisi. Selain itu, tingkat penggilingan mempengaruhi kecernaan dan respons pertumbuhan ikan. Oleh karena itu, sorgum dapat menjadi sumber energi alternatif di pakan ikan lokal, yang penting bagi daerah seperti NTT dengan keterbatasan pasokan jagung.</p> <p>Pengembangan sorgum di NTT berpotensi menurunkan ketergantungan pada bahan pakan impor dan menurunkan biaya pakan bagi pembudidaya lokal, sehingga meningkatkan margin keuntungan. Lingkungan-wise, sorgum membutuhkan input air yang lebih sedikit dan lebih tahan penyakit tertentu sehingga mengurangi jejak lingkungan dibanding tanaman intensif air. Pemanfaatan limbah biomassa untuk pupuk organik atau pakan hijauan juga mendukung sirkularitas. Namun, kebijakan pendukung, akses benih unggul, fasilitas pengolahan, dan pengembangan pasar hilir perlu diperkuat.</p> <p>Sorgum memiliki potensi nyata sebagai komoditas unggulan pada lahan kering di Nusa Tenggara Timur yang dapat berkontribusi pada ketahanan pangan dan ketersediaan pakan (ruminansia dan ikan). Nilai agronomis (tahan kekeringan), ketersediaan biomassa, dan fleksibilitas penggunaan (pangan, pakan, umpan) mendukung pengembangannya. Untuk merealisasikan potensi tersebut diperlukan intervensi terpadu: penyediaan benih unggul adaptif, peningkatan kapasitas pengolahan pakan lokal (termasuk teknologi penurunan tanin), fasilitasi pasar hilir, dan kebijakan pendukung yang mendorong integrasi pertanian–perikanan. Implementasi rekomendasi ini diharapkan memperkuat ketahanan pangan dan pakan di NTT secara berkelanjutan.</p> 2025-11-28T00:00:00+08:00 Copyright (c) 2025 Prosiding Seminar Nasional Hasil-Hasil Penelitian https://ejurnal.politanikoe.ac.id/index.php/psnp/article/view/502 MENDALAMI INTENSI KONSERVASI AGROFORESTRY TRADISIONAL “MAMAR” DI SILU, TIMOR BARAT 2025-11-15T20:38:21+08:00 Alfred Umbu Kuala Ngaji alfredumbukualangaji@gmail.com Kristianto Wibison So alfredumbukualangaji@gmail.com Endeyani V. Mohammad alfredumbukualangaji@gmail.com <p>Sebagai <em>Agroforestry</em>, Mamar memiliki banyak manfaat seperti pengayaan tanah (Yadav <em>et al</em>., 2021), pengatur iklim (Pérez-Girón <em>et al</em>., 2022), konservasi air (Kumar <em>et al</em>., 2020), serta fungsi sosial budaya (Ngaji <em>et al</em>., 2025). Seiring perkembangan jaman, meningkatnya permintaan akan pemenuhan kebutuhan ekonomi masyarakat menyebabkan perubahan pengelolaan dan pemanfaatan Mamar. Perubahan ini berdampak pada penurunan produksi jasa ekosistem Mamar termasuk Indeks Nilai Penting <em>cultural keystone</em>. Pertanyaannya, masih adakah niat masyarakat untuk melakukan konservasi terhadap Mamar? Penelitian intensi konservasi <em>Agroforestry</em> Tradisional Mamar menggunakan <em>theory of planned behavior</em> yang bertujuan untuk (1) mengetahui intensi masyarakat dalam upaya konservasi Mamar dan (2) merumuskan pola kecenderungan masyarakat dalam bentuk model struktural pembangunan berkelanjutan untuk memetakan intensi masyarakat dalam konservasi Mamar. Adanya pengaruh nilai-nilai budaya yang diliputi (Savari &amp; Gharechaee, 2020) dalam bentuk variabel norma moral, menjadi pembeda yang ditambahkan dalam TPB ini. Pemahaman ini akan bermanfaat bagi perumusan kebijakan pembangunan secara menyeluruh dan pengembangan ilmu pengetahuan.</p> <p>Metode penelitian adalah metode survei dengan pendekatan deskriptif kuantitatif dan kualitatif yang bertumpu pada penggunaan TPB dari Ajzen sebagai dasar. Wawancara, kuesioner, dan FGD adalah instrumen-instrumen yang digunakan terhadap 53 responden. Analisis data dilakukan dengan aplikasi Smart PLS 3.2.9 untuk menghasilkan model struktural hubungan sekaligus melihat pengaruh dari masing-masing variabel laten. Penelitian ini dilakukan di Dusun 2 dan Dusun 3 Desa Silu Kecamatan Fatuleu, Kabupaten Kupang. Lokasi ini dipilih berdasarkan keberadaan Mamar yang masih representatif sebagai aset alam dan sosial budaya masyarakat.&nbsp;&nbsp;</p> <p>&nbsp;</p> <p>&nbsp;</p> <p>&nbsp;</p> <p>&nbsp;</p> <p>&nbsp;</p> <p>&nbsp;</p> <p>&nbsp;</p> <p>&nbsp;</p> <p>&nbsp;</p> <p>&nbsp;</p> <p>&nbsp;</p> <p>&nbsp;</p> <p>&nbsp;</p> <p>&nbsp;</p> <p>&nbsp;</p> <p>&nbsp;</p> <p><strong>Gambar 1. </strong>Model Hubungan Antarvariabel Laten Pengetahuan, Sikap, Norma Moral, Norma Sosial, Dan Kontrol Perilaku Yang Dirasakan Berdasarkan Hasil Analisis Smart PLS 3.2.9</p> <p>Hasil penelitian ini dianalisis menggunakan Smart PLS 3.2.9 seperti yang disajikan pada Gambar 1. Hasil penelitian menyimpulkan bahwa masyarakat masih memiliki niat untuk melakukan konservasi Mamar terutama karena dorongan norma moral dan norma sosial. Selain itu, pengetahuan juga mempengaruhi sikap, norma moral, norma sosial, dan kontrol perilaku secara signifikan. Informasi ini diharapkan dapat dipertimbangkan dalam merencanakan pembangunan di wilayah ini. Dari gambar tersebut, terlihat bahwa nilai R sq antara variabel laten sikap (AT), norma moral (MN), norma sosial (SN) dan kontrol perilaku (PBC) adalah 0,513 atau sedang. Nilai F sq yang menunjukkan efek variabel laten pengetahuan terhadap variabel laten sikap, norma moral, norma sosial, dan control perilaku yang dirasakan berturut-turut adalah 0,215; 0,221; 0,408; 0,332 atau semua memiliki efek besar. Nilai F sq variabel sikap, norma moral, norma sosial, dan kontrol perilaku yang dirasakan terhadap variabel intensi (INT) berturut-turut 0,019 (efek kecil); 0,393 (efek besar); 0,292 (efek besar) dan 0,091 (efek sedang). Hal tersebut menunjukkan bahwa (1) niat konservasi masih tergolong sedang cenderung tinggi, sedangkan (2) pengetahuan memiliki pengaruh terhadap yang besar terhadap variabel sikap, norma moral, norma sosial, dan kontrol perilaku yang dirasakan (Valizadeh <em>et al</em>., 2024) serta (3) norma moral dan norma sosial memiliki efek yang besar terhadap intensi konservasi Mamar, sedangkan sikap dan control perilaku yang dirasakan memiliki efek kecil. Pengaruh perubahan kondisi global diduga berpengaruh terhadap hal ini (Tama <em>et al</em>., 2021).</p> 2025-11-28T00:00:00+08:00 Copyright (c) 2025 Prosiding Seminar Nasional Hasil-Hasil Penelitian https://ejurnal.politanikoe.ac.id/index.php/psnp/article/view/503 DESAIN APLIKASI MOBILE SMART DRIP IRRIGATION BERBASIS IOT UNTUK TANAMAN JAGUNG DI KUPANG, NTT, INDONESIA 2025-11-15T20:42:45+08:00 Ignasius Boli Suban ignasiusbolisuban@gmail.com Onesimus Ke Lele ignasiusbolisuban@gmail.com <p>Jagung menjadi pangan pokok masyarakat di Propinsi Nusa Tenggara Timur (NTT), namun produktivitasnya masih rendah (26,93 ku/ha) dibanding rata-rata nasional (51,76 ku/ha). Hal ini disebabkan oleh kekeringan dan suhu tinggi. Curah hujan di NTT hanya 800 -1500 mm per tahun dengan distribusi tidak merata disetiap daerahnya, sehingga lahan pertanian umumnya kering dan sulit dikelola (Badan Pusat Statistik, 2024). Keterbatasan air juga menjadi salah satu alasan rendahnya produktivitas jagung di NTT. Padahal lebih dari 60% konsumsi karbohidrat masyarakat berasal dari jagung (Badan Pangan Nasional, 2022). Dalam mengatasi masalah ini, teknologi irigasi tetes berbasis Internet of Things (IoT) dapat menjadi solusi melalui penyiraman dan monitoring otomatis menggunakan aplikasi mobile (Suban <em>et al</em>., 2021; Christian Halim <em>et al</em>., 2025; Sreelatha Reddy <em>et al</em>., 2024; Sgbau <em>et al</em>., 2025). Penelitian ini bertujuan merancang <em>prototype</em> aplikasi mobile <em>Smart Maize Irrigation (SMIr)</em> berbasis IoT guna mendukung irigasi tetes tanaman jagung. Metode yang digunakan adalah <em>Research and Development (R&amp;D)</em> dengan model <em>Prototype</em> yang meliputi analisis masalah, studi literatur, perancangan <em>wireframe</em>, validasi melalui pakar hingga pengembangan <em>Propotype</em> aplikasi SMIr. Model <em>Prorotype </em>diawali dengan menganalisis masalah yang bertujuan untuk memahami kebutuhan pengguna dan masalah utama yang ingin diselesaikan. Kemudian tahap selanjutnya adalah studi literatur yang bertujuan untuk mengumpulkan referensi ilmiah dan penelitian terdahulu. Lalu tahap perancangan <em>wireframe</em> yaitu rancangan awal tampilan (<em>layout</em>) aplikasi. Lalu dilanjutkan dengan validasi melalui pakar untuk memastikan rancangan yang dibuat sesuai dengan kebutuhan dan standar keilmuan. Kemudian diakhiri dengan pembuatan <em>Prototype</em>. Model <em>Prototype</em> memberikan gambaran kepada penggunan terkait sistem yang akan dikembangkan (Fikriyya &amp; Dirgahayu, 2020). <em>Prototype</em> aplikasi mobile SMIr berbasis IoT diawali dengan analisis masalah dan studi literatur melalui sumber yang valid. Kemudian dilakukan perancangan <em>wireframe</em> menggunakan aplikasi <em>balsamiq mockups</em>. Lalu dilanjutkan dengan validasi <em>wireframe</em> dengan pakar dan diakhir dengan pengembangan <em>prototype</em> aplikasi SMIr menggunakan aplikasi <em>figma</em>. <em>Prototype</em> aplikasi mobile SMIr disajikan pada Gambar 2.</p> <p>&nbsp; &nbsp;&nbsp; &nbsp;&nbsp; &nbsp;&nbsp; &nbsp;&nbsp; &nbsp;&nbsp;</p> <p><strong>Gambar </strong><strong>2</strong><strong>. </strong><em>Prototype </em>dari Aplikasi SMIr</p> <p>&nbsp;</p> <p>Halaman pertama <em>Prototype </em>dari Aplikasi SMIr adalah halaman login dimana pengguna atau admin memasukan <em>username</em> dan <em>password</em>. Apabila admin belum memiliki <em>username</em> dan <em>password</em> maka harus melakukan registrasi terlebih dahulu dengan mengisi <em>name, email, username, password</em> dan <em>confirm password</em>. Setelah admin berhasil login maka aplikasi akan menampilkan tampilan <em>home</em> yang memiliki tiga menu yaitu <em>Home</em>, <em>C_Water Reservoir</em> dan <em>C_Maize Irigation</em>. Apabila admin memilih menu <em>C_Water Reservoir </em>maka akan menampilkan kondisi ketinggian air pada penampungan secara <em>real-time</em> melalui sensor ultrasionik yang dipasang di penampungan. Kemudian jika admin memilih menu <em>C_Maize Irigation </em>maka akan menampilkan dua menu yaitu kondisi kelembapan tanah dan kondisi suhu. Lalu jika admin memilih menu kondisi kelembapan tanah maka akan menampilkan kondisi kelembapan tanah secara <em>real-time </em>melalui sensor <em>soil moisture</em> yang telah ditanamkan. Lalu jika admin memilih menu kondisi suhu maka akan menampilkan kondisi suhu secara <em>real-time</em> melalui sensor DHT11/DHT22 yang telah ditanamkan. Pada menu <em>C_Water Reservoir</em> dan <em>C_Maize Irigation</em> dilengkapi dengan tombol <em>on/off</em> yang berfungsi untuk mengaktifkan proses otomatis.</p> <p>Penelitian ini berhasil mengembangkan <em>prototype</em> aplikasi <em>mobile SMIr</em> berbasis IoT dengan model <em>Prototype</em>. Rancangan <em>wireframe</em> menggunakan <em>Balsamiq Mockups</em> dan pengembangan <em>prototype</em> menggunakan aplikasi <em>Figma</em>. Hasil penelitian ini sesuai dengan tujuan penelitian yaitu merancang <em>prototype</em> aplikasi <em>mobile SMIr</em> guna mendukung irigasi tetes tanaman jagung. Peneliti menyarankan agar <em>prototype</em> ini dihubungkan dengan sensor pada IoT agar dapat diimplementasikan secara nyata untuk meningkatkan produktivitas jagung di NTT.</p> 2025-11-28T00:00:00+08:00 Copyright (c) 2025 Prosiding Seminar Nasional Hasil-Hasil Penelitian https://ejurnal.politanikoe.ac.id/index.php/psnp/article/view/504 KARAKTERISTIK SIFAT FISIK SARANG RAYAP Macrotermes gilvus Hagen PADA MAMAR DI WILAYAH AMARASI BARAT, KABUPATEN KUPANG 2025-11-15T20:47:48+08:00 Origenes Boy Kapitan boy57kapitan@gmail.com Dina Tiara Kusumawardhani boy57kapitan@gmail.com Rosalia Silaban boy57kapitan@gmail.com Mitha Rabiyatul Nufus boy57kapitan@gmail.com <p>Sarang rayap <em>Macrotermes</em> <em>gilvus</em> Hagen berbentuk gundukan tanah yang kokoh yang tersusun atas campuran tanah liat, pasir, humus, dan saliva rayap sebagai perekat. Aktivitas rayap dalam membangun sarang berpotensi mengubah karakteristik fisik tanah melalui proses pengumpulan partikel halus, pemadatan, dan akumulasi kandungan bahan organik.&nbsp; Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis sifat fisik sarang rayap yang ditemukan pada mamar di desa Soba, kec. Amarasi Barat, kabupaten Kupang. Parameter yang dianalisis yakni kadar air, berat isi, berat jenis, porositas, dan tekstur 3 fraksi. &nbsp;Hasil analisis tekstur 3 fraksi menunjukkan bahwa kriteria tanah sarang rayap adalah tergolong kriteria liat/klei (<em>clay</em>) dengan kandungan pasir, debu, dan liat sebesar 30 %, 27 %, dan 43 % berturut-turut. Menurut Rompon dan Almuqu (2022), jenis tanah di wilayah desa Soba adalah inseptisol yang mengandung liat yang cukup tinggi (35-78 %) (Damanik <em>et al</em>., 2010). Evan (2003) mengungkapkan bahwa sebagian besar rayap menyukai tipe tanah yang mengandung liat dan tidak menyukai tanah berpasir. Hal ini dikarenakan tanah liat memiliki kestabilan dan kekokohan yang lebih baik untuk struktur sarang (Subekti, 2012). Tekstur liat yang lebih dominan pada sarang memungkinkan untuk menyerap dan menahan air sangat besar.</p> <p>Kapasitas tanah dalam menyimpan air sangat dipengaruhi oleh banyaknya jumlah pori-pori. Semakin banyak jumlah ruang pori maka semakin banyak air yang dapat disimpan. Porositas tanah didefinisikan sebagai rasio volume semua pori dalam volume tanah yang dinyatakan dalam persentase. Porositas mencakup ruang antara pasir, debu dan partikel liat serta ruang di antara agregat tanah. Tingkat porositas tanah dipengaruhi oleh kerapatan isi tanah. Makin padat suatu tanah makin tinggi kerapatan isinya. Kerapatan isi merupakan perbandingan antara berat tanah kering dengan satuan volume tanah termasuk volume pori tanah, sebaliknya berat jenis tanah menggambarkan berat suatu massa tanah per satuan volume tanpa pori-pori tanah. Data sifat fisik tanah dapat dilihat pada Tabel 1. Nilai kerapatan isi tanah yang diuji sebesar 1.26 g/cm<sup>3</sup> yang berada pada rentang nilai 1.15-1.45 g/cm<sup>3</sup> tergolong baik pada tekstur tanah liat karena jika memiliki nilai 1.4-1.6 g/cm<sup>3 </sup>akan menghambat pertumbuhan akar tanaman (Raynolds <em>et al</em>. 2007). Berat jenis sarang sebesar 2.65 g/cm<sup>3</sup>, tergolong dalam lempung organic (2.58-2.65 g/cm<sup>3</sup>) menurut klasifikasi berat jenis tanah. Hal ini diduga terkait dengan nilai kandungan C-organik dan bahan organik sarang rayap yang dianalisis dari sarang rayap yang sama yakni sebesar 3.14 % dan 5,41 % (Kusumawardhani dan Kapitan, 2024), yang tergolong tinggi menurut kriteria penilaian sifat kimia tanah. Nilai porositas sebesar 52.57 % mengindikasikan terdapat bahan organik dan mineral. Porositas tanah yang baik (&gt; 50 %) berkaitan erat dengan kandungan bahan organic pada sarang sehingga mampu menahan air dan menurunkan kerapatan isi tanah sehingga memungkinan akar tanaman berpenetrasi dengan baik.</p> <p>Rayap <em>M. gilvus</em> Hagen merupakan makrofauna yang memiliki pengaruh yang nyata terhadap perubahan struktur fisik tanah dan dinamika unsur hara dalam suatu ekosistem, yang mana rayap mengakumulasikan C-organik dan mineral pada gundukan atau sarangnya (Lavelle <em>et al</em>., 1994). Kondisi sifat fisik tanah berkaitan erat dengan kemampuan untuk mengalirkan dan menyimpan air, penetrasi akar tanaman, sifat aerasi, dan retensi hara. Ini berguna dalam pemanfaatan potensi sarang rayap pada mamar dalam bidang pertanian. Data fisik tanah menunjukkan adanya potensi pemanfaatan sarang rayap sebagai media tumbuh tanaman.</p> <table width="595"> <tbody> <tr> <td width="349"> <p><strong>Tabel 1.</strong> Karakteristik Sifat Fisik Sarang Rayap</p> <table> <tbody> <tr> <td width="31"> <p><strong>No</strong></p> </td> <td width="132"> <p><strong>Sifat fisik</strong></p> </td> <td width="64"> <p><strong>Satuan</strong></p> </td> <td width="62"> <p><strong>Nilai</strong></p> </td> </tr> <tr> <td width="31"> <p>1</p> </td> <td width="132"> <p>Kadar air</p> </td> <td width="64"> <p>%</p> </td> <td width="62"> <p>28.38</p> </td> </tr> <tr> <td width="31"> <p>2</p> </td> <td width="132"> <p>Kerapatan isi</p> </td> <td width="64"> <p>g/cm<sup>3</sup></p> </td> <td width="62"> <p>1.26</p> </td> </tr> <tr> <td width="31"> <p>3</p> </td> <td width="132"> <p>Berat jenis</p> </td> <td width="64"> <p>g/cm<sup>3</sup></p> </td> <td width="62"> <p>2.65</p> </td> </tr> <tr> <td width="31"> <p>4</p> </td> <td width="132"> <p>Porositas</p> </td> <td width="64"> <p>%</p> </td> <td width="62"> <p>52.57</p> </td> </tr> <tr> <td width="31"> <p>5</p> </td> <td width="132"> <p>Tekstur 3 fraksi: Pasir</p> </td> <td width="64"> <p>%</p> </td> <td width="62"> <p>30</p> </td> </tr> <tr> <td width="31"> <p>6</p> </td> <td width="132"> <p>Tekstur 3 fraksi: Debu</p> </td> <td width="64"> <p>%</p> </td> <td width="62"> <p>27</p> </td> </tr> <tr> <td width="31"> <p>7</p> </td> <td width="132"> <p>Tekstur 3 fraksi: Klei</p> </td> <td width="64"> <p>%</p> </td> <td width="62"> <p>43</p> </td> </tr> </tbody> </table> </td> <td width="246"> <p><strong>Gambar 1. </strong>Tampilan Sarang Rayap <em>M. gilvus</em> Hagen</p> </td> </tr> </tbody> </table> <p>&nbsp;</p> <p>&nbsp;</p> 2025-11-28T00:00:00+08:00 Copyright (c) 2025 Prosiding Seminar Nasional Hasil-Hasil Penelitian https://ejurnal.politanikoe.ac.id/index.php/psnp/article/view/541 ANALISIS KELAYAKAN USAHA BUDIDAYA RUMPUT LAUT SAKOL (Kappaphycus striatum) DI DESA LIFULEO KABUPATEN KUPANG 2025-11-26T08:22:14+08:00 Naharuddin Sri naharfishery97@gmail.com M. Basri naharfishery97@gmail.com <p>Rumput laut merupakan salah satu komoditas unggulan Indonesia yang mempunyai nilai ekonomis tinggi yang berkontribusi sekitar 38% terhadap pasokan global dengan produksi pada tahun 2024 mencapai 10,80 juta ton (KKP, 2025). Selain itu, juga merupakan komoditas strategis dalam pembangunan ekonomi biru Indonesia yang juga sebagai salah satu solusi ketahanan pangan, mitigasi perubahan iklim serta pengelolaan sumberdaya hayati perariran yang berkelanjutan.&nbsp; Rumput laut dibudidayakan oleh masyarakat pesisir dalam skala kecil mengandalkan metode tradisional. &nbsp;Hal ini juga terjadi Desa Lifuleo yang sebagian besar masyarakat pesisisrnya mengandalkan usaha budidaya rumput laut sebagai sumber perekonomian keluarga.. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui tingkat kelayakan usaha budidaya rumput laut sakol (<em>Kappaphycus striatum)</em> di Kelurahan Lifuleo&nbsp; Kabupaten Kupang..</p> <p>Metode pengambilan sampel yang digunanakan adalah <em>purposive sampling </em>dengan jumlah sampel sebanyak 40 usaha budidaya rumput laut <em>kappaphycus striatum</em>. &nbsp;dilakukan melalui metode wawancara semi-terstruktur kualitatif kepada 30 orang pembudidaya rumput laut.&nbsp;&nbsp; Wawancara disusun dalam empat bagian pertanyaan dengan maksud untuk memetakan bagaimana performa sosial dan ekonomi masarakat pembudidaya rumput laut. Wawancara dilakukan menggunakan platform ODK dengan pengumpulan data offline/online memakai aplikasi android Kobo Collect©. Analisis data dilakukan secara deskriptif dan menggunakan pendekatan kualitatif serta kuantitatif..&nbsp; Penelaah dilakukan terbatas pada aspek-aspek ekonomi dari usaha budidaya, pasca panen dan pemasaran.</p> <p>Hasil penelitian menunjukkan analisis usaha budidaya rumput laut di kelurahan SulaDesa Lifuleo dalam satu siklus produksi diperoleh nilai R/C-R&nbsp; 1,2-1,4 , Jumlah produksi 85kg-101kg lebih besar dari nilai BEP produksi 53kg-62 kg, Harga produksi Rp18.000,-/kg lebih besar dari nilai BEP Harga sebensar Rp 8.571,-/kg. Hal ini menunjukkan rumput laut <em>kappaphycus striatum</em> layak dikembangkan karena nilai R/C Ratio lebih besar dari 1.</p> <p>Kegiatan budidaya rumput laut dapat meningkatkan pendapatan petani rumput laut di Desa Lifuleo. Akan tetapi&nbsp; dibandingkan tahun-tahun sebelumnya produksi mengalami penurunan sehingga dipelukan inovasi budidaya. Strategi yang dapat dilakukan untuk meningkatkan produksi adalah melalui edukasi, penerapan CPIB, monitoring berbasis data serta seleksi variaetas unggul. Pembudidaya juga perlu meningkatkan pengetahuan dan keterampilan pembudidaya dalam penanganan pasca panen dan pengolahan produk rumput laut<em>.</em></p> 2025-11-28T00:00:00+08:00 Copyright (c) 2025 Prosiding Seminar Nasional Hasil-Hasil Penelitian https://ejurnal.politanikoe.ac.id/index.php/psnp/article/view/506 PERTANIAN TERPADU DI AREA INFORMAL KOTA DENGAN LANSKAP FUNGSI PENYEDIA 2025-11-15T21:13:24+08:00 Roosna M. O. Adjam roosnamar@gmail.com Euis B. Risbarkah roosnamar@gmail.com Tri Luchi Proklamita roosnamar@gmail.com Micha Snoverson Ratu Rihi roosnamar@gmail.com <p>Pengembangan pertanian terpadu menjadi solusi yang relevan untuk mengoptimalkan pemanfaatan ruang terbatas secara produktif dan berkelanjutan. Urgensi penelitian ini terletak pada perlunya strategi pemanfaatan lanskap fungsi penyedia, yaitu bagian dari lanskap yang mampu menghasilkan pangan dan sumber daya lainnya secara ekologis, untuk mendukung sistem pertanian terpadu di area informal. Penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi potensi lanskap penyedia di area informal, mengkaji bentuk pertanian terpadu yang sesuai, serta strategi pengelolaan yang adaptif terhadap konteks lokal. Penelitian ini berlokasi di area informal kota di Kelurahan Airmata, Mantasi dan Manutapen, Kecamatan Kota Lama dan Alak, Kota Kupang. Pelaksanaan penelitian dilakukan selama tujuh bulan, dimulai pada bulan Juni sampai Desember 2025, yang terdiri atas prasurvei, perijinan lokasi, pengumpulan data, analisis dan pengolahan data, penyusunan rencana pengelolaan, dan penyusunan laporan. Analisis ini dilakukan secara deskriptif kuantitatif dengan pembobotan/<em>scoring</em> pada saat survei kawasan serta wawancara dengan cara <em>purposive sampling</em> terhadap pemerintah desa, pemilik lahan, dan warga. Dari hasil pengamatan karakter lanskap pertanian terpadu secara horizontal dengan sistem tumpang sari pada kawasan, Manutapen telah memiliki sistem tumpang sari tanaman-ternak-ikan, misalnya sisa panen sayur dibuat sebagai pakan ternak babi/sapi/kambing, lalu kotoran ternak menjadi pupuk bagi sayuran dan palawija. Airmata dan Mantasi memiliki sistem tumpang sari tanaman-ternak. Dalam pola aktivitas pertanian masyarakat, yaitu pada jadwal penanaman tanaman budidaya, dapat dilihat bahwa jenis tanaman tertentu umumnya hanya ditemui pada musim tertentu. Jagung di Mantasi dan Manutapen hanya ditemukan pada musim hujan yaitu bulan Desember sampai Mei. Demikian pula, tanaman hortikultura sayuran juga ditemukan pada pekarangan warga sepanjang tahun. Hal ini disebabkan karena adanya ruang terbuka hijau pada area ini. Tanaman hortikultura buah memiliki waktu panenan yang tidak menentu berdasarkan ketersediaan air (embung atau mata air) yang ada sepanjang tahun. Berdasarkan penyusunan <em>ranking</em> strategi, diperoleh beberapa strategi penting untuk kawasan yang disusun dari yang paling penting sampai yang cukup penting untuk dilaksanakan sesuai dengan faktor kekuatan, kelemahan, peluang dan ancaman yang dimiliki kawasan. Kekuatan kawasan berupa karakter lanskap pertanian alami seperti area kebun, pekarangan dan sungai, serta sumber daya seperti area lahan yang luas, ketersediaan air tanah dangkal, ternak dan limbah pupuk, serta pola aktivitas masyarakat sebagai pelaku pertanian menjadi modal dasar untuk dikembangkan sebagai kawasan informal kota dengan keberadaan aktifitas pertanian. Mengembangkan keterampilan budidaya pada masyarakat penting dilakukan mengingat masyarakat adalah pemilik utama kawasan yang akan memperoleh dampak dari semua perubahan yang terjadi pada kawasan. Dengan keberadaan lanskap penyedia di Airmata, Mantasi dan Manutapen, maka peran kawasan hutan riparian menjadi sangat penting karena menyerap air dan menyimpannya ketika musim hujan sehingga kawasan dapat terhindar dari banjir. Dari penilaian potensi karakter lanskap pertanian terpadu,&nbsp; diperoleh hasil bahwa Manutapen masuk dalam zonasi kesesuaian lanskap pertanian terpadu berpotensi tinggi. Area ini memiliki karakter lanskap pertanian terpadu horizontal pertanian, peternakan, perikanan baik secara tumpang sari maupun wilayah desa. Strategi pengelolaan lanskap pada kawasan pertanian terpadu ini adalah strategi <em>grow and build </em>atau menumbuhkan dan membangun, sehingga konsep pengelolaan yang diperlukan adalah menumbuhkan dan membangun kawasan sebagai daerah pertanian terpadu.</p> 2025-11-28T00:00:00+08:00 Copyright (c) 2025 Prosiding Seminar Nasional Hasil-Hasil Penelitian https://ejurnal.politanikoe.ac.id/index.php/psnp/article/view/507 HASIL TANAMAN BROKOLI AKIBAT PEMBERIAN PUPUK ORGANIK CAIR BERBAHAN LIMBAH SAYURAN DAUN DAN LIMBAH CAIR TAHU 2025-11-16T14:40:33+08:00 Angela Runesi lena.lw.walunguru@gmail.com Lena Walunguru lena.lw.walunguru@gmail.com Bonik K. Amalo lena.lw.walunguru@gmail.com Nova D. Lussy lena.lw.walunguru@gmail.com Eko H. A. Juwaningsih lena.lw.walunguru@gmail.com Marsema Kaka Mone lena.lw.walunguru@gmail.com <p>Limbah sayuran daun (seperti sawi hijau, pakcoy, dan kubis) juga limbah cair tahu mudah diperoleh dalam jumlah cukup banyak. Salah satu cara yang mudah dan ramah lingkungan adalah memanfaatkan limbah tersebut menjadi pupuk organik cair (POC). Limbah sayuran daun dan limbah cair bila terdekomposisi akan menyumbang hara dan berdampak baik bagi kesuburan media tanam. Menurut Walunguru &amp; Kaka Mone (2024) bahwa POC berbahan limbah sayuran daun dan limbah cair tahu mengandung C-organik (0.53%), pH (5,73), N total (0,10%), P<sub>2</sub>O<sub>5</sub> (0.03%), K<sub>2</sub>O (0,19%), Fe total (19,5 ppm), Mn total (39,8 ppm), Cu totak (0,23 ppm), dan Zn total (0,19 ppm) Kebutuhan hara tanaman akan tercukupi salah satunya bila memperhatikan konsentrasi. Konsentrasi yang tepat akan mencukupi kebutuhan hara tanaman, yang berdampak pada hasil tanaman. Setiap jenis tanaman mempunyai kebutuhan nutrisi yang berbeda-beda tergantung jenis dan fase pertumbuahn (Asie <em>et al</em>., 2025). Penelitian bertujuan mengetahui pengaruh pemberian beberapa konsentrasi POC berbahan limbah sayuran daun dan limbah cair tahu terhadap pertumbuhan dan hasil tanaman brokoli dan menentukan konsentrasi terbaik.</p> <p>Penelitian telah dilaksanakan pada Juni sampai Agustus 2024. Lokasi penelitian di Desa Baumata, Kecamatan Taebenu. Penelitian menggunakan Rancangan Acak Kelompok (RAK), faktornya konsentrasi POC dengan taraf 0, 25, 50, 75, 100, 125, 150, 175, dan 200 ml/l. Masing-masing taraf diulang tiga kali. Variabel pengamatan yaitu diameter dan berat segar bunga brokoli setiap tanaman. Data dianalisis menggunakan sidik ragam, apabila hasil analisis menunjukkan pengaruh nyata maka dilakukan uji lanjut Beda Nyata Jujur (BNJ) taraf 5%. Aplikasi POC pada tanaman brokoli sesuai perlakuan konsentrasi, diberikan dua kali setiap minggu, dimulai umur tanaman 7 hari setelah tanam (HST) sampai 1 minggu sebelum panen. Dosis pemberian POC yaitu 250 ml/tanaman. Hasil analisis ragam menunjukkan pemberian konsentrasi POC berbahan limbah sayuran daun dan limbah cair tahu berpengaruh nyata terhadap rata-rata diameter dan berat segar bunga setiap tanaman (Tabel 1).</p> <p><strong>Tabel 1.</strong> Rata-rata Diameter dan Berat Segar Bunga Brokoli Setiap Tanaman Akibat Pemberian Konsentrasi POC Berbahan Limbah Sayuran Daun dan Limbah Cair Tahu</p> <p>Konsentrasi (ml/l)&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp; Diameter Bunga (m)&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp; Berat Segar Setiap Bunga (g)</p> <table> <tbody> <tr> <td width="178"> <p>0</p> </td> <td width="116"> <p>16,31</p> </td> <td width="99"> <p>a</p> </td> <td width="121"> <p>338,44</p> </td> <td width="94"> <p>a</p> </td> </tr> <tr> <td width="178"> <p>25</p> </td> <td width="116"> <p>16,30</p> </td> <td width="99"> <p>a</p> </td> <td width="121"> <p>419,52</p> </td> <td width="94"> <p>b</p> </td> </tr> <tr> <td width="178"> <p>50</p> </td> <td width="116"> <p>16,93</p> </td> <td width="99"> <p>ab</p> </td> <td width="121"> <p>468,78</p> </td> <td width="94"> <p>c</p> </td> </tr> <tr> <td width="178"> <p>75</p> </td> <td width="116"> <p>17,15</p> </td> <td width="99"> <p>abc</p> </td> <td width="121"> <p>541,33</p> </td> <td width="94"> <p>d</p> </td> </tr> <tr> <td width="178"> <p>100</p> </td> <td width="116"> <p>17,44</p> </td> <td width="99"> <p>bc</p> </td> <td width="121"> <p>570,22</p> </td> <td width="94"> <p>e</p> </td> </tr> <tr> <td width="178"> <p>125</p> </td> <td width="116"> <p>17,60</p> </td> <td width="99"> <p>bc</p> </td> <td width="121"> <p>610,55</p> </td> <td width="94"> <p>f</p> </td> </tr> <tr> <td width="178"> <p>150</p> </td> <td width="116"> <p>17,98</p> </td> <td width="99"> <p>cd</p> </td> <td width="121"> <p>668,11</p> </td> <td width="94"> <p>g</p> </td> </tr> <tr> <td width="178"> <p>175</p> </td> <td width="116"> <p>18,52</p> </td> <td width="99"> <p>de</p> </td> <td width="121"> <p>699,56</p> </td> <td width="94"> <p>h</p> </td> </tr> <tr> <td width="178"> <p>200</p> </td> <td width="116"> <p>19,41</p> </td> <td width="99"> <p>e</p> </td> <td width="121"> <p>739,89</p> </td> <td width="94"> <p>i</p> </td> </tr> <tr> <td width="178"> <p>BNJ 5%</p> </td> <td width="116"> <p>0,90</p> </td> <td width="99"> <p>&nbsp;</p> </td> <td width="121"> <p>9,75</p> </td> <td width="94"> <p>&nbsp;</p> </td> </tr> </tbody> </table> <p>Keterangan: Angka diikuti huruf yang sama pada kolom yang sama berbeda tidak nyata pada uji BNJ 5%.</p> <p>Pupuk organik cair berbahan limbah sayuran daun dan limbah cair tahu yang diberikan ke media tanam berpengaruh terhadap kesuburan tanah, termasuk meningkatkan ketersedian unsur hara. POC yang diberikan pada konsentrasi 200 ml/l yang merupakan konsentrasi tertinggi, yang berdampak lebih baik terhadap ketersediaan unsur hara dibanding konsentrasi lainnya. Hal ini memungkinkan tanaman meyerap unsur hara lebih optimal, sehingga aktivitas metabolisme tanaman lebih aktif. Aktivitas metabolisme tanaman dipengaruhi oleh ketersediaan dan penyerapan hara, makin baik penyerapan hara maka akan lebih mendukung proses-proses metabolisme tanaman (Sutedjo, 2008). Proses metabolisme tanaman yang lebih aktif termasuk fotosintesis, akan menghasilkan fotosintat yang lebih banyak. Fotosintat digunakan untuk pertumbuhan dan perkembangan tanaman, juga disimpan sebagai cadangan makanan pada bunga tanaman brokoli. Akumulasi dari berbagai cadangan makanan seperti protein, karbohidrat, lemak dan air pada setiap tanaman mempengaruhi diameter dan berat segar bunga brokoli. Kesimpulan: Konsentrasi 200 ml/l dari POC berbahan limbah sayuran daun dan limbah cair tahu berpengaruh terbaik terhadap diameter bunga (19,41) dan berat segar bunga setiap tanaman (739,89 g).</p> 2025-11-28T00:00:00+08:00 Copyright (c) 2025 Prosiding Seminar Nasional Hasil-Hasil Penelitian https://ejurnal.politanikoe.ac.id/index.php/psnp/article/view/508 PERSEPSI PETANI TERHADAP PEMANFAATAN AIR BENDUNGAN ROTIKLOT UNTUK USAHATANI TANAMAN HORTIKULTURA DESA FATUKETI KABUPATEN BELU 2025-11-16T14:45:56+08:00 Margelita Eno Manek maria.klara.salli@gmail.com M. K. Salli maria.klara.salli@gmail.com Endeyani V. Mohammad maria.klara.salli@gmail.com Masria maria.klara.salli@gmail.com <p>Desa Fatuketi merupakan daerah lahan kering dengan pertanian bergantung pada curah hujan. Sejak 2019, petani mulai memanfaatkan air dari Bendungan Rotiklot untuk usahatani tanaman hortikultura pada musim kemarau. Penelitian ini bertujuan mengetahui persepsi petani terhadap pemanfaatan air bendungan dan faktor-faktor yang mempengaruhinya.</p> <p>Penelitian dilakukan dengan metode survei menggunakan kuesioner pada petani di Desa Fatuketi. Data dianalisis secara deskriptif untuk mengukur persepsi petani dengan skala skor 1-3. Analisis regresi linier berganda digunakan untuk mengidentifikasi faktor signifikan yang mempengaruhi persepsi.</p> <p>Hasil penelitian menunjukkan persepsi petani terhadap pemanfaatan air bendungan secara keseluruhan berada pada kategori sedang dengan nilai rata-rata skor 2,32. Variabel persepsi yaitu penggunaan air memiliki skor tinggi (2,46), sementara masalah penggunaan air dan dukungan pemerintah berada pada kategori sedang (2,39 dan 2,13). Analisis regresi menunjukkan bahwa dari 10 variabel yang diuji, hanya penjadwalan pengairan yang berpengaruh signifikan terhadap persepsi petani (nilai signifikansi 0,022 &lt; 0,05). Hal ini mengindikasikan bahwa penjadwalan pengairan yang baik meningkatkan persepsi positif petani terhadap pemanfaatan air bendungan. Variabel lain seperti umur, pendidikan, lama bertani, pendapatan, status lahan, luas lahan, intensitas pengairan, petugas pengairan, dan kemudahan mengakses air tidak berpengaruh signifikan</p> <p><strong>Tabel 1. </strong>Hasil Persepsi Petani terhadap Pemanfaatan Air Bendungan Rotiklot</p> <table> <tbody> <tr> <td width="151"> <p><strong>Variabel</strong></p> </td> <td width="151"> <p><strong>Indikator</strong></p> </td> <td width="151"> <p><strong>Rata-rata</strong></p> </td> <td width="151"> <p><strong>Kategori</strong></p> </td> </tr> <tr> <td width="151"> <p>Persepsi Penggunaan Air</p> </td> <td width="151"> <p>Penggunaan air irigasi</p> </td> <td width="151"> <p>2.46</p> </td> <td width="151"> <p>Tinggi</p> </td> </tr> <tr> <td width="151"> <p>Masalah Penggunaan Air</p> </td> <td width="151"> <p>Permasalahan Distribusi Air</p> </td> <td width="151"> <p>2.39</p> </td> <td width="151"> <p>Sedang</p> </td> </tr> <tr> <td width="151"> <p>Dukungan Pemerintah</p> </td> <td width="151"> <p>Dukungan dan Fasilitas</p> </td> <td width="151"> <p>2,13</p> </td> <td width="151"> <p>Sedang</p> </td> </tr> <tr> <td width="151"> <p><strong>Total</strong></p> </td> <td width="151"> <p><strong>&nbsp;</strong></p> </td> <td width="151"> <p><strong>2.32</strong></p> </td> <td width="151"> <p><strong>Sedang</strong></p> </td> </tr> </tbody> </table> <p><strong>&nbsp;</strong></p> <p><strong>Tabel 2. </strong>Faktor yang Mempengaruhi Persepsi Petani</p> <table width="595"> <tbody> <tr> <td colspan="2" rowspan="2" width="208"> <p><strong>Model</strong></p> </td> <td colspan="2" width="151"> <p><strong>Unstandardized Coefficients</strong></p> </td> <td width="104"> <p><strong>Standardized Coefficients</strong></p> </td> <td rowspan="2" width="76"> <p><strong>T</strong></p> </td> <td rowspan="2" width="57"> <p><strong>Sig.</strong></p> </td> </tr> <tr> <td width="76"> <p>B</p> </td> <td width="76"> <p>Std. Error</p> </td> <td width="104"> <p>Beta</p> </td> </tr> <tr> <td rowspan="11" width="28"> <p>1</p> </td> <td width="180"> <p>(Constant)</p> </td> <td width="76"> <p>219.552</p> </td> <td width="76"> <p>47.018</p> </td> <td width="104"> <p>&nbsp;</p> </td> <td width="76"> <p>4.670</p> </td> <td width="57"> <p>.000</p> </td> </tr> <tr> <td width="180"> <p>Umur (X1)</p> </td> <td width="76"> <p>-1.126</p> </td> <td width="76"> <p>6.433</p> </td> <td width="104"> <p>-.027</p> </td> <td width="76"> <p>-.175</p> </td> <td width="57"> <p>.862</p> </td> </tr> <tr> <td width="180"> <p>Pendidikan (X2)</p> </td> <td width="76"> <p>-2.672</p> </td> <td width="76"> <p>4.693</p> </td> <td width="104"> <p>-.084</p> </td> <td width="76"> <p>-.569</p> </td> <td width="57"> <p>.572</p> </td> </tr> <tr> <td width="180"> <p>Lama Bertani (X3)</p> </td> <td width="76"> <p>-11.571</p> </td> <td width="76"> <p>10.504</p> </td> <td width="104"> <p>-.188</p> </td> <td width="76"> <p>-1.102</p> </td> <td width="57"> <p>.277</p> </td> </tr> <tr> <td width="180"> <p>Pendapatan (X4)</p> </td> <td width="76"> <p>9.253</p> </td> <td width="76"> <p>5.002</p> </td> <td width="104"> <p>.269</p> </td> <td width="76"> <p>1.850</p> </td> <td width="57"> <p>.071</p> </td> </tr> <tr> <td width="180"> <p>Status Lahan (X5)</p> </td> <td width="76"> <p>-2.678</p> </td> <td width="76"> <p>5.015</p> </td> <td width="104"> <p>-.076</p> </td> <td width="76"> <p>-.534</p> </td> <td width="57"> <p>.596</p> </td> </tr> <tr> <td width="180"> <p>Luas Luas (X6)</p> </td> <td width="76"> <p>.493</p> </td> <td width="76"> <p>5.745</p> </td> <td width="104"> <p>.012</p> </td> <td width="76"> <p>.086</p> </td> <td width="57"> <p>.932</p> </td> </tr> <tr> <td width="180"> <p>Intensitas Pengairan (X7)</p> </td> <td width="76"> <p>.082</p> </td> <td width="76"> <p>.068</p> </td> <td width="104"> <p>.187</p> </td> <td width="76"> <p>1.215</p> </td> <td width="57"> <p>.231</p> </td> </tr> <tr> <td width="180"> <p>Petugas Pengairan (X8)</p> </td> <td width="76"> <p>-.053</p> </td> <td width="76"> <p>.091</p> </td> <td width="104"> <p>-.095</p> </td> <td width="76"> <p>-.581</p> </td> <td width="57"> <p>.564</p> </td> </tr> <tr> <td width="180"> <p>Kemudahan Mengakses air (X9)</p> </td> <td width="76"> <p>-.019</p> </td> <td width="76"> <p>.064</p> </td> <td width="104"> <p>-.044</p> </td> <td width="76"> <p>-.294</p> </td> <td width="57"> <p>.770</p> </td> </tr> <tr> <td width="180"> <p>Penjadwalan Pengairan (X10)</p> </td> <td width="76"> <p>.114</p> </td> <td width="76"> <p>.048</p> </td> <td width="104"> <p>.349</p> </td> <td width="76"> <p>2.368</p> </td> <td width="57"> <p>.022</p> </td> </tr> </tbody> </table> <p><strong>&nbsp;</strong></p> 2025-11-28T00:00:00+08:00 Copyright (c) 2025 Prosiding Seminar Nasional Hasil-Hasil Penelitian https://ejurnal.politanikoe.ac.id/index.php/psnp/article/view/522 PENGARUH PUPUK PANIWANG TERHADAP PERTUMBUHAN TANAMAN DAN KANDUNGAN SERAT TANAMAN WATAR HAMMU VARIETAS KIKU MBIMBI 2025-11-16T17:39:32+08:00 Denisius Umbu Pati denis@unkriswina.ac.id I Made Adi Sudarma denis@unkriswina.ac.id Srilus Lamba Ngeding denis@unkriswina.ac.id <p>Sorgum merupakan tanaman yang mudah tumbuh pada lahan kering (Andriani &amp; Isnaini, 2013) seperti di Kabupaten Sumba Timur, jenis sorgum yang dikembangkan petani lokal ialah <em>Watar Hammu</em> varietas lokal <em>Kiku Mbimbi </em>(Yina <em>et al</em>., 2023), sorgum dikenal petani lokal memiliki ciri fisik <em>malai </em>mirip dengan ekor (<em>Kiku</em>) dan domba (<em>Mbimbi</em>) diartikan ekor domba dan memiliki ciri berwarna putih. Sorgum memiliki batang berbentuk selinder, buku dan ruas terhadap butiran halus menyerupai tepung dan menempel pada batang, lapisan disebut dengan lapisan lilin berfungsi mengurangi transpirasi. Pemberian pupuk bokhasi untuk meningkatkan nitrogen terkandung dalam unsur hara pada tanah dan mendukung metabolisme tanaman (Ilham <em>et al</em>., 2024). Pupuk bokhasi paniwang merupakan pupuk organik terbuat dari 3 macam komponen yaitu feses kelelawar, feses sapi, dan jerami padi (Hamu <em>et al</em>., 2025). Pupuk bokhasi paniwang mengandung Nitrogen, Fosfor, Kalium, dan Kalsium padi. Metode penelitian Rancangan Acak Lengkap (RAL) terdapat 5 perlakuan dan 4 ulangan dan dalam 1 plot bedengan terdapat 15 lubang tanam sehingga diperoleh 300 unit percobaan. Perlakuan diantaranya; P0 tanpa pupuk paniwang (kontrol); P1 pupuk paniwang dengan level 7,5 ton/ha; P2 pupuk paniwang dengan level 15 ton/ha; P3 pupuk paniwang dengan level 22,5 ton/ha; P4 pupuk paniwang dengan level 30 ton/ha. Variabel penelitian: jumlah daun: menghitung jumlah daun yang tumbuh sempurna, daun bagian atas yang masih menggulung tidak dihitung. Pengamatan 2 minggu sekali, bertujuan mengetahui jumlah daun dihasilkan dalam seminggu. Jumlah tumbuh tanaman: dihitung berdasarkan anakan yang tumbuh selama penelitian dan akan dihitung setiap rumpunnya. Kandungan serat <em>water hammu Kiku Mbimbi </em>umur 60 hari dianalisis menggunakan <em>Van Soest</em> serta pembuatan pupuk bokhasi <em>Paniwang </em>bahan disiapkan yakni 100 kg feses kelelawar 25 kg (25%), feses sapi 25 kg (25%), arang sekam 15 kg (15%), Jerami padi 25 kg (25%), dedak padi 10 kg (10%), EM4 500 ml, gula pasir 500 ml dan air, dilakukan fermentasi 21 hari. Hasil fermentasi tidak berbau dan tidak panas, pupuk tersebut dapat digunakan. Penelitian dilakukan di Laboratorium Lapangan Unkriswina Sumba. Pengambilan data selama 2 minggu sekali dan jumlah anakan pada minggu ke-8 dan pengujian serat sampel dikirim ke Laboratorium kimia pakan UNDANA. Analisis data metode deskriptif, data pertumbuhan tanaman menggunakan <em>Anova </em>dengan Uji Duncan dengan kepercayaan 95%. Hasil tertinggi pada minggu ke-6 yaitu dosis 30 ton/ha namun tidak berbeda nyata dan hasil terendah pada minggu ke-2 dan minggu ke-4 yaitu dosis 7,5 ton/ha dan 7,5 ton/ha dimana pada minggu ke-2 dan minggu ke-4 sorgum (<em>watar hammu kiku mbimbi</em>) masih dalam tahap pertumbuhan dilihat jumlah daun bertambah. Pertumbuhan sorgum pada fase ini kebutuhan akan nutrisinya semakin rendah dan minggu ke-8 menunjukkan penurunan produksi jumlah daun dan Sebagian daun mengalami ketuaan dan mati, ini dikenal dengan senesensi (Setiawati <em>et al</em>., 2024). Jumlah daun pada <em>p</em>0 dan <em>p1</em> jumlah tumbuh 91,67%, <em>p2</em> jumlah tumbuh 98%, dan <em>p3</em>, <em>p4</em> jumlah tumbuh 100%, membuktikan bahwa jumlah tumbuh daun berhubungan dengan kompetisi serapan unsur hara nitrogen (Agustina <em>et al</em>., 2024). Jumlah tumbuh berhubungan dengan kompetisi serapan unsur hara nitrogen (Pratiwi &amp; Firdaus, 2023). Semakin sedikit jumlah tumbuh, maka semakin rendah kompetisi dan semakin tinggi unsur hara nitrogen yang diberikan maka semakin banyak yang dapat di serap oleh tanaman (Purwanto, 2025). Hasil analisis kandungan serat sorgum menunjukkan rata-rata kandungan NDF mencapai 77,195% umur 60 hari, kandungan NDF sangat tinggi. Perlakuan <em>p0</em> menghasilkan kandungan serat ADF lebih tinggi. Sebaliknya, pada <em>p4</em>, fraksi serat ADF sebesar 32,519%, merupakan nilai terendah. Perlakuan <em>p4</em> fraksi serat selulosa sebesar 25,902 mM, merupakan nilai terendah. Hasil rata-rata kandungan selulosa mencapai 28,159% pada umur 60 hari, rata-rata kandungan lignin mencapai nilai 4,515% pada umur 60 hari. Perlakuan <em>p4</em> fraksi serat hemiselulosa sebesar 37,202%, merupakan nilai terendah, rata-rata hemiselulosa mencapai 42,630% pada umur 60 hari. Kesimpulan ialah perlakuan bokashi paniwang dosis 30 ton/ha berpengaruh pada pertumbuhan jumlah daun <em>watar</em> <em>hammu</em> varietas <em>kiku mbimbi</em> dengan hasil rataan 7,30 helai dan Perlakuan bokashi paniwang dosis 30 ton/ha berpengaruh pada pertumbuhan jumlah tumbuh <em>watar hammu</em> varietas <em>kiku mbimbi</em> dengan hasil rataan 3 tumbuh.</p> 2025-11-28T00:00:00+08:00 Copyright (c) 2025 Prosiding Seminar Nasional Hasil-Hasil Penelitian https://ejurnal.politanikoe.ac.id/index.php/psnp/article/view/509 ANALISIS SYSTEMATIC LITERATURE REVIEW (SLR) DAN BIBLIOMETRIK TERHADAP TREN PENELITIAN AGRICULTURAL TECHNOLOGY (1995–2025) 2025-11-16T14:54:35+08:00 Dwi Wahyuni esra.rombeallo@staff.politanikoe.ac.id Saprilian Stya Hapsari esra.rombeallo@staff.politanikoe.ac.id Risky Meyranti esra.rombeallo@staff.politanikoe.ac.id Esra Rombeallo esra.rombeallo@staff.politanikoe.ac.id <p>Perkembangan teknologi pertanian (<em>agricultural technology</em>) mengalami kemajuan pesat dalam tiga dekade terakhir (1995–2025) seiring meningkatnya permintaan pangan akibat pertumbuhan populasi. Berdasarkan laporan United Nations (2025), setengah populasi dunia saat ini diperkirakan akan meningkat menjadi 70 persen pada tahun 2050. Kondisi ini menimbulkan tekanan besar terhadap sektor pertanian dan lingkungan, yang berpotensi mempercepat perubahan iklim akibat meningkatnya emisi gas rumah kaca dan degradasi ekosistem. Risiko banjir dan kekeringan juga meningkat signifikan. Pada tahun 2025, sekitar 1 miliar orang diperkirakan tinggal di wilayah rawan banjir, sementara pada 2040 lebih dari 2 miliar penduduk berpotensi menghadapi kenaikan suhu tambahan sebesar 0,5°C. Sekitar 36 persen populasi global bahkan akan mengalami suhu rata-rata tahunan mencapai 29°C atau lebih tinggi. Kondisi ekstrem ini mengancam ketahanan pangan global karena menurunkan produktivitas pertanian dan meningkatkan risiko kerawanan pangan di berbagai wilayah dunia. Situasi tersebut mendorong transformasi sistem pertanian dari praktik tradisional menuju pertanian modern yang berorientasi pada hasil panen maksimal, efisiensi sumber daya, dan keberlanjutan lingkungan. Penerapan teknologi cerdas seperti <em>Internet of Things</em> (IoT), <em>Artificial Intelligent</em> (AI), dan pertanian presisi menjadi kunci adaptasi terhadap perubahan iklim dan peningkatan kebutuhan pangan global (Roy &amp; Medhekar, 2025). Untuk memahami arah dan perkembangan penelitian di bidang ini, dilakukan analisis Systematic Literature Review (SLR) dan bibliometrik guna mengidentifikasi tren, kontribusi ilmiah, serta fokus riset utama dalam kajian teknologi pertanian berkelanjutan selama periode 1995–2025.</p> <p>Penelitian ini menggunakan metode <em>Systematic Literature Review</em> (SLR) dengan mengikuti panduan PRISMA untuk meninjau dan menganalisis berbagai sumber ilmiah tentang “<em>agricultural technology</em>” yang didukung dengan analisis Bibliometrik menggunakan <em>VOSviewer</em> untuk memetakan jaringan sitasi. Data dikumpulkan dari Scopus yang diakses pada 28 September 2025 dan diseleksi melalui tahap identifikasi, penyaringan, dan penilaian kelayakan hingga diperoleh 2.775 artikel relevan dari 94.167 artikel yang diterbitkan antara tahun 1995 – 2025.</p> <p>Tren Publikasi (1995–2025) menunjukkan bahwa penelitian tentang <em>Agricultural Technology</em> relatif stagnan pada periode 1995–2010, dengan jumlah publikasi yang sangat sedikit. Namun, sejak 2015 terjadi peningkatan tajam, khususnya setelah 2020, yang menandai lonjakan perhatian global terhadap isu ketahanan pangan, keberlanjutan, dan digitalisasi pertanian. Salah satu faktor penyebab lonjakan tersebut adalah karakteristik penelitian di bidang pertanian yang memerlukan proses pengujian jangka panjang, seperti uji pertumbuhan tanaman, adaptasi varietas terhadap iklim, dan penerapan teknologi di lahan nyata. Karena membutuhkan waktu bertahun-tahun hingga hasilnya terverifikasi dan layak dipublikasikan, banyak penelitian yang dilakukan satu dekade sebelumnya baru diterbitkan setelah 2020. Kondisi ini menjelaskan mengapa terjadi peningkatan jumlah publikasi secara signifikan dalam beberapa tahun terakhir. Puncaknya terlihat pada tahun 2023 dengan lebih dari 500 publikasi, meskipun sedikit menurun pada 2025. Hal ini menegaskan bahwa bidang ini berkembang pesat dan menjadi salah satu topik utama dalam literatur akademik kontemporer. Secara geografis, distribusi publikasi juga menunjukkan pola yang menarik. Data menunjukkan bahwa China dan Amerika Serikat mendominasi jumlah publikasi, diikuti oleh Inggris, India, dan Jerman. Sementara itu, negara-negara berkembang seperti Ethiopia dan Kenya mulai muncul sebagai kontributor penting, mencerminkan meningkatnya perhatian terhadap penerapan teknologi pertanian di wilayah yang menghadapi tantangan ketahanan pangan tinggi. Dominasi China dapat dikaitkan dengan investasi besar dalam penelitian pertanian presisi, kecerdasan buatan, dan inovasi berbasis IoT, sedangkan Amerika Serikat unggul dalam bidang bioteknologi dan mekanisasi pertanian.</p> 2025-11-28T00:00:00+08:00 Copyright (c) 2025 Prosiding Seminar Nasional Hasil-Hasil Penelitian https://ejurnal.politanikoe.ac.id/index.php/psnp/article/view/510 PENGUATAN KELEMBAGAAN UNIT INSEMINASI BUATAN TERNAK BABI SEBAGAI INOVASI KEBIJAKAN PETERNAKAN UNTUK KETAHANAN PANGAN BERKELANJUTAN 2025-11-16T15:00:05+08:00 Marince P. Tunardjo marince_paulina@yahoo.com Yuan V. Elim marince_paulina@yahoo.com Mariano A. T. Nugraha marince_paulina@yahoo.com Zulkifli Dj. Umar marince_paulina@yahoo.com <p>Subsektor peternakan di Provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT) memberikan kontribusi signifikan terhadap Produk Domestik Regional Bruto (PDRB), dengan ternak babi sebagai salah satu komoditas unggulan yang memiliki nilai ekonomi dan sosial budaya tinggi. Namun, tantangan seperti wabah demam babi Afrika (ASF), keterbatasan infrastruktur, dan rendahnya akses terhadap teknologi modern menghambat produktivitas dan ketahanan pangan di wilayah ini. Dalam konteks pembangunan berkelanjutan, kelembagaan menjadi elemen kunci dalam memastikan adopsi teknologi yang efektif dan inklusif. Penelitian ini berfokus pada analisis kelembagaan Unit Pelaksana IB sebagai strategi kebijakan yang mendukung efisiensi, biosekuriti, dan ketahanan pangan.</p> <p>Pendekatan prafeasibilitas digunakan untuk menilai kesiapan kelembagaan di dua wilayah studi: Kabupaten Kupang dan Sumba Timur. Data dikumpulkan melalui survei kelembagaan, wawancara aktor kunci, dan observasi lapangan. Analisis kelembagaan dilakukan melalui: Matriks SWOT kelembagaan, Pemetaan aktor dan struktur organisasi, dan Penilaian kapasitas SDM dan dukungan kebijakan. Analisis ini digunakan untuk menilai kesiapan struktur organisasi, kapasitas sumber daya manusia, dan dukungan kebijakan lokal terhadap implementasi teknologi IB.</p> <p>Kabupaten Kupang menunjukkan kesiapan kelembagaan yang lebih tinggi, dengan struktur organisasi IB yang aktif, dukungan kebijakan daerah, dan partisipasi peternak. Sumba Timur masih menghadapi tantangan kelembagaan seperti distribusi peran yang belum jelas, keterbatasan SDM, dan minimnya insentif adopsi teknologi. Analisis SWOT kelembagaan mengidentifikasi kekuatan berupa dukungan pemerintah dan potensi pasar, serta kelemahan dalam koordinasi lintas sektor dan kapasitas teknis. Strategi penguatan kelembagaan mencakup yaitu Pembentukan unit IB berbasis wilayah, Pelatihan inseminator dan tenaga teknis, Integrasi IB dalam sistem penyuluhan dan pengawasan, Forum koordinasi lintas sektor.</p> <p>Penguatan kelembagaan IB ternak babi merupakan langkah strategis untuk mendorong transformasi subsektor peternakan di NTT. Diperlukan kebijakan integratif yang melibatkan pemerintah daerah, lembaga riset, dan komunitas peternak untuk membangun kelembagaan yang responsif, inklusif, dan berdaya saing. Dengan pendekatan ini, kelembagaan IB dapat menjadi katalis inovasi dan ketahanan pangan berkelanjutan.</p> 2025-11-28T00:00:00+08:00 Copyright (c) 2025 Prosiding Seminar Nasional Hasil-Hasil Penelitian https://ejurnal.politanikoe.ac.id/index.php/psnp/article/view/511 KONDISI FISIK PARAMETER PENYEBAB BANJIR DI DAERAH ALIRAN SUNGAI NOELBAKI 2025-11-16T15:06:30+08:00 Melkianus Pobas pobasmelkianus03@gmail.com Luisa Moi Manek pobasmelkianus03@gmail.com Yofris Puay pobasmelkianus03@gmail.com Yakub Benu pobasmelkianus03@gmail.com <p>Banjir adalah peristiwa terendamnya wilayah daratan akibat tingginya curah hujan dan topografi yang datar hingga cekung (Ligak, 2008). Berdasarkan pengamatan lapangan dan analisis morfometri, wilayah DAS Noelbaki mencakup persawahan, irigasi, pemukiman, dan jalur jalan utama, dengan sistem sungai berorde tiga yang berpotensi menimbulkan aliran debit besar secara bersamaan. Kondisi ini meningkatkan risiko banjir yang dapat merusak ekonomi dan membahayakan keselamatan masyarakat (BNPB, 2022). Upaya pengendalian banjir perlu dilakukan sebagai langkah mitigasi, dan agar lebih efektif, pengendalian harus didasarkan pada pemahaman terhadap kondisi fisik wilayah dan faktor penyebab banjir (Setiawan, 2020; Putra, 2019). Penelitian ini bertujuan untuk mengevaluasi kondisi fisik serta parameter penyebab banjir di wilayah DAS Noelbaki. Metode yang digunakan merupakan kombinasi metode penginderaan jauh dengan metode terestris berupa pengecekan lapangan dengan menganalisis data spasial berupa parameter curah hujan, kelerengan, jenis tanah, penutupan lahan dan kerapatan sungai. Hasil penelitian disajikan &nbsp;pada tabel 1-5 di bawah ini:</p> <p><strong>Tabel 1.</strong> Curah Hujan DAS Noelbaki</p> <table width="606"> <tbody> <tr> <td width="38"> <p>No</p> </td> <td width="85"> <p>Kelas CH</p> </td> <td width="113"> <p>CH (mm/thn)</p> </td> <td width="104"> <p>Kategori</p> </td> <td width="85"> <p>Luas (Ha)</p> </td> <td width="181"> <p>Persentase (%)</p> </td> </tr> <tr> <td width="38"> <p>1</p> </td> <td width="85"> <p>1300-1800</p> </td> <td width="113"> <p>1390.974</p> </td> <td width="104"> <p>Cukup Rawan</p> </td> <td width="85"> <p>6901.54</p> </td> <td width="181"> <p>100</p> </td> </tr> </tbody> </table> <p>&nbsp;</p> <p><strong>Tabel 2.</strong> Kemiringan Lereng</p> <table width="607"> <tbody> <tr> <td width="39"> <p>No</p> </td> <td width="132"> <p>Keterangan</p> </td> <td width="76"> <p>Lereng</p> </td> <td width="113"> <p>Kategori</p> </td> <td width="85"> <p>Luas (Ha)</p> </td> <td width="162"> <p>Persentase (%)</p> </td> </tr> <tr> <td width="39"> <p>1</p> </td> <td width="132"> <p>Datar</p> </td> <td width="76"> <p>0-8%</p> </td> <td width="113"> <p>Sangat Rawan</p> </td> <td width="85"> <p>2935.58</p> </td> <td width="162"> <p>42.54</p> </td> </tr> <tr> <td width="39"> <p>2</p> </td> <td width="132"> <p>Landai</p> </td> <td width="76"> <p>8-15%</p> </td> <td width="113"> <p>Rawan</p> </td> <td width="85"> <p>2210.77</p> </td> <td width="162"> <p>32.12</p> </td> </tr> <tr> <td width="39"> <p>3</p> </td> <td width="132"> <p>Agak Curam</p> </td> <td width="76"> <p>15-25%</p> </td> <td width="113"> <p>Cukup Rawan</p> </td> <td width="85"> <p>1409.94</p> </td> <td width="162"> <p>20.43</p> </td> </tr> <tr> <td width="39"> <p>4</p> </td> <td width="132"> <p>Curam</p> </td> <td width="76"> <p>25-45%</p> </td> <td width="113"> <p>Kurang Rawan</p> </td> <td width="85"> <p>316.16</p> </td> <td width="162"> <p>4.58</p> </td> </tr> <tr> <td width="39"> <p>5</p> </td> <td width="132"> <p>Sangat Curam</p> </td> <td width="76"> <p>&gt;45%</p> </td> <td width="113"> <p>Tidak Rawan</p> </td> <td width="85"> <p>29.09</p> </td> <td width="162"> <p>0.42</p> </td> </tr> <tr> <td colspan="4" width="360"> <p>Total</p> </td> <td width="85"> <p>6901.54</p> </td> <td width="162"> <p>100.00</p> </td> </tr> </tbody> </table> <p>&nbsp;</p> <p><strong>Tabel 3.</strong> Jenis Tanah DAS Noelbaki</p> <table width="606"> <tbody> <tr> <td width="38"> <p>No</p> </td> <td width="132"> <p>Jenis Tanah</p> </td> <td width="76"> <p>Infiltrasi</p> </td> <td width="113"> <p>Kategori</p> </td> <td width="85"> <p>Luas (Ha)</p> </td> <td width="162"> <p>Persentase (%)</p> </td> </tr> <tr> <td width="38"> <p>1</p> </td> <td width="132"> <p>Aluvial</p> </td> <td width="76"> <p>Kecil</p> </td> <td width="113"> <p>Sangat Rawan</p> </td> <td width="85"> <p>1032.54</p> </td> <td width="162"> <p>14.96</p> </td> </tr> <tr> <td width="38"> <p>2</p> </td> <td width="132"> <p>Kambisol, Regosol</p> </td> <td width="76"> <p>Sedang</p> </td> <td width="113"> <p>Cukup Rawan</p> </td> <td width="85"> <p>3012.01</p> </td> <td width="162"> <p>43.64</p> </td> </tr> <tr> <td width="38"> <p>4</p> </td> <td width="132"> <p>Latosol Eutrik</p> </td> <td width="76"> <p>Agak Kecil</p> </td> <td width="113"> <p>Rawan</p> </td> <td width="85"> <p>2856.99</p> </td> <td width="162"> <p>41.40</p> </td> </tr> <tr> <td colspan="4" width="359"> <p>Total</p> </td> <td width="85"> <p>6901.54</p> </td> <td width="162"> <p>100</p> </td> </tr> </tbody> </table> <p>&nbsp;</p> <p><strong>Tabel 4.</strong> Penutupan Lahan DAS Noelbaki</p> <table width="606"> <tbody> <tr> <td width="32"> <p>No</p> </td> <td width="289"> <p>Kriteria</p> </td> <td width="104"> <p>Kategori</p> </td> <td width="76"> <p>Luas (Ha)</p> </td> <td width="105"> <p>Persentase (%)</p> </td> </tr> <tr> <td width="32"> <p>1</p> </td> <td width="289"> <p>Badan Air, Sawah, Pemukiman dan Lahan Kosong</p> </td> <td width="104"> <p>Sangat Rawan</p> </td> <td width="76"> <p>3913.81</p> </td> <td width="105"> <p>56.71</p> </td> </tr> <tr> <td width="32"> <p>2</p> </td> <td width="289"> <p>Hutan</p> </td> <td width="104"> <p>Tidak Rawan</p> </td> <td width="76"> <p>1557.85</p> </td> <td width="105"> <p>22.57</p> </td> </tr> <tr> <td width="32"> <p>3</p> </td> <td width="289"> <p>Pertanian dan Semak</p> </td> <td width="104"> <p>Cukup Rawan</p> </td> <td width="76"> <p>1429.89</p> </td> <td width="105"> <p>20.72</p> </td> </tr> <tr> <td colspan="3" width="425"> <p>Total</p> </td> <td width="76"> <p>6901.54</p> </td> <td width="105"> <p>100.00</p> </td> </tr> </tbody> </table> <p>&nbsp;</p> <p><strong>Tabel 5.</strong> Kerapatan Sungai DAS Noelbaki</p> <table width="606"> <tbody> <tr> <td width="47"> <p>No</p> </td> <td width="142"> <p>Km/Km<sup>2</sup></p> </td> <td width="104"> <p>Kategori</p> </td> <td width="113"> <p>Luas (Ha)</p> </td> <td width="200"> <p>Persentase (%)</p> </td> </tr> <tr> <td width="47"> <p>1</p> </td> <td width="142"> <p>0,46-6,53</p> </td> <td width="104"> <p>Cukup Rawan</p> </td> <td width="113"> <p>3284.50</p> </td> <td width="200"> <p>47.59</p> </td> </tr> <tr> <td width="47"> <p>2</p> </td> <td width="142"> <p>6,53-12,59</p> </td> <td width="104"> <p>Kurang Rawan</p> </td> <td width="113"> <p>3617.04</p> </td> <td width="200"> <p>52.41</p> </td> </tr> <tr> <td colspan="3" width="293"> <p>Total</p> </td> <td width="113"> <p>6901.31</p> </td> <td width="200"> <p>100.00</p> </td> </tr> </tbody> </table> <p>Keterangan: Hasil Pengolahan Data 2025</p> <p>&nbsp;</p> <p>Dari kelima tabel di atas dapat diambil kesimpulan bahwa DAS Noelbaki tergolong cukup rawan banjir akibat curah hujan tinggi, topografi datar, tanah berinfiltrasi rendah, dan didominasi penutupan lahan yang berdaya serap air rendah. Oleh sebab itu, pengendalian banjir sebaiknya difokuskan pada peningkatan tutupan vegetasi, perbaikan sistem drainase, dan penataan tata guna lahan secara berkelanjutan.</p> 2025-11-28T00:00:00+08:00 Copyright (c) 2025 Prosiding Seminar Nasional Hasil-Hasil Penelitian https://ejurnal.politanikoe.ac.id/index.php/psnp/article/view/512 KAJIAN MORFOMETRIK DAN KANDUNGAN PROKSIMAT UNDUR-UNDUR LAUT DI PESISIR PANTAI TIAL SEBAGAI SUMBER PANGAN FUNGSIONAL 2025-11-16T15:12:23+08:00 Nunun Ainun Putri Sari Banun Kaliky kalikynunun@unhas.ac.id Muhammad Fatratullah Muhsin kalikynunun@unhas.ac.id Anugerah Saputra kalikynunun@unhas.ac.id Hartono Nurlette kalikynunun@unhas.ac.id Saiful Alimudin kalikynunun@unhas.ac.id Shafinaz Abubakar kalikynunun@unhas.ac.id <p>Indonesia merupakan negara megabiodiversitas dengan kekayaan ekosistem laut yang tinggi, termasuk wilayah pesisir yang menjadi habitat berbagai makrofauna bentik seperti <em>Hippa </em>sp<em>. </em>(undur-undur laut). Beberapa spesies yang ditemukan di Indonesia antara lain <em>Hippa ovalis</em>, <em>H. adactyla</em>, <em>H. marmorata</em>, dan <em>H. Celaeno</em>. Beberapa studi melaporkan kandungan protein, lemak, asam lemak omega-3, omega-6, omega-9, serta mineral Ca, Mg, dan Fe yang cukup tinggi (Silaban <em>et al.</em>, 2022). Penelitian ini dilakukan untuk mengkaji hubungan morfometrik dan kandungan proksimat <em>Hippa sp. </em>sebagai dasar pengelolaan berkelanjutan dan pengembangan pangan laut lokal, sekaligus mendukung ketahanan pangan berbasis sumber daya pesisir.</p> <p>Identifikasi spesies dilakukan dengan mengamati ciri-ciri fenotip yang dimiliki spesimen. Analisis morfometrik pada spesimen undur-undur didasarkan pada pengukuran panjang karapas, Panjang tubuh, lebar tubuh dan bobot tubuh serta Sebaran Frekuensi panjang dianalisis menggunakan data panjang karapas undur-undur laut. Nisbah kelamin dihitung berdasarkan jumlah kelamin jantan dan betina. Rasio kelamin ini dihitung dengan menggunakan rumus (Effendie, 1979). Analisis proksimat yang dilakukan pada specimen, Spesimen undur-undur tersebut dicacah sebanyak 80-gram untuk di analisis kandungan gizinya berupa analisis kadar air, lemak, abu, protein dan karbohidrat yang di analisis dengan metode Oven, metode Soxhlet, dan metode Kjeldahl mengunakan prosedur standar (AOAC, 2005).</p> <p>&nbsp;</p> <p>(A)&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp; (B)</p> <p><strong>Gambar 1.</strong> <em>Hippa marmorata</em>. (A). tampak atas; (B). tampak bawah</p> <p><strong>Tabel.1</strong> Hasil Analisis Proksimat <em>Hippa marmorata</em></p> <p><strong>Parameter</strong><strong>&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp; Hasil Proksimat Undur-</strong></p> <p><strong>&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp; undur</strong></p> <p>&nbsp;</p> <p>Kadar Air (%)&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp; 80 %</p> <p>Kadar Abu (%)&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp; 5.75 %</p> <p>Kadar Lemak (%)&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp; 0.21 %</p> <p>Kadar Protein (%)&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp; 8.75 %</p> <p>Karbohidrat (%)&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp; 0.75 %</p> <p>&nbsp;</p> <p>*48 ekor spesimen <em>Hippa adactyla</em></p> <p>Dari hasil penelitian ini didapatkan rata-rata panjang karapas ± 2.86 cm, lebar karapas ± 2,10 cm, panjang total ±31,7 dan bobot tubuh ±3,98 cm. Proporsi betina 98% dan jantan 2%. Kandungan gizi <em>Hippa marmorata </em>pada penelitian ini meliputi kadar air sebesar 80.08%, kadar protein 9,21%, karbohidrat 0,75%, lemak 0,21% dan kadar abu 5,75%. <em>Hippa marmorata </em>dapat dijadikan pangan yang bernilai ekonomis tinggi serta merupakan salah satu alternatif sumber protein yang rendah lemak selain ikan dan biota laut lainnya.</p> 2025-11-28T00:00:00+08:00 Copyright (c) 2025 Prosiding Seminar Nasional Hasil-Hasil Penelitian https://ejurnal.politanikoe.ac.id/index.php/psnp/article/view/513 HASIL TANAMAN PARE YANG DIBERI PUPUK ORGANIK CAIR DARI BEBERAPA SUMBER ORGANIK PADA KONSENTRASI BERBEDA 2025-11-16T15:16:48+08:00 Norviana I. Loe novadeviyanti1977@gmail.com Nova D. Lussy novadeviyanti1977@gmail.com Heny M. C. Sine novadeviyanti1977@gmail.com Eko H. A. Juwaningsih novadeviyanti1977@gmail.com <p>Air kelapa (tua), daun lamtoro dan kelor, batang pisang, kulit buah pisang kepok, serta sabut kelapa dapat dibuat pupuk organik cair karena mengandung unsur hara khususnya N, P, dan K yang jika terurai dan diberikan pada konsentrasi tepat dapat mendukung pertumbuhan tanaman, seperti pare. Tanaman pare mengandung glukosida yaitu momordisin yang memberi rasa pahit (Arief <em>dkk</em>., 2022). dan berkhasiat sebagai antidiabetes, antiviral, antioksidan, dan antikanker (Riwayani, 2016). Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh dan mendapatkan&nbsp; konsentrasi POC tterbaik terhadap hasil pare khsuusnya berat buah per tanaman.</p> <p>Penelitian dilakukan di lahan petani Desa Penfui Timur sejak bulam Oktober–Desember 2024, menggunakan Rancangan Acak Kelompok dengan sembilan perlakuan dan tiga ulangan. Perlakuannya, yaitu: konsentrasi POC 0; 50; 100; 150; 200; 250; 300 ;350; dan 400 ml/l. Data dianalisis menggunakan sidik ragam dan jika terdapat pengaruh nyata maka dilanjutkan dengan uji beda nyata jujur 5%. Variabel yang diamati, yaitu berat buah per tanaman. POC dibuat dari daun lamtoro, daun kelor, batang pisang, kulit buah pisang kapok, sabut kelapa, dan air kelapa (tua), diberi larutan EM4 dan difermentasi selama 14 hari. Budidaya tanaman pare menggunakan POC yang telah dibuat dan diaplikaskan sesuai perlakuan, diberikan dari umur 14 hingga 53 HST, dosis 250 ml/tanaman dengan interval&nbsp; tiga hari sekali. Tanaman pare dipanen lima kali, umur 45, 48, 51, 54, 57 HST.</p> <p>Hasil penelitian menunjukkan bahwa pemberian POC dari beberapa sumber N, P, K organik 400 ml/l adalh konsnetrasi terbaik karena memberikan berat buah pare per tanaman terbesar yaitu 1.236,56 g (Tabel 1).</p> <p><strong>Tabel 1.</strong> Rerata Berat Buah Pare per Tanaman Akibat Pemberian POC dari Beberapa Sumber N, P, K Organik</p> <table width="595"> <tbody> <tr> <td width="295"> <p>Perlakuan (Konsentrasi POC)</p> </td> <td colspan="2" width="300"> <p>Berat Buah per Tanaman (g)</p> </td> </tr> <tr> <td width="295"> <p>0 ml/l</p> </td> <td width="161"> <p>266,00</p> </td> <td width="140"> <p>a</p> </td> </tr> <tr> <td width="295"> <p>50 ml/l</p> </td> <td width="161"> <p>304,33</p> </td> <td width="140"> <p>b</p> </td> </tr> <tr> <td width="295"> <p>100&nbsp; ml/l</p> </td> <td width="161"> <p>340,67</p> </td> <td width="140"> <p>c</p> </td> </tr> <tr> <td width="295"> <p>150 &nbsp;ml/l</p> </td> <td width="161"> <p>386,11</p> </td> <td width="140"> <p>d</p> </td> </tr> <tr> <td width="295"> <p>200 &nbsp;ml/l</p> </td> <td width="161"> <p>427,11</p> </td> <td width="140"> <p>e</p> </td> </tr> <tr> <td width="295"> <p>250 &nbsp;ml/l</p> </td> <td width="161"> <p>517,67</p> </td> <td width="140"> <p>f</p> </td> </tr> <tr> <td width="295"> <p>300 &nbsp;ml/l</p> </td> <td width="161"> <p>612,78</p> </td> <td width="140"> <p>g</p> </td> </tr> <tr> <td width="295"> <p>350 &nbsp;ml/l</p> </td> <td width="161"> <p>778,22</p> </td> <td width="140"> <p>h</p> </td> </tr> <tr> <td width="295"> <p>400 &nbsp;ml/l</p> </td> <td width="161"> <p>1.236,56</p> </td> <td width="140"> <p>i</p> </td> </tr> </tbody> </table> <p>Berat buah dipengaruhi oleh ketersediaan hara (N, P, dan K). Hara N membentuk protein dan enzim yang berperan dalam mempercepat pembelahan dan pemanjangan sel (Sutejo, 2002). P membentuk energi (ATP) untuk pembelahan dan diferensiasi sel (Hartati dan Rahmat, 2023). K berperan dalam transportasi air dan fotoasimilat ke buah (Bari, <em>dkk</em>., 2022). Peningkatan konsentrasi POC akan menambah kadar hara dalam pupuk sehingga penyerapan hara oleh akar tanaman makin besar yang direspon secara baik oleh tanaman untuk pertumbuhannya termasuk peningkatan berat buah. Hal ini terlihat dari bertambahnya berat buah sejalan dengan peningkatan konsentrasi POC dan tertinggi dicapai pada konsentrasi 400 ml/l. Pemberian POC dari beberapa sumber N, P, K organik 400 ml/l memberikan pengaruh terbaik terhadap berat buah pare per tanaman, yaitu: 1.236,56 g.</p> 2025-11-28T00:00:00+08:00 Copyright (c) 2025 Prosiding Seminar Nasional Hasil-Hasil Penelitian https://ejurnal.politanikoe.ac.id/index.php/psnp/article/view/514 STRATEGI PENERAPAN TEKNIK DIGITAL BRANDING KOPI LIBERIKA SAMBAS MELALUI ANALISIS SWOT DENGAN MATRIKS IFE-EFE 2025-11-16T15:21:40+08:00 Narti Prihartini narti.prihartini@gmail.com Milda Surgani Firdania narti.prihartini@gmail.com Fiqih Akbari narti.prihartini@gmail.com <p>Kabupaten Sambas sangat berpotensi untuk memproduksi produk olahan kopi khususnya jenis kopi liberika karena terdapat sentra kopi baik swadaya masyarakat maupun dikelola industri. Guna mendukung hal tersebut diperlukan adanya area sentra industri kopi dengan konsep teaching factory yang mendukung riset dan pengem-bangan produksi kopi skala besar. Dalam hal ini, Politeknik Negeri Sambas juga telah mempersiapkan Pusat Penelitian Kopi Liberika Indonesia sebagai bagian dari deklarasi Green Campus demi mendukung peningkatan ketaha-nan pangan serta mendukung produksi komo-ditas lokal agar lebih dikenal luas oleh khalayak umum (A'an, 2025). Tujuan riset ini diharapkan mampu mengidentifikasi kebutuhan serta mengoptimalkan pemanfaatan multimedia dalam Digital Branding (Nugroho &amp; Yuniarti, 2023) Kopi Liberika Sambas berbasis teaching factory dan menjadi kontribusi kampus dalam pengem-bangan industri kopi Liberika di Kabupaten Sambas. Analisis SWOT (Savitri, Dolorosa, &amp; Aritonang, 2023) serta peman-faatan multimedia, dapat digunakan untuk memaksimalkan proses digital branding kopi liberika Sambas.<br>Metode yang dilakukan dalam penelitian ini adalah kualitatif deskriptif yang memiliki tujuan untuk menjelaskan fenomena sedalam mungkin dengan bantuan pengumpulan data untuk tahap analisis selanjutnya berdasarkan teori apa yang diamati. Analisa awal dari pengumpulan data kemudian dipetakan sesuai dengan kategorinya dengan analisis SWOT (Maghfiroh, Janari, Indrawati, &amp; Purnomo, 2022), baik itu kekuatan (strength), kelemahan (weakness), peluang (opportunity), dan ancaman (threat). Faktor strategis internal dimasukkan dalam suatu matriks Internal Factor Evaluation (IFE) dan faktor strategis eksternal masuk kedalam matriks External Factor Evaluation (EFE). <br>Berdasarkan analisis dan perhitungan SWOT dengan matriks IFE-EFE Potensi Kopi Liberika Sambas serta Digital Branding dari peran institusi diperoleh hasil sebagai berikut yaitu nilai total IFE: 2.95. Nilai ini berada di atas rata-rata (2.5), yang menunjukkan bahwa posisi internal secara keseluruhan kuat. Kekuatan yang dimiliki, terutama dukungan akademik dan keunikan produk, lebih dari mampu mengimbangi kelemahan yang ada. Nilai total EFE: 2.65. Nilai ini juga berada di atas rata-rata (2.5), yang menunjukkan bahwa organisasi (Poltesa dan mitranya) merespons dengan cukup efektif terhadap peluang dan ancaman yang ada di lingkungan eksternal. Peluang dari tren pasar sangat signifikan, sementara ancaman yang ada dapat dikelola dengan strategi yang tepat.<br>Berdasarkan analisis SWOT dan matriks IFE/EFE, strategi utama yang harus diambil adalah Strategi S-O (Growth Strategy) yaitu, memanfaatkan kekuatan penelitian Poltesa (S1, S5) dan keunikan produk (S3) untuk mengeksploitasi peluang tren kopi spesial (O1) dan pasar digital (O2), mengembangkan produk turunan inovatif (O2) melalui penelitian kolaboratif antara akademisi dan UMKM (S2, S4). Selain itu, diperlukan Strategi W-O (Turnaround Strategy), yaitu mengatasi kelemahan pengetahuan petani (W1) dan pemasaran (W2) dengan memanfaatkan peluang dukungan pemerintah (O4) dan kemampuan riset Poltesa (S1) untuk melakukan pelatihan dan pendampingan. Dengan total skor IFE (2.95) yang lebih tinggi dari EFE (2.65), menunjukkan bahwa fondasi internal yang kuat adalah aset terbesar untuk memanfaatkan peluang eksternal yang ada. </p> 2025-11-28T00:00:00+08:00 Copyright (c) 2025 Prosiding Seminar Nasional Hasil-Hasil Penelitian https://ejurnal.politanikoe.ac.id/index.php/psnp/article/view/515 POTENSI DAUN FALOAK SEBAGAI ANTIBAKTERI ALAMI UNTUK SAPI PERAH 2025-11-16T15:26:35+08:00 Theresia Ika Purwantiningsih theresiaicha@gmail.com Budi Prasetyo Widyobroto theresiaicha@gmail.com Yustina Yuni Suranindyah theresiaicha@gmail.com Wayan Tunas Artama theresiaicha@gmail.com <p>Mastitis merupakan salah satu penyakit yang umum pada sapi perah dan upaya preventif yang banyak dilakukan adalah celup puting. Penelitian ini bertujuan untuk mengevaluasi potensi ekstrak daun faloak sebagai alternatif larutan celup puting berbasis antibakteri alami. Sampel daun faloak kering diekstraksi dengan pelarut etanol 96%. Dilakukan analisis kuantitatif kandungan senyawa fenolik dan flavonoid serta pengujian antibakteri dengan metode difusi cakram terhadap tiga bakteri penyebab mastitis. Hasil analisis menunjukkan bahwa ekstrak daun faloak mengandung senyawa fenolik sebesar 81,164±0,188 GAE mg/g dan flavonoid sebesar 227,281±0,734 QE mg/g. Konsentrasi ekstrak 50% menunjukkan efektivitas yang setara dengan K<sup>+</sup> dalam menghambat pertumbuhan <em>Staphylococcus aureus</em>, sedangkan konsentrasi 30% dan 20% masing-masing menunjukkan efektivitas serupa K<sup>+</sup> terhadap <em>Escherichia coli</em> dan <em>Streptococcus agalactiae</em>. Dapat disimpulkan, ekstrak daun faloak memiliki potensi sebagai bahan antibakteri alami untuk larutan celup puting, karena memiliki kemampuan yang sama dengan larutan antibakteri komersial. Mastitis merupakan penyakit yang umum terjadi di peternakan sapi perah dan disebabkan oleh lebih dari 150 spesies bakteri patogen (Han <em>et al</em>., 2022).</p> <p>Manfaat celup puting telah dibuktikan oleh sejumlah hasil penelitian di lapangan yang menunjukkan bahwa celup puting dapat mencegah dan mengurangi mastitis. Beberapa larutan celup puting dapat menimbulkan iritasi dan menimbulkan lesi pada kulit puting. Sumber iritasi dari larutan celup berasal dari komposisi kimia di dalamnya, selain itu adanya residu yang masuk ke dalam susu (Nururrozi <em>et al</em>., 2020). Bahan alam dipilih sebagai alternatif pengganti antibakteri komersial. Sampel daun faloak kering dimaserasi dengan pelarut etanol 96%. Pengukuran kadar senyawa fenolik dan flavonoid berdasarkan metode yang dilakukan oleh Jeyaraj <em>et al</em>. (2021). Pengujian antibakteri terhadap bakteri penyebab mastitis menggunakan metode difusi cakram (Katili <em>et al</em>., 2020).</p> <p>Hasil analisis kuantitatif senyawa fenol dan flavonoid pada ekstrak daun faloak ada pada Tabel 1.</p> <p><strong>Tabel 1. </strong>Analisis kuantitatif senyawa fenol dan flavonoid ekstrak daun faloak</p> <table width="604"> <tbody> <tr> <td width="217"> <p>&nbsp;</p> </td> <td width="387"> <p>Kandungan senyawa pada daun faloak</p> </td> </tr> <tr> <td width="217"> <p>Senyawa fenol (GAE mg/g)</p> </td> <td width="387"> <p>81,164±0,188</p> </td> </tr> <tr> <td width="217"> <p>Senyawa flavonoid (QE mg/g)</p> </td> <td width="387"> <p>227,281±0,734</p> </td> </tr> </tbody> </table> <p>Hasil pengujian antibakteri terhadap bakteri penyebab mastitis dapat dilihat pada Tabel 2.</p> <p><strong>Tabel 2.</strong> Hasil uji antibakteri ekstrak daun faloak terhadap bakteri penyebab mastitis (mm)</p> <table width="586"> <tbody> <tr> <td width="85"> <p>Bakteri</p> </td> <td width="66"> <p>K+</p> </td> <td width="38"> <p>K-</p> </td> <td width="66"> <p>5%</p> </td> <td width="66"> <p>10%</p> </td> <td width="66"> <p>20%</p> </td> <td width="66"> <p>30%</p> </td> <td width="66"> <p>40%</p> </td> <td width="66"> <p>50%</p> </td> </tr> <tr> <td width="85"> <p><em>S. aureus</em></p> </td> <td width="66"> <p>10,9±0,4<sup>e</sup></p> </td> <td width="38"> <p>0±0<sup>a</sup></p> </td> <td width="66"> <p>0±0<sup>a</sup></p> </td> <td width="66"> <p>8,5±0,3<sup>b</sup></p> </td> <td width="66"> <p>9,5±0,3<sup>c</sup></p> </td> <td width="66"> <p>9,8±0,6<sup>c,d</sup></p> </td> <td width="66"> <p>10,2±0,6<sup>d</sup></p> </td> <td width="66"> <p>11,0±0,8<sup>e</sup></p> </td> </tr> <tr> <td width="85"> <p><em>E. coli</em></p> </td> <td width="66"> <p>10,2±0,5<sup>d</sup></p> </td> <td width="38"> <p>0±0<sup>a</sup></p> </td> <td width="66"> <p>0±0<sup>a</sup></p> </td> <td width="66"> <p>8,4±0,3<sup>b</sup></p> </td> <td width="66"> <p>9,7±0,6<sup>c</sup></p> </td> <td width="66"> <p>10,3±0,4<sup>d</sup></p> </td> <td width="66"> <p>10,4±0,6<sup>d</sup></p> </td> <td width="66"> <p>10,5±0,2<sup>d</sup></p> </td> </tr> <tr> <td width="85"> <p><em>S. agalactiae</em></p> </td> <td width="66"> <p>11,2±0,1<sup>d</sup></p> </td> <td width="38"> <p>0±0<sup>a</sup></p> </td> <td width="66"> <p>9,8±0,2<sup>b</sup></p> </td> <td width="66"> <p>10,6±0,1<sup>c</sup></p> </td> <td width="66"> <p>11,2±0,3<sup>d</sup></p> </td> <td width="66"> <p>11,4±0,4<sup>d</sup></p> </td> <td width="66"> <p>12,0±0,5<sup>e</sup></p> </td> <td width="66"> <p>13,2±0,5<sup>f</sup></p> </td> </tr> </tbody> </table> <p>Ekstrak daun faloak memiliki potensi sebagai bahan antibakteri untuk mengurangi keparahan dan mencegah mastitis, sehingga dapat menjadi alternatif pengganti larutan antibakteri komersial yang selama ini digunakan oleh peternak sapi perah.</p> 2025-11-28T00:00:00+08:00 Copyright (c) 2025 Prosiding Seminar Nasional Hasil-Hasil Penelitian https://ejurnal.politanikoe.ac.id/index.php/psnp/article/view/516 STUDI ETNOBOTANI TENTANG JENIS TANAMAN OBAT DI KABUPATEN KUPANG 2025-11-16T15:35:18+08:00 Lora Septrianda Putri rynaldo024@gmail.com Kristianto Wibison So rynaldo024@gmail.com Adrin rynaldo024@gmail.com Mahardika Putra Purba rynaldo024@gmail.com Rynaldo Davinsy rynaldo024@gmail.com <p>Indonesia termasuk dalam lima besar negara megadiversitas dunia dengan lebih dari 9.600 spesies tanaman obat, 74% di antaranya tumbuh liar dan 26% telah dibudidayakan. Sekitar 80% tanaman obat di Asia Tenggara ditemukan di Indonesia, menjadikannya sumber penting pengembangan pengobatan tradisional (Kemenkes RI, 2020; Cahyaningsih <em>et al.,</em> 2021; Wasito, 2008; Syukur dan Hernani, 2003; Hertiani <em>et al.,</em> 2019). Masyarakat Desa Penfui Timur, Kabupaten Kupang, masih memanfaatkan berbagai bagian tumbuhan seperti daun, batang, kulit, getah, buah, hingga ulat kayu sebagai obat alami. Praktik ini mencerminkan kearifan lokal yang diwariskan turun-temurun, namun terancam hilang akibat modernisasi dan pergeseran ke obat sintetik (Sari <em>et al.,</em> 2022).</p> <p>Penelitian etnobotani berperan penting dalam mendokumentasikan pengetahuan lokal dan potensi ilmiah tanaman obat sebagai dasar pelestarian keanekaragaman hayati serta pengembangan produk herbal yang efektif. Penelitian dilaksanakan pada Mei–Juni 2025 menggunakan metode survei dengan observasi, wawancara, dan dokumentasi lapangan di pekarangan serta kebun masyarakat. Data yang diperoleh dianalisis secara deskriptif kualitatif mengacu pada <em>Kitab Tanaman Berkhasiat Obat</em> (Herbie, 2015).</p> <p>Penelitian menunjukan Masyarakat Desa Penfui Timur menanam tanaman obat tradisional di pekarangan rumah dan juga di lahan perkebunan belakang rumah. Berdasarkan hasil observasi dan wawancara Ditemukan <strong>26 </strong><strong>jenis</strong><strong> dari 22 <em>family</em> tanaman obat tradisional</strong> yang digunakan oleh masyarakat setempat. Bagian tanaman yang digunakan meliputi <strong>daun, batang, kulit batang, getah, buah, biji, umbi, dan bahkan ulat kayu</strong><strong>,</strong> dengan daun menjadi bagian yang paling sering dimanfaatkan karena mudah diperoleh dan kaya senyawa bioaktif, serta penggunaannya tidak merusak tanaman. Tanaman-tanaman tersebut digunakan untuk berbagai penyakit umum seperti diare, demam, luka, bisul, kolesterol, asam urat, tekanan darah tinggi, hingga penyakit metabolik seperti diabetes.</p> <p>Beberapa tanaman hasil observasi lapangan dan wawanacara yang umum digunakan antara untuk penyakit pencernaan, masyarakat menggunakan beberapa jenis tanaman seperti jambu biji (<em>Psidium guajava</em>); sirsak (<em>Annona muricata</em>) dan srikaya (<em>Annona squamosal</em>), belimbing wuluh (<em>Averrhoa bilimbi</em>); jotang kuda (<em>Synedrella nodiflora</em>); serta sirih cina (<em>Peperomia pellucida</em>); Tanaman binahong merah (<em>Anredera cordifolia</em>). Untuk penyakit kulit dan luka luar, digunakan kapuk (<em>Ceiba pentandra</em>); pulai (<em>Alstonia scholaris</em>); pisang (<em>Musa paradisiaca</em>); krinyuh (<em>Chromolaena odorata</em>); <em>Acalypha indica</em>; serta faloak (<em>Sterculia quadrifida</em>). Untuk penyakit demam dan infeksi sistemik, masyarakat menggunakan mengkudu (<em>Morinda citrifolia</em>); Tanaman jarak (<em>Coccinia grandis</em>); Tanaman kumis kucing (<em>Orthosiphon aristatus</em>). Untuk penyakit metabolik dan sistemik lainnya, kelor (<em>Moringa oleifera</em>); kersen (<em>Muntingia calabura</em>). Untuk penyakit tulang dan sendi, beringin (<em>Ficus benjamina</em>); tanaman patah tulang (<em>Euphorbia tirucalli</em>). Untuk gangguan pernapasan dan tenggorokan, masyarakat memanfaatkan tanaman pecut kuda (<em>Stachytarpheta jamaicensis</em>); tanaman kucing galak (<em>Acalypha indica</em>). Untuk masalah reproduksi dan wanita, jahe merah (<em>Zingiber officinale</em> var. rubrum); turi (<em>Sesbania grandiflora</em>).</p> 2025-11-28T00:00:00+08:00 Copyright (c) 2025 Prosiding Seminar Nasional Hasil-Hasil Penelitian https://ejurnal.politanikoe.ac.id/index.php/psnp/article/view/517 OPTIMALISASI KUALITAS MEDIA BUDIDAYA IKAN LELE (Clarias sp.) SISTEM BUDIKDAMBER MELALUI PENAMBAHAN BERBAGAI JENIS ARANG 2025-11-16T15:40:38+08:00 Susanti Maria Yosefa Salu niaseran92@gmail.com Klaudia Nia Seran niaseran92@gmail.com <p>Potensi budidaya perikanan di Nusa Tenggara Timur (NTT) saat ini sangat prospektif untuk dikembangkan. Namun pengembangan budidaya perikanan seringkali dihadapkan dengan berbagai permasalahan. Salah satu masalah dihadapi oleh pelaku usaha budidaya perikanan adalah keterbatasan air dan lahan yang sempit dalam mengembangkan usaha budidaya perikanan. Solusi dalam menangani hal ini adalah dengan menerapkan budikdamber pada lahan yang terbatas. Namun, kelemahan budikdamber adalah airnya yang cepat keruh dan berbau akibat dari penumpukan bahan organik hasil metabolism (Tanody dan Tasik, 2023). Salah satu upaya yang dapat dilakukan yaitu penambahan arang aktif pada media budidamber (Seran dan Salu, 2024). Arang Aktif dikenal sebagai karbon bebas yang mempunyai kemampuan daya serap (adsorpsi) yang baik karena memiliki pori-pori luas pada permukaannya (Sutrisno dan Totok, 2014). <br>Rancangan penelitian yang digunakan adalah rancangan acak lengkap (RAL) dengan empat perlakuan dan tiga ulangan (P1 (Budikdamber dengan penambahan arang tempurung kelapa 1 kg), P2 (Budikdamber dengan penambahan arang kayu kesambi 1 kg), P3 (Budikdamber dengan penambahan arang cangkang kemiri 1 kg) dan kontrol (Budikdamber tanpa arang). Tahapan penelitian yang dilakukan meliputi persiapan dan pembuatan wadah, pengadaan arang dan benih, penebaran benih dan penanaman kangkung, pemeliharaan ikan lele selama 90 hari, serta pemanenan. Parameter kualitas air yang diukur meliputi kadar amonia, kekeruhan, dan bau. <br>Hasil penelitian menunjukkan bahwa penambahan arang aktif ke dalam wadah budiday dapat menurunkan kadar amonia, kekeruhan, dan bau dibandingkan perlakuan tanpa arang. Pengukuran kadar amonia dilakukan selama 30 hari pertama sebelum proses pergantian air. Berdasarkan Gambar 1, terlihat bahwa perlakuan P1 dan P2 menghasilkan kadar amonia terendah pada kisaran 0–1 mg/L. Pada perlakuan P3 , kadar amonia berada pada kisaran 0–1,5 mg/L, sedangkan perlakuan kontrol menunjukkan kadar tertinggi, yaitu 0–2 mg/L. Hasil ini mengindikasikan bahwa penambahan arang ke dalam sistem budikdamber berperan efektif dalam menurunkan konsentrasi amonia pada media pemeliharaan ikan. Menurut Apriadi et al. (2017), arang memiliki kemampuan menyerap gas terlarut, logam berat, serta senyawa penyebab bau dan perubahan warna pada air. <br><br>&nbsp;<strong>Gambar 1. </strong>Hasil Pengukuran Kadar Amonia pada 30 Hari Pertama sebelum Pergantian Air<br>Perbedaan efektivitas antar jenis arang diduga disebabkan oleh variasi struktur pori dan kandungan karbon. Arang tempurung kelapa dan arang kayu kesambi diketahui memiliki porositas lebih tinggi serta luas permukaan lebih besar dibandingkan arang cangkang kemiri, sehingga kapasitas adsorpsinya terhadap amonia lebih optimal. Sebaliknya, Arang cangkang kemiri umumnya memiliki struktur pori dan luas permukaan yang lebih rendah, sehingga daya serapnya terhadap amonia sedikit lebih rendah. Selain itu, peningkatan konsentrasi amonia dalam media pemeliharaan umumnya beriringan dengan meningkatnya tingkat kekeruhan dan munculnya bau tidak sedap. Kondisi tersebut berkaitan dengan akumulasi bahan organik dan intensifikasi aktivitas mikrobiologis, sehingga menyebabkan penurunan kualitas fisik dan sensori air secara signifikan. Hasil penelitian ini membuktikan bahwa perlakuan P1 dan P2 paling efektif memperbaiki kualitas media budidaya ikan lele serta menjadi alternatif sederhana dan efisien untuk menjaga kualitas air pada sistem budikdamber.</p> 2025-11-28T00:00:00+08:00 Copyright (c) 2025 Prosiding Seminar Nasional Hasil-Hasil Penelitian https://ejurnal.politanikoe.ac.id/index.php/psnp/article/view/518 ANALISIS PENGARUH ATRIBUT PRODUK TERHADAP JUMLAH PEMBELIAN ITIK DI PASAR TRADISIONAL, KOTA MAKASSAR 2025-11-16T15:45:13+08:00 Windiana windiana@unhas.ac.id Kasmiyati Kasim windiana@unhas.ac.id Muh. Ridwan windiana@unhas.ac.id Mita Arifa Hakim windiana@unhas.ac.id <p>Itik memiliki prospek yang cukup baik karena mampu menghasilkan dua produk utama, yaitu daging dan telur. Dibandingkan dengan jenis unggas lainnya, itik memiliki ketahanan tubuh yang tidak rentan terkena serangan penyakit. Kondisi ini menyebabkan usaha peternakan itik memiliki tingkat risiko yang lebih rendah, sehingga peluang pengembangannya dinilai cukup menjanjikan (Nugraha, 2013).</p> <p>Permintaan masyarakat terhadap daging itik memperlihatkan tren peningkatan setiap tahunnya. Kenaikan ini terutama dipengaruhi oleh bertambahnya preferensi konsumen terhadap produk olahan itik.. Meluasnya penyediaan menu itik di berbagai jenis usaha makanan turut mendorong tingginya kebutuhan pasar terhadap daging itik (Windhayarti, 2010). Pada tahapan pengambilan keputusan pembelian, individu mempunyai ruang untuk menentukan produk yang paling sesuai kebutuhan atau selera pribadinya (Rumape <em>et al</em>., 2022)</p> <p>Adapun Hasil regresi linier berganda pengaruh atribut terhadap jumlah pembelian itik disajikan pada Tabel 1 berikut:</p> <p><strong>Tabel 1.</strong> Hasil Regresi Linier Berganda Pengaruh Atribut terhadap Jumlah Pembelian</p> <table width="606"> <tbody> <tr> <td colspan="2" rowspan="2" width="170"> <p>Model</p> </td> <td colspan="2" width="182"> <p>Unstandardized Coefficients</p> </td> <td width="123"> <p>Standardized Coefficients</p> </td> <td rowspan="2" width="71"> <p>T</p> </td> <td rowspan="2" width="59"> <p>Sig.</p> </td> </tr> <tr> <td width="86"> <p>B</p> </td> <td width="96"> <p>Std. Error</p> </td> <td width="123"> <p>Beta</p> </td> </tr> <tr> <td rowspan="7" width="40"> <p>1</p> </td> <td width="130"> <p>(Constant)</p> </td> <td width="86"> <p>-7.218</p> </td> <td width="96"> <p>1.571</p> </td> <td width="123"> <p>&nbsp;</p> </td> <td width="71"> <p>-4.593</p> </td> <td width="59"> <p>.000</p> </td> </tr> <tr> <td width="130"> <p>Pelayanan</p> </td> <td width="86"> <p>.452</p> </td> <td width="96"> <p>.133</p> </td> <td width="123"> <p>.271</p> </td> <td width="71"> <p>3.399</p> </td> <td width="59"> <p>.001</p> </td> </tr> <tr> <td width="130"> <p>Kepraktisan</p> </td> <td width="86"> <p>.718</p> </td> <td width="96"> <p>.195</p> </td> <td width="123"> <p>.270</p> </td> <td width="71"> <p>3.675</p> </td> <td width="59"> <p>.000</p> </td> </tr> <tr> <td width="130"> <p>Harga</p> </td> <td width="86"> <p>.455</p> </td> <td width="96"> <p>.147</p> </td> <td width="123"> <p>.239</p> </td> <td width="71"> <p>3.101</p> </td> <td width="59"> <p>.003</p> </td> </tr> <tr> <td width="130"> <p>Ketersediaan</p> </td> <td width="86"> <p>.503</p> </td> <td width="96"> <p>.225</p> </td> <td width="123"> <p>.188</p> </td> <td width="71"> <p>2.239</p> </td> <td width="59"> <p>.028</p> </td> </tr> <tr> <td width="130"> <p>Ukuran.Tubuh</p> </td> <td width="86"> <p>.759</p> </td> <td width="96"> <p>.217</p> </td> <td width="123"> <p>.283</p> </td> <td width="71"> <p>3.497</p> </td> <td width="59"> <p>.001</p> </td> </tr> <tr> <td width="130"> <p>Fisik</p> </td> <td width="86"> <p>-.017</p> </td> <td width="96"> <p>.222</p> </td> <td width="123"> <p>-.006</p> </td> <td width="71"> <p>-.078</p> </td> <td width="59"> <p>.938</p> </td> </tr> </tbody> </table> <p>Keterangan: Data Primer, 2022</p> <p>Tabel uji parsial diatas menunjukkan bahwa variabel pelayanan, kepraktisan, harga, ketersediaan, dan ukuran tubuh berpengaruh signifikan terhadap jumlah pembelian itik. Hasil ini mengindikasikan bahwa konsumen lebih mempertimbangkan aspek kenyamanan dan kemudahan dalam memperoleh produk, termasuk kualitas pelayanan penjual, tingkat kepraktisan dalam proses transaksi, kesesuaian harga dengan nilai manfaat, keberlanjutan ketersediaan produk, serta ukuran tubuh itik yang sesuai dengan preferensi pasar. Sementara itu, variabel fisik itik tidak berpengaruh signifikan terhadap keputusan pembelian. Hal ini menunjukkan bahwa kondisi fisik secara visual tidak menjadi faktor penentu utama dalam proses pengambilan keputusan pembelian, karena pembeli lebih menitikberatkan pada kriteria fungsional dan ekonomi dibanding tampilan luar produk.</p> 2025-11-28T00:00:00+08:00 Copyright (c) 2025 Prosiding Seminar Nasional Hasil-Hasil Penelitian https://ejurnal.politanikoe.ac.id/index.php/psnp/article/view/519 UJI PROKSIMAT INOVASI BOTOK IKAN KERING KHAS SAMBAS 2025-11-16T15:49:13+08:00 Nur Istiqamah inonkistiqamah@gmail.com Saifullah inonkistiqamah@gmail.com Uray Januardy inonkistiqamah@gmail.com <p>Botok ikan khas Sambas adalah salah satu jenis lauk yang dihidangkan dalam berbagai momen acara besar maupun sajian lauk sehari-hari dan memiliki umur simpan yang singkat karena hanya dimasak dengan cara dikukus atau direbus. Perlunya inovasi pada botok ikan ini agar umur simpan lebih lama dan mudah dibawa dijadikan oleh- oleh makanan khas Sambas. Botok ikan adalah salah satu olahan makanan khas masyarakat Sambas yang memiliki cita rasa unik. Campuran bumbu khas seperti daun kesum, daun kunyit dan daun mengkudu memberikan citarasa berbeda dari botok ikan yang ada pada daerah lain di Indonesia. Ikan yang dijadikan botok bisa berupa ikan air tawar maupun ikan laut.</p> <p>Penelitian ini dengan metode uji proksimat bertujuan untuk mengetahui kadar air, kadar abu, kadar lemak, kadar protein dan kadar karbohidrat pada inovasi botok ikan kering khas Sambas. Hasil uji proksimat dapat digunakan untuk memastikan produk botok ikan kering ke depannya dapat memenuhi standar kualitas pangan sehingga bisa memaksimalkan peluang kompetisi di pasar yang lebih luas. Pengamatan pada saat penelitian botok ikan kering dikemas dalam plastik kemasan standing pouch <em>zipper</em> transparan.</p> <p>Berdasarkan hasil penelitian umur simpan botok ikan kering bisa bertahan selama 2 minggu dalam suhu ruang dan bisa bertahan 1 bulan jika disimpan dilemari es dengan suhu 2<sup>0</sup>C. Sedangkan botok ikan yang dikukus cuma bisa bertahan 1 hari saja jika tidak disimpan di lemari es atau dikukus kembali agar tidak basi. Hasil uji kadar air menunjukkan botok ikan gabus memiliki kadar air lebih tinggi dibandingkan ikan kadar air botok ikan mata besar, botok ikan nila dan botok ikan tongkol. Tingginya kadar air mungkin dipengaruhi oleh komposisi bahan pelengkap pembuatan botok dan pada residu daging ikan gabus yang mengandung sekitar 35,1104 % air. Jumlah komposisi dan jenis mineral yang terkandung bahan baku botok ikan kering akan mempengaruhi persentase kandungan mineral dan bahan anorganik yang terkandung di dalamnya. Kadar abu dalam botok ikan kering bervariasi 2,7945 % untuk botok ikan gabus, 2,3961 % botok ikan mata besar, 2,4023 % botok ikan nila dan 2,6435 % botok ikan tongkol. Mineral botok ikan kering bersumber dari bahan baku seperti ikan yang mengandung magnesium (Mg), iodium (I), zat besi ( Fe), seng (Zn). Bahan lainnya seperti daun kesum mengandung mineral seperti kalium (K), kalsium (Ca) dan fosfor (P). Daun mengkudu mengandung kalsium (Ca), fosfor (P), zat besi ( Fe), magnesium (Mg), dan seng (Zn). Kadar lemak dalam botok ikan kering dipengaruhi oleh komposisi bahan bakunya yaitu berasal dari lemak ikan yang digunakan, lemak kelapa sangrai, minyak yang digunakan untuk menumis bumbu serta lemak yang terkandung pada bumbu yang digunakan. (Ariningsih et al., 2020). Hasil uji kadar lemak botok ikan kering menunjukkan bahwa botok ikan tongkol memiliki kadar lemak yang paling tinggi yaitu sebesar 53,0894 %. Kadar protein yang terkandung di dalam botok ikan kering paling tinggi yaitu botok ikan nila sebesar 26, 0582 %, botok ikan tongkol 23,0562 %, botok ikan mata besar 22,8513 % dan botok ikan gabus 19,1118 %. Berdasarkan hasil uji protein bahwa ikan nila bisa dijadikan referensi bahan baku botok ikan Sambas. Selama ini ikan tongkol sering menjadi bahan baku botok ikan, mungkin karena minimnya informasi mengenai nilai gizi ikan, serta kemudahan untuk mendapatkan bahan baku ikan tersebut, sehingga masyarakat memilih ikan tongkol sebagai bahan baku. Hasil uji karbohidrat menunjukkan bahwa botok ikan gabus memiliki kandungan karbohidrat paling tinggi yaitu 6,1199 %, botok ikan nila 4,7016 %, botok ikan mata besar 4,6847 % dan botok ikan tongkol 4,5983 %. Berdasarkan hasil uji proksimat ikan laut seperti ikan mata besar dan ikan tongkol lebih baik untuk dijadikan produk botok ikan kering karena berdasarkan umur simpan bisa bertahan lebih lama. Umur simpan botok ikan kering jenis ikan mata besar dan ikan tongkol lebih lama dibandingkan botok ikan gabus dan ikan nila karena dipengaruhi oleh kadar air dan komposisi kimia yang terkandung di dalamnya.</p> 2025-11-28T00:00:00+08:00 Copyright (c) 2025 Prosiding Seminar Nasional Hasil-Hasil Penelitian https://ejurnal.politanikoe.ac.id/index.php/psnp/article/view/520 EVALUASI KANDUNGAN MINERAL DAN SIFAT FISIK TEPUNG BERAS DENGAN VARIASI PENAMBAHAN TEPUNG DAUN KELOR 2025-11-16T15:54:01+08:00 Irwan irwan.vokasi@unhas.ac.id St. Hartini Djalil irwan.vokasi@unhas.ac.id Ariella Ramadhani Putri irwan.vokasi@unhas.ac.id Arfina Sukmawati Arifin irwan.vokasi@unhas.ac.id Noor Aliyah Harris irwan.vokasi@unhas.ac.id <p>Pada proses penggilingan padi menghasilkan hasil samping berupa beras patah atau sering dikenal dengan menir sebesar 2%. Menir merupakan beras pecah dengan ukuran 0,2 bagian dari beras utuh. Umumnya menir dijadikan sebagai pakan ternak karena menir dianggap tidak memiliki nilai jual. Padahal jika dilihat lebih jauh, menir dapat dimanfaatkan sebagai bahan baku/produk intermediet dalam pembuatan produk turunan yang menggunakan bahan dasar tepung beras. Dengan demikian nilai ekonomi dari menir dapat ditingkatkan. Penelitian Fitriani <em>et al</em>. (2021), menuliskan bahwa beras menir masih memiliki kandungan gizi yang setara dengan beras utuh, sehingga perlu diolah lebih lanjut. Menir diketahui memiliki protein 8,18%, lemak 1,07%, karbohidrat 89,81%, air 12,45%, abu 0,94% dan serat 2,13%. Sedangkan beras utuh memiliki protein 7,2%, lemak 0,9%, karbohidrat 79,43%, air 11,8%, abu 0,67% dan serat 0,5% (Fitriani <em>et al</em>., 2021). Di sisi lain, untuk memberikan nilai inovasi terhadap terunan menir menjadi tepung beras/produk intermediet, dapat dilakukan dengan subtitusi bahan lain seperti daun kelor. Daun kelor mengandung asam amino esensial yang tinggi, juga mengandung sejumlah besar kalium, kalsium, magnesium, dan vitamin C, E, dan A. Seratus gram daun kelor kering mengandung 36,9 g karbohidrat, 24,6 g protein, 6,3 g lemak, 32,5 mg zat besi, 28,6 g serat, dan 3,6 mg vitamin A (Iwansyah <em>et al</em>., 2022). Oleh karena itu, pada penelitian dilakukan kajian terkait dengan kombinasi tepung daun kelor pada pembuatan tepung beras bernutrisi. Penelitian dirancang dengan rancangan acak lengkap dengan variasi substitusi tepung daun kelor yaitu (0%, 5%, 15% dan 25%) dan dibandingkan dengan tepung beras utuh. Kemudian dilanjutkan dengan analisis kandungan mineral yang terdiri dari Fe, Ca dan K serta sifat fisik yang terdiri dari daya serap air, daya serap minyak, densitas kamba dan warna.</p> <p>&nbsp; &nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;</p> <p>(a)&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp; (b)&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp; (c)</p> <p><strong>Gambar 1. </strong>Hasil Analisa (a) kadar fe; (b) kadar Ca; dan (c) kadar K pada Berbagai Perlakuan</p> <p>Hasil penelitian menunjukkan bahwa penambahan tepung daun kelor secara signifikan meningkatkan kandungan zat besi, kalsium dan kalium dengan nilai tertinggi pada substitusi 25% (Fe 4,57; Ca 955,70; dan K 2,73 mg/100g). Penambahan tepung daun kelor memperbaiki daya serap air dan minyak yang mengindikasikan potensi pengikatan cairan yang lebih baik, menurunkan densitas kamba, serta meningkatkan intensitas warna hijau dan menurunnya drajat putih. Kombinasi tepung menir dan daun kelor memiliki potensi untuk pengembangan bahan pangan fungsional dengan nutrisi mineral dan karakteristik fisik yang lebih baik.</p> 2025-11-28T00:00:00+08:00 Copyright (c) 2025 Prosiding Seminar Nasional Hasil-Hasil Penelitian https://ejurnal.politanikoe.ac.id/index.php/psnp/article/view/536 INTEGRASI SEKTOR PERTANIAN DAN PARIWISATA DALAM PERSPEKTIF PETANI: IMPLIKASINYA TERHADAP KEMISKINAN DI WILAYAH PEDESAAN NTT 2025-11-22T18:33:59+08:00 Dina V. Sinlae dina_sinlae@yahoo.com Melgiana S. Medah dina_sinlae@yahoo.com Semi E. Sir Lalang dina_sinlae@yahoo.com <p>Sektor pertanian merupakan tulang punggung ekonomi Nusa Tenggara Timur (NTT), dengan kontribusi terbesar terhadap Produk Domestik Regional Bruto (PDRB) dan sebagai penyerap tenaga kerja utama di wilayah ini (BPS Provinsi NTT, 2024). Ketahanan sektor ini terbukti selama pandemi COVID-19, ketika sektor pertanian tetap menunjukkan pertumbuhan positif, sementara sektor lain mengalami kontraksi. Di sisi lain, sektor pariwisata kini menjadi fokus pembangunan daerah, terutama sejak penetapan Labuan Bajo sebagai destinasi wisata premium nasional (Anju &amp; Rohana, 2021; Hirodias et al., 2022). Kedua sektor ini memiliki potensi sinergi yang besar dalam mendorong pembangunan inklusif dan pengurangan kemiskinan serta stunting di wilayah pedesaan .</p> <p>Artikel ini didasarkan pada hasil Focus Group Discussion (FGD) dan wawancara mendalam dengan petani di Kabupaten Kupang dan Kabupaten Timor Tengah Selatan (TTS). Pengumpulan data dilakukan sejak Juni hingga September 2025. Pendekatan kualitatif digunakan untuk menggali persepsi petani terhadap peluang dan tantangan integrasi sektor pertanian dan pariwisata. Analisa data menggunakan analisis tematik (Saldana, 2011)</p> <p>Petani menyadari potensi ekonomi dari keterlibatan dalam rantai pasok pariwisata, seperti penyediaan produk segar untuk hotel dan restoran. Namun, hubungan jangka panjang yang telah terjalin dengan pedagang pengumpul tetap menjadi preferensi utama. Pedagang pengumpul dianggap lebih dapat diandalkan dalam hal kontinuitas pembelian, fleksibilitas pembayaran, dan dukungan sosial (Larsen &amp; Bærenholdt, 2019; Nunkoo, 2017). Meskipun pelaku pariwisata menawarkan harga lebih tinggi, mereka belum mampu menggantikan fungsi sosial yang ditawarkan pedagang pengumpul.</p> <p>Integrasi sektor pertanian dan pariwisata berpotensi meningkatkan kesejahteraan masyarakat lokal melalui diversifikasi pendapatan dan peningkatan akses pasar. Namun, integrasi ini tidak dapat dilakukan secara instan. Penguatan kemitraan antar pelaku—petani, pedagang pengumpul, pelaku pariwisata, dan pemerintah daerah—merupakan langkah awal yang krusial. Tanpa pendekatan kolaboratif dan pemetaan peran yang jelas, integrasi ini berisiko menciptakan ketimpangan baru dan konflik kepentingan (Macbeth et al., 2004).</p> <p>Integrasi sektor pertanian dan pariwisata di NTT memiliki potensi besar untuk menekan angka kemiskinan dan stunting, namun harus dimulai dengan penguatan kemitraan lokal dan pemahaman terhadap dinamika sosial-ekonomi petani. Pemerintah daerah perlu merancang kebijakan intersektoral yang inklusif, menyediakan pelatihan berbasis komunitas, dan mendorong model bisnis yang adil dan berkelanjutan. Pendekatan partisipatif dan berbasis relasi sosial menjadi kunci keberhasilan integrasi ini.</p> 2025-11-28T00:00:00+08:00 Copyright (c) 2025 Prosiding Seminar Nasional Hasil-Hasil Penelitian https://ejurnal.politanikoe.ac.id/index.php/psnp/article/view/523 PERUBAHAN KANDUNGAN NUTRISI KULIT KOPI HASIL FERMENTASI MENGGUNAKAN JENIS KAPANG 2025-11-16T17:43:54+08:00 Mita Arifa Hakim mitaarifahakim@unhas.ac.id Syahriani Syahrir mitaarifahakim@unhas.ac.id Windiana mitaarifahakim@unhas.ac.id Ichlasul Amal mitaarifahakim@unhas.ac.id <p>Limbah pertanian berperan sebagai salah satu penunjang untuk memenuhi kebutuhan pakan ternak. Limbah dari pertanian dan perkebunan yang tidak terpakai dapat dimanfaatkan sebagai pakan alternatif seperti limbah kakao, limbah wortel, serta kulit kopi (Daning dan karunia., 2018). Fermentasi merupakan pengolahan secara biologi, yaitu pengolahan dengan memanfaatkan mikroorganisme yang akan menghasilkan enzim untuk melakukan perubahan terhadap molekul kompleks seperti protein, karbohidrat dan lemak menjadi molekul yang lebih sederhana. Mikroorganisme yang dapat digunakan untuk fermentasi adalah <em>Aspergillus niger </em>dan <em>Trichoderma viride</em>.</p> <p>Penelitian terdiri dari dua tahap. Tahap pertama yaitu proses fermentasi di Laboratorium Volarisasi Pakan dan Limbah dan tahap kedua analisis kandungan nutris. Limbah kulit kopi yang telah difermentasi dikeringkan dalam oven dengan temperatur 60°C selama 24 jam, sampel siap untuk dianalisis Proksimat dan analisis Van soest. &nbsp; Penelitian disusun menggunakan Rancangan Acak Lengkap (RAL) yang terdiri dari 3 perlakuan dengan 5 kali ulangan sehingga terdapat 15 unit pengamatan. Perlakuannya terdiri dari&nbsp; P0 : Fermentasi tanpa Penambahan Inokulan, P1 : Fermentasi dengan <em>Trichoderma </em><em>viride</em><em>, </em>P2 : Fermentasi Dengan <em>Aspergillus niger. </em>Parameter yang diamati pada penelitian ini adalah kandungan nutrisi limbah kulit buah kopi yang difermentasi menggunakan mikroba <em>Trichoderma viride </em>dan <em>Aspergillus niger</em>.</p> <p><br>Berat&nbsp;Nutrisi (g) dan Kandungan Nutrisi (%) Limbah Kulit Kopi yang difermentasi menggunakan Mikroba <em>Tricoderma viride</em> dan <em>Aspergillus niger</em>.</p> <p>&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp; a&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp; <strong>&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;</strong>&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;b&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;</p> <p><strong>&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp; Gambar 1</strong>. Penurunan Berat Nutrisi (a=ADF (g); b= ADF (g))</p> <p>&nbsp;</p> <p><strong>Tabel 1. </strong>Kandungan Nutrisi Limbah Kulit Kopi yang difermentasi menggunakan Mikroba<em>Trichoderma viride </em>dan <em>Aspergillus niger</em></p> <table width="617"> <tbody> <tr> <td rowspan="2" width="293"> <p><strong>Parameter</strong></p> </td> <td colspan="3" width="324"> <p><strong>Perlakuan</strong></p> </td> </tr> <tr> <td width="108"> <p>P0</p> </td> <td width="108"> <p>P1</p> </td> <td width="108"> <p>P2</p> </td> </tr> <tr> <td width="293"> <p><strong>NDF (%)</strong></p> </td> <td width="108"> <p>69.86</p> </td> <td width="108"> <p>70.44</p> </td> <td width="108"> <p>69.55</p> </td> </tr> <tr> <td width="293"> <p><strong>ADF (%)</strong></p> </td> <td width="108"> <p>67.82</p> </td> <td width="108"> <p>67.27</p> </td> <td width="108"> <p>68.44</p> </td> </tr> </tbody> </table> <p>&nbsp;</p> <p>Hasil analisis sidik ragam menunjukkan bahwa perlakuan fermentasi dengan <em>Trichoderma viride</em> dan <em>Aspergillus niger </em>tidak memberikan pengaruh yang nyata (P&gt;0,05) terhadap kandungan nutrisi. Hal ini di sebabkan karena lama fermentasi belum mampu memperbaiki kandungan nutrisi limbah kulit kopi. Peningkatan kandungan nutrisi pada limbah kulit kopi disebabkan adanya&nbsp; penambahan massa mikroba dan penurunan kandungan nutrisi limbah kulit kopi disebabkan karena adanya degradasi oleh mikroba, Syahrir dkk. (2014). Nilai ADF dan NDF yang menurun menunjukkan kualitas pakan yang baik, dengan lama fermentasi terjadi perombakan dinding sel menjadi komponen yang lebih sederhana yaitu hemiselulosa dan glukosa selama proses fermentasi<strong>. </strong>Pemanfaatan mikroba sebagai teknologi fermentasi pengolahan limbah kulit dapat memperbaiki kandungan nutrisi (Wahyuni <em>et al</em>., 2023).</p> <p>Fermentasi limbah kulit kopi dengan <em>Trichoderma viride</em> dan <em>Aspergillus niger</em> selama 14 hari menunjukkan adanya perubahan signifikan pada komposisi kandungan nutrisinya.</p> 2025-11-28T00:00:00+08:00 Copyright (c) 2025 Prosiding Seminar Nasional Hasil-Hasil Penelitian https://ejurnal.politanikoe.ac.id/index.php/psnp/article/view/524 ANALISIS RISIKO KUALITATIF PENYAKIT MULUT DAN KUKU (PMK) DI TIMOR BARAT BERDASARKAN SURVEI PENDAPAT AHLI 2025-11-16T17:52:01+08:00 Petrus Malo Bulu pmalobulu@yahoo.com Paulus Pasau pmalobulu@yahoo.com Victor Lenda pmalobulu@yahoo.com Ewaldus Wera pmalobulu@yahoo.com Eni Rohyati pmalobulu@yahoo.com Elfirst Th. Ch. Welkis pmalobulu@yahoo.com Feny Apriani Lali Bili pmalobulu@yahoo.com Marlina Muchlis pmalobulu@yahoo.com Anita S. Lasakar pmalobulu@yahoo.com <p>Penyakit Mulut dan Kuku (PMK) merupakan salah satu penyakit hewan menular yang sangat berpengaruh terhadap kesehatan ternak, perdagangan, dan ketahanan pangan. Penyakit ini bersifat sangat menular dan mampu menyebar cepat melalui kontak langsung maupun tidak langsung antar hewan (Knight-Jones &amp; Rushton, 2013; Paton et al., 2018). Di Indonesia, PMK telah menjadi perhatian utama sejak kasus kembali muncul pada tahun 2022, menimbulkan dampak sosial ekonomi yang signifikan (Dede et al., 2025) (Direktorat Jenderal Peternakan dan Kesehatan Hewan, 2022). Timor Barat sebagai wilayah perbatasan dengan mobilitas ternak yang tinggi memiliki kerentanan yang besar terhadap masuk dan menyebarnya PMK. Penilaian risiko kualitatif menjadi salah satu pendekatan penting untuk memahami tingkat ancaman PMK dan memandu strategi mitigasi berbasis bukti. Penelitian ini bertujuan melakukan analisis risiko kualitatif PMK di Timor Barat dengan menggunakan survei pendapat ahli, sehingga dapat memberikan masukan untuk kebijakan pengendalian penyakit.</p> <p>Studi ini menggunakan pendekatan Qualitative Risk Assessment (QRA) berdasarkan kerangka analisis risiko Organisasi Kesehatan Hewan Dunia (OIE, 2010). Responden. Sebanyak 13 responden terlibat, terdiri atas dokter hewan, petugas lapangan, dan pejabat dinas terkait kesehatan hewan. Data dikumpulkan melalui kuesioner yang menilai risiko PMK pada tiga komponen utama: <em>Entry</em> (masuknya PMK ke wilayah), <em>Exposure</em> (paparan dan penyebaran antar hewan), Consequence (dampak ekonomi, sosial, dan kesehatan hewan). Jawaban responden dalam bentuk kategorikal (misalnya: rendah, sedang, tinggi) dianalisis secara deskriptif untuk menghitung proporsi. Hasil kemudian dipetakan dalam matriks risiko untuk menentukan tingkat risiko keseluruhan.Exposure (paparan): peluang penularan PMK di antara populasi ternak. <em>Consequence</em> (konsekuensi): dampak ekonomi, sosial, dan kesehatan hewan. Jawaban ahli dikompilasi, dianalisis secara deskriptif, lalu dipetakan ke dalam kategori risiko (rendah, sedang, tinggi). Survei menunjukkan bahwa: Pergerakan ternak dari luar wilayah masih sering terjadi, dengan pengawasan karantina yang tidak konsisten.Pencampuran hewan di pasar dan transportasi merupakan praktik umum. Biosekuriti di tingkat peternakan relatif lemah.Layanan veteriner dinilai terbatas. Kesiapsiagaan dalam menghadapi wabah masih rendah.Sebagian besar responden menilai biosekuriti “lemah” (65%) dan layanan veteriner “terbatas” (70%). Pencampuran ternak di pasar dilaporkan sering terjadi oleh lebih dari 60% responden. Analisis Jalur Risiko <em>Entry</em>: Tinggi – dipengaruhi oleh pergerakan ternak lintas wilayah tanpa pengawasan memadai. <em>Exposure</em>: Tinggi – karena pencampuran hewan dan lemahnya biosekuriti.<em>Consequence</em>: Tinggi – dampak ekonomi dan sosial signifikan jika terjadi wabah.Berdasarkan matriks risiko, kombinasi likelihood tinggi dan consequence tinggi menempatkan PMK di Timor Barat pada kategori High Risk.Diskusi. Hasil ini sejalan dengan temuan sebelumnya yang menegaskan bahwa mobilitas ternak, lemahnya karantina, dan rendahnya penerapan biosekuriti merupakan faktor kunci dalam penyebaran PMK di wilayah rawan (Nampanya <em>et al</em>., 2016). Temuan juga menyoroti perlunya intervensi prioritas: Penguatan pengawasan karantina. Pengendalian lalu lintas ilegal ternak. Penerapan isolasi hewan baru. Peningkatan biosekuriti peternakan. Kesiapan sistem deteksi dan respons cepat.Dalam jangka menengah–panjang, kebijakan perencanaan vaksinasi dan kompensasi bagi peternak terdampak penting untuk diperkuat. Analisis risiko kualitatif menunjukkan bahwa PMK di Timor Barat berada pada kategori High Risk. Temuan ini menegaskan perlunya penguatan pengawasan karantina, peningkatan biosekuriti, dan persiapan respons cepat terhadap wabah. Hasil penelitian ini dapat menjadi dasar ilmiah bagi pembuat kebijakan dalam menyusun strategi pencegahan dan pengendalian PMK di wilayah perbatasan.</p> <p>&nbsp;</p> 2025-11-28T00:00:00+08:00 Copyright (c) 2025 Prosiding Seminar Nasional Hasil-Hasil Penelitian https://ejurnal.politanikoe.ac.id/index.php/psnp/article/view/525 PEMANFAATAN SERAT BUAH LONTAR SEBAGAI BAHAN BAKU SELULOSA UNTUK PEMBUATAN BIOPLASTIK INOVATIF 2025-11-16T20:54:32+08:00 Anastasia Grandivoriana Nomi nomianastasya@gmail.com Christin H. Bonnu nomianastasya@gmail.com <p>Pencemaan lingkungan menjadi masalah serius baik bagi negara maju maupun negara berkembang. Industri plastik dianggap sebagai salah satu industri yang memproduksi bahan polimer sintetik (Beevi <em>et al</em>., 2020). Kebutuhan akan plastik di Indonesia mengalami peningkatan setiap tahunnya. Melalui penelitian ini diharapkan dapat menghasilkan bioplastik dengan bahan dasar selulosa dari serat buah lontar (Akshana <em>et al</em>., 2024). Penelitian dilaksanakan di Laboratorium Terpadu Politeknik Pertanian Negeri Kupang yang berlangsung dari bulan Juli hingga September 2025. Buah lontar yang sudah dikumpulkan kemudian dipisahkan bagian biji, serat dan kulitnya. Serat yang telah dipisahkan dicuci hinggga bersih dan dikeringkan di bawah sinar matahari selama 3 hari dengan tujuan untuk menghilangkan kandungan air di dalam serat lontar. Setelah dikeringkan, serat lontar dihancurkan menggunakan blender dan diayak menggunakan ayakan ukuran 80 mesh lalu dilakukan alkali treatment Formulasi pembuatan bioplastik merujuk pada penelitian yang dilakukan (Akshana <em>et al</em>., 2024) dengan perbandingan 5 g Selulosa serat buah lontar : 1 g Gelatin : 1,5 g Glicerin : 93 mL Akuades. Proses pembuatan bioplastik membutuhkan bahan aditif seperti <em>plasticizer </em>dan <em>filler</em>, kemudian dilanjutkan dengan proses fisika meliputi <em>laminating</em>, cetakan injeksi atau ekstrusi sehingga terbentuk lembaran. Preparasi sampel serat buah lontar dilakukan dengan dicuci dan dikeringkan selama 3 hari dibawah matahari sehingga mudah dihancurkan menggunakan blender lalu disaring menggunakan saringan 80 mesh. Pengeringan dilakukan dengan tujuan agar berat sampel lebih konstan, menjaga struktur serat agar tidak mudah ditumbuhi mikroorganisme. Selain itu serat lontar yang kering akan menyerap larutan kimia dengan lebih baik saat proses delignifikasi dan hidrolisis (Saputri <em>et al</em>., 2023). Delignifikasi diawali dengan proses alkali yang bertujuan untuk memecah ikatan lignin dan hemiselulosa. Selama proses berlangsung larutan NaOH 6% memutus ikatan antara lignin dan hemiselulosa dengan selulosa, sehingga struktur serat menjadi lebih longgar dan berpori. Proses ini menghasilkan serat dengan kandungan selulosa yang lebih tinggi dan struktur yang lebih bersih. Hasil yang diperoleh kemudian disaring dan dicuci hingga pH netral lalu dikeringkan menggunakan oven agar bisa dilanjutkan ke proses bleaching (pemutihan). Setelah melalui proses alkali, <em>bleaching </em>dan hidrolisis asam pada serat buah lontar, lignin terurai dan terpisah serta selulosa yang dihasilkan siap diaplikasikan sebagai bahan baku pembuatan bioplastik dengan formulasi yang telah ditentukan. Hasil yang diperoleh menunjukan terbentuknya bioplastik inovatif dengan bahan dasar selulosa dari serat buah lontar. Bioplastik yang dihasilkan memiliki penampilan yang homogen, bertekstur halus dan tidak mudah rapuh serta memiliki elastisitas yang baik. Selaiin itu, bioplastik yang dihasilkan memiliki permukaan yang rata dan transparan dan berpotensi untuk diaplikasikan sebagai bahan pengemas ramah lingkungan. Penambahan gliserin (<em>plasticizer</em>) dan gelatin&nbsp; juga berpengaruh dalam pembuatan bioplastik. Gliserin berfungsi untuk menurukan kekakuan bioplastik serta meningkatkan fleksibilitas dan elastisitas, sedangkan gelatin berfungsi sebagai pembentuk dasar struktur bioplastik dan meningkatkan kuat tarik <em>(tensile strength).</em> Kombinasi penambahan gliserin dan gelatin ini, menghasilkan bioplastik yang kuat namun tetap elastis, serta mudah terurai di lingkungan. Penelitian ini menunjukkan bahwa serat buah lontar (<em>Borassus flabelifer</em> Linn.) dapat dimanfaatkan sebagai sumber selulosa untuk pembuatan biplastik ramah lingkungan. Proses delignifikasi yang terdiri dari perlakuan alkali (NaOH 6%), <em>bleaching</em> (H<sub>2</sub>O<sub>2</sub> 4%), dan hidrolisis asam (H<sub>2</sub>SO<sub>4</sub> 10%) berhasil menghilangkan lignin dan hemiselulosa sehingga meningkatkan kemurnian selulosa. Hasil hidrolisis menunjukkan penurunan rendemen hingga 61,3%, yang menandakan terdegradasinya bagian amorf dan tersisanya selulosa kristalin. Selulosa yang dihasilkan memiliki warna lebih putih, tekstur halus dan siap diaplikasikan sebagai bahan dasar bioplastik. Bioplastik yang diperoleh memiliki permukaan halus, transparan, elastis serta tidak mudah rapuh dengan struktur yang homogen.</p> 2025-11-28T00:00:00+08:00 Copyright (c) 2025 Prosiding Seminar Nasional Hasil-Hasil Penelitian https://ejurnal.politanikoe.ac.id/index.php/psnp/article/view/526 ANALISIS STATUS KESUBURAN TANAH PADA LAHAN PERTANIAN DI DESA TANARAING KECAMATAN RINDI KABUPATEN SUMBA TIMUR 2025-11-16T21:02:43+08:00 Italia Danga Hinda martenngannji@unkriswina.ac.id Marten Umbu Nganji martenngannji@unkriswina.ac.id Suryani Kurniawi Kahi Leba Kapoe martenngannji@unkriswina.ac.id Uska Peku Jawang martenngannji@unkriswina.ac.id Yonce M. Killa martenngannji@unkriswina.ac.id Lusia Danga Lewu martenngannji@unkriswina.ac.id Melycorianda H. Ndapamuri martenngannji@unkriswina.ac.id <p>Lahan pertanian di Desa Tanaraing Kecamatan Rindi memiliki peran penting sebagai sumber utama mata pencaharian, penyedia bahan pangan, serta membantu ekonomi rumah tangga masyarakat di wilayah ini. Berdasarkan data luas lahan pangan berkelanjutan (LP2B) Kabupaten Sumba Timur tahun 2022, luas lahan pertanian di Desa Tanaraing mencapai 239,74 ha dengan penggunaan lahan padi sawah, jagung, kacang tanah, dan ubi kayu. Akan tetapi, penggunaan lahan pertanian di wilayah ini belum maksimal karena produksinya belum sesuai dengan standar produksi pangan nasional. Hal ini dapat menyebabkan lahan pertanian belum dikelola sesuai tingkat kesuburannya yang dapat mempengaruhi menurunnya hasil panen. Menurut Trisnawati (2022), menjelaskan bahwa kesuburan tanah berkaitan dengan kualitas tanah dalam mendukung aktivitas pertanian, yang dipengaruhi oleh berbagai sifat tanah, antara lain kandungan unsur hara esensial seperti nitrogen (N), fosfor (P), dan kalium (K), tingkat keasaman (pH), serta kemampuan tanah dalam menyimpan dan menyediakan nutrisi bagi tanaman. Menurut Muhammad (2019), mengatakan bahwa tanah dikategorikan subur apabila tanaman yang dibudidayakan dapat tumbuh dengan baik dan menghasilkan produksi yang tinggi secara berkelanjutan sepanjang waktu. Penelitian dilaksanakan di Desa Tanaraing Kabupaten Sumba Timur pada Bulan Maret 2025. Bahan yang digunakan dalam penelitian ini adalah sampel tanah dan bahan kimia. Alat yang digunakan adalah parang, kamera pada handphone, aplikasi Alpine Quest, alat tulis seperti pulpen atau spidol, kertas label, kantong plastik, serta berbagai perlengkapan laboratorium. Penelitian ini menerapkan metode survei yang dipadukan dengan pendekatan deskriptif kualitatif serta teknik purposive sampling. Dalam studi ini, titik sampel dipilih secara acak sebanyak 14 titik observasi yang mewakili lahan pertanian di Desa Tanaraing dengan total luas area sebesar 239,74 hektar. Penentuan status kesuburan tanah dilakukan menggunakan metode pencocokan (<em>matching</em>) berdasarkan kriteria kesuburan tanah dari Pusat Penelitian Tanah (PPT, 1995).</p> <p><strong>Tabel 1.</strong> Penentuan Status Kesuburan Tanah pada Lahan Pertanian di Desa Tanaraing</p> <table width="97%"> <tbody> <tr> <td width="11%"> <p><strong>Titik</strong></p> <p><strong>Sampel</strong></p> </td> <td width="14%"> <p><strong>KB</strong></p> <p><strong>%</strong></p> </td> <td width="14%"> <p><strong>KTK</strong></p> <p><strong>me/100g</strong></p> </td> <td width="16%"> <p><strong>C- organik</strong></p> <p><strong>%</strong></p> </td> <td width="14%"> <p><strong>P-total</strong></p> <p><strong>Mg/100g</strong></p> </td> <td width="14%"> <p><strong>K-total</strong></p> <p><strong>Mg/100g</strong></p> </td> <td width="16%"> <p><strong>Kesuburan Tanah</strong></p> </td> </tr> <tr> <td width="11%"> <p>1</p> </td> <td width="14%"> <p>80,93 (T)</p> </td> <td width="14%"> <p>40,48 (T)</p> </td> <td width="16%"> <p>2,15 (S)</p> </td> <td width="14%"> <p>57,01 (T)</p> </td> <td width="14%"> <p>37,35 (S)</p> </td> <td width="16%"> <p>Tinggi</p> </td> </tr> <tr> <td width="11%"> <p>2</p> </td> <td width="14%"> <p>67,06 (T)</p> </td> <td width="14%"> <p>32,34 (T)</p> </td> <td width="16%"> <p>0,53 (R)</p> </td> <td width="14%"> <p>15,44 (R)</p> </td> <td width="14%"> <p>21,38 (S)</p> </td> <td width="16%"> <p>Rendah</p> </td> </tr> <tr> <td width="11%"> <p>3</p> </td> <td width="14%"> <p>60,93 (T)</p> </td> <td width="14%"> <p>28,96 (T)</p> </td> <td width="16%"> <p>0,03 (R)</p> </td> <td width="14%"> <p>13,00 (R)</p> </td> <td width="14%"> <p>14,68 (S)</p> </td> <td width="16%"> <p>Rendah</p> </td> </tr> <tr> <td width="11%"> <p>4</p> </td> <td width="14%"> <p>69,87 (T)</p> </td> <td width="14%"> <p>31,36 (T)</p> </td> <td width="16%"> <p>0,63 (R)</p> </td> <td width="14%"> <p>18,47 (R)</p> </td> <td width="14%"> <p>21,75 (R)</p> </td> <td width="16%"> <p>Rendah</p> </td> </tr> <tr> <td width="11%"> <p>5</p> </td> <td width="14%"> <p>73,41 (T)</p> </td> <td width="14%"> <p>32,91 (T)</p> </td> <td width="16%"> <p>1,02 (R)</p> </td> <td width="14%"> <p>23,3 (S)</p> </td> <td width="14%"> <p>23,72 (S)</p> </td> <td width="16%"> <p>Sedang</p> </td> </tr> <tr> <td width="11%"> <p>6</p> </td> <td width="14%"> <p>74,19 (T)</p> </td> <td width="14%"> <p>36,99 (T)</p> </td> <td width="16%"> <p>1,33 (R)</p> </td> <td width="14%"> <p>34,1 (S)</p> </td> <td width="14%"> <p>29,52 (S)</p> </td> <td width="16%"> <p>Sedang</p> </td> </tr> <tr> <td width="11%"> <p>7</p> </td> <td width="14%"> <p>63,61 (T)</p> </td> <td width="14%"> <p>30,7 (T)</p> </td> <td width="16%"> <p>0,44 (R)</p> </td> <td width="14%"> <p>13,9 (R)</p> </td> <td width="14%"> <p>19,6 (S)</p> </td> <td width="16%"> <p>Rendah</p> </td> </tr> <tr> <td width="11%"> <p>8</p> </td> <td width="14%"> <p>62,07 (T)</p> </td> <td width="14%"> <p>29,32 (T)</p> </td> <td width="16%"> <p>0,07&nbsp; (R)</p> </td> <td width="14%"> <p>14,21 (R)</p> </td> <td width="14%"> <p>15,24 (R)</p> </td> <td width="16%"> <p>Rendah</p> </td> </tr> <tr> <td width="11%"> <p>9</p> </td> <td width="14%"> <p>60,01 (T)</p> </td> <td width="14%"> <p>30,67 (T)</p> </td> <td width="16%"> <p>0,33&nbsp; (R)</p> </td> <td width="14%"> <p>13,56 (R)</p> </td> <td width="14%"> <p>18,52 (R)</p> </td> <td width="16%"> <p>Rendah</p> </td> </tr> <tr> <td width="11%"> <p>10</p> </td> <td width="14%"> <p>62,37 (T)</p> </td> <td width="14%"> <p>29,22 (T)</p> </td> <td width="16%"> <p>0,08 (R)</p> </td> <td width="14%"> <p>14,33 (R)</p> </td> <td width="14%"> <p>15,21 (R)</p> </td> <td width="16%"> <p>Rendah</p> </td> </tr> <tr> <td width="11%"> <p>11</p> </td> <td width="14%"> <p>75,51 (T)</p> </td> <td width="14%"> <p>37,7 (T)</p> </td> <td width="16%"> <p>1,76 (R)</p> </td> <td width="14%"> <p>43,67 (T)</p> </td> <td width="14%"> <p>30,86 (S)</p> </td> <td width="16%"> <p>Sedang</p> </td> </tr> <tr> <td width="11%"> <p>12</p> </td> <td width="14%"> <p>86,16 (T)</p> </td> <td width="14%"> <p>40,6 (T)</p> </td> <td width="16%"> <p>3,97 (T)</p> </td> <td width="14%"> <p>91,65 (T)</p> </td> <td width="14%"> <p>52,09 (T)</p> </td> <td width="16%"> <p>Tinggi</p> </td> </tr> <tr> <td width="11%"> <p>13</p> </td> <td width="14%"> <p>83,98 (T)</p> </td> <td width="14%"> <p>40,53 (T)</p> </td> <td width="16%"> <p>3,33 (T)</p> </td> <td width="14%"> <p>88,62 (T)</p> </td> <td width="14%"> <p>46,51 (T)</p> </td> <td width="16%"> <p>Tinggi</p> </td> </tr> <tr> <td width="11%"> <p>14</p> </td> <td width="14%"> <p>82,89 (T)</p> </td> <td width="14%"> <p>40,14 (T)</p> </td> <td width="16%"> <p>3,24 (T)</p> </td> <td width="14%"> <p>83,41 (T)</p> </td> <td width="14%"> <p>43,98 (T)</p> </td> <td width="16%"> <p>Tinggi</p> </td> </tr> </tbody> </table> <p>Status kesuburan tanah pada lahan pertanian di Desa Tanaraing menunjukkan adanya variasi kategori kesuburan mulai dari rendah hingga tinggi. Secara keseluruhan, sebaran status kesuburan tanah di Desa Tanaraing dipengaruhi oleh rendahnya kandungan bahan organik serta hara makro P dan K di sebagian besar titik. Penambahan pupuk organik penting dilakukan karena bahan organik berperan sebagai sumber energi bagi mikroorganisme tanah, memperbaiki struktur tanah, meningkatkan kemampuan tanah menahan air dan unsur hara, serta meningkatkan ketersediaan hara fosfor dan kalium (Mendrofa &amp; Gulo, 2024). Rekomendasi&nbsp; penelitian ini adalah penambahan pupuk organik untuk meningkatkan kadar C organik, aplikasi pupuk fosfat dan kalium secara berimbang sesuai kebutuhan tanaman. Penambahan pupuk organik penting dilakukan karena bahan organik berperan sebagai sumber energi bagi mikroorganisme tanah, memperbaiki struktur tanah, meningkatkan kemampuan tanah menahan air dan unsur hara, dan ketersediaan hara fosfor dan kalium.</p> 2025-11-28T00:00:00+08:00 Copyright (c) 2025 Prosiding Seminar Nasional Hasil-Hasil Penelitian https://ejurnal.politanikoe.ac.id/index.php/psnp/article/view/463 EFEK FERMENTASI SUHU RUANG DAN EVAPORASI VAKUM TERHADAP WARNA DAN KADAR ALKOHOL WINE BUAH NAGA-NENAS 2025-11-01T18:39:12+08:00 Senni Juniawati Bunga senny30bunga@gmail.com Rikka Welhelmina Sir senny30bunga@gmail.com Ludia Simuruk Gasong senny30bunga@gmail.com <p><em>Wine</em> merupakan salah satu produk fermentasi yang populer karena cita rasanya yang khas serta kandungan alkoholnya yang bervariasi (Jackson, 2020). Proses fermentasi berperan penting dalam menentukan kualitas akhir wine, meliputi karakteristik organoleptik seperti warna, aroma, dan kadar alkohol. Salah satu faktor kritis dalam fermentasi adalah suhu, yang mempengaruhi aktivitas mikroorganisme penghasil alkohol, pembentukan senyawa volatil, serta kestabilan pigmen warna (Boulton <em>et al</em>., 2013). Fermentasi pada suhu ruang (sekitar 25–30°C) sering dipilih karena praktis dan ekonomis, terutama di wilayah beriklim tropis. Namun, pengaruh kondisi tersebut terhadap karakteristik wine berbahan buah lokal seperti buah naga (<em>Hylocereus </em><em>spp.</em>) dan nanas (<em>Ananas comosus</em>) masih perlu diteliti lebih lanjut. Selain itu, kadar alkohol yang tinggi sering menjadi perhatian konsumen yang menginginkan produk dengan kadar alkohol rendah tanpa mengorbankan kualitas sensorik. Salah satu pendekatan yang menjanjikan adalah evaporasi vakum, yang dapat menurunkan kadar etanol melalui proses penguapan pada suhu rendah (Zhao <em>et al</em>., 2018). Namun, penerapan metode ini pada wine hasil fermentasi buah naga dan nanas masih belum banyak dilaporkan secara komprehensif.</p> <p>Proses pembuatan <em>wine</em> buah naga–nanas dilakukan dengan mencampurkan potongan buah naga (<em>Hylocereus </em><em>spp.</em>), nenas (<em>Ananas comosus</em>) dan air dalam perbandingan 1:1:2, kemudian ditambahkan gula lontar hingga mencapai kadar padatan terlarut 17% Brix. pH diukur sebelum diinokulasi dengan ragi <em>Saccharomyces cerevisiae</em>. Fermentasi dilakukan pada suhu ruang (±30°C) selama 30 hari hingga kadar Brix stabil. Setelah fermentasi selesai, <em>wine</em> disaring dan dianalisis kadar alkoholnya menggunakan refraktometer alkohol (ATC, 0-80%). Warna dianalisis menggunakan alat Colorimeter CHNSpec CS-10 berdasarkan sistem warna CIELAB untuk memperoleh nilai L*, a*, dan b*. Setiap pengukuran dilakukan dalam tiga ulangan, dan data dianalisis secara deskriptif untuk mengevaluasi pengaruh proses fermentasi suhu ruang terhadap kadar alkohol dan karakteristik warna <em>wine</em> berbasis buah naga dan nanas dengan penambahan gula lontar.</p> <p>Fermentasi campuran buah naga (<em>Hylocereus polyrhizus</em>) dan nanas (<em>Ananas comosus</em>) pada suhu ruang (±30°C) selama 30 hari dengan penambahan <em>Saccharomyces cerevisiae</em> menghasilkan wine dengan kadar alkohol sebesar 11%. Nilai tersebut menunjukkan bahwa substrat gula dari kedua buah dapat dimanfaatkan secara efisien oleh ragi untuk menghasilkan etanol melalui proses fermentasi anaerob. Aktivitas fermentative <em>S. cerevisiae</em> pada kisaran suhu tersebut tergolong optimal karena mendukung kerja enzim invertase dan zimase dalam mengubah sukrosa menjadi glukosa, fruktosa, dan etanol (Fleet, 2008).</p> <p>Selama fermentasi, pigmen antosianin dari buah naga relatif stabil karena kondisi suhu tidak terlalu tinggi dan pH fermentasi mendukung kestabilannya. Hal ini tercermin dari nilai Chroma sebesar 0,93 yang menunjukkan warna wine masih intens dan tidak mengalami degradasi signifikan. Stabilitas warna pada tahap ini berkaitan dengan keberadaan pigmen betasianin yang cukup tahan terhadap oksidasi pada kisaran suhu fermentasi normal (Esatbeyoglu <em>et al</em>., 2015).</p> <p>Tahap evaporasi vakum pada suhu 45°C selama 60 menit berhasil menurunkan kadar alkohol dari 11% menjadi 7%. Penurunan ini terjadi akibat penguapan sebagian etanol di bawah tekanan rendah yang mempercepat proses evaporasi tanpa menyebabkan kerusakan termal pada komponen sensitif (Santos <em>et al</em>., 2019). Namun, proses tersebut memengaruhi kestabilan warna wine. Nilai Chroma meningkat menjadi 3,67 dan perbedaan warna total (ΔE) mencapai 6,50, menandakan adanya perubahan warna yang nyata (ΔE &gt; 2).</p> <p>Perubahan warna tersebut diduga disebabkan oleh degradasi sebagian pigmen antosianin dan betasianin akibat paparan panas ringan serta kemungkinan terbentuknya kompleks polimer dengan senyawa fenolik selama evaporasi (Jackman &amp; Smith, 1996). Interaksi ini menyebabkan pergeseran warna menuju rona lebih terang atau kecoklatan, sebagaimana dilaporkan pada produk wine buah berpigmen tinggi lainnya (Gao <em>et al</em>., 2022).</p> <p>Secara keseluruhan, kombinasi fermentasi suhu ruang dan evaporasi vakum memberikan efek yang saling melengkapi. Fermentasi menghasilkan wine dengan warna stabil dan kadar alkohol tinggi, sedangkan evaporasi vakum efektif menurunkan kadar alkohol dengan konsekuensi perubahan warna. Perlakuan ini berpotensi diterapkan untuk produksi wine rendah alkohol dengan tetap mempertahankan karakteristik sensoris khas buah tropis, meskipun optimasi lebih lanjut diperlukan untuk meminimalkan kehilangan pigmen alami.</p> 2025-11-28T00:00:00+08:00 Copyright (c) 2025 Prosiding Seminar Nasional Hasil-Hasil Penelitian https://ejurnal.politanikoe.ac.id/index.php/psnp/article/view/529 MULTIKRITERIA KEBERLANJUTAN USAHATANI JAGUNG DI DESA WEOE KECAMATAN WEWIKU KABUPATEN MALAKA NUSA TENGGARA TIMUR 2025-11-22T10:41:34+08:00 Aplonia Bani aplonia.bani@staf.undana.ac.id Johanna Suek aplonia.bani@staf.undana.ac.id Ida Nurwiana aplonia.bani@staf.undana.ac.id <p>Usahatani jagung memiliki peran penting dalam mendukung ketahanan pangan lokal dan nasional (Susanti and Supriyatna 2020). Namun, keberlanjutannya masih menghadapi tantangan yang signifikan yaitu pada aspek ekonomi, adopsi teknologi dan kesejahteraan petani(Widiastuti et al. 2024).Menurut Mudatsir (2025) kapasitas kelembagaan masih lemah, khususnya dalam koordinasi antar <em>stakeholder</em>, akses permodalan dan pasar. Produksi jagung di willayah <em>semi-arid</em> juga menghadapi kelangkaan air dan degradasi tanah serta tingginya jejak karbon (Khalfi Chaima et al., 2024) . Oleh karena itu, analisis tingkat keberlanjutan usahatani menjadi penting sebagai prioritas perbaikan dan strategi kebijakan.</p> <p>Survei dilakukan terhadap 85 responden dan dianalisis menggunakan metode campuran (<em>Mixed Methods</em>) (Gómez-Limón &amp; Sanchez-Fernandez, 2010)dengan bantuan <em>software</em> <em>R versi 4.5.1</em>. Teknik <em>Multicriteria Analysis </em>digunakan untuk mengukur tingkat keberlanjutan dengan kriteria Buruk (0-25), Kurang berkelanjutan (26-50), Cukup berkelanjutan (51-75), Baik/berkelanjutan (76-100)&nbsp; (Fauzi, 2019) Dimensi dan 32 indikator yang diukur: 1) Ekonomi: harga jual, luas lahan garapan, ketersediaan pasar, peruntukan keuntungan usahatani (membayar hutang, memenuhi kebutuhan, membeli ternak kambing dan modal, membeli ternak sapi dan modal, pendidikan, kesehatan, sosial), kestabilan harga, ketersediaan sarana produksi. 2) Sosial: status kepemilikan lahan, jumlah anggota rumah tangga, peran keluarga dalam usahatani, pendidikan formal, dan intensitas konflik dalam pengelolaan/pembagian input produksi. 3) Kelembagaan: keberadaan kelompok tani, frekuensi kegiatan pelatihan dan penyuluhan, serta intensitas konflik antar lembaga/kelompok tani. 4) Teknologi: teknik pengolahan tanah, frekuensi pengolahan tanah, teknik pengendalian gulma, frekuensi pengendalian gulma, ketersediaan mesin pertanian, penanganan pasca panen, adopsi teknologi pertanian, respon petani terhadap teknologi baru dan teknik pemupukan. 5) Sumber daya alam dan lingkungan: ketersediaan air untuk pengairan, pemanfaatan kotoran sapi menjadi pupuk organik, pemanfaatan tumbuhan sebagai pelindung tanah sekaligus pakan ternak.</p> <p>Multikriteria keberlanjutan usahatani menunjukkan upaya menilai dan mengintegrasikan berbagai aspek (Gambar 1) untuk memastikan sistem pertanian dapat berjalan secara seimbang. Temuan ini menunjukkan bahwa integrasi aspek ekonomi, sosial dan lingkungan penting untuk menjaga keseimbangan sistem pertanian (Ferla et al., 2024)</p> <p><strong>Gambar 1. </strong>Dimensi Keberlanjutan dan Indikator</p> <p>&nbsp;</p> <p>Keberadaan kelompok tani aktif dan minim konflik sebagai pilar kelembagaan lokal belum mampu mendorong transformasi dimensi secara menyeluruh. Peran dimensi Ekonomi meskipun pada kriteria cukup, namun keuntungan belum untuk pengembangan usaha. Dimensi Teknologi dan Sosial menunjukkan rendahnya tingkat pendidikan, kapasitas adaptasi dan inovasi. Selain itu, dimensi lingkungan yang berada pada kriteria buruk akibat praktik tidak ramah lingkungan seperti pengendalian gulma, pemupukan, limbah dan tumbuhan pelindung. Ketidakseimbangan keberlanjutan antar dimensi dapat dilihat pada Tabel 1.</p> <p><strong>Tabel 1</strong>. Skor Dimensi Keberlanjutan</p> <table> <tbody> <tr> <td width="131"> <p>Dimensi</p> </td> <td width="119"> <p>Skor</p> </td> <td width="92"> <p>N_Indikator</p> </td> <td width="157"> <p>Skor</p> </td> </tr> <tr> <td width="131"> <p>Kelembagaan</p> <p>Ekonomi</p> <p>Teknologi</p> <p>Sosial</p> <p>Lingkungan</p> </td> <td width="119"> <p>70.8</p> <p>53.7</p> <p>46.4</p> <p>35.0</p> <p>16.7</p> </td> <td width="92"> <p>3</p> <p>12</p> <p>9</p> <p>5</p> <p>3</p> </td> <td width="157"> <p>Cukup berkelanjutan</p> <p>Cukup berkelanjutan</p> <p>Kurang berkelanjutan</p> <p>Kurang berkelanjutan</p> <p>Tidak berkelanjutan</p> </td> </tr> </tbody> </table> <p>Keterangan: _Indikator = jumlah indikator pada tiap dimensi</p> <p>&nbsp;</p> <p>Rata-rata skor dimensi (44,5; kurang berkelanjutan). Hal ini menunjukkan bahwa dimensi kelembagaan dan ekonomi belum mampu mengkompensasi dimensi lingkungan, sosial dan teknologi.</p> 2025-11-28T00:00:00+08:00 Copyright (c) 2025 Prosiding Seminar Nasional Hasil-Hasil Penelitian https://ejurnal.politanikoe.ac.id/index.php/psnp/article/view/527 FRAKSI SERAT KULIT KOPI YANG DIFERMENTASI MENGGUNAKAN PROBIOTIK RAGI BAKTERI ASAM LAKTAT 2025-11-19T09:33:45+08:00 Agustinus Paga aguspaga@gmail.com Theresia Nur Indah Koni aguspaga@gmail.com Ferdinan Suharjono Suek aguspaga@gmail.com <p>Kulit kopi termasuk pakan ternak inkonvensional. Proporsi kulit kopi 40 – 45% dari biji kopi keseluruhan (Tilawati, 2016). Kandungan bahan kering (BK) 91,77%; protein kasar 11,18%; serat kasar; 21,74%; lemak kasar 2,5%; <em>TDN </em>57,20% (Ngaji <em>et al</em>., 2016). Penelitian untuk mengkaji kandungan fraksi serat kulit kopi yang difermentasi menggunakan probiotik Ragi Bakteri Asam Laktat (Rabal) untuk pakan ternak. Penelitian di Lab. Umum Politani. Analisis fraksi serat di Lab.Fapet Universitas Brawijaya. Bahan penelitian: kulit kopi, probiotik Rabal. Peralatannya ember, jeringan, selang, botol, timbangan, gelas ukur, toples, lakban, kertas label. Penelitian diawali membuat probiotik Rabal sesuai prosedur (Haqqiansyah dan Padang, 2023). Peralatannya ember, jerigen, senduk, selang dan botol aqua. Bahannya: yakult ½ botol; Ragi tape 0,5 butir; gula air ¼ liter; air kelapa murni; aquades 2 liter. Pembuatan probiotik Rabal: membersihkan peralatan, masukan air kelapa, yakult, gula air, dan ragi tape dalam ember, diaduk homogen, masukan bahan dalam jerigen 5 liter, tambahkan aquades 2 liter, Kemudian tutupan jerigen dan tutupan botol dilubangi, ujung selang dihubungkan ke tutupan jerigen dan ujung selang lain dihubungkan ke tutupan botol berisi air agar gas fermentasi mengalir melalui selang dan keluar ke dalam botol air, membentuk gelembung. Tutup rapat jerigen; disimpan 7 hari di tempat teduh. Fermentasi kulit kopi dengan probiotik Rabal yaitu: Kulit kopi ditimbang 1 kg untuk setiap unit percobaan. Probiotik Rabal diukur sesuai perlakuan, Setelah semua bahan ditimbang, dicampur homogen, dimasukkan dalam toples, diisolasi. dilabel, disimpan dengan suhu 27-30<sup>o</sup>C. Fermentasi kulit kopi 21 hari, hari ke-22 toples dibuka, sampling sampel, dikeringkan matahari, digrinding, untuk dianalisis. Menggunakan RAL 4 perlakuan 5 ulangan, Perlakuan P0: Kulit kopi tanpa Probiotik Rabal berdasarkan BK. P1: kulit kopi+3% Probiotik Rabal berdasarkan BK, P2: Kulit kopi+6% Probiotik Rabal berdasarkan BK, P3: Kulit kopi+9% Probiotik Rabal berdasarkan BK. Variabelnya NDF, ADF, hemiselulosa, selulosa, silika dan lignin. Data dianalisis dengan SPSS 23.</p> <p><strong>T</strong><strong>abel 1.</strong> Data Penelitian</p> <table> <tbody> <tr> <td rowspan="2" width="104"> <p>Variabel (%)</p> </td> <td colspan="4" width="501"> <p><u>&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp; Perlakuan&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp; </u></p> </td> </tr> <tr> <td width="118"> <p>P0</p> </td> <td width="126"> <p>P1</p> </td> <td width="116"> <p>P2</p> </td> <td width="141"> <p>P3</p> </td> </tr> <tr> <td width="104"> <p>NDF</p> </td> <td width="118"> <p>56,40±8,33<sup>b</sup></p> </td> <td width="126"> <p>48, 46±+5,97<sup>a</sup></p> </td> <td width="116"> <p>57,03+3,08<sup>b</sup></p> </td> <td width="141"> <p>42,70±4,60<sup>a</sup></p> </td> </tr> <tr> <td width="104"> <p>ADF</p> </td> <td width="118"> <p>40,22±5,17<sup>b</sup></p> </td> <td width="126"> <p>44,75±3,52<sup>b</sup></p> </td> <td width="116"> <p>40,76+2,45<sup>b</sup></p> </td> <td width="141"> <p>32,62±4,93<sup>a</sup></p> </td> </tr> <tr> <td width="104"> <p>Hemiselulosa</p> </td> <td width="118"> <p>16,19±4,27<sup>c</sup></p> </td> <td width="126"> <p>4,71±4,20<sup>a</sup></p> </td> <td width="116"> <p>16,26+2,52<sup>c</sup></p> </td> <td width="141"> <p>10,08±1,82<sup>b</sup></p> </td> </tr> <tr> <td width="104"> <p>Selulosa</p> </td> <td width="118"> <p>25,52±2,16</p> </td> <td width="126"> <p>24,53±1,95</p> </td> <td width="116"> <p>25,84+0,94</p> </td> <td width="141"> <p>25,46±2,36</p> </td> </tr> <tr> <td width="104"> <p>Silika</p> </td> <td width="118"> <p>0,39±0,02<sup>a</sup></p> </td> <td width="126"> <p>0,40±0,03<sup>ab</sup></p> </td> <td width="116"> <p>0,48±0,09<sup>b</sup></p> </td> <td width="141"> <p>0,43±0,07<sup>ab</sup></p> </td> </tr> <tr> <td width="104"> <p>Lignin</p> <p>&nbsp;</p> </td> <td width="118"> <p>14,32±3,57<sup>b</sup></p> <p>&nbsp;</p> </td> <td width="126"> <p>18,82±0,95<sup>c</sup></p> <p>&nbsp;</p> </td> <td width="116"> <p>14,45±1,58<sup>b</sup></p> <p>&nbsp;</p> </td> <td width="141"> <p>6,74±3,11<sup>a</sup></p> </td> </tr> </tbody> </table> <p>Fermentasi kulit kooi dengan Probiotik Rabal secara umum menunjukkan pengaruh nyata dalam mengubah komposisi serat, menghasilkan peningkatan kualitas pakan yang substansial, terutama pada fraksi serat yang lebih mudah dicerna. Perlakuan P3 sebagain besar merupakan dosis optimal, kecuali untuk hemiselulosa (P1) dan Silika (P2). NDF/Serat total nilai terbaik 42,70% perlakuan terbaik P3, Perubahan terjadi penurunan 24,3%; sangat baik, indikasi potensi konsumsi pakan yang meningkat. ADF (Selulosa+lignin): nilai terbaik 32,62%; Perlakuan terbaik P3; perubahan terjadi penurunan 18,9%; efek fermentasi baik dengan indikasi peningkatan kecernaan energi. Hemiselulosa (NDF-ADF); kontrol 16,19%; Perlakuan terbaik P1, terjadi penurunan 70,8%; Efek fermentasi termasuk ekselen karena komponen paling berhasil didegradasi oleh enzim probiotik. Selulosa (serat keras) nilai terbaik 24,53%; perlakuan terbaik P1; penurunan 3,9% tidak berpengaruh nyata karena sangat resisten. Silika (mineral anorganik nilai terbaik 0,48%; perlakuan terbaik P2; peningkatan 23,1%; peningkatan relatif terjadi efek konsentrasi akibat hilangnya bahan organik. Lignin/anti nutrisi nilai terbaik 6,74%; perlakuan terbaik P3; penurunan 52,9%; efek fermentasi terbaik dapat menghilangkan penghalang kecernaan utama. Fermentasi kulit kopi dengan probiotik Rabal secara nyata dan efektif meningkatkan kualitas nutrisi pakan ternak, terutama pada perlakuan P3.</p> 2025-11-28T00:00:00+08:00 Copyright (c) 2025 Prosiding Seminar Nasional Hasil-Hasil Penelitian https://ejurnal.politanikoe.ac.id/index.php/psnp/article/view/530 POLA MUSIM TANGKAP IKAN LAYANG (STUDI KASUS DI PANGKALAN PENDARATAN IKAN OEBA, KOTA KUPANG) 2025-11-22T10:52:14+08:00 Klementina Dhiu wahyunifanggitasik@gmail.com Wahyuni Fanggi Tasik wahyunifanggitasik@gmail.com Melkianus Teddison Bulan wahyunifanggitasik@gmail.com <p>Ikan layang (<em>Decapterus</em> sp.) merupakan salah satu ikan pelagis kecil dominan yang memiliki nilai ekonomi penting di perairan Nusa Tenggara Timur (NTT). Produksi ikan layang di wilayah ini menunjukkan fluktuasi antarbulan yang erat kaitannya dengan kondisi oseanografi dan iklim. Pemahaman tentang pola musim tangkap sangat penting dalam pengelolaan perikanan berkelanjutan karena berpengaruh terhadap produktivitas nelayan, ketahanan stok ikan, dan perencanaan usaha perikanan. Penelitian ini dilakukan di Pangkalan Pendaratan Ikan (PPI) Oeba sebagai lokasi pendaratan utama hasil tangkapan pelagis kecil di Kota Kupang.&nbsp; Penelitian dilaksanakan pada Mei–Juni 2025 menggunakan data sekunder produksi ikan pelagis kecil periode 2020–2024 yang diperoleh dari PPI Oeba. Analisis dilakukan menggunakan Metode Persentase Rata-rata <em>(Average Percentage Method</em>) berdasarkan analisis runtun waktu (Spiegel, 1961). Langkah analisis meliputi perhitungan rasio hasil tangkapan bulanan terhadap rata-rata tahunan, dan penentuan indeks musim (IMi). Nilai IMi &gt;100% dikategorikan sebagai musim ikan, sedangkan IMi &lt;100% menunjukkan bukan musim ikan. Produksi ikan layang di PPI Oeba menunjukkan fluktuasi signifikan dari tahun ke tahun. Puncak produksi tercatat pada tahun 2022, dengan hasil tangkapan tertinggi mencapai 103.260 kg pada bulan Juni dan 90.121 kg pada bulan Juli. Peningkatan tersebut bertepatan dengan musim timur, ketika fenomena upwelling membawa massa air kaya nutrien ke permukaan, meningkatkan kelimpahan fitoplankton dan zooplankton sebagai pakan alami ikan pelagis kecil (Nontji, 2002). Sebaliknya, produksi terendah terjadi pada tahun 2021, dengan hasil paling rendah di bulan November (704 kg). Penurunan ini disebabkan oleh cuaca ekstrem, gelombang tinggi, dan menurunnya intensitas melaut nelayan akibat faktor ekonomi maupun teknis. Hasil analisis indeks musim (IM) menunjukkan bahwa bulan Januari, April, Juni, Juli, Agustus, dan September merupakan musim penangkapan ikan layang, dengan nilai IM di atas 100%. Nilai tertinggi terdapat pada bulan Juni (IM = 141,91%), menandakan puncak musim ikan. Sebaliknya, Februari, Maret, Mei, Oktober, November, dan Desember termasuk kategori bukan musim ikan, dengan nilai IM di bawah 100%, di mana bulan Mei (IM = 59,38%) menjadi periode paceklik terendah. Temuan ini sejalan dengan penelitian Yahyah <em>et al</em>. (2023) dan Chodiriyah (2009), yang menunjukkan bahwa aktivitas penangkapan ikan pelagis di wilayah Indonesia bagian selatan paling optimal pada musim timur dan peralihan II (Juni–September). Hal ini menunjukkan bahwa faktor oseanografi seperti upwelling, arah angin, dan ketersediaan pakan berperan besar dalam menentukan produktivitas perikanan tangkap di perairan NTT. Pola musim tangkap ikan layang di PPI Oeba, Kota Kupang, memperlihatkan bahwa periode puncak produksi terjadi pada bulan Juni–September, dengan musim penangkapan utama meliputi Januari, April, Juni, Juli, Agustus, dan September. Produksi tertinggi terjadi pada tahun 2022 seiring dengan meningkatnya produktivitas perairan akibat fenomena upwelling. Musim paceklik tercatat pada bulan Mei dengan nilai IM terendah 59,38%. Informasi mengenai pola musim ini penting bagi pengelolaan perikanan berkelanjutan, terutama untuk pengaturan waktu operasi penangkapan, efisiensi biaya, serta perencanaan usaha nelayan dalam menghadapi perubahan lingkungan laut.</p> 2025-11-28T00:00:00+08:00 Copyright (c) 2025 Prosiding Seminar Nasional Hasil-Hasil Penelitian https://ejurnal.politanikoe.ac.id/index.php/psnp/article/view/531 EFEKTIVITAS MOLUSKISIDA DARI DAUN Chromolaena odorata DAN PERANGKAP TELUR DALAM MENGENDALIKAN KEONG MAS 2025-11-22T10:59:53+08:00 Jacqualine Arriani Bunga jacqualinebunga@gmail.com Ester Ruchama Jella jacqualinebunga@gmail.com Nina Jeny Lapinangga jacqualinebunga@gmail.com <p>Terjadinya eksplosi keong mas menunjukkan bahwa kondisi ekosistem pertanaman padi tidak stabil, Populasi keong mas berada pada tingkat yang membahayakan sehingga menimbulkan kerusakan parah pada pertanaman padi di Desa Naibonat, Kecamatan Kupang Timur, Kabupaten Kupang. Bibit padi yang baru ditanam habis dimakan keong mas. Pengendalian keong mas menggunakan moluksisida kimia sangat membebani petani karena mahal, mencemari air sehingga berbahaya bagi kehidupan biota air, serta menimbulkan keracunan pada ternak dan manusia. Karena itu diperlukan suatu tindakan pengelolaan hama untuk memecahkan masalah eksplosi keong mas di Kabupaten Kupang yang aman secara ekologis dan berdampak pada peningkatan ekonomi petani. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui keefektifan perangkap telur dan moluskisida dari daun <em>Chromolaena odorata</em>. Metode yang digunakan adalah: 1) Uji efektifitas tiang perangkap dalam memerangkap telur keong mas. Perangkap telur adalah tonggak bambu dengan ketinggian 50 cm, 100 cm dan 150 cm. Tonggak dipasang 15 cm dari pinggir pematang. Jarak antara tonggak adalah 50 cm yang dipasang mengelilingi pematang menurut arah mata angin Timur, Barat, Utara, Selatan. Setiap perlakuan diulang pada 3 petakan sawah yang telah dilakukan pembajakan pertama, masing-masing berukuran ± 2 are, sehingga terdapat 36 unit percobaan. Pengamatan dilakukan setiap minggu selama 3 minggu berturut-turut, kemudian dihitung jumlah kelompok telur yang terperangkap dan ditabulasi; 2) Uji mortalitas keong mas akibat pemberian berbagai dosis moluskisida nabati dari daun<em> C. odorata</em>. Arena kajian adalah ember dengan tinggi 23 cm, diameter atas 27 cm dan diameter bawah 21 cm. Ember diisi lumpur sawah setinggi ± 15 cm dan ketinggian air 5 cm. Bibit padi ditanam melingkar pada 5 titik, masing masing titik ditanam 5 bibit padi varietas Ciherang umur 3 minggu, sehingga dalam setiap ember terdapat 25 bibit. Setiap arena kajian dilepas 6 ekor keong mas sesuai perlakuan, 2 ekor setiap stadia keong mas. Dosis moluskisida nabati yang diberikan adalah 25 ml, 50 ml, 75 ml, 100 ml, 125 ml, 150 ml dan 175 ml. Pengamatan dilakukan&nbsp; 12 &nbsp;jam setelah perlakuan. Setiap perlakuan diulang 4 kali, sehingga total terdapat 28 unit percobaan. Jumlah keong mas yang mengalami mortalitas kemudian dihitung dan ditabulasi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa jumlah rata-rata kelompok telur yang terperangkap pada tiang perangkap ukuran 50 cm, 100 cm dan 150 cm berturut-turut sebanyak rata-rata 2, 3, dan 6 kelompok telur.</p> <p>&nbsp; &nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp; &nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp; &nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;</p> <p>&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp; <strong>Gambar 1. </strong>Tiang Perangkap Telur Keong Mas</p> <p>Pada 12 jam setelah aplikasi moluskisida 25 ml, 50 ml dan 75 ml, semua keong uji masih hidup sebanyak 24 ekor. Dosis 100 ml dan 125 ml berturut-turut keong uji &nbsp;yang masih hidup sebanyak 8 dan 5 ekor, sedangkan dosis 150 ml dan 175 ml seluruh keong uji mengalami mortalitas 100%. Pada 24 jam setelah aplikasi moluskisida 25 ml, 50 ml dan 75 ml, berturut-turut keong uji yang masih hidup sebanyak 22, 17 dan 2 ekor. Aplikasi moluskisida 100 ml, 125 ml, 150 ml dan 175 ml, seluruh keong mas mengalami mortalitas 100%. Keong mas kemudian dipindahkan ke air bersih, dan 24 jam setelah dipindahkan diperoleh&nbsp; aplikasi moluskisida 25 ml dan 50 ml, keong mas yang masih hidup sebanyak 8 dan 2 ekor, sedangkan pada dosis 75 ml seluruh keong mas mengalami mortalitas 100%. Penelitian ini diharapkan dapat memberikan solusi pengendalian keong mas yang efektif, efisien, dan&nbsp; berdaya guna.</p> 2025-11-28T00:00:00+08:00 Copyright (c) 2025 Prosiding Seminar Nasional Hasil-Hasil Penelitian https://ejurnal.politanikoe.ac.id/index.php/psnp/article/view/532 INOVASI BINDER ALAMI BERBASIS PATI SINGKONG TERMODIFIKASI UNTUK BERAS ANALOG LOKAL 2025-11-22T11:05:58+08:00 Marthen Y. Saubaki syarenid81@gmail.com Eny Idayati syarenid81@gmail.com Agrippina Agnes Bele syarenid81@gmail.com <p>Diversifikasi pangan lokal melalui pengembangan bahan pangan pokok utama seperti beras adalah prioritas utama saat ini untuk antisipasi krisis dan ketahanan pangan, meningkatkan ekonomi lokal, dan pemenuhan kesehatan. Penelitian ini bertujuan mengembangkan beras analog berbasis jagung-sorgum menggunakan bahan pengikat alami dari pati singkong termodifikasi <em>Heat Moisture Treatment</em> (HMT) yang dikombinasikan dengan tepung karagenan. Metode penelitian menggunakan Rancangan Acak Lengkap pada formulasi kombinasi pati termodifikasi dengan tepung karagenan pada rasio P1 (100:0), P2 (95:5), P3 (90:10), P4 (85:15), P5 (80:20), dan P6 (100:5) sebagai bahan pengikat dalam beras analog jagung-sorgum (50:25) melalui proses ekstrusi dan dikeringkan 60°C selama 6 jam. Parameter yang dianalisis terdiri dari tahap 1: uji sensoris untuk menghasilkan perlakuan terbaik, dan tahap 2 meliputi proksimat, aktivitas fungsional, dan senyawa antinutrisi. Uji sensoris yang terdapat pada gambar 1 menunjukkan penerimaan terbaik pada P4 memperoleh penilaian tertinggi dengan skor warna 3,36, aroma 3,36, tekstur 3,64, citarasa 3,45, dan penilaian keseluruhan 3,45 pada skala hedonik. Hasil analisis proksimat menunjukkan kadar air 12,28%, abu 2,5%, protein 12,76%, lemak 0,99%, dan karbohidrat 71,47%. Aktivitas antioksidan mencapai 65,49% dengan total fenolik 138,932 ppm. Kandungan tanin sebesar 0,002893% dan fitat 1,275 mg/g tergolong aman untuk dikonsumsi. Produk ini berpotensi sebagai alternatif diversifikasi pangan yang memanfaatkan komoditas lokal jagung, sorgum, dan singkong dengan binder alami yang aman dikonsumsi, serta dapat mendukung program ketahanan pangan nasional melalui pengurangan ketergantungan terhadap beras konvensional. Diagram radar memperlihatkan profil sensoris P4 paling seimbang dibandingkan formulasi lainnya. Hasil penelitian menunjukkan kombinasi pati singkong termodifikasi HMT dengan karagenan pada rasio 85:15 (P4) menghasilkan beras analog dengan karakteristik fisikokimia optimal dan tingkat penerimaan sensoris tertinggi. Produk ini berpotensi sebagai alternatif diversifikasi pangan yang memanfaatkan komoditas lokal jagung, sorgum, dan singkong dengan binder alami yang aman dikonsumsi, serta dapat mendukung program ketahanan pangan nasional melalui pengurangan ketergantungan terhadap beras konvensional.</p> 2025-11-28T00:00:00+08:00 Copyright (c) 2025 Prosiding Seminar Nasional Hasil-Hasil Penelitian https://ejurnal.politanikoe.ac.id/index.php/psnp/article/view/533 KOMUNITAS AVES DAN IDENTIFIKASI FAKTOR ANTROPOGENIK PENDORONG GANGGUAN EKOSISTEM PESISIR PANTAI PARADISO- NOELBAKI, TELUK KUPANG 2025-11-22T11:16:31+08:00 Blasius Paga blasiuspaga@yahoo.co.id Fransiskus X. Dako blasiuspaga@yahoo.co.id Yudhistira A. R. Ora blasiuspaga@yahoo.co.id Ika Kristinawanti blasiuspaga@yahoo.co.id Ramses V. Elim blasiuspaga@yahoo.co.id Melkianus Pobas blasiuspaga@yahoo.co.id Kristianto Wibison So blasiuspaga@yahoo.co.id Sutan S. M. Marpaung blasiuspaga@yahoo.co.id Badia R. R. Nababan blasiuspaga@yahoo.co.id Adrin blasiuspaga@yahoo.co.id Fabianus Ranta blasiuspaga@yahoo.co.id Ni Kade A. D. Aryani blasiuspaga@yahoo.co.id <p>Kawasan pesisir Pantai Paradiso-Noelbaki adalah zona transisi ekologis vital bagi burung akuatik dan terestrial, termasuk spesies migran (Hidayat, 2015). Namun, wilayah krusial ini menghadapi tekanan antropogenik intens (Wu &amp; Wan, 2024) yang menyebabkan penurunan keanekaragaman dan peningkatan dominasi spesies yang lebih toleran. Penelitian bertujuan menganalisis struktur komunitas burung (keanekaragaman, kekayaan, kemerataan) dan mengidentifikasi faktor antropogenik utama pemicu gangguan habitat sebagai dasar penyusunan strategi pengelolaan konservasi yang spesifik. Penelitian ini dilaksanakan pada Juli-Oktober 2025 di Pesisir Pantai Paradiso-Noelbaki, Teluk Kupang. Data keanekaragaman burung dikumpulkan menggunakan kombinasi metode transek dan titik hitung (<em>Point Count</em>) (Bibby <em>et al</em>., 2000). Survei mencakup 27 transek dan 134 titik pengamatan di berbagai habitat (mangrove, lahan terbuka, terdegradasi). Setiap titik diamati selama 10 menit (radius 50 m) dari pagi hingga sore hari. Analisis keanekaragaman menggunakan indeks Shannon-Wiener (H'), Kekayaan Margalef (D_mg), dan Kemerataan (E) (Asrianny <em>et al</em>., 2018). Faktor tekanan antropogenik—meliputi konversi lahan/deforestasi, polusi limbah padat, dan gangguan langsung (frekuensi aktivitas manusia/kendaraan) dikuantifikasi secara langsung di lapangan (radius 50 m) dan dianalisis secara deskriptif kualitatif (Newton <em>et al</em>., 2020).</p> <p>Komunitas Aves di Pantai Paradiso-Noelbaki berada dalam tekanan ekologis tinggi, dibuktikan dengan Indeks Keanekaragaman (H'=0,245$) dan Kemerataan (E=0,069$) yang sangat rendah. Kondisi ini menunjukkan hilangnya stabilitas fungsional karena gangguan telah melampaui ambang toleransi spesies sensitif (Asprey <em>et al</em>., 2023). Struktur komunitas didominasi oleh spesies generalis seperti Walet sp. dan Pipit Zebra, yang memanfaatkan ruang terbuka, membuktikan penurunan keanekaragaman fungsional (Mariano-Neto &amp; Santos., 2023). Tiga faktor antropogenik utama pemicu gangguan yaitu; (1) konversi lahan (deforestasi) untuk pemukiman, tambak, dan pariwisata, menghilangkan kompleksitas struktural habitat (misalnya, konversi mangrove), (2) polusi sampah plastik di mudflat, yang mengganggu ketersediaan makanan bentik bagi burung perandai (Pan <em>et al.</em>, 2020), (3) Gangguan Langsung, di mana aktivitas manusia menyebabkan <em>flushing</em>, mengurangi waktu mencari makan (<em>foraging</em>) dan merugikan reproduksi burung migran (Halfwark <em>et al.</em>, 2011). Tingkat keanekaragaman Aves di Teluk Kupang sangat rendah (H'=0,245), didominasi oleh burung Walet, mengindikasikan degradasi parah. Faktor gangguan utama adalah konversi lahan masif, polusi sampah plastik, dan gangguan manusia frekuensi tinggi (<em>flushing</em>). Diperlukan strategi pengelolaan berbasis zonasi yang tegas dan mitigasi limbah terintegrasi untuk memulihkan fungsi ekologis kawasan ini sebagai habitat penting burung.</p> 2025-11-28T00:00:00+08:00 Copyright (c) 2025 Prosiding Seminar Nasional Hasil-Hasil Penelitian https://ejurnal.politanikoe.ac.id/index.php/psnp/article/view/534 PENGARUH WAKTU EKSTRAKSI TERHADAP KUALITAS COLD BREW KOPI TIMOR: ANALISIS FISIKOKIMIA DAN SENSORIK 2025-11-22T11:22:58+08:00 John Tibo Kana Tiri krisnasetiawan077@gmail.com Senni J. Bunga krisnasetiawan077@gmail.com Krisna Setiawan krisnasetiawan077@gmail.com <p><em>Cold brew</em> kopi telah menjadi tren global karena menghasilkan minuman dengan tingkat keasaman rendah dan rasa halus. Kopi Timor, khususnya Arabika Lelogama, memiliki potensi besar untuk dikembangkan menjadi produk <em>Cold brew</em> premium. Namun, optimasi waktu ekstraksi yang tepat untuk menghasilkan karakteristik fisikokimia dan organoleptik optimal belum banyak diteliti. Penelitian ini bertujuan menganalisis pengaruh variasi waktu ekstraksi terhadap karakteristik fisikokimia dan tingkat kesukaan konsumen pada produk <em>Cold brew</em> kopi Timor.</p> <p>Penelitian menggunakan metode eksperimental dengan Rancangan Acak Lengkap, menggunakan kopi Arabika Lelogama sebanyak 100 gram dengan rasio kopi:air 1:8. Perlakuan waktu ekstraksi yang diuji adalah 12, 24, 36, dan 48 jam pada suhu terkontrol 20-22°C, serta kontrol 24 jam tanpa perlakuan khusus. Parameter yang diamati meliputi pH, total asam, kadar kafein, total padatan terlarut (Brix), parameter warna (L*, a*, b*), kadar gula reduksi, dan uji hedonik menggunakan 15 panelis terlatih. Analisis data menggunakan <em>Analysis of Variance</em> (ANOVA) dengan taraf signifikansi 5% dan 1%.</p> <p>Hasil penelitian menunjukkan bahwa waktu ekstraksi berpengaruh sangat nyata terhadap karakteristik fisikokimia dan tingkat kesukaan konsumen (F-hitung 882,025 &gt; F-tabel 1% = 3,65). Ekstraksi 48 jam menghasilkan karakteristik terbaik dengan total asam terendah (0,048031%), pH optimal (5,35), kadar kafein stabil (78,0144 mg/L), dan total padatan terlarut tertinggi (0,05 Brix). Parameter warna menunjukkan ekstraksi 48 jam menghasilkan nilai L* terendah (14,11 ± 3,74) yang mengindikasikan warna paling gelap dan pekat, dengan nilai a* positif (23,34 ± 12,44) menunjukkan pembentukan komponen kemerahan dari senyawa melanoidin. Kadar gula reduksi meningkat seiring waktu ekstraksi, mencapai 5740,8 ppm (0,57408%) pada ekstraksi 48 jam. Uji hedonik menunjukkan ekstraksi 48 jam memperoleh skor kesukaan tertinggi (4,11 ± 0,50) dalam kategori "Suka", secara signifikan lebih tinggi dibandingkan ekstraksi 12 jam (3,27 ± 0,46), 24 jam (3,39 ± 0,35), 36 jam (3,51 ± 0,37), dan kontrol (3,04 ± 0,55). Terdapat korelasi positif antara waktu ekstraksi dengan intensitas warna dan tingkat kesukaan, dimana konsumen cenderung menyukai <em>Cold brew</em> dengan profil rasa mild (asam rendah) dan visual gelap-pekat. Ekstraksi 24 jam menunjukkan konsistensi warna terbaik dengan standar deviasi terendah pada parameter a* (±1,13), mengindikasikan stabilitas proses yang baik. Penelitian ini menyimpulkan bahwa ekstraksi 48 jam merupakan waktu optimal untuk menghasilkan <em>Cold brew</em> kopi Timor dengan kualitas fisikokimia dan organoleptik superior. Formula ini dapat menjadi baseline pengembangan produk <em>Cold brew</em> kopi Timor dengan inovasi rasa dan berpotensi meningkatkan nilai tambah ekonomi petani kopi lokal Nusa Tenggara Timur.</p> <p><strong>Tabel 1.</strong> Karakteristik Fisikokimia dan Hedonik <em>Cold brew</em> Kopi Timor pada Berbagai Waktu Ekstraksi</p> <table width="605"> <tbody> <tr> <td width="132"> <p><strong>Parameter</strong></p> </td> <td width="94"> <p><strong>12 jam</strong></p> </td> <td width="95"> <p><strong>24 jam</strong></p> </td> <td width="104"> <p><strong>36 jam</strong></p> </td> <td> <p><strong>48 jam</strong></p> </td> <td width="99"> <p><strong>Kontrol 24P</strong></p> </td> </tr> <tr> <td width="132"> <p>pH</p> </td> <td width="94"> <p>5,57</p> </td> <td width="95"> <p>5,52</p> </td> <td width="104"> <p>5,39</p> </td> <td> <p>5,35</p> </td> <td width="99"> <p>5,57</p> </td> </tr> <tr> <td width="132"> <p>Total Asam (%)</p> </td> <td width="94"> <p>0,192</p> </td> <td width="95"> <p>0,128</p> </td> <td width="104"> <p>0,064</p> </td> <td> <p>0,048</p> </td> <td width="99"> <p>0,128</p> </td> </tr> <tr> <td width="132"> <p>Kafein (mg/L)</p> </td> <td width="94"> <p>79,46</p> </td> <td width="95"> <p>80,90</p> </td> <td width="104"> <p>79,46</p> </td> <td> <p>78,01</p> </td> <td width="99"> <p>80,18</p> </td> </tr> <tr> <td width="132"> <p>Brix</p> </td> <td width="94"> <p>0,00</p> </td> <td width="95"> <p>0,01</p> </td> <td width="104"> <p>0,02</p> </td> <td> <p>0,05</p> </td> <td width="99"> <p>0,02</p> </td> </tr> <tr> <td width="132"> <p>Gula Reduksi (%)</p> </td> <td width="94"> <p>0,269</p> </td> <td width="95"> <p>0,522</p> </td> <td width="104"> <p>0,562</p> </td> <td> <p>0,574</p> </td> <td width="99"> <p>-</p> </td> </tr> <tr> <td width="132"> <p>L* (Lightness)</p> </td> <td width="94"> <p>20,18±8,26</p> </td> <td width="95"> <p>28,20±3,66</p> </td> <td width="104"> <p>16,94±4,29</p> </td> <td> <p>14,11±3,74</p> </td> <td width="99"> <p>-</p> </td> </tr> <tr> <td width="132"> <p>a* (Red-Green)</p> </td> <td width="94"> <p>3,60±22,73</p> </td> <td width="95"> <p>-26,44±1,13</p> </td> <td width="104"> <p>23,86±16,33</p> </td> <td> <p>23,34±12,44</p> </td> <td width="99"> <p>-</p> </td> </tr> <tr> <td width="132"> <p>b* (Yellow-Blue)</p> </td> <td width="94"> <p>-12,35±1,90</p> </td> <td width="95"> <p>-1,59±1,48</p> </td> <td width="104"> <p>10,74±15,62</p> </td> <td> <p>-3,39±18,29</p> </td> <td width="99"> <p>-</p> </td> </tr> <tr> <td width="132"> <p>Skor Hedonik</p> </td> <td width="94"> <p>3,27±0,46</p> </td> <td width="95"> <p>3,39±0,35</p> </td> <td width="104"> <p>3,51±0,37</p> </td> <td> <p>4,11±0,50</p> </td> <td width="99"> <p>3,04±0,55</p> </td> </tr> </tbody> </table> <p>Keterangan<em>: </em>Skala hedonik 1-5 (1=sangat tidak suka, 5=sangat suka). Hasil ANOVA menunjukkan perbedaan sangat nyata (p&lt;0,01).</p> 2025-11-28T00:00:00+08:00 Copyright (c) 2025 Prosiding Seminar Nasional Hasil-Hasil Penelitian https://ejurnal.politanikoe.ac.id/index.php/psnp/article/view/501 DINAMIKA PENGELOLAAN LAHAN DAN PERTANIAN SEMIARID DI NUSA TENGGARA TIMUR DALAM MENGHADAPI PERUBAHAN IKLIM 2025-11-15T20:34:21+08:00 Melinda R. S. Moata rosita.moata@gmail.com Jacqualine A. Bunga rosita.moata@gmail.com Agrippina A. Bele rosita.moata@gmail.com <p>Perubahan iklim telah menimbulkan dampak terhadap sistem produksi pertanian, terutama di Indonesia bagian timur seperti Nusa Tenggara Timur (NTT). Fluktuasi curah hujan (BMKG, 2023), meningkatnya suhu udara, serta frekuensi kekeringan yang tinggi menyebabkan penurunan produktivitas lahan dan efisiensi penggunaan input pertanian. Penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi dampak bencana iklim dan hama terhadap produktivitas lahan. Hal ini juga dipengaruhi oleh dampak perubahan iklim bagi ketahanan bidang pertanian (FAO, 2021; World Bank. 2022).<br>Penelitian ini dilaksanakan di beberapa sentra budidaya pertanian wilayah kering di Provinsi Nusa Tenggara Timur, khususnya di Kabupaten Kupang yang memiliki karakteristik agroekologi semi-arid dengan curah hujan tahunan antara 800–1200 mm/tahun. Survey dan FGD (Focus Group Discussion) dilakukan terhadap 25 kelopok tani. <br>Berdasarkan hasil survei dan verifikasi lapangan, tercatat empat jenis bencana utama yang berdampak pada sistem produksi, yaitu kekeringan (33%), serangan hama (33%), angin kencang (17%), dan biaya produksi tinggi (17%). Dampak langsung bencana berupa penurunan hasil panen, gagal tanam sebagian, dan kerusakan tanaman muda. Namun, sebagian petani telah melakukan langkah adaptif seperti: pembuatan sumur bor dan penampungan air hujan, pengaturan pola tanam berdasarkan prakiraan cuaca, penerapan agroforestry untuk menekan efek kekeringan dan angin. Diagram batang memperlihatkan bahwa kekeringan dan hama merupakan ancaman paling dominan bagi petani lahan kering.</p> <p><strong>Gambar 1.</strong> Tiga Faktor Utama Penyebab Masalah Pertanian; 2) Analisis <em>Theory Of Change</em> (Masalah, Penyebab, Akibat, dan Solusi)</p> <p>&nbsp;</p> <p>Hasil penelitian menunjukkan bahwa <strong>proporsi penyebab utama</strong> bencana (masalah) pertanian di NTT secara umum. Faktor <strong>iklim</strong> (perubahan cuaca, curah hujan rendah) (Malau <em>et al</em>., 2023) mendominasi sebesar <strong>50%</strong>, faktor <strong>biotik</strong> (hama &amp; penyakit tanaman) sebesar <strong>33%</strong>, faktor <strong>ekonomi</strong> (Estiningtyas <em>et al</em>., 2024). kelangkaan input produksi, modal) sebesar <strong>17%</strong>. Pola ini menegaskan bahwa <strong>perubahan iklim dan tekanan biotik</strong> adalah penyebab dominan gangguan produksi pertanian. Dampak perubahan iklim telah nyata mempengaruhi produksi tanaman di mana setiap komoditi memiliki nilai ambang dan dampak yang berbeda (Strategi adaptasi seperti <strong><em>agroforestry</em></strong><strong>, IPM terpadu, dan diversifikasi sumber air</strong> menjadi kunci peningkatan ketahanan sistem pertanian.</p> <p>Hasil penelitian mendukung arah kebijakan <strong>pertanian berkelanjutan berbasis adaptasi iklim</strong> di Indonesia bagian timur. Pengintegrasian program <strong>PHT, konservasi air, dan penggunaan input ramah lingkungan</strong> dapat meningkatkan daya tahan perubahan iklim dan daya saing pertanian daerah semiarid sekaligus memperkuat ketahanan pangan nasional.</p> 2025-11-28T00:00:00+08:00 Copyright (c) 2025 Prosiding Seminar Nasional Hasil-Hasil Penelitian https://ejurnal.politanikoe.ac.id/index.php/psnp/article/view/521 KONTRIBUSI USAHATANI PADI SAWAH TERHADAP PENDAPATAN RUMAH TANGGA PETANI DI KELURAHAN KAWANGU KABAUPATEN SUMBA TIMUR 2025-11-16T16:03:15+08:00 Febyningsi Rambu Ladu Mbana febyningsimbana@unkriswina.ac.id Junaedin Wadu febyningsimbana@unkriswina.ac.id Anggreni Madik Linda febyningsimbana@unkriswina.ac.id Elsa Christin Saragih febyningsimbana@unkriswina.ac.id Elfis Umbu Kataunga Retang febyningsimbana@unkriswina.ac.id Lusia Danga Lewu febyningsimbana@unkriswina.ac.id <p>Padi tidak hanya berfungsi sebagai komoditas pangan pokok, tetapi juga menjadi sumber utama pendapatan bagi sebagian besar rumah tangga petani. Kinerja usahatani padi sawah di Sumba Timur menghadapi berbagai tantangan, antara lain fluktuasi harga gabah, tingginya biaya produksi, serta keterbatasan akses terhadap teknologi dan modal pertanian. Kondisi ini menyebabkan pendapatan petani sering kali tidak stabil dan berimplikasi terhadap tingkat kesejahteraan rumah tangga mereka. Meskipun padi menjadi sumber utama pendapatan, hasilnya sering kali belum mencukupi kebutuhan hidup layak, sehingga petani terdorong untuk melakukan diversifikasi usaha melalui pekerjaan non-pertanian seperti perdagangan, jasa, atau usaha mikro (Harmini <em>et al</em>., 2025; Polimango <em>et al</em>., 2025; Ulilalbab <em>et al</em>., 2025). Dengan demikian, strategi diversifikasi pendapatan menjadi kunci dalam memperkuat ketahanan ekonomi dan kesejahteraan rumah tangga petani di tengah fluktuasi hasil pertanian (Yazidurrozaq, 2025; Rashid <em>et al</em>., 2024).</p> <p>Penelitian ini dilaksanakan di Kelurahan Kawangu, Kecamatan Pandawai, Kabupaten Sumba Timur. Lokasi tersebut dipilih secara purposive. Jenis penelitian yang digunakan adalah deskriptif kuantitatif. Data primer diperoleh melalui survei langsung kepada 80 petani padi sawah yang dipilih menggunakan metode purposive sampling dan sekunder.Analisis data dilakukan dengan pendekatan analisis pendapatan usahatani dan kontribusi pendapatan rumah tangga.</p> <p>Hasil analisis pendapatan &nbsp;menunjukkan bahwa rata-rata total biaya produksi yang dikeluarkan petani dalam satu musim tanam padi sawah di Kelurahan Kawangu mencapai Rp.6.868.585,-, terdiri atas biaya variabel sebesar Rp.6.590.310,- dan biaya tetap sebesar Rp.278.275. Penerimaan petani di Kawangu dari hasil panen mencapai Rp.33.531.188,-, dengan rata-rata produksi sebesar 5.016 kg gabah per musim dan harga jual Rp. 6.781,- per kilogram. Setelah dikurangi total biaya produksi, diperoleh pendapatan bersih sebesar Rp. 26.662.603,- per musim tanam. Nilai ini menunjukkan bahwa kegiatan usahatani padi sawah di wilayah tersebut masih memberikan keuntungan ekonomi yang tinggi bagi petani, mencerminkan kelayakan finansial usaha. Temuan ini sejalan dengan hasil penelitian Arifin <em>et al</em>. (2024) yang menegaskan bahwa usahatani padi sawah, baik pada lahan irigasi maupun tadah hujan, memiliki profitabilitas positif, terutama di daerah dengan akses air yang baik dan pengelolaan lahan yang optimal.</p> <p>Hasil analisis kontribusi pendapatan menunjukkan bahwa pendapatan rumah tangga petani di Kelurahan Kawangu didominasi oleh pendapatan usahatani padi sawah sebesar Rp. 26.662.603,-, dengan kontribusi mencapai 86% dari total pendapatan rumah tangga, sedangkan pendapatan non usahatani hanya 14% (Rp. 2.741.750,-). Temuan ini menegaskan bahwa sektor pertanian, khususnya usahatani padi, masih menjadi sumber penghidupan utama bagi petani di wilayah tersebut. Kondisi ini sejalan dengan Sukmayanto <em>et al. </em>(2022) yang melaporkan bahwa usahatani padi memberikan kontribusi terbesar terhadap pendapatan rumah tangga petani di Lampung Tengah, dengan rasio R/C sebesar 2,36 yang menunjukkan kelayakan finansial.Hasil serupa juga diungkapkan oleh Arifin <em>et al</em>. (2024) bahwa profitabilitas usahatani padi tetap tinggi terutama di wilayah dengan pengelolaan input yang efisien dan ketersediaan air yang cukup. Rendahnya kontribusi pendapatan nonusahatani mencerminkan keterbatasan diversifikasi ekonomi, sebagaimana dinyatakan oleh Soba dan Saragih (2024) bahwa diversifikasi pendapatan penting untuk mengurangi risiko ekonomi pedesaan. Selain itu, peningkatan pendapatan dari usahatani padi berimplikasi positif terhadap ketahanan pangan dan kesejahteraan rumah tangga (Kita <em>et al</em>., 2021). Dengan demikian, peningkatan efisiensi produksi dan dukungan kebijakan pertanian menjadi kunci untuk memperkuat kontribusi ekonomi petani di Kawangu.</p> 2025-11-28T00:00:00+08:00 Copyright (c) 2025 Prosiding Seminar Nasional Hasil-Hasil Penelitian https://ejurnal.politanikoe.ac.id/index.php/psnp/article/view/537 KEARIFAN LOKAL BERADAPTASI: BUDIDAYA SORGUM MASYARAKAT DESA TANAJAWA DI TENGAH DRY SPELL DAN KETIDAKPASTIAN MUSIM 2025-11-22T18:42:37+08:00 Lenny M. Mooy mooy_ch@yahoo.co.id Theresia Ginting mooy_ch@yahoo.co.id Yonathan Wadu mooy_ch@yahoo.co.id Ardinta Natumnea mooy_ch@yahoo.co.id Gideon O. Balla mooy_ch@yahoo.co.id <p>Kabupaten Sabu Raijua memiliki 4 pulau yaitu pulau Sabu, Raijua, Dana dan Wadu Mea. Empat daerah ini yang dihuni adalah pulau Sabu dan Raijua dengan kondisi iklim kering ekstrem, yang ditandai oleh curah hujan rendah dan periode <em>dry spell</em> (periode hari tanpa hujan) yang panjang sehingga berdampak pada penurunan produksi pangan lokal (BPS NTT, 2023). Dampak yang terjadi yaitu tanaman pangan seperti jagung dan padi ladang menjadi rentan pada fase kritis pertumbuhan. Sorgum (<em>Sorghum bicolor</em> L.) merupakan salah satu tanaman yang telah beradaptasi di wilayah Sabu dan Raijua dalam hal tahan terhadap kondisi kekeringan dan kondisi tanah kurang subur (ICRISAT, 2020). Dikaji dari nilai historis, sorgum dianggap oleh masyarakat Tanajawa - Sabu sebagai tanaman yang sudah dibudidayakan sejak nenek moyang sebagai sumber pangan utama pada musim paceklik. Keberlanjutan praktik ini menunjukkan adanya kearifan lokal dalam memilih tanaman yang mampu bertahan pada kondisi kekeringan (Mooy dkk., 2025). Selain aspek agronomis, masyarakat Tanajawa juga mengandalkan sistem kearifan lokal dalam menentukan waktu tanam. Petani biasanya menunggu arahan <em>Deo Rai</em> atau tua adat yang membaca tanda-tanda musim dan menetapkan waktu penanaman melalui ritual tertentu. Namun, perubahan iklim yang semakin cepat menyebabkan prediksi adat kadang meleset, sehingga petani harus menyesuaikan strategi mereka untuk mengurangi risiko kerugian. Situasi ini menunjukkan bahwa kearifan lokal tidak hanya dipertahankan, tetapi juga beradaptasi terhadap kondisi musim yang berubah. Penelitian ini bertujuan untuk: (1) mendeskripsikan praktik budidaya sorgum yang diterapkan masyarakat Tanajawa; (2) menganalisis peran dan dinamika kearifan lokal dalam menentukan waktu tanam di tengah ketidakpastian musim; dan (3) mengidentifikasi strategi adaptasi petani terhadap <em>dry spell</em> melalui penyesuaian teknik budidaya dan keputusan tanam. Penelitian ini dilakukan pada bulan Desember 2024 – Mei 2025 di Desa Tanajawa, Kecamatan Hawu Mehara, Kabupaten Sabu Raijua menggunakan pendekatan deskriptif kualitatif dengan teknik pengumpulan data berupa observasi lahan, wawancara mendalam dengan petani dan tua adat, serta diskusi kelompok terarah. Data mengenai waktu tanam, praktik budidaya, persepsi terhadap perubahan musim, serta peran <em>Deo Rai</em> dianalisis menggunakan metode tematik. Pendekatan ini memungkinkan peneliti memahami pola adaptasi dan pergeseran praktik adat dalam merespons variabilitas iklim. Literatur pendukung mengenai iklim lokal dan tanaman sorgum juga digunakan untuk memperkaya analisis. Hasil penelitian menunjukan bahwa masyarakat Tanajawa mampu mempertahankan dan menyesuaikan praktik budidaya sorgum melalui kombinasi teknik tradisional dan pengetahuan lokal yang terus berevolusi di tengah <em>dry spell</em> dan ketidakpastian musim. Kearifan lokal, termasuk penentuan waktu tanam berbasis tanda-tanda alam, tetap berfungsi sebagai pedoman utama meskipun prediksinya tidak selalu tepat sehingga petani mengombinasikannya dengan observasi cuaca harian, penyesuaian varietas, dan pengolahan lahan minimum. Strategi adaptasi yang diterapkan, seperti pemilihan sorgum sebagai tanaman tahan kering, pengaturan ulang waktu tanam, serta diversifikasi praktik lapangan, terbukti mampu mengurangi risiko gagal panen, meski tantangan seperti gangguan ternak lepas masih menjadi hambatan struktural yang perlu ditangani. Kesimpulan dari penelitian ini adalah: 1) Sorgum tetap menjadi komoditas utama dalam sistem pangan Tanajawa karena ketahanannya terhadap kekeringan dan nilai budayanya yang tinggi. 2) Penentuan waktu tanam masih mengikuti arahan <em>Deo Rai</em>, namun petani mulai mengombinasikan pedoman adat dengan pengamatan langsung terhadap curah hujan awal musim. 3) Ketika prediksi adat tidak sesuai dengan kondisi lapangan, petani melakukan penyesuaian seperti menunda penanaman, memilih varietas sorgum lokal yang lebih cepat panen, atau menerapkan teknik konservasi tanah sederhana untuk menjaga kelembapan (menebarkan gulma yang dibersihkan di permukaan tanah, aplikasi bahan organik dan diversifikasi tanaman). 4) Adaptasi sosial-ekologis ini menunjukkan bahwa kearifan lokal tidak bersifat statis, melainkan terus berkembang sebagai respons terhadap ketidakpastian iklim. Dengan mengombinasikan nilai adat dan strategi teknis, masyarakat Tanajawa mampu mempertahankan produktivitas sorgum di tengah tekanan <em>dry spell</em> yang semakin panjang.</p> 2025-11-28T00:00:00+08:00 Copyright (c) 2025 Prosiding Seminar Nasional Hasil-Hasil Penelitian https://ejurnal.politanikoe.ac.id/index.php/psnp/article/view/539 MENDIAGNOSIS KELEMBAGAAN PETANI DALAM TRANSFORMASI AGRIBISNIS BERBASIS KONTEKS LOKAL 2025-11-22T19:30:57+08:00 Melgiana S. Medah melgiana05@gmail.com Dina V. Sinlae melgiana05@gmail.com Naharuddin Sri melgiana05@gmail.com <p>Kompleksitas sosial dan geografis di wilayah pedesaan seperti di Kabupaten Kupang menempatkan kelembagaan petani sebagai komponen penting dalam mendorong transformasi agribisnis berkelanjutan. Sebagai landasan utama Kelembagaan petani tidak saja menunjukkan inovasi agribisnis (Akullo <em>et al</em>., 2018), dan menjadi ruang negosiasi antar aktor agribisnis (Osei-amponsah <em>et al</em>., 2018). Demikian juga kapasitas kelembagaan yang lemah dan rendahnya literasi digital masih menjadi hambatan utama (Alpatova, 2021; Hounkonnou <em>et al</em>., 2018)). Di tingkat lokal kelembagaan petani menunjukkan pola serupa, kuat dalam distribusi input tetapi lemah dalam pemasara dan kemitraan ekonomi (Medah &amp; Marjaya, 2023). Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis kelembagaan petani secara kontekstual untuk mendukung transformasi agribisnis di tingkat lokal. Penelitian ini dilaksanakan di Kabupaten Kupang tepatnya di Kecamatan Kupang Tengah dan Kecamatan Kupang Timur yang menjadi sentra produksi pertanian melalui metode survey dan FGD (<em>Focus Group Discussion</em>) dilakukan terhadap 60 orang&nbsp; petani, 3 penyuluh.</p> <p>Berdasarkan hasil survei dan verifikasi lapangan didapati bahwa kelembagaan petani di Kabupaten Kupang didominasi oleh pola informal dengan struktur yang belum proposional untuk mendukung pengambilan keputusan kolektif dan kemitraan formal. Tantangan utama dalam transformasi kelembagaan petani untuk mendukung agribisnis berkelanjutan yaitu rendahnya literasi kelembagaan dan minimnya pemanfaatan teknologi digital serta terbatasnya akses infomasi dan regenerasi kelembagaan. Dalam konteks global, deskilling meningkatkan ketergantungan petani pada masukan eksternal (Bell <em>et al</em>., 2015). Sebaliknya, praktik pertanian sosial di Italia dan Spanyol menjadi contoh pendekatan tata kelola hibrida yang berorientasi pada komunitas, yang meningkatkan kapasitas kelembagaan sambil memberikan akses kepada masyarakat kecil (García-Llorente <em>et al</em>., 2016)</p> <p><strong>Gambar 1.</strong> Analisis SWOT dan QSPM</p> <p>Hasil penelitian melalui analisis SWOT menunjukkan bahwa posisi kelembagaan berada di kuadran II (strategi diversifikasi) dengan skor IFE (2,35) dan EFE (2,85) dimana kelembagaan memiliki peluang eksternal yang tinggi dan perlu meningkatkan akses pasar lokal melalui dukungan pemerintah, dan untuk mengastasi kelemahan utama seperti rendahnya kapasitas kelembagaan dan literasi digital petani. Hasil analisis Quntitative Strategic Planning Matriz (QSPM), menunjukkan bahwa strategi diversifikasi kelembagaan pemasaran digital memiliki skor tertinggi (4,08) diikuti diversifikasi kelembagaan petani melalui kemitraan (4,05) dan pelatihan literasi digital (4,00). Ketiga strategi ini&nbsp; paling efektif dan menjadi prioritas dalam mendukung transformasi agribisnis yang berkelanjutan di tingkat lokal melalui pendekatan yang kontekstual, kolaboratif dan berbasis kelembagaan.</p> <p>Hasil penelitian ini mendukung kebijakan ketahanan pangan melalui penguatan kelembagaan petani sebagai strategi kunci transformasi agribisnis berkelanjutan, dengan fokus pada diversifikasi kelembagaan, digitalisasi, dan kemitraan lokal untuk meningkatkan kapasitas produksi dan distribusi pangan di pedesaan.</p> 2025-11-28T00:00:00+08:00 Copyright (c) 2025 Prosiding Seminar Nasional Hasil-Hasil Penelitian https://ejurnal.politanikoe.ac.id/index.php/psnp/article/view/540 STRATEGI OPTIMASI USAHA PERTANIAN TERPADU SEBAGAI DAYA TARIK WISATA DI DESA PUSAKAMULYA KABUPATEN PURWAKARTA 2025-11-24T08:47:39+08:00 Rini Untari untari.rini@gmail.com Arda Gradelia untari.rini@gmail.com Dyah Prabandari untari.rini@gmail.com Helianthi Dewi untari.rini@gmail.com Teguh Jati Purnama untari.rini@gmail.com Gatot Widodo untari.rini@gmail.com <p>Sektor pertanian di Desa Pusakamulya Kabupaten Purwakarta Provinsi Jawa Barat memiliki potensi besar dalam pengembangan usaha pertanian terpadu. Usaha pertanian terpadu menjadi sebuah pendekatan pertanian berkelanjutan dengan mengintegrasikan berbagai bidang pertanian baik perkebunan, peternakan dan perikanan yang akan berdampak pada kesejahteraan masyarakat lokal, ketahanan pangan serta bagian dari upaya resiliensi terhadap perubahan iklim (Singh <em>et al., </em>2024, Biswas<em> et al., </em>2024, Parmawati <em>et al</em>., 2024, Kamakaula &amp; Baaka 2025). Desa Pusakamulya terdapat dua destinasi wisata yang sudah dikenal masyarakat yaitu Kampung Wisata Parakanceuri dan Pasir Langlang Panyawangan sehingga dapat mendukung dalam pengembangan wisata berbasis usaha pertanian terpadu. Usaha pertanian terpadu dapat dijadikan daya tarik wisata di Desa Pusakamulya, namun belum dilakukan kajian strategis yang lebih terarah untuk mengoptimalkan potensinya. Pengembangan strategi penting dalam kegiatan wisata untuk untuk mencapai pariwisata berkelanjutan (Bagaskara <em>et al., </em>2025).&nbsp;&nbsp; Penelitian ini menggunakan <em>mix method</em> (metode kombinasi). Data yang diambil yaitu data mengenai sumberdaya wisata berkaitan usaha pertanian terpadu yang telah berjalan di Desa Pusakamulya dan motivasi serta perilaku wisatawan yang datang ke Desa Pusakamulya. Teknik pengambilan data yaitu studi literatur, observasi, wawancara dan penyebaran kuesioner. Wisatawan yang dijadikan responden sebanyak 150 orang ditentukan secara <em>purposive sampling</em>. <em>Purposive sampling</em> yaitu teknik pengambilan data dengan pertimbangan tertentu (Sugiyono, 2012). Kriteria yang digunakan dalam penentuan responden yaitu dengan rentang usia 12&lt; x &gt;55 (Al Amin dan Juniati 2017). Kuesioner bersifat <em>close-ended</em> dengan pilihan jawaban menggunakan skala Likert 1-5 dari sangat tidak setuju sampai sangat setuju. Analisis data yang digunakan deskriptif kualitatif dan kuantitatif. Analisis untuk menyusun strategi yaitu SWOT analysis (<em>Strength, Weakness, Opportunity and Threat</em>) (Rangkuti 2006, Gurel &amp; Tat, 2017).</p> <p>Desa Pusakamulya memilki potensi usaha pertanian terpadu berupa perkebunan teh, kopi, buah manggis,dan cengkeh, selain itu juga tegakan hutan pinus, pertanian berupa area pesawahan serta perikanan. Desa ini juga didukung sumberdaya wisata alam (bentang alam pesawahan, Curug Cilamaya, dan Curug Pamoyanan), sumberdaya budaya (Goa Jepang, permainan tradisional, Museum MK Lesmana, kuliner tradisional, rumah adat Sunda, Kesenian tari <em>tutunggulan</em>, tari selamat datang, seni angklung, dan seni pencak silat) dan sumberdaya buatan (jembatan gantung, <em>flying fox</em>, area berkemah/ <em>camping ground</em>, dan <em>&nbsp;spot</em> foto) (Gambar 1).</p> <table> <tbody> <tr> <td width="162">&nbsp;</td> <td width="160">&nbsp;</td> <td width="141">&nbsp;</td> <td width="134">&nbsp;</td> </tr> </tbody> </table> <p><strong>Gambar 1.</strong> Potensi Daya Tarik Wisata di Desa Pusakamulya</p> <p>Motivasi dengan penilaian tertinggi yaitu motivasi budaya melakukan kegiatan wisata dengan meningkatkan pengetahuan berbasis informal seperti belajar budaya Desa Pusakamulya (motivasi pada bidang kuliner mempelajari cara pembuatan gula aren dan teh giles) serta motivasi mempelajari edukasi pertanian.&nbsp; Perilaku budaya menunjukkan nilai tertinggi berupa aktivitas menikmati kuliner tradisional serta melihat pembuatan produk UMKM, perilaku tertinggi lainnya mengikuti kegiatan outbound. Wisatawan cenderung memiliki dorongan untuk melakukan perjalanan yang terkait dengan budaya, salah satunya untuk menikmati kuliner di desa yang berasal dari hasil pertanian masyarakat (Bagaihing <em>et al., </em>2021). Hasil analisis SWOT diperoleh enam prioritas yang direkomendasikan yaitu pengembangan program wisata&nbsp; yang menarik berupa program harian <em>eco-agroedu fun day trip</em> dan program menginap <em>eco-agroedu camp fun</em> yang mengintegrasikan usaha pertanian terpadu di Desa Pusakamulya. Strategi prioritas berikutnya pelibatan masyarakat lokal, pendampingan kepada masyarakat sehingga konsisten dalam pelaksanaannya, peningkatan kapasitas sumberdaya manusia&nbsp; masyarakat (SDM) yang mengelola kegiatan wisata, pembentukan wadah atau komunitas untuk memudahkan dalam berkoordinasi dan melakukan promosi secara konsisten. Pelibatan masyarakat lokal, pendampingan masyarakat serta peningkatan kapasitas menjadi satu paket dan penting dalam penguatan SDM dalam mengelola destinasi wisata (Untari <em>et al.,</em>2023, Untari <em>et al., </em>2024). Integrasi sektor pertanian dan pariwisata juga penting untuk memanfaatkan promosi yang konsisten dalam&nbsp; memperkenalkan keunikan Desa Pusakamulya (Untari <em>et al.,</em>2019). Promosi wisata secara kontinu memanfaatkan teknologi digital dengan pendekatan partisipatif dan berbasis relasi sosial menjadi strategi dalam upaya mencapai integrasi pertanian dan pariwisata yang berkelanjutan.</p> 2025-11-28T00:00:00+08:00 Copyright (c) 2025 Prosiding Seminar Nasional Hasil-Hasil Penelitian https://ejurnal.politanikoe.ac.id/index.php/psnp/article/view/505 DETEKSI PRRSV DENGAN INDIRECT ELISA: GAMBARAN SEROPREVALENSI PADA TERNAK BABI DI KOTA KUPANG 2025-11-15T20:51:44+08:00 Victor Lenda victor.lenda@staff.politanikoe.ac.id Jois M. Jacob victor.lenda@staff.politanikoe.ac.id <p><em>Porcine Reproductive and Respiratory Syndrome</em> (PRRS) adalah salah satu penyakit paling merugikan dalam industri peternakan babi di dunia disebabkan oleh virus PRRS (Mesa <em>et al</em>., 2024), menimbulkan kerugian ekonomi akibat kematian anak babi, penurunan performa reproduksi, serta meningkatnya biaya pengobatan (Pileri and Mateu, 2016). Telah dilaporkan kasus gangguan reproduksi dan respirasi menyerupai gejala PRRS di beberapa sentra produksi babi (NTT, 2023), sehingga perlu kajian terbaru untuk memberikan gambaran situasi terkini terkait PRRS. Metode deteksi antibodi PRRSV dengan uji <em>indirect Enzyme Linked Immunosorbent Assay</em> (ELISA) memberikan keakuratan lebih tinggi dalam mendeteksi antibodi spesifik dan bersifat <em>evidence-based surveillance</em> (Rimayanti <em>et al</em>., 2024), terutama di daerah dengan keterbatasan laboratorium molekuler, seperti NTT.</p> <p>Penelitian menggunakan pendekatan observasional analitik dengan desain cross-sectional. Secara <em>consecutive sampling</em>. Sebanyak 129 sampel serum darah diambil dari RPH Oeba dan peternakan rakyat di Kota Kupang, dan diuji dengan ELISA Kit (Cat. No. E-AD-E006). Hasil positif/negatif sampel ditentukan dari nilai OD dan S/P dibandingkan nilai <em>cut-off, </em>selanjutnya dianalisis dengan <em>uji chi-square</em> dengan bantuan SPSS<sup>®</sup> Ver. 26, dan dideskripsikan secara kualitatif.</p> <p>Hasil analisis menunjukkan 60 sampel (46,5%) terdeteksi seropositif PRRS, dengan 57 dari 87 sampel (65,5%) asal RPH dinyatakan positif, sementara hanya 3 dari 42 (7,1%) sampel positif dari peternakan rakyat (P&lt;0,001). Walaupun demikian data serologi saja dianggap tidak cukup untuk memetakan infeksi strain yang ada tanpa dukungan data vaksinasi dan karakterisasi antigen isolat virus (Pan <em>et al</em>., 2023). ). Hasil penelitian juga menunjukkan pentingnya metode uji yang mampu membedakan antara infeksi alami dan respon vaksin untuk surveilans yang akurat. Tingginya persentase seropositif RPH menunjukkan kemungkinan adanya sirkulasi virus pada rantai pemotongan dan sistem pasokan RPH. Hal tersebut juga berarti kemungkinan indikasi tingginya infeksi virus di lapangan, atau sebaliknya merupakan dampak keberhasilan vaksinasi, tentunya masih memerlukan kajian lanjutan dengan data vaksinasi, cakupan wilayah dan sampel lebih besar. Pengendalian efektif tentunya memerlukan strategi terintegrasi, mencakup optimasi vaksinasi, biosekuriti, karakterisasi isolat dan pengembangan vaksin terbaru. Program pengendalian berorientasi kawasan serta kolaborasi antar pemangku kepentingan juga penting dilakukan (Suartha <em>et al</em>., 2013; Taira <em>et al</em>., 2025).</p> <p>Hasil uji ELISA menunjukkan beda signifikan (P&lt;0,001) dalam seroprevalensi PRRS pada babi di RPH (65,5%), lebih tinggi dibandingkan peternakan rakyat (7,1%), menunjukkan kemungkinan RPH sebagai titik kritis sirkulasi virus. Pengawasan lalu lintas ternak, biosekuriti dan pemantauan serologis berkelanjutan seharusnya mampu memitigasi penyebaran PRRSV di wilayah tersebut.</p> 2025-11-28T00:00:00+08:00 Copyright (c) 2025 Prosiding Seminar Nasional Hasil-Hasil Penelitian